MUTIARA KEBIJAKSANAAN SAI - BAGIAN 11

Satsang Anil Kumar: Percakapan Baba dengan Para Siswa

 

29 Januari 2003

 

With Pranams at the Lotus Feet of Bhagawan,

 

Dear Brothers and Sisters!

 

29 Januari 2003

 

Transfomasi dalam diri Vemana

 

Perkenankanlah saya memulai session malam ini dengan membicarakan kejadian yang berlangsung hari ini, persisnya sore tadi – sekitar satu atau tiga jam yang lalu. Terdapat satu distrik bernama Kalappa, di negara bagian Andhra Pradesh, hanya beberapa jam perjalanan dari sini. Di seluruh distrik itu sekarang sedang diadakan pesta meriah guna memperingati kehidupan dan buah karya dari beberapa orang terkenal yang terlahir di sana.

 

Banyak sekali individu-individu unggul yang lahir di distrik Kalappa. Salah satunya adalah seorang sage (rishi) terkenal bernama Veerabramendra Swamy, seorang tokoh yang berhasil meramalkan dengan baik peristiwa-peristiwa yang telah/bakal terjadi di zaman modern ini, padahal beliau hidup di zaman ribuan tahun yang lalu. Inilah yang dinamakan Kalajnana – Kala: waktu, dan Jnana: pengetahuan – jadi pengetahuan tentang masa depan. Sejak jaman dahulu, beliau telah memprediksikan kejadian-kejadian hari ini, dan kebetulan ia terlahir di tempat itu.

 

Kemudian terdapat pula seorang penyanyi terkenal bernama Annamacharya. Nyanyiannya sangat, sangat populer. Ia juga terlahir di sana. Selanjutnya, terdapat seorang rishi bernama Vemana yang juga asal Kalappa. Di samping itu, ada dua orang pujangga terkenal, Pothana dan Peddanna, yang juga lahir di situ. Jadi, untuk memperingati event-event tersebut, keseluruhan distrik itu sedang bergembira-ria dan dipenuhi oleh perayaan. Kebetulan saya sempat menyinggung hal ini kepada Swami, dan topik tersebut menjadi pemicu perbincangan sepanjang sore hari ini.

 

Beliau mengatakan: “Tahukah kamu, ada seorang pujangga bernama Vemana yang terlahir di sana?”

 

“Ya, Swami, saya tahu.”

 

Kemudian Swami mulai bercerita tentang Vemana. Pujangga besar ini dibesarkan oleh abang kandung dan kakak iparnya. Kedua orang-tuanya telah meninggal, dan entah bagaimana, karena nasibnya, ia terperosok dalam kebiasaan yang jelek dan kurang terpuji. Ia menjadi seseorang yang suka main perempuan. Dan terdapatlah seorang wanita yang meminta Vemana agar memberinya kalung yang biasa dikenakan oleh kakak iparnya; kalung itu sangat mahal dan berharga. Wanita tadi bersikeras agar Vemana mengambilkan kalung itu dan diberikan kepadanya. Jadi, Vemana-pun terpaksa mencuri kalung itu dan diberikannya kepada si wanita itu.

 

Rupanya kakak iparnya mengetahui hal ini dan ia dapat memahaminya; maka dipanggilnyalah Vemana. Ia berkata, “Look here! Seandainya saja kau memintanya dari-ku, maka saya akan memberikannya kepadamu. Mengapa kau harus mencurinya? Tindakanmu itu tidak baik.” Lebih lanjut ia menambahkan, “Lihatlah Vemana! Saya telah memakai kalung ini secara rutin setiap hari, namun saya sama sekali tidak merasakan adanya hal-hal yang istimewa dengan kalung ini. Jadi, mengapa teman wanitamu begitu ingin memilikinya? Bagaimana mungkin ia bisa merasa sangat happy dengan kalung ini saja? Saya sungguh tak percaya. Sebenarnya dia hanya ingin merampas kalungku saja.” Itulah yang dikatakan oleh iparnya. Vemana merasa sangat menyesal. Transformasi-pun mulai terjadi di dalam dirinya.

 

Saudara laki-laki (abang) Vemana mempunyai satu orang puteri saja dan Vemana sangat menyayanginya. Ia memperlakukan keponakannya itu seolah-olah seperti puterinya sendiri; bahkan lebih daripada itu. Namun, suatu hari, karena suatu sebab, anak itu tiba-tiba meninggal. Lalu apa yang dilakukan Vemana? Ia memegang foto anak itu dan memeluknya erat-erat sembari menangis terus-menerus. Kakak-ipar (ibu sang anak) ingin memberi pelajaran kepada Vemana. Maka, diambilnya foto itu dan dirobek-robeknya serta dibakar! Vemana semakin bertambah sedih dan menangis terus.

 

“Mengapa kau lakukan itu? Aku sangat menyukai foto anak yang sangat ku cintai itu.”

 

Sang kakak-ipar menerangkan, “Begini ya – dari tadi kau berkhayal bahwa dia ada di dalam foto itu. Itulah sebabnya ia seolah-olah masih hidup bagimu. Tapi lihatlah, badan jasadnya sudah tidak ada di sini lagi. Daripada memegang foto ini, sebagai gantinya, lebih baik bila kau memegang foto Tuhan dan menangisi-Nya, janganlah menangisi anak yang sudah tiada.”

 

Seketika itu, semangat pelepasan (renunciation) dan ketidak-melekatan (sense of detachment) mulai bersemi di dalam diri Vemana. Di kemudian hari ia meninggalkan kehidupan rumah-tangga, dan sejak hari itu, ia menjalani kehidupan sebagai seorang yogi atau kehidupan suci (saint). Di kemudian hari, ia menulis berbagai karangan syair/sajak. Hampir semua penduduk Andhra Pradesh pasti mengetahui tentang syair-syairnya dengan baik. Bhagawan menjelaskan keseluruhan episode ini kepada kami.


Krishnadevaraya dan Rayalaseema

 

Dan kemudian saya bertanya, “Swami, ada satu daerah di negara bagian Andhra Pradesh ini yang diberi nama Rayalaseema, yaitu daerah yang meliputi: Chittor, Kalappa, Karnool dan Anantapur. Mengapa ia diberi nama Rayalaseema Swami?”

 

Baba menjawab, “Oh, itu disebabkan karena dulu daerah itu diperintah oleh seorang raja bernama Krishnadevaraya; itulah sebabnya ia diberi nama ‘Rayalaseema’.”

 

“Swami, apakah daerah itu memang sangat istimewa?”

 

Beliau berkata, “Ya.” Kemudian Bhagawan mengatakan bahwa dahulu tidak ada negara-negara bagian seperti Tamil Nadu dan Karnataka. Waktu itu, negeri ini tidak dibagi berdasarkan unsur linguistik. Krishnadevaraya adalah seorang raja besar yang memerintah seluruh kerajaan. Beliau juga adalah seorang pendukung kesusasteraan dan kesenian.

 

Selanjutnya Swami menambahkan, “Look here, ada satu desa bernama Karnatakapalli. Desa ini letaknya berdekatan dengan Puttaparthi. Nama ‘Karnataka’ sekarang dikenal sebagai negara bagian Karnataka. Nah, desa tadi juga mempunyai nama yang sama; ini berarti bahwa daerah tersebut merupakan satu kesatuan utuh, yang diperintah oleh raja Krishnadevaraya.”

 

“Swami, sungguh hebat sekali, sebagai seorang pujangga yang merupakan penyokong besar kesusasteraan; raja Krishnadevaraya juga mempunyai delapan orang cendekiawan di dalam kerajaannya. Ceritera tentang Beliau sudah tidak asing lagi.” Itulah yang ku-katakan.


Dua orang bersaudara: Bukkaraya dan Chikkaraya

 

Swami berkata, “Dulu terdapat dua orang bersaudara. Salah satu diantaranya bernama Bukkaraya. Dia bertanggung-jawab memonitor ketinggian tangki air di Bukkapatnam. Sementara itu, tangki air di Dharmavaram dimonitor oleh saudara kandungnya, Chikkaraya. Bila tangki air di Bukkapatnam belum penuh, maka tangki di Dharmavaram tidak akan mendapatkan jatah air. Artinya, kedua tangki air tersebut saling berkaitan. Hanya apabila tangki air di Bukkapatnam penuh, maka kelebihan airnya akan disalurkan ke Dharmavaram.”

 

“Oleh sebab itu, kedua bersaudara ini membuat satu kesepakatan. Mereka berjanji bahwa mereka hanya boleh saling bertemu satu sama lain, hanya apabila tangki-tangki air yang dijaga oleh masing-masing telah terisi penuh dengan air – demi untuk kepentingan orang banyak.”

 

“Jadi, pada suatu hari mereka berhasil mengisi tangki masing-masing penuh dengan air. Maka pergilah Bukkaraya ke Dharmavaram guna bertemu dan mengekspresikan rasa syukur kepada saudaranya. Sementara itu, pada saat yang bersamaan, Chikkaraya juga pergi dari tempatnya untuk bertemu dengan saudaranya. Keduanya bertemu di satu tempat dan mereka saling melepas rindu, mengucapkan syukur dan saling berpelukan. Nah, tempat dimana mereka saling bertemu disebut Kanumukkala. Desa itu dinamakan Kanumukkala. Kanu artinya ‘mata’dan mukkula artinya ‘memberi hormat’. Demikianlah, asal mula nama desa tersebut.”

 

Swami mulai menjelaskan latar-belakang historis dari tempat-tempat tersebut. Saya sangat-sangat senang sekali.

 

Dalam kaitannya dengan hal ini, tentunya anda tahu bahwa mereka memanggil kaum lelaki dengan satu kata sapaan, yaitu: ‘Anna, Anna’.  ‘Anna’ artinya ‘saudara’ (brother). Jadi, mereka memanggil-manggil, “Anna, Anna.” Mereka memanggil semua orang dengan sapaan ‘Anna’. Bahkan pembantu-ku juga memanggil-ku ‘Anna’, yes, yes (tertawa). Dan tukang cuci-pakaian (dhobi) juga memanggil-ku ‘Anna’. Jadi, ‘Anna’ adalah sejenis kata sapaan yang lazim digunakan, okay?


Pujangga Thenali Ramakrishna

 

Kemudian Bhagawan menyinggung sebuah cerita yang menarik tentang seorang pujangga bernama Thenali Ramakrishna. Beliau adalah salah seorang pujangga yang mengabdi kepada raja Krishnadevaraya; dan cukup terkenal dengan humor serta kejenakaannya.

 

Swami bercerita tentang dua episode yang berhubungan dengan kehidupan Thenali Ramakrishna. Rupanya terdapat beberapa orang pundit dan cendekiawan yang merasa cemburu atas kedekatan Thenali Ramakrishna dengan Raja. Rupanya orang-orang tipe pecemburu seperti ini telah eksis sejak jaman dahulu. Mereka hadir di sini bukan untuk pertama kalinya. (tertawa) Mereka telah ada sejak jaman antah-berantah. Yes. Jadi, di dalam sidang dewan kerajaan, para cendekiawan itu menantang Thenali Ramakrishna.

 

“Oh, Sang Raja, biarkanlah pujangga ini memberikan penjelasan mengapa tidak terdapat bulu/rambut di telapak tangan. Bila rambut/bulu tumbuh dimana-mana, lalu mengapa ia tidak tumbuh di telapak tangan. Mengapa? Biarkanlah ia menjawab tantangan kami ini.”

 

Sang pujangga, Thenali Ramakrishna, berdiri dan berkata, “Yang Mulia, Aku akan memberikan penjelasan. Di telapak tangan-ku ini tidak ada rambut/bulunya, hal ini disebabkan karena aku senantiasa menggunakannya untuk menerima hadiah-hadiah dari-mu, wahai Paduka. Oleh sebab itu, tidak ada waktu bagi si bulu/rambut untuk tumbuh.” (tertawa).

 

Sang raja juga ikut tertawa dan berkata, “Oh ho, I see. Tapi mengapa telapak tangan orang lain juga tidak berbulu? Mengapa begitu?”

 

Kemudian Thenali Ramakrishna berkata, “Oleh karena engkau selalu memberikan hadiah, maka orang lain menjadi sangat cemburu. Akibatnya, mereka terus-menerus menggosok-gosokan tangannya sehingga rambut/bulu itu tidak bisa tumbuh.” (tertawa) Begitulah sense of humour Thenali Ramakrishna.

 

Selanjutnya Bhagawan menyinggung episode lain dari kehidupan Thenali Ramakrishna. Pernah suatu ketika, sang raja memberikan hadiah permata, batu-batu mulia dan emas kepada Thenali Ramakrishna. Dalam perjalanannya pulang ke rumah, beberapa pencuri melihat bahwa Thenali Ramakrishna sedang membawa barang-barang berharga itu, oleh karenanya mereka ingin mencurinya. Para pencuri pergi ke rumahnya di malam hari. Ketika mereka akan membawa kabur perhiasan itu, sang pujangga ini terbangun. Melihat tuan rumah terbangun, para pencuri itu melarikan diri keluar dari rumah dan menyembunyikan diri di belakang dinding sumur. Sebagai seorang yang cerdik, Thenali Ramakrishna keluar dari rumah.

 

Anda tentunya pernah lihat sumur-sumur di India bukan? Ia terdiri atas sebuah ember kecil, tali dan kerekan. Dengan alat-alat inilah orang-orang menimba air dari dalam sumur. Jadi, pergilah Thenali Ramakrishna ke tepi sumur dan menimba sedikit air. Ia berkumur-kumur dan setelah itu disemburkannya air di mulutnya ke arah para pencuri yang sedang bersembunyi itu! Hmm, Si Thenali Ramakrishna ini benar-benar cerdik ya? (tertawa). Selanjutnya Thenali Ramakrishna mengambil kain dan mengisinya dengan batu-batuan, kemudian diikat dan dilemparkan ke dalam sumur.

 

Ia berkata kepada isterinya, “Begini, perhiasan ini tidak boleh disimpan di dalam rumah kita, sebab para pencuri setiap saat bisa masuk ke sini. Jadi, sebagai langkah pengamanan, saya telah melemparkannya ke dalam sumur.”

 

Sebenarnya ia sama sekali tidak melemparkan perhiasan itu ke dalam sumur. Sebagai gantinya, yang dilemparkannya adalah bongkahan batu-batuan. Namun para pencuri sama sekali tidak tahu hal ini. Mereka mengira bahwa perhiasan itu sekarang sudah ada di dalam sumur, dan mereka sangat ingin memperolehnya. Akibatnya, sepanjang malam itu mereka harus sibuk bekerja mengosongkan sumur itu dengan cara menimba airnya satu per satu. (tertawa)

 

Keesokan paginya, Thenali Ramakrishna bangun dan berkata, “Terima-kasih Bapak-bapak. Ladang kami memang telah lama tidak mendapatkan air. Mereka perlu disirami, dan sekarang anda telah melakukannya secara suka-rela tanpa pamrih. Aku sangat berterima-kasih kepada kalian.” (tertawa) Itulah yang dikatakan oleh Bhagawan sore hari ini.


25 Januari 2003

 

Kalau saja mereka datang hanya untuk-Ku

 

Sekarang kita beranjak ke event pada tanggal 25 Januari 2003 (sebagaimana anda ketahui, kita akan membahasnya dengan tanggal mundur). Ada seorang pria yang datang mengunjungi Swami, kelihatannya seperti seorang chairman (ketua) atau presiden dari salah satu klub/organisasi internasional. Swami membiarkannya duduk dan menunggu, seolah-olah hal yang biasa bagi-Nya (tertawa).

 

Saya berkata, “Swami, saya mendapatkan info bahwa ada seorang international chairman (atau presiden) yang hadir di sini.”

 

Bhagawan berkata, “Lalu kenapa? Setiap orang harus menunggu Aku.”

 

“Ok, Swami. Apakah itu berarti bahwa tidak ada harapan untuk bisa bertemu dengan-Mu secara langsung? Tak ada kesempatan untuk itu?”

 

Baba berkata, “Orang-orang mendatangi-Ku dengan beragam alasan – entah untuk urusan prospek bisnisnya, urusan keluarganya, semuanya ingin agar keinginannya terkabulkan. Tapi bagi mereka yang secara khusus datang hanya untuk-Ku, maka Aku pasti akan langsung menemuinya setibanya mereka di sini! Kalau saja mereka datang hanya untuk-Ku, maka Aku pasti akan memberinya interview. Tapi kenyataannya, tidak banyak orang yang datang dengan tujuan seperti itu. Kebanyakan yang datang ke sini mendambakan agar keinginan dan kenyamanan pribadi mereka dipenuhi.” Itulah yang dikatakan oleh Bhagawan.


Orang-orang hanya takut terhadap ancaman

 

Pada momen itu, saya berkomentar, “Swami, setelah membaca surat-kabar, hati saya sangat sedih. Dimana-mana terjadi perselisihan, pembunuhan massal, dan kekerasan. Hati saya menjadi tidak-tenang setelah membaca itu semua, Swami. Ada apa dengan semuanya ini?”

 

Kemudian Swami berkata, “Yang ada hanyalah perbedaan dalam hal derajat kekerasannya. Kekerasan memang telah merajalela dimana-mana.” Beliau memberi satu contoh.

 

“Lihatlah seekor katak dan ular. Sang ular siap menerkam si katak; dan di belakang ular terdapat seekor burung merak, dan si burung ini juga bersiap-siap untuk menerkam sang ular. Jadi, terlihat bahwa ular merupakan ancaman bagi si katak, dan sebaliknya si ular merupakan mangsa empuk bagi si burung merak. Demikianlah bentuk kekerasan yang terjadi dimana-mana – yang satu saling menghabisi yang lainnya.”

 

Kemudian Bhagawan membuat satu pernyataan cantik yang menarik bagi kita semuanya:

 

“Hari ini orang-orang hanya takut terhadap hukuman. Mereka takut terhadap segala sesuatu yang tidak baik. Jikalau seseorang mengatakan bahwa ia akan membunuh seseorang, maka orang-orang akan takut terhadapnya. Jikalau seseorang mengatakan bahwa ia akan membakar rumah mereka, maka orang-orang itu akan takut terhadap ancaman demikian. Tetapi sebaliknya, kebanyakan orang tidak takut terhadap hal-hal yang baik; yang mana sampai hari ini mereka belum mampu melakukannya. Mereka tidak takut terhadap beberapa hal baik yang seharusnya sudah mereka lakukan sekarang. Jadi, sayang sekali bahwa orang-orang hanya takut terhadap ancaman saja.”

 

Itulah yang dikatakan oleh Beliau pada tanggal 25 Januari 2003.


24 Januari 2003

 

Kepribadian Sangat Penting

 

Sekarang kita memasuki episode tanggal 24 Januari 2003. Swami mulai membicarakan beragam aspek.

 

Beliau berkata, “Kepribadian sangat penting. Personality sangat penting.”

 

Lalu saya nyeletuk, “Swami, personality? Saya punya personality yang bagus (dalam bahasa lokal, ‘personality’ acap kali diartikan sebagai bentuk fisik/perawakan).” (tertawa)

 

Kemudian Beliau berkata, “Bukan personality yang itu – bukan kepribadian jasmaniah. Yang disebut sebagai kepribadian dalam hal ini mencakup: perilaku, sopan-santun, tata-krama, kode etik, dan disiplin. Nah, karakter personality inilah yang sangat penting.”

 

Dalam konteks ini, Swami berkata, “Siapakah yang disebut ‘boy’? Yaitu seseorang yang memiliki perilaku ‘boyish’ (kekanak-kanakan). Lalu siapakah yang dapat dijuluki sebagai seorang ‘man’? Jawabannya adalah: seseorang yang memiliki ‘manners’ (sopan-santun). Demikianlah definisi yang diberikan oleh Bhagawan.


Kenalilah Perasaan Masyarakat

 

Kemudian Bhagawan menceritakan tentang suatu peristiwa. “Tahukah kalian, pernah ada seorang siswa yang duduk di verandah ini suatu kali masuk ke ruangan interview? Dia tidak tahu bahwa Aku juga sedang berjalan keluar dari ruangan itu, akibatnya kepalanya menabrak kepala-Ku. Langsung saja anak itu masuk ke dalam dan menangis, “Swami, maafkan aku, mohon maaf. Tadi saya kurang waspada.”

 

Baba berkata, “Sudahlah, tidak ada masalah jikalau kepalamu menabrak kepala-Ku, atau kepala-Ku yang menabrak kepalamu. Tidak ada bedanya. Kita boleh berjalan berdampingan saling bersinggungan, tak ada masalah. Tapi pertimbangkanlah bagaimana perasaan para bhakta di luar sana. Mereka akan mengira bahwa di sini terdapat seorang siswa yang tidak punya sopan santun dan disiplin: ‘Bagaimana dia boleh seenaknya saja masuk ke ruangan interview dan menabrak kepala Swami?’ Orang-orang akan berpikiran demikian. Aku tahu cinta-kasihmu kepada-Ku dan kau juga tahu bahwa Aku sangat mengasihi-mu. Tapi di samping itu, kalian juga harus mengenali perasaan masyarakat.” Demikianlah yang dikatakan oleh Bhagawan.

 

Dalam konteks ini, Bhagawan menambahkan, “Boys, walaupun Aku telah memberimu pendidikan gratis selama studimu di sini; Aku sama sekali tidak mengharapkan apapun juga darimu. Aku tak menginginkan sesuatupun darimu. Aku hanya berharap agar kalian menjaga martabat dan respek. Tidak boleh ada kompromi dalam kedua hal ini, yaitu: martabat/nama baik almamatermu serta harga-dirimu. Itulah ungkapan terima-kasih yang dapat kau tunjukkan kepada-Ku.”

 

Lebih lanjut Swami berkata, “Itulah sebabnya Aku sering memberitahumu untuk tidak mengucapkan, ‘Thank you’, sebab Aku bukanlah orang ketiga. Sudah merupakan tugas-Ku untuk melayanimu, jadi kau tak usah mengucapkan, ‘Thanks.’” Tapi Bhagawan menambahkan, “Akan tetapi, dari sudut pandang kehidupan bermasyarakat, kalian mungkin diharuskan untuk mengucapkan, ‘Thank you’.  Sebenarnya di dalam lubuk hati-Ku, Aku tahu bahwa hal itu tidak perlu. Ungkapan ‘Thank you’ merupakan respons terhadap tuntutan tata-krama dari kehidupan bermasyarakat.” Itulah yang dikatakan oleh Bhagawan.


Pertimbangkanlah bagaimana pandangan orang lain

 

Masih dalam konteks ini, Swami kemudian menyinggung tentang salah seorang mantan siswa, yang sekarang menjabat sebagai Principal of the Brindavan Campus. Namanya Sanjay Sahani. Ia adalah satu-satunya principal termuda di dalam institusi-institusi Swami. Beliau adalah seorang alumnus college ini. Nah, Swami mulai bercerita tentang dirinya kepada kami.

 

“Anak ini, ketika dalam perjalanan dengan kereta-api dari Delhi, ia menolak duduk berdampingan dengan saudara perempuannya. Mengapa begitu? Sebab usia mereka masih muda dan orang lain tidak tahu kalau mereka berdua adalah kakak beradik. Jadi orang lain mungkin akan salah tafsir hubungan mereka. Oleh karenanya, Sanjay meminta saudaranya duduk bersama-sama dengan wanita lain dan menjauh darinya. Ia sendiri duduk bersama-sama rombongan pria lainnya. Sesampainya di Bangalore, hal yang sama juga dilakukannya, yaitu: saudaranya diminta pergi ke Puttaparthi dalam rombongan mobil yang hanya ditumpangi wanita, dan dia sendiri berpergian dengan rombongan mobil berpenumpang pria. Walaupun mereka adalah kakak-beradik, tapi begitulah caranya mereka berpergian. Mengapa demikian? Penyebabnya adalah karena mereka ikut mempertimbangkan perasaan masyarakat sekitarnya.”

 

Kemudian Baba berkata, “Dalam kasus lain, mungkin terdapat seorang pria tua yang bermain-main dengan seorang gadis cilik; toh masyarakat tidak akan salah-paham, sebab mereka akan mengira bahwa pria tua tadi adalah sang kakek dan gadis cilik sebagai cucunya. Lain halnya dengan kaum muda – pemuda dan pemudi – walau mereka mungkin saling berhubungan saudara, tapi mengingat usia mereka, orang-orang cenderung salah paham. Oleh sebab itu, kalian harus berperilaku sedemikian rupa sehingga ikut mempertimbangkan bagaimana pandangan orang lain terhadap diri kalian.” Itulah yang dikatakan oleh Bhagawan.

 

“Didukung oleh karakternya yang cemerlang dan disiplin yang teguh, maka hari ini Sanjay Sahani terpilih sebagai Principal di kampus Brindavan. Keberhasilannya memangku jabatan tinggi ini merupakan buah hasil dari karakternya yang luhur.” Demikianlah kata Bhagawan.

 

Saya juga harus memberitahu anda komentar tambahan Swami ketika menatap para siswa-siswa, Beliau berkata, “Sahabat-sahabat-Ku, instruksi-instruksi ini bukan hanya ditujukan untuk para siswa semata. Pesan-pesan ini berlaku untuk semua Sai bhakta, tua dan muda, bukan hanya untuk saat sekarang, tapi juga untuk masa depan.” Pesan-pesan ini haruslah senantiasa diingat. Situasi dan kondisi saat itu merupakan momen yang tepat bagi Bhagawan untuk menyampaikan ajaran-ajaran-Nya. Saya kira anda tentunya menangkap point-point yang ku-sebutkan tadi.

 

Bhagawan berkata, “Cara kalian berpakaian juga harus patut dan disesuaikan dengan institusi tempat kalian dididik. Dengan hanya melihat cara kalian berpakaian, orang-orang sudah bisa menarik kesimpulan, ‘Di sini ada seorang siswa dari Sri Sathya Sai Institute of Higher Learning.’ Kau tidak perlu memberitahukannya. Cara berpakaianmu serta perilakumu secara otomatis sudah menjelaskan darimanakah asal institusimu.”

 

Dan dalam hal ini Swami berkomentar, “Sungguh disayangkan sekali, ada segelintir orang yang mengenakan pakaian yang bahkan ditakuti oleh hewan sekalipun! (tertawa) Janganlah kalian mengenakan pakaian seperti itu. Di samping itu, kalau kalian ingin bernyanyi, nyanyilah di dalam rumah dan berlatihlah di dalam college, the music college. Janganlah kau bernyanyi-nyanyi di jalanan dan membuat dirimu menjadi murahan. Kata-kata yang kau ucapkan haruslah lembut dan enak didengar. Janganlah kalian berteriak-teriak di jalanan seperti tukang gaduh.” Demikian yang dikatakan oleh Bhagawan.


Dronacharya

 

Masih dalam konteks ini, Bhagawan berkata, “Kadang kala para guru juga patut disalahkan.” Rupanya kami (para guru) juga harus kebagian kuota (tertawa). Swami memberi satu contoh dari ceritera Mahabharata, epic yang sangat terkenal di negeri ini. Dalam ceritera itu terdapat seorang guru bernama Drona. Ia mengajarkan ketrampilan panahan (archery) kepada semua Pandavas dan Kauravas. Setelah menyelesaikan pelajarannya, terdapat seorang murid bernama Arjuna yang bertanya kepada Dronacharya, “My Lord, saya telah menyelesaikan pelajaranku di lotus feetmu. Saya ingin menghaturkan ungkapan terima-kasihku kepadamu. Saya ingin mempersembahkan sesuatu sebagai ungkapan cinta-kasih dan terima-kasih kepadamu.”

 

Dan Dronacharya menjawab, “Look here, Arjuna, sejak lama aku telah dihina oleh seorang raja bernama Drupada. Raja ini telah menghinaku. Aku ingin agar kau menyeretnya ke sini. Seretlah dia, ikatlah dia di keretamu, dan bawalah dia menghadapku di sini. Barulah setelah itu, dendamku akan tertuntaskan. Maka pergilah Arjuna guna menangkap Drupada.

 

Akan tetapi dalam suatu medan pertempuran, ternyata Dronacharya malah meninggal duluan. Dronacharya langsung meninggal begitu ia mendengar sebuah pernyataan yang sebenarnya baru separuh lengkap. Apa sih bunyi statement itu? Pernyataan yang dilontarkan dalam medan pertempuran itu adalah sebagai berikut: “Lihatlah, Aswatthama meninggal – Aswatthama. Aswatthama telah meninggal.” Siapakah Aswatthama? Ini adalah nama anaknya Drona. Jadi, setelah ia mendengar bahwa anaknya meninggal, Drona-pun ikut menghembuskan nafasnya alias meninggal!

 

Tapi rupanya pernyataan tadi baru separuh, sebab ada penggalan berikutnya yang tidak disimak olehnya. Aswatthama juga adalah nama seekor gajah. Begitu banyak gajah yang dilibatkan dalam medan peperangan, dan kebetulan seekor gajah bernama Aswatthama telah meninggal. Rupanya Drona hanya mendengarkan penggalan kalimat pertama, dan ia mengira bahwa anaknya yang bernama Aswatthama telah meninggal. Sebenarnya yang dimaksudkan bukanlah anaknya, melainkan seekor gajah bernama Aswatthama yang telah meninggal.

 

Apa yang terjadi dengan emosinya? Apa yang terjadi terhadap keseimbangan pikirannya? Sebagai seorang guru, mengapa ia bisa berperilaku seperti itu? Penyebabnya adalah karena rasa dendamnya yang membara. Ia begitu terikat. Inilah kesalahannya sebagai seorang guru.

 

“Swami, saya punya sedikit keragu-raguan.”

 

“Hmm, apa keragu-raguanmu?”

 

“Bila seorang guru memerintahkan muridnya melakukan hal seperti itu – yaitu menyeret dan membawa Raja Drupada (yang pernah menghinanya) – apa sih yang bisa dilakukan oleh sang murid? Bukankah ia berkewajiban untuk mengekspresikan ungkapan terima-kasih kepada sang guru dengan cara memenuhi semua keinginan gurunya. Jadi, bagaimana mungkin ia bisa mengatakan ‘No’ (tidak) kepada gurunya?”

 

Baba, the Ultimate, tidak akan membiarkanmu memberikan kata penutup. (tertawa)

 

Langsung saja Beliau berkata, “No, no, no. Arjuna, sebagai seorang murid, seharusnya bisa memohon dengan kedua tangan dirangkapkan: ‘Oh Tuan, bagaimana mungkin saya bisa pergi dan menyerang musuhmu, Raja Drupada? Dia belum pernah berbuat apapun terhadapku. Dia belum pernah mencelakaiku. Apakah bisa dibenarkan bila saya pergi ke sana dan membawanya kemari, menyeretnya sepanjang jalan? Apakah hal itu dibenarkan, my Lord? Seharusnya Arjuna bisa memohon seperti itu kepada gurunya.”

 

“Iya ya, benar juga ya Swami. Pandangan keliru saya sudah diluruskan,” demikian saya berkata.


Ketika Tuhan bersabda

 

Dalam hal ini Swami menyatakan satu statement, yang harus diingat oleh kita semuanya: “Kalian boleh saja menyangsikan siapapun juga. Kalian boleh saja bersikap kontradiktif terhadap siapapun juga. Kau boleh berargumentasi menjelaskan posisimu, pandanganmu kepada siapapun juga – entah ibu, ayah, guru, siapa saja. Tapi, ingatlah, bila Tuhan memerintahkanmu melakukan sesuatu, kau harus melakukannya, that’s all. Janganlah kau mempertanyakannya ataupun mencoba mencari tahu dulu alasan-alasannya. Perintah Tuhan harus segera dilaksanakan! Tidak ada istilah pilihan atau alternatif lain.” Demikian yang dikatakan Bhagawan.


Bea Siswa Music College

 

Dan selanjutnya, sembari melihat para siswa music college, Bhagawan yang maha pengasih memberi komentar berikut.

 

“Ada berapa banyak siswa music college yang hadir di sini? Coba berdiri, stand up,” demikian kata Bhagawan. Terlihat beberapa siswa berdiri dan kemudian Bhagawan memberikan pesan berikut ini kepada mereka, “Begini ya, tidak cukup bila kalian hanya mempelajari musik semata-mata. Kalian juga perlu mempelajari Bahasa Inggris. Di samping itu, kalian juga perlu mempelajari mata pelajaran lain seperti: fisika, kimia, politik, sejarah dan ekonomi. Hendaknya kalian juga mendapatkan degrees (gelar kesarjanaan) seperti halnya siswa-siswa lain, sebab kalian tidak bisa memperoleh penghidupan (nafkah) dengan hanya mengandalkan musik saja. Kau tidak bisa hidup hanya dengan musik. Kalian tidak bisa mendapatkan nafkah yang cukup sepanjang hidupmu bila kau hanya mengandalkan ketrampilan musikmu. Hal itu tidak mungkin. Jadi, oleh sebab itu, kalian perlu mempelajari bahan pelajaran lainnya juga.”

 

Beliau tidak berhenti di situ saja. “Semua guru & pengajar coba datang kemari.” Beliau mengumpulkan dan membuat para pengajar itu duduk di sana dan Ia berkata, “Nanti kalian berikan coaching kepada siswa-siswa tadi agar mereka bisa mempelajari mata pelajaran lainnya juga, seperti halnya siswa-siswa lain di institut kita.” Terlihat bahwa Bhagawan sangat perhatian. Beliau memiliki pandangan yang sangat simpatik. Well, saya tidak sanggup menceritakannya di sini.

 

Dan kemudian Bhagawan menatap kembali siswa-siswa musical college tadi dan berkata, “Aku tahu latar-belakang kalian. Beberapa di antara kalian tidak bisa melanjutkan studi karena kalian berasal dari keluarga miskin. Aku juga tahu bahwa sebagian dari orang-tua kalian berusia tua dan hanya hidup dari uang pensiun, yang jumlahnya sangat sedikit. Jadi, sekarang Ku-beritahu kalian, My boys, janganlah menyusahkan orang-tua kalian; jangan bebani mereka lagi. Sekarang juga Ku-katakan, bahwa Aku akan memberikan beasiswa kepada kalian semuanya! Kalian telah memperoleh pendidikan gratis. Satu-satunya hal yang harus kalian bayar adalah makananmu. Tapi dalam hal music college boys ini, Aku akan memberikan scholarships (beasiswa), agar dengan demikian, semua biaya-biaya pemondokan dan makanan kalian juga akan ditanggung semuanya! Di samping itu, Aku juga akan memberikan kalian uang saku untuk membayar kebutuhan dhobi (pencuci pakaian), pangkas rambut, minyak rambut dan segala expenses lainnya. Aku akan memberimu uang.” Demikianlah yang dikatakan oleh Bhagawan.

 

Statement yang luar biasa! Itulah yang dinamakan True Love (cinta-kasih sejati). Saya memahami bahwa Cinta-kasih yang berdiri di atas kedua kaki adalah Bhagawan Sri Sathya Sai Baba sendiri! Pada kesempatan itu, Bhagawan berpesan kepada semua siswa yang hadir, “Look here, pastikanlah bahwa kalian menyenangkan hati orang-tua kalian. Layanilah ibumu, layanilah ayahmu, bersikap sopanlah terhadap guru-gurumu. Itulah tugas & kewajibanmu.”


Swami ada di dalam dirimu

 

Kemudian Swami menatap ke arah Vice Chancellor dan bertanya, “Vice Chancellor, apa saja hal-hal yang kau katakan kepada siswa-siswa pagi tadi?”

 

Vice Chancellor menjawab, “Swami, saya mengatakan hal ini kepada mereka pagi ini, ‘Tanamkanlah perasaan bahwa Swami senantiasa hadir di sisimu kemanapun juga engkau pergi; agar dengan demikian engkau akan lebih berhati-hati dalam setiap ucapan dan tindak-tanduk yang akan dilakukan.’”

 

Swami berkata, “Ah, kau salah! (tertawa) Mengapa kau bilang, ‘Swami ada di sisimu?’ Itu mah salah! Swami ada di DALAM dirimu, bukan di sampingmu. Swami ada di dalam dirimu!”

 

Statement cantik ini juga bermanfaat bagi semua Sai bhakta di seluruh dunia, yakinilah dan alamilah bahwa Bhagawan juga hadir di dalam diri kita masing-masing. Percakapan ini mengakhiri episode tanggal 24 Januari 2003.


22 Januari 2003

Sage Thyagaraja

Sekarang kita sampai ke tanggal 22 Januari 2003. Anda tentunya melihat bahwa pagi hari itu Bhagawan pergi ke Music College. Betulkan? Apakah anda tidak melihat Beliau pergi ke Music College pagi itu? Anda pasti melihat-Nya.

 

Mengapa Beliau pergi ke sana? Yaitu karena pada tanggal 22 Januari merupakan hari perayaan dimana para musisi (khususnya classical musician) merayakan kehidupan dan buah-karya seorang penyanyi terkemuka sekaligus bhakta bernama Thyagaraja.

 

Thyagaraja sangat terkenal dengan musik klasiknya, dan beliau juga adalah seorang bhakta yang hebat & luar biasa. Guna merayakan kehidupan dan pesan-pesan yang dibawakan olehnya, maka semua musisi telah menetapkan tanggal 22 Januari sebagai hari penghormatan kepada Saint Thyagaraja. Tahun ini bertepatan dengan satu tahun berdirinya Music College, dan Swami kebetulan juga sedang berada di sini, maka para staff & murid-murid memohon kepada Swami agar Beliau berkenan hadir pada acara perayaan di pagi hari itu.

  

Dengan welas-asih-Nya, Swami memenuhi undangan mereka, Beliau pergi ke sana sekitar pukul 07.30 pagi dan berada di sana hingga pukul 09.30 – selama dua jam penuh! Saya rasa Beliau belum pernah memberikan waktu yang sedemikian lamanya kepada siapapun juga. Apa sih yang dilakukan oleh Beliau di sana? Semua siswa dari semua institusi diundang, berikut dengan para pengajar dan tamu-tamu – semuanya ada di situ. Ruangan di hall college itu terisi penuh! Swami berjalan-jalan di antara para hadirin, memberkati semuanya.

 

Dan kemudian Beliau duduk di satu tempat. Di dalam ruangan itu terdapat satu panggung yang cantik, dimana terdapat pahatan/gambar dua biola dan tabla – masing-masing satu di setiap sudut. Benar-benar cantik sekali. Dan Swami duduk di sana dengan para siswa berjejer di hadapan-Nya. Beberapa langkah di depan dais (panggung), telah duduk dengan rapi sebanyak dua-puluh siswa, dan di belakang mereka, terdapat enam siswa lainnya. Rupanya ke-dua-puluh siswa tadi merupakan vokalis sedangkan yang berjumlah enam orang merupakan pemain veena (sejenis alat musik klasik India). Semuanya mulai bernyanyi bersama-sama melantunkan lagu-lagu yang dikarang oleh Saint Thyagaraja.

 

Di India terdapat satu tempat bernama Guruvayur, dimana setahun sekali para penyanyi negeri ini berkumpul di sana. Dari penyanyi paling top hingga ke level amatir, semuanya akan berkumpul di sana dan menyanyikan bersama-sama secara khorus lagu-lagu komposisi Saint Thyagaraja. Saya teringat pemandangan ini ketika mendengarkan para siswa Music College ini bernyanyi. Sungguh apik sekali! Mereka menyanyikan kurang-lebih lima-belas lagu.

 

Sepanjang pengetahuan saya, Swami belum pernah memberikan waktu sedemikian lamanya bagi seorang artis senior sekalipun! Cinta-kasih yang dicurahkan oleh Swami bukanlah disebabkan oleh karena kepiawaian mereka. Para siswa-siswa tadi masih anak kecil, jadi tentu saja musik yang disuguhkan mereka bukanlah standar tertinggi. Sebenarnya ini merupakan pertama-kalinya anak-anak music college mempersembahkan sebuah program. Inilah yang menyebabkan Swami rela duduk bersabar dan menghargai mereka. Kemudian Beliau membagi-bagikan prasad. Setelah itu, saya kira Swami akan memberikan discourse, tapi rupanya sudah tidak ada waktu lagi. Beliau langsung kembali ke Mandir untuk arathi.

 

Sore harinya, seperti biasa Beliau datang dan berdiri di depan kami. Ia bertanya, “Anil Kumar, bagaimana pendapatmu tentang musik tadi pagi?”

 

“Sangat bagus, Swami.”

 

“Bagaimana kau bisa tahu?”

 

“Swami, saya-kan mendengarnya.”

 

“Ah, tapi kamu-kan bukan seorang ahli di bidang musik – kau tak tahu sama sekali tentang musik bukan? Jadi, bagaimana kau bisa tahu kalau standar musik itu tergolong bagus?” (tertawa)

 

Dan kemudian Beliau berkata, “Sangat bagus.”

 

Lalu saya berkata, “Swami, ada satu kekecewaan.”

 

“Lho mengapa? Apanya yang kecewa? Aku memberi mereka waktu dua jam. Jadi, kecewa apaan? Mengapa?”

 

“Swami, kami sebenarnya mengharapkan-Mu memberikan Divine Discourse (wejangan). Tapi rupanya kami tidak cukup beruntung untuk mendapatkan discourse-Mu tadi pagi.”

 

“Ah, it’s all right, it’s all right. Kalian-kan sudah menikmati musiknya. Siswa-siswa itu telah mempresentasikan program mereka. Itu saja sudah cukup.”

 

Namun rupanya doa-doa di dalam hatiku kelihatannya berhasil memancing Bhagawan untuk berbicara lebih lanjut tentang topik Thyagaraja sore itu.

 

“Ayah Thyagaraja bernama Ramabrahman dan ibunya bernama Sita. Seperti halnya Rama dan Sita, sang ayah dan ibu mempunyai nama yang sama. Lord Rama muncul di dalam mimpi ayah Thyagaraja dan berkata kepadanya, ‘Seorang bhakta besar akan lahir di dalam keluargamu.’ Selang beberapa waktu, mimpi itupun menjadi kenyataan.”

 

Kemudian Bhagawan berkata, “Semua hasil komposisi Sage Thyagaraja merupakan buah pengalamannya sendiri. Komposisinya mungkin tidak dianggap sebagai sebuah karangan puitis yang luar biasa. Karangannya bukanlah sebuah karya kesusasteraan. No. Semuanya didasarkan pada event-event yang terjadi dalam kehidupannya sendiri.

 

Pada suatu ketika, ia diminta oleh gurunya untuk mempersembahkan sebuah program musik di istana raja Thanjavur. Thyagaraja pergi ke sana dan sewaktu dia memasuki ruang kerajaan, ia mulai menyanyikan puji-pujian kepada semua hadirin.

 

“Saya akan mencoba memberikan arti dari lagu yang dinyanyikannya, yaitu: ‘Begitu banyak orang-orang hebat yang berkumpul di sini! Pujian dan penghormatanku kepada anda semuanya. Di sini banyak terdapat orang-orang hebat. Dimanapun juga, ku haturkan pujian & penghormatan kepada anda semuanya.’ Kurang-lebih begitulah inti sari dari lagu populer yang dinyanyikannya. Semua hadirin merasa bergembira dan tersentuh oleh perasaan yang melatar-belakangi Thyagaraja dalam mengkomposisi serta menyanyikan lagu itu.” Itulah yang dikatakan oleh Bhagawan kepada kami.

 

Tapi rupanya saudara Thyagaraja justru merasa cemburu terhadapnya. Kecemburuan sudah menjadi hal yang lumrah, bukan hanya di zaman atom atau komputer ini saja; tapi rupanya ia telah eksis dari sejak zaman Adam dan Hawa! Jadi, saudaranya sendiri merasa sangat cemburu. Lalu apa yang dilakukannya? Ia membuang semua patung-patung Rama, Lakshmana dan Sita ke sungai Kaveri. Ia membuang patung-patung itu karena dianggapnya bahwa kekuatan spritualitas Thyagaraja-lah yang menyebabkan dirinya begitu termasyhur dan terkenal. Jadi, ia menyingkirkan semua patung-patung itu dan dibuang di sungai Kaveri.

 

Alhasil, Thyagaraja menjadi sedih dan menangisi hilangnya patung-patung itu setiap hari. Suatu hari, pada saat mandi pagi di sungai Kaveri, tiba-tiba ada sesuatu yang menyentuh kakinya. Ia membungkuk dan mencoba mengeluarkan barang itu dari dalam air. Apakah itu? Rupanya patung-patung Rama, Lakshmana dan Sita! Barang-barang itu ternyata kembali lagi kepadanya yang kemudian dibawa pulang ke rumah, diiringi nyanyian berikut:

 

“Pulanglah, Rama, Lakshmana! Marilah kita pulang. Oh Tuhan, sudah lama daku sangat merindukan-Mu.” Demikianlah ia menyanyikan puji-pujian kepada Rama, Lakshmana dan Sita. Selanjutnya ia juga mengarang sebuah lagu sebagai ucapan syukur atas berpulangnya Rama, Lakshamana dan Sita; lagu ini sangat sangat populer di India Selatan. Di samping itu, Thyagaraja juga menyanyikan sebuah lagu yang menceritakan tentang Rama sebagai ayahnya dan Sita sebagai ibunya – tak ada yang lain. Demikianlah besarnya bhakti yang dimiliki oleh Sage Thyagaraja.


23 Januari 2003

 

Darshan kepada Sages di Himalayas

 

Sekarang saya berlanjut ke episode tanggal 23 Januari 2003. Tiba-tiba Swami mulai menjelaskan tentang hari-hari mudanya, sekitar lima-puluh tahun silam.

 

“Anil Kumar, tahukah kamu, dulu Aku pernah ke pegunungan Himalayas.”

 

“Swami, Engkau ke Himalayas?”

 

“Iya.”

 

“Sendiriankah?”

 

“No, no, no. Dua ratus orang pergi menemani-Ku.” (tertawa)

 

“I see. Lalu bagaimana soal makanannya, Swami?”

 

“Selalu ada satu rombongan yang pergi duluan, jadi mereka bisa mempersiapkan makanan untuk kami.”

 

“Oh, very good, Swami. Semua orang menemani-Mu?”

 

“Yes.”

 

Ibunda Easwaramma juga pergi menemani Swami dalam perjalanan ke India Selatan, ke tempat-tempat ziarah seperti Prayaga, Bhadri dan Kedarnath. Semuanya itu adalah pusat-pusat ziarah yang terletak di jajaran pegunungan Himalaya.

 

Dan kemudian Swami mulai bercerita, “Kala itu ada seorang gubernur bernama Ramakrishna Rao. Gubernur ini berperawakan pendek, bahkan lebih pendek dari Baba. Beliau menguasai tiga-belas jenis bahasa, seorang cendekiawan. Nah, dialah yang mempersiapkan semua kebutuhan perjalanan Baba. Ia mengatur tempat penginapan untuk Bhagawan di istananya, di guest-housenya, pokoknya memberikan penyambutan yang terbaik kemanapun juga Bhagawan pergi.”

 

Kemudian saya berkata, “Swami, bukankah cuaca di Himalaya sangat dingin?”

 

“Iya dong.”

 

“Swami, lalu apakah Kamu ada pakai baju hangat atau sweater?”

 

“No, no, no, no, hanya ini saja (jubah Beliau), itu saja. Tidak ada baju hangat, tidak ada sweater, tidak ada selimut.”

 

“Oh, I see, Swami. Lalu bagaimana dengan alas kaki?”

 

“Tak ada alas kaki. Aku berjalan begitu saja.”

 

“Wah, di atas lapisan es?”

 

“Ya, di atas es.”

 

Oh, betapa enaknya ya berjalan di atas es!? (tertawa) Bisa kita bayangkan, betapa sulitnya!

 

“Swami, how long, berapa lama Engkau berjalan di atas es?”

 

“Delapan belas kilometer.”

 

“Swami, apakah setiap orang juga begitu? Apakah Swami juga menyuruh semua rombongan berjalan di atas es tanpa alas kaki?”

 

 

“No, no, no, banyak hewan keledai yang mengangkut mereka. Di samping itu, para guides (penuntun jalan) ada yang mengendong mereka yang tak mampu berjalan. Juga ada tukang-tandu yang dibayar khusus untuk service angkat orang. Aku sih jalan kaki aja.”

 

“Oh, Swami, ahh.” Kemudian Swami berkata bahwa Gubernur Ramakrishna memberikan sepasang sepatu kanvas buat Bhagawan, dan ia memaksa Bhagawan agar berkenan memakainya. Terpaksalah Bhagawan menurutinya. Tapi oleh karena sepatu itu masih baru, akibatnya malah terjadi lecet pada kaki Swami. Setelah dipakai sekian lama, Bhagawan malah tak bisa berjalan lagi. Jadi, Beliau harus melepaskan sepatu itu. Ketika Gubernur Ramakrishna melihat luka lecet itu, ia menangis.

 

Tambahan pula, isteri sang guberner juga melihat kejadian ini dan berkomentar, “Lihatlah! Nonsense apa yang telah kau perbuat?! Kau memberikan sepasang sepatu baru kepada Bhagawan dan sekarang, apakah kau lihat luka lecet itu di kaki-Nya? Apakah kau tak punya akal sehat ya?”

 

Jadi, sang gubernur harus menangis dua kali (tertawa): pertama, akibat ketidak-nyamanan yang telah diakibatkan olehnya terhadap Swami, dan kedua, atas cercaan bertubi-tubi yang diterimanya dari pihak rumah, yaitu dari isterinya tercinta. (tertawa)

 

Semua peristiwa ini diceritakan oleh Swami. Kemudian saya berkata, “Swami, di dalam buku Sathyam Sivam Sundaram, tertulis bahwa terdapat beberapa yogi (sages) yang tinggal di dalam gua-gua di pegunungan Himalaya dan mereka mendapatkan darshan-Mu. Apakah itu benar?”

 

“Yes, yes. Di Himalaya terdapat beberapa lembah-lembah. Banyak sekali jurang dan kelokan di sana, dan kau harus melewati jalan-jalan tapak yang sangat sempit. Aku meminta semua pengikut untuk tunggu sebentar. Aku mengunjungi beberapa gua dan memberikan darshan-Ku kepada beberapa yogi. Aku berbincang-bincang dengan mereka. Mereka telah menantikan darshan-Ku sejak lama.” Itulah yang dikatakan oleh Bhagawan kepada kami.


Mereka mengangkat mobil-Ku

 

Dan kemudian Swami tiba-tiba tertawa.

 

“Swami, ada apa? Apa yang terjadi?”

 

“Oh, Aku mengunjungi daerah Punjab juga.”

 

“Oh, I see Swami.”

 

Anda tentunya tahu, Punjabis umumnya memakai turbans. Anda pasti tahu dong. Dan kaum wanitanya umumnya juga menutup kepalanya dengan saris. Pernah lihat ngakk? Seperti tudung/kerudung. Jadi, di satu sisi semuanya memakai kerudung dan di sisi lainnya memakai turban – pria dan wanita.”

 

“Oh, Swami.”

 

“ Jumlah massa saat itu sekitar dua ribuan – kerumunan yang sangat ramai.”

 

“I see.”

 

“Sangking begitu padatnya, sampai-sampai tidak ada sisa ruangan lagi bagi mobil-Ku untuk lewat.”

 

“Swami, lalu apa yang terjadi?”

 

“Empat pria Punjabis, semuanya berbadan kekar, mereka datang dan mengangkat mobil-Ku. Langsung saja dibawa ke panggung dan dari sanalah Aku memberikan wacana.” Demikianlah hal-hal yang teringat oleh Bhagawan tentang peristiwa yang pernah terjadi di masa muda-Nya.


Ramesh dan Suresh tidak tahan berpisah

  

Dan Swami juga membicarakan tentang attachment (kemelekatan). Kita boleh memiliki kemelekatan yang erat dan intim dengan Bhagawan, seperti halnya kedua teman sekelas Beliau, yaitu Ramesh dan Suresh. Mereka tidak tahan berpisah dengan Swami, sehingga akhirnya mereka mati dan terlahir lagi sebagai Jack and Jill (kedua anjing piaraan Swami), yang tinggal bersama-sama dengan-Nya.

 

Dan sekarang, perkenankanlah saya tidak menyebutkan nama mereka, tapi kedua-duanya juga telah terlahir lagi sebagai sepasang kakak-beradik (sisters). Tidak etis bagi saya untuk mengungkapkan nama-nama mereka, sebab mereka berasal dari keluarga ningrat (royal family). Jadi, Ramesh dan Suresh, yang terlahir sebagai Jack dan Jill, sekarang telah terlahir lagi sebagai sepasang kakak beradik. Suami-suami mereka adalah bhakta Bhagawan, dan salah seorang diantaranya juga hadir di sini. Tolong jangan desak saya menyebutkan nama mereka. (tertawa)


Para siswa harus mematuhi perintah-Nya secara seksama

 

Dan kemudian, Bhagawan membicarakan bagaimana para siswa harus mematuhi instruksi-instruksi-Nya secara seksama.

 

Beliau berkata, “Look here, beberapa waktu yang lalu Aku pernah berkata kepada seorang siswa, ‘Kau tetap di sini saja. Jangan pulang dulu.’ Anak itu diam saja. Lalu selang beberapa hari kemudian Aku berkata kepadanya, ‘Kamu ini pengemudi yang suka terburu-buru. Jangan bawa sepeda motor ya.’ Demikian pesan-Ku – tapi si anak itu tetap saja pergi.

 

Ketika sedang mengendarai sepeda motornya, ia bertabrakan dan harus masuk rumah-sakit. Bhagawan pergi menjenguknya di rumah-sakit. Sambil menangis, anak itu berkata, ‘Swami, semuanya ini adalah kesalahanku. Engkau telah memperingatiku untuk tidak membawa sepeda motor. Tragedi ini terjadi akibat salahku sendiri. Sayalah yang patut dipersalahkan. Tapi bagaimanapun juga, saya merasa gembira bahwa Engkau berkenan datang ke sini untuk memberikan darshan-Mu menjelang akhir hidupku ini.’ Dengan tangan dirangkapkan, sembari memegang tangan Bhagawan, anak itupun meninggal.” Demikian kata Bhagawan.

 

Oleh sebab itu, secara langsung mungkin kita tidak memahami kata-kata Bhagawan. Kita mungkin tidak tahu apa implikasinya secara langsung dan kita juga mungkin tidak memahami arti & makna yang terkandung di dalam ucapan Beliau. Tapi, seiring dengan berjalannya waktu, lambat laun kita juga pasti akan tahu mengapa dulu Bhagawan berkata demikian.


Aku mengenalmu sejak sepuluh kehidupan yang lampau

 

Selanjutnya topik pembicaraan berganti, yaitu mengenai begitu banyaknya artis-artis yang datang berkunjung kepada Bhagawan selama lima-puluh tahun terakhir ini. Beliau menyinggung beberapa nama artis: penari, penyanyi, vokalis, musisi instrumental – begitu banyak sekali. Beliau terus menyinggung berbagai nama.

 

Saya bertanya, “Swami, ada seorang pria bernama Chowdayya, seorang pemain biola, apakah beliau pernah datang ke sini juga, Swami?”

 

“Ya, dia pernah datang. Ia memberikan performance (pertunjukkan) di sini.”

 

“I see, Swami. Lalu Dwaramvenkata Swamy, seorang violinist juga – Swami, apakah dia datang juga?”

 

“Ya, dia pernah ke sini juga.”

 

Setiap nama yang kusebutkan, Beliau mengatakan bahwa mereka pernah datang.

 

Dan selanjutnya Swami berkata, “Ada seorang pria bernama Gaggayya juga datang kemari.”

 

“Oh, dia ke sini juga ya?”

 

“Nagayya, seorang aktor film, ia juga pernah ke sini.”

 

Seperti itulah, Beliau menyebutkan berbagai nama.

  

Lalu saya berkata, “Swami, bagaimana dengan Ghantasala (foto), seorang penyanyi latar Telugu, orang yang sangat terkenal, apakah dia pernah ke sini juga?”

 

“Ya, ia datang juga.”

 

“Oh, I see.”

 

“Bahkan dia tinggal bersama-Ku selama dua bulan lamanya.”

 

“I see.”

 

Dan Swami berkata, “Dia selalu mengikuti-Ku kemanapun juga Aku pergi.”

 

“Mmhmm?”

 

“Tapi dia datang ke sini menjelang fase terakhir (penyakit kanker).”

 

Lalu saya nyeletuk, “Swami, saya pernah mendengar pidatonya.”

 

“Pidato? No, no, dia itu seorang musisi. Pidato apaan?”

 

“No, Swami, sebelum program musik, dia pernah mengucapkan sepatah-kata.”

 

Swami bertanya, “Apa yang dikatakannya?”

 

Ghantasala, seorang penyanyi latar yang terkenal, ketika dia datang pertama kalinya ke Prashanthi Nilayam, ia telah menderita kanker parah. Swami tidak pernah mau melihatnya ketika itu. Maka si Ghantasala pulang ke kamarnya di East Prashanti dan mulai menangis, “Oh Tuhan, walaupun aku dikenali oleh setiap orang, tapi begitukah caranya Engkau memperlakukanku? Engkau telah mengabaikanku. Aku merasa terhina, Bhagawan. Aku merasa dipermalukan. Orang-orang akan mentertawaiku. Apakah Engkau memang sengaja melakukan hal ini?”

 

Selanjutnya ia menciptakan satu lagu Telugu, yang tentunya juga sudah pernah anda dengar beberapa kali. Dan suatu hari, setelah bhajans, ia tidur di ranjangnya tanpa mengenakan baju – hanya sehelai handuk di atasnya. Saat itu ia sangat sakit, berbaring di atas ranjang, berdoa meminta pertolongan Baba. Tiba-tiba, ia mendengar suara. Ia mengangkat kepalanya dan melihat bahwa pintu kamar sudah terbuka – dan Bhagawan sedang berjalan memasuki kamarnya! Bhagawan menghampirinya, duduk di tepi ranjang dan mengoleskan vibhuthi di sekujur badannya.

 

“Tak usah khawatir Ghantasala, Aku telah mengenalmu sejak sepuluh kehidupan yang lampau. Aku akan memastikan bahwa namamu akan tetap dikenang di India Selatan selama mentari, rembulan dan bintang-bintang masih bersinar. Engkau akan dikenang sebagai penyanyi yang paling top.”

 

Setelah berkata demikian, Bhagawan pergi. Lalu, orang ini menciptakan lagu baru: “Ah, sungguh hari yang sangat menyenangkan! Bhagawan datang dengan wajah tersenyum. Ku tak dapat melihat-Mu, Oh Tuhan, oleh karena tetesan air mata yang jatuh dari langit di atas permukaan bola mata-ku. (tertawa) Mata ini tak dapat melihat-Mu karena kedua-duanya menjadi basah, dengan uraian air mata. Bagaimana Aku bisa melihat-Mu, Tuhan-ku? Tapi hari ini telah disucikan berkat kunjungan Ilahi-Mu!”

 

Itulah makna dari lagu tersebut, yang juga sering diulang-ulang oleh siswa-siswa kita. Nah, inilah episode yang ku ceritakan dan Swami berkata, “Yes, yes, yes, yes.”


Penyanyi M.S. Subbalakshmi

  

Kemudian saya juga harus menyinggung episode lainnya. Terdapat seorang wanita bernama M.S.Subbalakshmi. Beliau adalah seorang wanita yang sangat sangat hebat. Ia adalah seorang penyanyi yang telah menerima penghargaan tertinggi – award national. Bukan itu saja, dialah satu-satunya penyanyi yang diizinkan untuk mementaskan sebuah program musik klasik di New York dalam salah satu sessi yang diselenggarakan oleh PBB. Pada bagian penghujung konser musiknya, semua kepala pemerintahan berdiri dan memberikan applaus kepadanya. Nah, wanita hebat ini adalah bhakta Baba. Ketika ia menyanyi, suaranya bisa mencapai oktaf yang tertinggi.

 

Swami berkata, “Oh, dia sering datang ke sini secara rutin.”

 

“Oh, I see, Swami. Saya juga pernah mendengarkan ceramahnya, Swami.”

 

“Apa yang dia katakan?”

 

“Swami, dia mengatakan bahwa kemanapun juga dia pergi, dimanapun juga saat ia memberikan konser, ia selalu menyumbangkan sebagian dana yang ia peroleh kepada setiap institusi. Hampir semua institusi besar pernah menerima sejumlah dana darinya, melalui konser musiknya. Demikian yang pernah ia katakan pada suatu pertemuan umum.”

 

“Lebih lanjut ia juga menambahkan, ‘Ada satu tempat yang saya kunjungi yang tidak mengharapkan apapun juga dariku; Tak ada seorangpun yang meminta apapun juga dariku. Dan di tempat itu, saya bertemu dengan seorang pribadi luar biasa yang menciptakan sebuah kalung dengan kandungan 100 permata yang langsung diberikan kepada saya di atas panggung. Pribadi itu tak lain adalah Bhagawan Sri Sathya Sai Baba!’ Tepuk-tangan meriah langsung bergemuruh menanggapi pernyataannya itu.” Inilah yang kuceritakan kepada Bhagawan dan semua hadirin juga mendengarnya. Kita semuanya sangat sangat happy!

 

Dengan ini kita akhiri semua episode di bulan Januari awal tahun 2003 ini. Pada sessi berikutnya, kita akan membahas sisa-sisanya. Terima-kasih banyak.

 

Professor Anil Kumar mengakhiri ceramah dengan menyanyikan bhajan,

“Chandra Kirana Kula Mandana Rama”

 

OM… OM… OM…

 

Om Asato Maa Sad Gamaya

 

Tamaso Maa Jyotir Gamaya

 

Mrtyormaa Amrtam Gamaya

 

 

Om Loka Samastha Sukhino Bhavantu

 

Loka Samastha Sukhino Bhavantu

 

Loka Samastha Sukhino Bhavantu

 

 

Om Shanti Shanti Shanti