MUTIARA KEBIJAKSANAAN SAI - BAGIAN 10

 Satsang Anil Kumar: Percakapan Baba dengan Para Siswa

 

15 Januari 2003

 

With Pranams at the Lotus Feet of Bhagawan,

 

Dear Brothers and Sisters!

 

12 Januari 2003

 

Percakapan terakhir dengan Bhagawan berlangsung pada tanggal 12 Januari yang lalu. Oleh karena berita-nya masih baru, maka tentu akan sangat menarik sekali; setelah itu baru kita akan membicarakan session-session yang terjadi sebelum tanggal 12 Januari. Ada beberapa komentar menarik yang dilontarkan oleh Bhagawan, dan komentar-komentar Beliau selalu merupakan pesan dan pedoman bagi kita semuanya. Oleh sebab itu, saya ingin share dengan anda semuanya.


“Kau tidak boleh bergantung pada orang lain”

 

Point pertama yang dikatakan oleh Beliau adalah: Baik pada saat Sports Meet ataupun kegiatan lainnya, kita tidak boleh bergantung kepada pihak lain. Kita tidak boleh menyewa apapun juga dari orang lain. Kita tidak boleh mempekerjakan siapapun juga. Jangan memanfaatkan jasa-jasa agency (sejenis biro jasa). Kalian harus mandiri dan percaya kepada kemampuan diri sendiri. Beliau menyebutnya swasakthi, yang berarti: percaya atau bergantung kepada kemampuan sendiri. Pesan cantik ini akan membantu dan memberi semangat agar kita berdiri kuat di atas kaki sendiri, dan tidak bergantung pada tetangga-tetangga kita.

 

Pernyataan Swami ini membuat saya mengajukan satu pertanyaan, “Swami, apakah kita mampu bergantung pada kekuatan sendiri sepanjang hidup ini? Apakah salah kalau kita meminta bantuan dari orang lain? Mengapa tidak boleh?”

 

Maka Swami menjawab, “Jikalau terdapat orang lain yang datang dan mencoba mengulurkan bantuannya kepadamu; maka hendaknya spirit/semangatmu sajalah yang merespons terhadap tawaran bantuannya itu. Tawaran tersebut hendaknya hanya dimanfaatkan sebagai stimulus (pemicu); sedangkan semangat aslinya harus ditimbulkan dari dalam dirimu sendiri.”

 

Jawaban yang cantik sekali! Sekarang saya paham bahwa semua orang yang berhubungan denganku hanyalah berfungsi sebagai pembangkit semangatku. Ketika kita sedang murung atau bersedih; maka sepatah-kata pelipur lara dan dukungan dari teman-teman tentu akan sangat menghibur. Namun, walau begitu, ujung-ujungnya kitalah yang harus membangkitkan semangat di dalam diri kita sendiri. Dengan perkataan lain, pihak-pihak luar hanya berfungsi sebagai pendorong semangatmu dari luar. Inilah point pertama yang diutarakan oleh Swami.


Dua hal diperlukan: Energi dan Kemampuan

 

Point kedua: Ada dua unsur/elemen yang dibutuhkan oleh setiap orang. Perlu saya ingatkan, bahwa point-point ini dikemukakan sebagai bagian dari follow-up terhadap Sports Meet. Kami mengadakan ajang pertandingan olah-raga pada tanggal 11 dan 12 kemarin dan oleh karenanya, Swami membicarakan point-point tersebut. Jadi, event Sports Meet ini dimanfaatkan sebagai alasan atau kesempatan untuk menyampaikan pesan-pesan Ilahi kepada setiap orang. Dalam konteks inilah saya ingin share dengan anda komentar-komentar yang dilontarkan oleh Bhagawan.

 

Nah, sekarang Beliau mengatakan bahwa ada dua elemen yang dibutuhkan oleh setiap orang. Yang pertama adalah sakthi, yang diartikan sebagai energi, dan yang kedua adalah saamardhyam, yang berarti ability atau kemampuan. Jadi, energi dan kemampuan sangat penting bagi setiap individu.

 

Lalu, saya berkata, “Bhagawan, selama ini saya selalu beranggapan bahwa sakthi dan saamardhyam merupakan barang yang sama. Bisakah saya hidup dengan hanya memiliki salah satu di antaranya saja? Apakah saya perlu memiliki kedua-duanya?”

 

Bhagawan memberikan satu contoh. Sembari menunjuk ke sebuah meja, Ia berkata, “Untuk mengangkat meja ini, engkau membutuhkan sakthi (energi/tenaga). Di samping itu, kau juga membutuhkan kemampuan (ability) untuk mengangkat meja itu. Bagaimana cara mengangkatnya? Tentunya diperlukan juga teknik dan ketrampilan untuk mengangkatnya. Nah, ketrampilan dan teknik itulah yang disebut sebagai saamardhyam, ability atau kemampuan; sedangkan tenaga yang diperlukan untuk mengangkat disebut sebagai sakthi.”

 

“Swami, Dikau telah memberikan klarifikasi yang sangat bagus. Selama ini saya selalu mengira bahwa kedua terminologi tadi mengandung pengertian yang sama (synonymous) dan saya pikir bahwa kita hanya perlu salah satu di antaranya. Very good! Sekarang saya telah paham bahwa satu dengan yang lain saling melengkapi (complementary). Saya sangat senang.”

 

Sebagai tambahan, Bhagawan juga memberikan penjelasan lebih lanjut tentang saamardhyam atau ability, teknik, ketrampilan. Beliau memberikan satu contoh lain. Kalam artinya pulpen. Kavvam adalah sejenis alat yang digunakan untuk mengaduk mentega. Kita mengaduk curd (dadih) dengan kavvam, yaitu batang pengaduk.

 

Swami adalah masternya para penyair. Beliau mengkombinasikan kedua istilah ini secara puitis. “Kalam (pulpen) digunakan untuk menulis. Kavvam (batang pengaduk) digunakan untuk mengaduk mentega. Engkau tidak bisa mengunakan batang pengaduk untuk menulis. Demikian pula, pulpen tidak bisa digunakan untuk mengaduk mentega – inilah yang disebut ability (kemampuan), inilah yang dinamakan ketrampilan (skill).”

 

Demikianlah caranya Swami menjelaskan arti kata-kata: sakthi dan saamardhyam, tenaga dan kemampuan.


“Apa peranan Divinity?”

 

“Swami, saya ingin tahu – jikalau saya mempunyai tenaga dan kemampuan, lalu Divinity gunanya untuk apa? Dimanakah letak peranan Tuhan? Bukankah sudah cukup kalau kita memiliki kemampuan dan ketrampilan?”

 

Lalu, apa jawaban Tuhan?

 

Tanggapan Swami adalah sebagai berikut, “Okay. Misalkan kamu menanam biji-bijian, maka kelak biji itu akan tumbuh dan berkecambah. Jikalau tidak ada tanah, apakah biji itu bisa tumbuh? Nah, Divinity dapat diibaratkan sebagai tanah yang membantu pertumbuhan biji-bijian tersebut.”

 

“Oh, Swami, sekarang saya mengerti. Tapi yang ingin saya ketahui adalah kaitan antara Divinity dengan tenaga dan kemampuan. Mohon berikanlah penjelasan kepadaku. Ceritera biji-bijian tadi hanya salah-satu aspek saja. Sedangkan yang kusinggung ada dua, yaitu sakthi dan saamardhyam, jadi mohon Swami berkenan menjelaskan keterkaitan antara kedua aspek itu.”

 

Beliau sedang dalam mood yang bagus. Langsung saja Ia menambahkan, “You see, di sini terdapat sebuah biji yang tumbuh berkembang menjadi sebatang pohon. Apa sih yang menyebabkannya? Penyebabnya adalah: air. Airlah yang menjadi link (penghubung) antara akar-akar di dalam tanah dan pucuk pohon di atas. Demikianlah, di antara energi (sakthi) dan kemampuan (saamardhyam); penghubungnya adalah Divinity (Keilahian). Jadi, konektornya adalah Divinity.”

 

Apakah anda paham yang kita bicarakan tadi? Betapa cantiknya penjelasan Swami. Bila tidak ada air, maka kita bisa mengharapkan berkecambahnya biji-bijian itu. Air yang sama juga mengalir di dalam pohon-pohonan. Jadi, air merupakan penghubung antara akar dan tunas pohon. Prinsip yang sama juga berlaku untuk ability dan energy. Benar-benar bagus sekali penjelasan Beliau!


“Kelemahanmu-lah yang menyebabkan kau merasa begitu”

 

Selanjutnya saya mengajukan pertanyaan lain, “Swami, bagaimanapun juga saya merasa bahwa saya tak akan mampu perform dengan baik bila tidak dibantu orang lain. Engkau menghendaki agar saya percaya pada kemampuan sendiri. Tapi, entah bagaimana di dalam diri ini, saya tetap merasa bahwa saya tak bakal berhasil bila tanpa dukungan pihak lain.”

 

Maka langsung saja datanglah jawaban Swami yang berapi-api dan tegas: “Kelemahanmu sendirilah yang menyebabkan engkau merasa demikian. Kelemahanmu menimbulkan perasaan bahwa seolah-olah engkau membutuhkan pertolongan pihak lain. Padahal, dengan kekuatan, kemampuan serta tenagamu; sebenarnya engkau bisa melakukan apapun juga oleh dirimu sendiri! Perasaan bahwa engkau tidak bisa melakukannya sendiri – sehingga dibutuhkan pertolongan orang lain – hal ini merupakan cerminan dan pertanda kelemahan dalam dirimu sendiri!”

 

Jawaban ini merupakan petunjuk agar kita senantiasa bergantung kepada Tuhan dan bukan kepada orang lain. Bila kita menggantungkan diri kepada orang lain; maka itu merupakan pertanda nyata dari kelemahan kita sendiri. Apakah cukup jelas? Cobalah lihat betapa cantiknya penjelasan Beliau.


Antusiasme dan Dorongan

 

Saya tidak mau terhenti begitu saja pada point terakhir tadi, jadi saya kembali berkomentar, “Swami, tapi setidaknya saya-kan memerlukan dorongan dari seseorang? Jikalau saya tidak boleh mengharapkan apapun juga dari orang lain; maka setidaknya perlu ada seseorang yang bisa memberikan dorongan kepada saya – sepatah-dua kata penambah semangat. Bolehkah begitu?”

 

Swami berkata, “No, no, no, no!”

 

Beliau mengunakan dua istilah, yaitu: utsaaham, yang berarti antusiasme, dan prothasaham, artinya dorongan. Kemudian Swami berkata, “Baiklah, orang lain boleh-boleh saja memberi dorongan kepadamu, tetapi semangatnya harus berasal dari dalam dirimu sendiri. Mereka tidak bisa mendorong atau memberikan dorongan melalui mulut semata. Engkau sendirilah yang harus mendorong dirimu sendiri melalui nasehat-nasehat mereka.”

 

Jadi, dorongan bukanlah sebutir tablet yang bisa ditelan begitu saja. Dorongan bukanlah seperti suntikan yang diinjeksikan ke tubuhmu. Pada akhirnya, antusiasme haruslah terlahir dan bermuara dari dalam dirimu sendiri; bukan dari luar. Semua antusiasme dan dorongan yang kau rasakan harus dimunculkan dari dalam dan tidak bisa diperoleh dari luar. Itulah yang dikatakan oleh Swami.


“Apakah kau lihat Anil Kumar kemarin?”

 

Selanjutnya Bhagawan bertanya kepada seseorang yang duduk di sana, “Apakah kau lihat Anil Kumar dengan setelan jas dan dasinya kemarin, saat dia berada di panggung sewaktu Sports Meet?”

 

Orang itu menjawab, “Ya, Swami. Dia kelihatan cakep sekali lho.”

 

Kemudian Warden Brindavan Hostel (Mr. Narasimharmurthy) berkata, “Swami, aku bilang sama Anil Kumar, ‘Dengan setelan jaket berwarna biru, celana putih dan dasi ini; kau kelihatan seperti seorang olah-ragawan’. Dia memang terlihat gagah & cakep.”

 

Maka saya-pun menambahkan, “Swami, kalau saya tidak tampil anggun di sini, maka dimana lagi saya bisa menampilkan diri? (tertawa) Jikalau saya tidak kelihatan bermartabat di sini, maka dimana lagi dong? Di rumah, paling-paling orang-orang di jalanan saja yang melihatku, tapi kalau di sini, saya bisa dilihat oleh ribuan orang, baik dari India maupun dari luar negeri. Jadi, why not? Oleh sebab itu, saya ingin menampilkan diri saya sebaik mungkin, sebab saya tahu bahwa saya akan berdiri di samping Tuhan. Jadi, mengapa tidak?”

 

Kemudian Swami berkata, “Hmm… (tertawa). Apa lagi yang mau kau katakan ha?”


Kemegahan dan Martabat

 

Terdapat dua istilah: darja, yang berarti: ‘dengan segala kemegahan dan pamer-diri’ (pomp and show) dan theevi, yang berarti ‘bermartabat’ (dignity).

 

Kemudian saya berkata, “Swami, dengan darja dan theevi ini, atau dengan segala kemegahan dan martabat ini; jikalau saya tidak bisa tampil seperti itu di sini, maka harus dimana lagi dong?”

 

Swami terus memperhatikan aku dengan seksama. Lalu saya pikir bahwa inilah momen bagi saya untuk mengambil peluang agar situasi menjadi sedikit lebih santai. Maka saya berkata, “Swami, apa sih perbedaan antara darja dan theevi? Bukankah kedua-duanya sama saja?”

 

Kemudian Bhagawan mengatakan, “Sesuatu yang di luar (darja) akan direfleksikan sebagai theevi di dalam. Jadi, di luar adalah pomp and show, sedangkan di dalam adalah dignity (martabat). Demikianlah adanya. Segala yang terlihat di luar adalah darja dan yang diproyeksikan ke TV, televisi, adalah theevi. Jadi, theevi adalah TV.”

 

Apakah anda memahami permainan kata-kata yang cantik ini? Jadi, theevi atau dignity atau martabat/gengsi dapat diibaratkan seperti TV, sedangkan darja atau kemegahan atau sikap pamer-diri merupakan pemandangan yang direkam dari luar.

 

“Luar biasa, Swami. Very nice, very nice. I’m so happy.”


“Dia-kan Produk-Mu”

 

Kemudian Beliau memanggil Principal dari Brindavan College (Mr. Sanjay Sahani); salah seorang principal yang berusia paling muda, yang juga sekaligus alumnus universitas Swami.

 

Beliau bertanya kepada saya, “Bagaimana dengan dia?”

 

Saya berkata, “Oh, Swami, dia adalah mutiara dari siswa-siswa-Mu.”

 

Kemudian Ia kembali bertanya, “Bagaimana kau bisa tahu?”

 

“Satu alasan sederhana saja, sebab ia adalah hasil gemblengan-Mu. Saya datang ke sini ketika saya sudah berumur 45 tahun. Pada saat saya datang kepada-Mu, di usia 45 tahun, saya sudah setengah rusak; sedangkan anak ini betul-betul 100 persen murni berada di bawah bimbingan-Mu.”

 

“Hmm, bagus.”


“Kau berada di luar jangkauan usia”

  

Selanjutnya Swami bertanya, “Lalu bagaimana dengan Aku?”

 

“Wah, Swami, Engkau tidak memiliki usia! Saya datang ke sini pada umur 45 tahun, sedangkan anak ini datang kepadamu pada usia yang bahkan jauh lebih muda. Nah, sekarang Engkau mau saya menerka/menyebutkan usia-Mu? Engkau tidak berusia! Engkau berada di luar jangkauan usia.”

 

Kemudian Tuhan yang baik ini memberikan senyuman manis-Nya kepadaku dan berkata, “Bagaimana kau bisa tahu?” (tertawa)

 

Maka saya berkata, “Swami, saya telah mendengar begitu banyak orang berkata kepada saya, ‘Swami telah melangsungkan upacara pernikahanku,’ ‘Swami telah melaksanakan upacara pernikahan untuk anakku,’ ‘Swami telah memberi nama untuk cicitku.’ Kita semuanya bertambah tua, tapi Swami, Kau masih tetap saja muda! Jadi, Kau tidak terjangkau oleh waktu/usia.”

 

“It’s okay, okay.”


“Saya tidak pernah khawatir”

 

Kemudian Beliau memberikan suatu pernyataan yang sangat penting. “Jikalau saja engkau juga seperti Aku, maka engkau juga tidak akan terikat oleh waktu.”

 

“Swami, seperti Kamu? Apa yang Engkau maksudkan?”

 

Bhagawan berkata, “Aku tidak pernah khawatir, chinthalu. Aku tidak banyak mikir, nothing! Aku tak pernah cemas, chinthalu. Nah, jikalau engkau tidak mempunyai chinthalu atau kekhawatiran, maka kau juga bisa tetap awet muda seperti Aku.”

 

“Swami, lalu mengapa orang-orang bertambah tua?”

 

“Kecemasan/kekhawatiran-lah yang membuatmu terlihat tua. Kekhawatiran-lah yang bertanggung-jawab terhadap usia tua. Jikalau kau tidak khawatir, maka kau akan tampil tetap awet muda seperti Aku.”

 

Betapa bagusnya kalau saja kita bisa terbebas dari segala permasalahan. Tapi, semakin besar keinginan kita untuk terbebas dari problema; maka semakin khawatirlah kita. Biarkan saja anjing yang sedang tidur itu terbuai dalam mimpinya, kita tak perlu membangunkannya!


“Prashanti Nilayam adalah Surga”

 

Dan kemudian ada satu hal khusus yang disinggung. Seorang pria mengatakan, “Swami, tanggal 14 Januari bertepatan dengan hari Vaikuntha Ekadasi. Bukan hanya Vaikuntha Ekadasi saja, Sankranthi juga jatuh pada hari itu.”

 

Vaikuntha Ekadasi adalah sejenis hari perayaan, dimana pada hari itu kita memberikan penghormatan & persembahan kepada semua dewa-dewi sekaligus. Hanya ada satu Tuhan; tetapi banyak dewa-dewi – setuju-kan? Terdapat perbedaan antara Tuhan dan dewa-dewi – setuju? Lakshmi adalah dewi, Saraswathi juga adalah dewi, demikian juga Durga adalah dewi. Kali, Durga – semuanya adalah dewa-dewi; tetapi Divinity (keilahian) hanya ada satu dan sama adanya. Apakah cukup jelas? Jadi Vaikuntha Ekadasi adalah momen dimana kita memberikan penghormatan kepada semua dewa-dewi serentak pada hari yang sama. Vaikuntha artinya sorga.

 

Kemudian saya berkata, “Swami, wah kalau begitu, Prashanti Nilayam ini juga adalah surga (Vaikuntha). Inilah surga yang sebenarnya.”

 

Beliau bertanya, “Bagaimana kau bisa tahu?”

“Saya tahu karena selama saya berada di sini, saya sama sekali tidak merasa cemas ataupun khawatir,” demikian kata-ku. “Tapi begitu saat saya beranjak keluar, semua kekhawatiran langsung mengejar-ngejar dan menghantui-ku. Keadaan tanpa kekhawatiran dan tanpa pikiran merupakan surga sejati. Di sinilah tempat dimana saya bisa mengalami surga itu. Jadi, tak salah lagi, di sinilah surganya.”


Teladan dan Perintah

 

Dan selanjutnya saya berkata, “Swami, bukan main hebatnya teladan yang Engkau tunjukkan kepada kami. Teladan bahwa kita harus terbebas dari segala pikiran dan kekhawatiran – Engkaulah sesungguhnya adarsam, teladan/idealisme.”

 

Bhagawan berkata, “Ini bukan sekedar adarsam sederhana. Ini adalah aadesam-Ku, (command) perintah-Ku kepadamu.”

 

Aadesam artinya perintah, sedangkan adarsam artinya teladan/idealisme.

 

Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Swami – sang ideal atau adarsam – memiliki aadesam, yakni perintah/nasehat-Nya; yang merupakan contoh suri teladan yang patut untuk kita ikuti.

 

Terakhir Swami berkata, “Itulah sebabnya Aku mengatakan bahwa My Life is My Message (Hidup-Ku adalah pesan-Ku).”

 

Kehidupan Beliau adalah teladan/ideal, adarsam. Pesan-pesan-Ku adalah perintah (command), aadesam.


Rasa Puas-Diri (Self-Satisfaction)

 

“Swami, bila kita melakukan hal-hal yang dihargai oleh orang lain; maka secara psikologis, kita merasa puas (satisfaction). Jadi, jikalau saya melakukan sesuatu hal yang mendapatkan perhatian atau apresiasi dari setiap orang, maka tentunya saya merasa senang & puas dong, betul tidak? Apakah benar ini yang dinamakan samthrupthi, kepuasan (satisfaction)?”

 

Swami menjawab, “Atma Samthrupthi atau puas-Diri (Self-satisfaction) jauh lebih penting daripada sekedar apresiasi/penghargaan dari orang lain. Atma Samthrupthi atau self-satisfaction (puas-diri) ini jauh lebih bernilai daripada penghargaan ataupun tepuk-tangan yang datang dari segala penjuru.”

 

Dengan ini, seluruh percakapan pada tanggal 12 Januari 2003 telah kita akhiri. Sekarang kita akan berjalan mundur ke tanggal-tanggal yang lebih awal, sebagaimana yang biasanya kita lakukan sebelumnya.


Globalisasi dan Standar Kehidupan

 

Seperti biasa, pada hari itu, setelah selesai memberikan interview sore hari, Bhagawan keluar dari ruangan-Nya secara perlahan, berjalan dengan penuh anggun, membetulkan rambut-Nya dengan gaya yang cantik dan unik serta tak mungkin ditiru. Beliau duduk di kursi-Nya dan mulai berbincang-bincang dengan kami.

 

Beliau secara santai bertanya, “Kalian mengadakan meeting di college hari ini ya?”

 

“Ya, Swami. Kami mengadakan meeting tadi pagi.”

 

“Lalu apa yang jadi topik hari ini?”

 

“Swami, ada seorang pakar yang membicarakan tentang globalisasi.”

 

“Oh, I see. Ada apa dengan globalisasi?”

 

“Swami, globalisasi sangat dibutuhkan untuk meningkatkan taraf/standar kehidupan kita.”

 

Bhagawan berkata, “Kalian salah! Standar kehidupan tidak perlu ditingkatkan. Oleh sebab itu, globalisasi saja kurang cocok. Yang lebih penting adalah quality of life (kualitas kehidupan), inilah standar kehidupan yang jauh lebih penting daripada standard of living (standar kehidupan).”


Standar Kehidupan dan Bahaya-nya

 

Kemudian Bhagawan memperkenalkan dua istilah. Yang pertama adalah ‘pramana’ yang berarti: standar. “Jikalau kalian hanya mementingkan pramana atau standar kehidupan, maka kalian akan berhadapan dengan pramaada. Pramaada artinya mara-bahaya. Jadi, jikalau kalian hanya mengikuti standar-standar tersebut, maka kalian akan terjebak dalam mara-bahaya. Oleh sebab itu, pastikanlah bahwa kalian tidak terjeblos ke dalam pramaada atau bahaya kehidupan, yaitu dengan cara tidak mengikuti pramana atau standar kehidupan.” Itulah yang dikatakan oleh Bhagawan.

 

“Swami, kita cenderung mengatakan, ‘Wah, negara itu hebat dan negara ini kaya oleh karena pengaruhnya, kekayaan alamnya yang berlimpah serta kemakmurannya.’ Bukankah hal-hal seperti itu merupakan tolok-ukur/indikator untuk income per capita negara tersebut?”

 

Swami berkata, “Tidak! Apa sih standar kehidupan nasional? Ia adalah integrasi daripada seluruh kehidupan organik; semua mahluk, hewan, tumbuh-tumbuhan dan sumber kekayaan alam. Peng-integrasian dari seluruh komponen inilah yang membentuk standar nasional; jadi jangan hanya dinilai dari segi eksternalnya saja.”

 

Saya mencoba merenungkan ucapan-ucapan Beliau. Hari ini kita melihat bahwa dunia kita sedang menghadapi begitu banyak masalah seperti: efek rumah-kaca (greenhouse effect), lubang ozone yang semakin melebar, polusi, dan sebagainya. Semua problema ini diakibatkan oleh karena kurangnya integrasi dalam pemanfaatan sumber-sumber kekayaan alam. Kita sesuka hati membunuh dunia fauna; akibatnya, dunia satwa mengalami penderitaan hebat. Kita juga seenaknya menebang pohon-pohon besar; akibatnya, kita harus berhadapan dengan dampak polusi udara.

 

Bhagawan telah mengatakan bahwa standar kehidupan nasional tergantung pada kemampuan kita untuk hidup berdampingan secara harmonis dan integral dengan semua mahluk – baik flora maupun fauna. Menurut Beliau, standar kehidupan tidaklah dinilai dari segi ekonomi, kesenangan hidup, kenyamanan serta kemewahan. Point-point inilah yang telah menjadi topik hangat bagi para ahli biologi lingkungan dan ekologi di seluruh dunia.


“Modernitas adalah Pembatasan”

 

Kemudian saya berkata, “Swami, kalau kita tidak memanfaatkan semua fasilitas-fasilitas modern ini, apakah saya dapat menyebut diri saya sebagai manusia modern? Bila saya memanfaatkan sumber-sumber kekayaan alam ini, maka barulah saya bisa menyebut diri saya modern, ultramodern. Jadi, bila kita tidak memanfaatkan sumber-sumber kekayaan alam ini, mana bisa kita menjadi modern?”

 

Bhagawan berkata, “No, no, no, no! Modernitas tidak boleh diartikan sebagai eksploitasi. Modernitas adalah limitation (pembatasan). Yang diartikan sebagai modernitas adalah memanfaatkan sumber-sumber kekayaan alam secara terbatas, tanpa menodainya ataupun membinasakannya sekaligus. Itulah arti modernitas yang sebenarnya.”

 

“Swami, all right. Tapi tetap saja di zaman modern ini, secara alamiah, standar kehidupan pasti akan mengalami peningkatan. Ya betul, di zaman dulu kita kan tidak memerlukan pasta gigi ataupun sikat gigi. Namun manusia modern sekarang amat membutuhkan pasta gigi dan sikat gigi. Kompor gas dan barang-barang sejenis seperti pemanas tidak pernah dikenal di zaman dahulu. Tapi lihatlah sekarang, semua orang sudah lazim mengunakan peralatan ini. Bukankah begitu? Jadi, tanpa usaha apapun, secara alamiah, standar kehidupan ikut terdongkrak naik oleh modernitas.”

 

Nah, berikut ini adalah point yang perlu kita camkan baik-baik.

 

Baba berkata, “Kehidupan modern atau yang lazim kau sebut ‘modernitas’ itu bukanlah gaya kehidupan yang terbaru. Modernitas terletak pada kemampuan untuk mengendalikan keinginan-keinginanmu (ceiling on desires). Pengendalian keinginan diri sendirilah yang disebut sebagai modernitas, atau dengan perkataan lain, modernitas bukanlah diartikan sebagai menjalani kehidupan dengan keinginan yang tak terbatas!”

 

Definisi yang luar biasa, yang hanya bisa diberikan oleh Bhagawan dan yang pasti bisa kita ikuti.


“Bagaimana caranya agar kita dapat mengendalikan keinginan?”

 

“Swami, senang sekali mendengar-Mu mengatakan bahwa kita harus mengendalikan keinginan-keinginan kita. Tapi bagaimana caranya? Tolong beritahukanlah saya. Ketika saya melihat seseorang lebih baik/nyaman kehidupannya daripada aku, maka timbullah keinginan dalam diri saya untuk tampil lebih baik daripada dia. Umumnya kan begitu? Jadi, bagaimana caranya agar keinginan dapat dikendalikan? Saya tahu bahwa saya harus mengontrolnya, tapi bagaimana caranya? Saya tidak tahu!”

 

Kemudian Bhagawan menjawab secara bebas, dengan satu contoh yang cantik. “Janganlah engkau menjadi khawatir oleh karena orang lain mempunyai rumah yang lebih besar. Berbahagialah bahwa engkau masih mempunyai tempat perlindungan untuk berteduh. Jangalah engkau menjadi cemas oleh karena orang lain memiliki mobil. Berpuas dirilah bahwa engkau masih memiliki kaallu, yaitu kedua kakimu! Berbahagialah bahwa engkau masih mempunyai kaki. Jadi, kau tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli bensin dan bila terjadi kenaikan harga BBM, kau juga tidak perlu ambil pusing. Sebab kau memiliki ban yang dibuat oleh Tuhan, yaitu kaallu, kakimu!”

 

“Baiklah Swami. Mohon maaf untuk pertanyaan berikut ini. Sesuatu yang dianggap sebagai barang mewah hari ini, mungkin besoknya ia telah menjadi suatu kebutuhan. Misalnya: telepon, dulu barang ini termasuk barang mewah, tapi sekarang ia sudah menjadi kebutuhan sehari-hari. Dulu sebuah lemari es dianggap sebagai barang mewah, tapi hari ini, ia amat dibutuhkan. Swami, apa yang dapat Engkau katakan tentang hal ini?”

 

Sebagaimana anda ketahui, kata-kata Swami-lah yang harus menjadi kata-penutup. Beliau tidak akan pernah mundur sedikitpun! Langsung saja Ia menjawab, “Apakah dulunya engkau tidak bisa hidup tanpa telepon? Bukankah kau pernah hidup di zaman dimana telepon masih langka? Apakah kau tidak bisa bahagia pada saat-saat seperti itu? Apakah engkau tidak damai di zaman tanpa telepon itu? Lalu, mengapa sekarang kau berpikir bahwa engkau tidak bisa hidup tanpa telepon? Semua alasan-alasan ini merupakan bikinanmu sendiri. Semuanya adalah karena kemelekatanmu. Mengapa kau berkata demikian? Di zaman dulu, pengeluaranmu justru lebih sedikit, dan malah kau masih bisa merasakan kenyamanan.” Itulah yang dikatakan oleh Beliau.

 

“Dan sebenarnya bila mau jujur, kau suka nginap di hotel-hotel berbintang lima, super-stars hotels. Apakah itu perlu? Tidak sama sekali! Demi untuk memuaskan rasa laparmu, untuk mengisi perutmu, sajian makanan sederhana saja sudah lebih dari cukup. Mengapa harus berlebih-lebihan/boros? Mengapa harus serba mewah? Itu tidak perlu!”

 

Demikianlah yang dikatakan oleh Bhagawan.


“Hal-Hal Spiritual bukanlah Keinginan”

 

“Swami, baiklah, Saya ingin melihat-Mu. Saya ingin berbincang-bincang dengan-Mu. Ini adalah perasaan-perasaan spiritual. Apakah perasaan demikian juga dikategorikan sebagai keinginan? Engkau mengatakan, ‘Jangan berkeinginan’.  Tapi Aku ingin interview, Aku ingin mendapatkan darshan-Mu. Apakah ini juga termasuk desire (keinginan)?”

 

Mari kita perjelas duduk perkaranya. Bhagawan berkata, “TIDAK!” (tertawa). Semua perasaan-perasaan yang berbau spiritual bukanlah desires (keinginan).”

 

“Lho, mengapa begitu Swami? Apakah karena Engkau terlibat di dalamnya, betul kan?” (tertawa)

 

Beliau berkata, “No, no, no! Sebenarnya, apa sih yang dimaksud dengan desire (keinginan)? Keinginan adalah sesuatu yang kau kembangkan sedemikian rupa dengan tujuan untuk mendapatkan sesuatu barang atau objek yang belum kau miliki, betulkah begitu? Misal: kau belum mempunyai mobil, maka kau berkeinginan untuk memiliki mobil. Kau belum punya rumah, maka kau berkeinginan untuk memiliki rumah, betulkan? Jadi, keinginan adalah sesuatu yang ditumbuh-kembangkan demi untuk memiliki atau mendapatkan sesuatu yang belum/tidak kau miliki. Apakah cukup jelas?”

 

“Tetapi dalam hal spiritualitas, kita tidak mengenal pengertian procurement (usaha untuk mendapatkan) ataupun akuisisi terhadap sesuatu barang/objek yang belum kau miliki. Yang dikenal dalam spiritualitas hanyalah pengalaman terhadap sesuatu yang sebenarnya adalah dirimu sendiri dan yang telah kau miliki. Sebut saja, cinta-kasih. Cinta-kasih bukanlah desire (keinginan), sebab engkau memang adalah perwujudan cinta-kasih. Kemudian, kedamaian – ini juga bukan keinginan, sebab engkau adalah perwujudan kedamaian. Kebenaran – ini juga bukan keinginan, sebab engkau adalah perwujudan kebenaran. Dan Tuhan jelas-jelas bukanlah objek keinginan, sebab engkau sendiri adalah Tuhan. Jadi, bagaimana mungkin hal-hal yang berkaitan dengan spiritualitas dapat dikatakan sebagai keinginan?”

 

Lalu saya pikir bahwa sebaiknya saya tak melanjutkan lagi topik ini, karena kayaknya momennya kurang cocok.

 

Tiba-tiba Swami melihat-ku dan bertanya, “Apakah kau masih punya keinginan sekarang?”

 

Apa yang harus ku katakan ya?

 

Saya berkata, “Swami, saya tak punya keinginan lagi.”

 

Saya kira Bhagawan akan memberikan pujian kepada saya, tapi malah ternyata tidak! (tertawa)

 

“Ah, kau kan baru saja makan siang enak dengan banyak manisan dan menu yang pedas, jadi sekarang tentu saja kau tak punya keinginan lagi. (tertawa) Kau baru saja makan enak dan lezat – well, saya dapat memahaminya.” Itulah yang dikatakan oleh Beliau.


Mathi, Gathi, Sthithi, Sampathi

 

Dalam hal ini, Beliau kemudian mengutarakan empat jenis istilah yang menarik, yaitu: mathi, gathi, sthithi, dan sampathi. Istilah pertama mathi, berarti: mind (pikiran). Kata kedua gathi berarti: progress (kemajuan/tujuan). Kata ketiga adalah sthithi, yang bearti maintenance (pemeliharaan) dan yang keempat adalah sampathi, artinya: pencapaian keenam atribut/kualitas yang merupakan harta kekayaan kita yang sebenarnya.

 

Dengan demikian, terdapat empat kosa-kata antara lain: Mathi, yaitu pikiran yang menentukan gathi atau tujuan kita. Kemudian gathi ini harus dijaga dan dipelihara, nah, proses pemeliharaan ini disebut sthithi. Itulah harta kekayaanmu, yang dikenal dengan sebutan sampathi. Apakah cukup jelas?

 

Jadi, inilah keempat istilah yang digunakan oleh Bhagawan secara berurutan; dimana kata-kata tersebut juga mengandung pengertian ilmiahnya. Sebagaimana pikiranmu, mathi, maka demikianlah gathi (destinasi)-mu. Sebagaimana halnya gathi-mu, maka demikianlah sthithi (keadaan hidup)-mu; yang mana hal tersebut merupakan harta-kekayaan-mu yang sejati (sampathi). Pahamkah anda?

 

Namun dalam konteks ini, Bhagawan juga mengatakan, “Yang terpenting adalah bahwa kalian harus memiliki pandangan ke-dalam (inward inquiry), yaitu nivritthi. Selama ini kalian selalu melihat ke luar, pravritthi. Itulah sebabnya mengapa kalian tidak dapat memahami realitas Kebenaran (Truth).”

 

Demikianlah yang dikatakan Bhagawan hari itu.

 

Selanjutnya Swami membuat suatu pernyataan cantik, yang mengandung makna yang penting bagi kita sekarang.

 

Beliau berkata, “Jikalau saja kalian mau berupaya untuk mengoreksi diri sendiri sejak usia muda, maka sepanjang hidupmu kelak akan terjamin. Engkau pasti akan mendapatkan kesuksesan, jikalau engkau bersikap disiplin dan mengoreksi diri sejak usia muda. Dan jikalau engkau mematuhi nasehat-nasehat-Ku, maka engkau pasti akan sukses. Kau pasti akan tampil sebagai pemenang dalam kehidupan ini.”

 

Dan selanjutnya Swami juga menyinggung tentang seorang bhakta.

 

“Bhakta itu memiliki keyakinan penuh kepada-Ku. Ia mengikuti perintah-Ku. Walaupun dirinya sedang menderita masalah ginjal, namun ketika Aku mengatakan, ‘Don’t worry, kau tidak perlu dioperasi’, ia mematuhi perintah-Ku. Dan sampai hari ini, tanpa melalui operasi apapun juga, ternyata ia masih tetap selamat, sehat dan bugar! Nah, engkau juga akan mengalami hal yang serupa jikalau engkau mematuhi perintah-perintah Swami.”

 

Dengan ini, maka percakapan pada sore hari itu-pun selesai.


Super-Specialty Hospital

  

Pada suatu hari, Swami berbicara tentang Super Specialty Hospital. Beliau membincangkan tentang rumah-sakit itu bersama dengan serombongan dokter yang datang dari berbagai tempat. Beliau menyinggung bahwa banyak orang – baik anak-anak, tua dan muda – telah diselamatkan. Ditambahkan-Nya, bahwa banyak orang telah diselamatkan kehidupannya, dan juga bagaimana sumber keuangan telah dimanfaatkan secara berdaya-guna dan berhasil di Sathya Sai Hospital.

 

Kebetulan saya berada di antara rombongan dokter itu dan saya berkata, “Swami, walaupun kami tinggal di sini, tapi kami sama sekali tidak tahu apapun juga yang sedang terjadi di rumah-sakit kita sendiri. Saya tidak tahu bagaimana Engkau bisa memanage-nya.”

 

Swami tersenyum dan berkata, “Melakukan sesuatu yang perlu dilakukan adalah tugas/kewajiban-Ku. Mengajukan pertanyaan kepada-Ku adalah hak-mu. Kau boleh bertanya kepada-Ku. Kau boleh meminta – itu adalah hak-mu. Dan Tugas-Ku adalah memenuhi serta memberikan hal-hal yang kau butuhkan.”

 

Kemudian Beliau berkata kepada semua hadirin, “Di rumah sakit kami, terdapat banyak siswa-siswa yang bekerja di sana; mereka semuanya sangat qualified. Dengan semangat penuh bhakti, mereka melakukan pekerjaan-pekerjaannya. Mereka sama sekali tidak mengejar keuntungan materi. Walaupun bukan dokter, namun mereka sangat berpengalaman dan tahu apa yang harus dilakukan. Satu-satunya hal yang membuat mereka betah tinggal di sini adalah dikarenakan oleh cinta-kasihnya kepada Swami.”

 

Demikianlah hal yang diungkapkan oleh Swami kepada para dokter dan hadirin yang berkumpul di sana.


“Hanya Keilahian Dimana-mana”

 

Ada satu kesempatan dimana Bhagawan menyinggung beberapa hal, dan saya ingin share point-point tersebut dengan anda.

 

Bhagawan memulainya dengan mengatakan bahwa dimana-mana hanya ada Tuhan. Tak ada unsur lain selain daripada Divinity (Keilahian) – semuanya adalah refleksi Sang Ilahi.

 

Lalu saya bertanya, “Swami, lalu mengapa saya tidak dapat mengalamiNya? Jikalau benar bahwa Divinity hadir dimana-mana dan tiada yang lain, lalu mengapa saya tidak dapat mengalami-Nya?”

 

Swami berkata, “Kemelekatan terhadap badan jasmani merupakan sumber penyebab daripada kebodohan serta ketidak-mampuanmu untuk mengenali realitasmu yang sejati.”

 

Kembali saya berkata, “Swami, excuse me ya. Di sini ada pulpen dan gelas, kedua-duanya tak bernyawa dan tidak mempunyai preferensi (suka & tidak suka). Sebaliknya, saya memiliki hal-hal yang ku-sukai dan yang tidak ku-sukai. Saya suka asinan yang pedas. Tapi, bukankah Engkau mengatakan bahwa segala-galanya adalah Divine (Ilahi)? Jadi, apa sih yang berbeda antara saya dan pulpen itu?”

 

Swami menjawab, “Penyebabnya adalah pikiran (mind). Pikiranmu-lah yang melahirkan preferensi itu, sedangkan spirit (jiwa)-mu tidak mempunyai pilihan. Sebenarnya, entah kamu suka atau tidak suka, semua kesukaan dan ketidak-sukaan itu adalah milikmu sendiri; sedangkan gelasnya tetaplah sama. Tak ada yang berubah terhadap gelas itu. Demikianlah, Divinity juga tetap sama dalam kedua kasus itu. Semua rasa suka dan tidak-suka bermuara dari pikiranmu sendiri serta kemelekatanmu terhadap badan jasmani. Divinity mencakupi keseluruhan alam semesta, tanpa disertai dengan dualisme ataupun preferensi dalam bentuk apapun juga.”

 

“Swami, apakah cukup demikian saja jawabannya? Lalu mengapa saya tidak bisa menyukai segala hal di dunia ini?”

 

Swami berkata, “Kayaknya ada sesuatu yang tak beres di dalam dirimu yang mengakibatkan engkau tidak bisa menimbulkan rasa suka itu.”

 

Ada yang tak beres? Di dalam diriku? (tertawa). “Lho, apanya yang tak beres, Swami?”

 

Kemudian Beliau berkata, “Seorang pasien diabetes tidak boleh makan manisan. Oleh karena pasien diabetes tidak boleh makan manisan, hal itu tidak berarti bahwa ada sesuatu yang tidak benar dengan manisan itu.  Biang keroknya terletak pada tubuh pasien tadi, bukan pada manisan itu. Kau tidak boleh menyalahkan manisan itu bukan? Yang harus kita salahkan adalah pasien diabetes itu. Apakah cukup jelas? Nah, penyebab dari ketidak-mampuanmu menikmati pemberian Tuhan adalah disebabkan oleh karena kesalahan di dalam dirimu sendiri. Kesalahan itulah yang menghalangi kemampuanmu untuk experience Divinity.”

 

“Oh, begitukah Swami? Lalu mengapa terdapat kebaikan (good) dan kejahatan (bad)? Bukankah semuanya adalah Divinity? Lalu mengapa kadang-kadang Engkau mengatakan, ‘Ini baik dan itu jahat,’ ‘Apakah dia orang baik atau orang jahat, wanita baik atau wanita jahat?’ Mengapa bisa begitu? Bukankah semuanya adalah Divinity?”

 

Maka Bhagawan berkata, “Sebenarnya tidak ada kriteria seperti good and bad. Kedua-duanya eksis seperti halnya positif dan negatif. Good and bad hanya didasarkan pada faktor waktu. Makanan yang kau makan sekarang disebut good (baik). Akan tetapi, pada keesokan paginya, makanan itu sudah menjadi bad (tidak baik) lagi. Jadi, apa sih yang disebut good dan apa yang disebut bad? Durasi waktu empat jam-lah yang menimbulkan perbedaan tersebut, itu saja!” (tertawa)

 

“Oh, I see, Swami. Memang saya yang salah.”


“Apa Manfaatnya?”

 

Lalu saya berkata kepada Swami, “Apa sih manfaatnya bila kita tahu bahwa segalanya adalah Divinity (Keilahian)? Apa sih untungnya? Jikalau saya tidak tahu bahwa segalanya adalah Divinity, lalu apa dampaknya? Apa ruginya?”

 

Kemudian Beliau menjawab, “No. Sekali engkau tahu bahwa segalanya adalah Divinity, maka engkau akan memiliki keseimbangan batin. Bila segalanya seimbang, maka engkau akan blissful (bahagia). Tak ada sesuatupun di dunia ini yang bisa menggoyahkanmu.”

 

Kemudian Swami memberikan satu contoh yang cantik. “Ketika seorang anak baru dilahirkan, maka kau akan tertawa dan tersenyum. Ketika seorang tua meninggal, kau menangis. Pada saat kelahiran, sang anak tidak pernah berkata, ‘Ayolah, ayolah, tertawalah sekarang!’ Demikian pula, orang tua tidak pernah mengatakan, ‘Tolong menangislah setelah aku meninggal.’ Mereka tidak pernah mengatakan demikian. Kemelekatanmu terhadap mereka-lah yang menyebabkan engkau tersenyum dan menangis, itu saja! Tidak diminta koq! Jadi, kesalah-kaprahan ini terjadi bilamana engkau tidak memiliki keseimbangan batin atau tidak memiliki kesadaran atas Divinity yang hadir dimana-mana.”

 

“Swami, lalu apa yang membuat diri saya terpisah dari Tuhan? Hal apa sajakah yang mengakibatkan aku merasa terpisah dari Tuhan?”

 

Maka Beliau menjawab, “Tuhan memiliki uttama guna atau kualitas luhur. Sedangkan engkau memelihara chetta guna  atau kualitas diri yang sudah karatan (tidak baik). Bila engkau menyingkirkan semua chetta guna ini, maka yang latent tertinggal adalah uttama guna. Nah, pada saat itulah, engkau baru bisa experience Divinity yang ada di dalam dirimu sendiri.”

 

Sekaranglah saatnya bagi saya untuk memahami keterbatasan saya sendiri.


Dharma Individu dan Dharma Komunitas

 

“Swami, apakah yang dimaksud dengan Dharma Individual dan apa pula yang dimaksud dengan Dharma komunitas? Apakah keduanya satu dan sama saja? Apa sih pengertian Dharma Individual?”

 

Dharma artinya kode etik, norma kehidupan, standar kehidupan.

 

Swami mengatakan, “Kedamaian, kesabaran, kebenaran, welas-asih, pengorbanan – semuanya ini adalah kualitas-kualitas dan komponen-komponen yang membentuk Dharma individual atau Manava Dharma – kode-etik kehidupan umat manusia.”

 

“Lalu Swami, bagaimana dengan Dharma komunitas? Bila kedamaian adalah Dharma-ku, lalu apakah kebencian merupakan Dharma komunitas?” Apakah anda memahami maksudku? Apa perbedaan antara Dharma individual dan Dharma society (masyarakat)?”

 

Kelihatannya topik ini cukup serius, sebab point tersebut belum pernah dibahas sebelumnya. Kita telah membaca berbagai buku dan juga telah mendengarkan ceramah dari sejumlah orang-orang penting, namun topik ini belum pernah dijelaskan oleh siapapun juga secara lugas, sederhana dan gamblang.

 

Saya ulangi lagi pertanyaannya. Inilah kelemahan seorang guru. Saya mohon maaf ya (tertawa) “Apakah perbedaan antara Dharma individual dan Dharma masyarakat?”

 

Swami berkata, “Human values adalah Dharma individual. Sedangkan yang dimaksud dengan Dharma komunitas adalah berperilaku terhadap orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan oleh mereka. Segala tindakan yang menurutmu baik untuk dirimu, juga baik untuk yang lain. Segala tindakan yang menurutmu melukaimu juga akan melukai orang lain. Segala sesuatu yang membuatmu bahagia juga akan membahagiakan orang lain. Oleh sebab itu, berperilakulah terhadap masyarakat dengan cara yang sama sebagaimana engkau ingin diperlakukan oleh masyarakat terhadap dirimu. Inilah yang dikenal sebagai Dharma komunitas. Apakah cukup jelas?”

 

Point yang diutarakan tadi memang bagus. Tapi, disayangkan, hal tersebut tidak terjadi sekarang ini. Dimana-mana kita menemukan banyak pertentangan di antara manusia.

 

Kemudian saya berkata, “Swami, sungguh senang bisa mendengarkan hal-hal ini dari-Mu. Selama ini kami keasyikan duduk mendengarkan-Mu bicara, tanpa menyadari bahwa selama itu pula Engkau berdiri terus. Excuse me, Swami, silahkan duduklah.”

 

Beliau berkata, “Aku tidak capek. Kau kira Aku kecapekan dengan berdiri selama ini. Sama sekali tidak ada masalah bagi-Ku. Aku suka membicarakan hal-hal seperti tadi. Aku suka mengajarkan hal-hal itu. Aku suka ini.”

 

Dan Swami menambahkan, “Pahamilah dirimu sendiri. Bila engkau memahami jati dirimu yang sejati, maka secara otomatis engkau juga akan memahami segala-galanya. Oleh karena engkau tidak memahami dirimu sendiri, maka akibatnya engkau juga salah-kaprah (misunderstand) orang lain. Bila engkau tidak mengenali dirimu sendiri, bagaimana mungkin engkau bisa mengenali yang lain? Inilah problemanya saat ini.” Demikian yang dikatakan oleh Bhagawan dalam konteks pembicaraan hari itu.

 

Saya pikir sebaiknya kita akhiri sampai di sini saja untuk hari ini dan kita lanjutkan lagi pada kesempatan berikutnya. Terima-kasih banyak.

 

(Anil Kumar menutup satsang dengan menyanyikan bhajan, “Sai Narayana, Narayana…”)

 

Om Shanti Shanti Shanti

 

Jai Bolo Bhagawan Sri Sathya Sai Baba Ji Ki Jai!