"Mutiara Kebijaksanaan Sai" (Bagian-2)

 
 

“Sai Pearls of Wisdom”

Satsang Anil Kumar – 8 Oktober 2002

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Professor Anil Kumar memberikan wacana ini sebagai satsang ekstra. Beliau telah menyeleksi beberapa pesan penting yang diberikan oleh Baba kepada para siswa yang berkumpul di sekitar-Nya sore hari di verandah Prashanthi Nilayam. Wacana seperti ini akan bersambung terus selanjutnya.

 

“OM ….. OM ….. OM …..”


Sai Ram!

 

Terima-kasih kepada Swami karena telah memungkinkan kita berkumpul kembali di sesi sore hari ini. Pada kesempatan ini, saya akan mencakupi beberapa point tambahan dari hasil perbincangan yang dilakukan dengan Bhagawan di verandah. Ini merupakan kelanjutan dari perbincangan kemarin.

 

 


21 September 2002

RAHASIA PANJANG UMUR

 

Peristiwa pada tanggal 21 September 2002 (Saya kira malam ini kita akan bisa menyelesaikan seluruh ceritera di bulan September).

 

Swami bertanya kepada seseorang, “Tahukah engkau caranya agar dapat hidup lebih lama? Apakah kamu tahu rahasia panjang umur?”

 

Siapa gerangan orang yang bisa menjawab pertanyaan itu? Tidak ada yang bisa menjawabnya. “Swami, aku tidak tahu.”

 

“Ah, sangat gampang sekali koq.”

 

“Bagaimana caranya, Swami?”

 

“Hanya diperlukan dua hal.”

 

“Apa itu?”

 

Beliau berkata, “Salah satunya adalah pengorbanan (sacrifice) dan yang satunya lagi adalah cinta-kasih (prema). Pengorbanan dan cinta-kasih akan memberimu panjang-umur. Thyaga atau pengorbanan adalah obatnya, sedangkan dietnya adalah cinta-kasih. Jikalau kita meminum obat tanpa disertai dengan diet, maka penyakit kita tidak akan sembuh. Sebaliknya, jikalau kita melakukani diet tanpa meminum obat, maka kita akan semakin mendekat ke kuburan! Tanpa mengikuti diet yang dianjurkan serta meminum obat yang tepat, maka penyakit tidak dapat disembuhkan. Jadi, pengorbanan dan cinta-kasih merupakan obat dan diet yang dibutuhkan untuk memperoleh panjang-umur.” Demikianlah yang dikatakan oleh Baba.

 

Dalam kaitan dengan hal ini, Swami memberi satu contoh dari Amerika-Serikat, yaitu: Rockefeller. Hari ini, di Amerika-Serikat terdapat satu yayasan yang dinamakan “Rockefeller Foundation”. Yayasan amal ini mempunyai banyak cabang di seluruh negara bagian Amerika-Serikat. Bagaimana  ceritanya? Rockefeller adalah seorang usahawan yang kaya – sangat, sangat kaya. Beliau sampai-sampai tidak punya waktu utnuk memikirkan hal-hal lain selain daripada mencari uang. Sampai suatu tahapan tertentu, karena sangking sibuknya, beliau bahkan lupa jumlah uang yang dimilikinya.

 

Sampai suatu ketika, Rockefeller jatuh sakit pada usia 48 tahun. Para dokter berkata, “Bapak tidak bisa bertahan hidup lebih lama dari delapan sampai sepuluh bulan lagi. Bapak susah untuk hidup lebih lama dari itu.”

 

Siapakah yang mengatakan hal ini? Tidak lain adalah dokter-dokternya sendiri di Amerika Serikat. Sejauh pengetahuan saya, kalangan dokter di AS adalah orang-orang yang terkenal sangat, sangat bertanggung-jawab. Sebab jikalau tidak, mereka bisa dituntut di pengadilan. Jikalau mereka melakukan kesalahan, mereka bisa dihukum dan diharuskan membayar ganti-rugi sepanjang hidup mereka, jadi ya – mereka adalah orang-orang yang sangat bertanggung-jawab.

 

Jadi, para dokter itu berkata, “Bapak tidak bisa hidup lebih lama lagi.”

 

Akibatnya, Rockefeller-pun mulai membagi-bagikan harta kekayaannya dengan siapapun juga – kepada institusi pendidikan, kesehatan dan masih banyak lagi di seluruh penjuru AS. Alhasil, beliau ternyata sanggup bertahan hidup hingga usia 90 tahun! Jadi, terlihat bahwa seseorang yang seharusnya sudah meninggalkan dunia ini sejak 40 tahun silam, ternyata memperoleh perpanjangan hidup! Bagaimana hal seperti ini bisa terjadi? Tidak lain disebabkan oleh pengorbanan dirinya. Itulah yang dikatakan oleh Bhagawan.

 

Yang dibutuhkan oleh dunia zaman sekarang adalah hal-hal yang mampu membuat hati kita – yang sekeras batu itu – agar dapat melumer. Bahkan bebatuan juga akan bisa diremukkan dan menjadi butiran pasir; bilamana bebatuan tersebut selalu terekspose dengan hujan dan panas. Demikian pula, ketika kita melihat penderitaan orang lain, hati-batu kita juga hendaknya menjadi lembut. Inilah inti-sari percakapan dengan Bhagawan pada tanggal 21 September ini.


17 September 2002

HANYA SEBAGAI SAKSI

 

Kejadian pada tanggal 17 September 2002, Bhagawan kelihatannya sedang jengkel – mungkin dengan pihak administrator atau mungkin dengan siswa-Nya atau bisa juga dengan para guru. Dalam organisasi besar ini, kadang memang bisa timbul hal-hal yang mengecewakan bagi-Nya – yaitu: ketika kita tidak melaksanakan sesuatu hal sebagaimana yang diharapkan-Nya.

 

Jadi, Beliau terlihat sedikit jengkel dan Ia menatap-ku sembari berkata secara serius, “Kalau ada sesuatu yang salah dengan seorang isteri, maka suaminyalah yang harus bertanggung-jawab. Kalau ada kesalahan pada seorang anak, maka itu adalah kesalahan ibunya. Jikalau ada yang tidak benar pada diri para siswa, maka itu adalah tanggung-jawab kepala sekolah. Dan seandainya para kepala-sekolah berbuat kesalahan, maka Vice-Chancellor (wakil rektor) harus bertanggung-jawab.”

 

Semua yang disinggung oleh Baba duduk di sana! Dalam pikiran saya terlintas sesuatu, yaitu: jikalau vice-chancellor melakukan kesalahan, maka tentunya Sang chancellor (rektor) juga harus memegang andil dong. Siapakah chancellor yang dimaksudkan? Baba! (tertawa). Tahukah anda apa yang dikatakan oleh Beliau?

 

Swami langsung berkata, “Jikalau vice-chancellor melakukan kesalahan, maka ini tidak ada sangkut-pautnya dengan kesalahan chancellor! (tertawa). Mengapa begitu? Dalam hal ini, chancellor hanya bertindak sebagai saksi. Ia hanya sebagai saksi saja – jadi bukan kesalahan-Nya.”


 

BAGAIMANA MENGENDALIKAN PIKIRAN?

 

Kemudian Swami menyuruh seorang pria, kelihatannya seorang akuntan, “Coba sekarang kamu pergi selesaikan dulu kerjaanmu dan kemudian kembali lagi ke sini dengan semua statement yang terbaru dalam satu jam.”

 

Orang itupun pergi. Saya menyaksikan situasi ini.

 

“Swami?”

 

“Ada apa?”

 

“Engkau menghendakinya pergi secepat mungkin seperti angin – bahkan lebih cepat daripada angin?”

 

“Ya.”

 

“Oh-ho, Swami. Apakah mungkin dia bisa lebih cepat daripada sinar? Mungkinkah itu?”

 

“Ya, tentu saja. Mengapa tidak?”

 

“Oh, begitu.”

 

Kemudian saya berpikir bahwa saya harus berhati-hati. Saya akan mencoba mengubah suasana.

 

“Swami, apakah di dunia ini ada sesuatu yang bisa bergerak lebih cepat daripada angin dan cahaya? Engkau tahu bahwa cahaya-kan bergerak dengan kecepatan tertentu. Lalu, apakah ada sesuatu yang bisa bergerak lebih cepat daripada cahaya?”

 

Swami berkata, “Ya, ada satu.”

 

“Ada satu? Apakah itu, Swami?”

 

“Pikiran,” demikian kata Baba.

 

“Swami, mengapa bisa begitu?”

 

“Jikalau kamu hendak ke New York, maka sekarang kamu sudah berada di sana.”

 

“Bahkan sebelum cahaya sampai di sana?”

 

“Cahaya mungkin butuh waktu, tetapi pikiran sudah ada di sana terlebih dahulu. Jadi, pikiran bergerak lebih cepat daripada angin dan cahaya,” demikian kata Bhagawan.

 

Kemudian saya berkata, “Swami, dengan berbekalkan vegamu (artinya: kecepatan) – lalu apakah mano vegamu (kecepatan pikiran) itu alamiah/tidak?”

 

“Tidak, tidak, itu adalah rogamu. Itu adalah penyakit. Pikiran yang berlari kencang itu bukan sesuatu yang alamiah. Itu adalah kelainan. Itu adalah penyakit.”

 

“Oh, saya mengerti, Swami.”

 

Kemudian saya melanjutkan, “Swami, bagaimana caranya agar saya dapat mengendalikan kecepatan pikiran ini? Apakah hal itu bisa dilakukan melalui yoga?”

 

Dan Beliau menjawab, “Tidak, tidak, tidak. Dengan menjalani yoga, kau justru akan menderita penyakit yang baru. Yoga akan mengakibatkan penyakit baru bagimu.”

 

“Lalu, bagaimana saya mengendalikannya, Swami? Itulah pertanyaan saya.”

 

Kemudian Swami berkata, “Semua cara-cara yang kalian tempuh itu, baik yoga ataupun praktek spiritual lainnya yang dikhususkan untuk mengendalikan pikiran, mengurangi kecepatannya; semuanya itu hanya memberikan hasil yang sementara saja, hasil-hasil yang artifisial. Tambahan pula, hasil-hasil dari praktek tersebut tidak nyata dan tidak bisa bertahan lama. Ia hanya membawamu bergerak maju-mundur dalam ukuran centi dan mili – tetapi kamu tetap berada di tempat yang sama.”

 

Jadi, semua praktek spiritual ini bersifat lamban, dan tidak banyak menolong kita. Itulah yang dikatakan oleh Bhagawan.

 

“Swami, Engkau mengatakan bahwa kami harus mengendalikan pikiran, namun di lain pihak, Engkau justru mengatakan bahwa pengendalian itu tidak bisa dicapai melalui praktek-praktek spiritual. Lalu, bila demikian halnya, untuk apa saya mengendalikan pikiran ini? Dengan mengendalikan pikiran, bagaimanakah saya bisa bekerja? Sayakan harus mengajar. Jadi, bagaimana mungkin seseorang bisa melakukannya? Sayakan harus melakukan kegiatan pemasaran. Dengan mengendalikan pikiran, lalu bagaimankah saya bisa menjadi seorang businessman?”

 

Dan Swami berkata, “Bukan, bukan, kamu sudah salah.”

 

Lihatlah betapa manisnya Swami menjelaskan mengenai masalah ini. Tolong ikuti dengan seksama. Ini bukan hanya sekedar dialog atau drama. Penjelasan singkat terhadap konteks ini diperlukan agar kita bisa mendapatkan pemahaman utuh terhadap cara mengajarnya Sai. Ucapan-ucapan Sai, ‘mutiara-mutiara Sai’ akan diberikan kepada kita semuanya.

 

Swami berkata, “Satu contoh.”

 

“Apa itu, Swami?”

 

“Sebuah mobil sedang bergerak mendekat.”

 

“Mm-hmmm.”

 

“Kemudian mobil itu mempercepat lajunya.”

 

“Bagus.”

 

“Ketika engkau mengerem mobil itu, maka keempat bannya akan langsung berhenti.”

 

“Ya.”

 

“Pada keadaan mobil berhenti demikian, engkau toh tetap dapat menyalakan lampu dan AC di dalam. Kau bisa makan snacks; bisa bermain dan berbicara. Kau dapat melakukan segala jenis kerjaan di dalam mobil walaupun mobil itu sedang berhenti. Paham? Demikian pula, walaupun pikiran sedang dikontrol – di bawah pengendalian penuh – atau ketika kecepatan pikiran dikurangi, toh kau masih tetap bisa melanjutkan kerjaanmu. Engkau bisa bekerja seperti halnya ketika sedang duduk di dalam mobil itu. Jelas ngakk?”

 

Itulah yang dikatakan oleh Bhagawan saat itu.

 

Di dalam pikiranku, saya berpikir, “Okay, Sami, bisakah Engkau memberiku satu contoh lagi?”

 

Bhagawan adalah Penguasa Pikiran, Pikiran yang Sempurna, Pikiran Ilahi, Penghuni, Pendorong, Pemimpin dan Pikiran yang Super, Beliau membaca pikiranku dan berkata lagi, “Lihatlah di sini, engkau sedang mengenakan pakaian yang telah disetrika; yang telah dicuci bersih dan digosok, pakaian berwarna putih.”

 

“Ya”.

 

“Andaikan kau mulai merasakan demikian, ‘Jikalau aku mengenakan pakaian putih ini dan pergi ke luar, maka ada kemungkinan pakaian ini akan menjadi kotor. Pakaianku akan kotor, maka aku tak akan mengenakannya.’ Begitukan cara berpikirmu? Tidak boleh begitu. Engkau tetap harus mengenakannya, namun pada saat yang sama, engkau harus berhati-hati agar jangan sampai mengotorinya. Kau harus berhati-hati dalam gerak-gerikmu. Bukankah demikian? Demikianlah dengan pikiran ini. Daya-gunakanlah pikiranmu itu, sebab pikiran adalah alat bagimu. Pikiran adalah pemberian Tuhan. Bagi umat manusia, pikiran merupakan satu-satunya alat yang bertanggung jawab terhadap kemelekatan ataupun pembebasannya.  “Manah Eva Manushyanam Karanam Bandha Mokshayo”. Jadi, pikiran harus selalu terkendali, dan juga harus digunakan sebaik-baiknya.” Itulah yang dikatakan oleh Bhagawan.

 

Lebih lanjut, Swami berkata, “Bagaimana kondisi pikiran manusia dewasa ini? Pikirannya sedang berlari kencang, seperti sedang ditarik oleh ribuan kuda. Itulah kecepatan berlarinya pikiran. Itulah sebabnya, secara mental, kita sering merasa tidak nyaman dan sering teragitasi. Setiap hari kita membutuhkan bantuan psikiater karena pikiran ini tidak berhasil kita kendalikan. Kita telah melupakan bahwa pikiran ini hanyalah sebuah alat. Sebaliknya, kita malah mempersamakan diri ini dengan pikiran – itulah sebabnya timbullah penderitaan.” Itulah yang dikatakan oleh Bhagawan.

 

“Swami, penjelasan-Mu sangat baik. Aku dapat memahaminya.”

 

Bhagawan sedang dalam mood yang enak, jadi saya bisa mengajukan lagi satu pertanyaan kecil, “Swami, Engkau mengatakan bahwa pengendalian pikiran sangat penting.”

 

“Ya.”

 

“Lalu, siapakah yang harus mengendalikan pikiran itu? Siapa yang harus mengendalikannya?”

 

Kemudian Beliau berkata, “Terlebih dahulu kau harus mengetahuinya (pikiran). Jikalau kau tahu, maka ia akan bisa dikendalikan.”

 

“Oh-ho.”

 

“Sebagai langkah awal, engkau harus tahu bahwa pikiran harus dikendalikan. Kemudian engkau akan paham siapa kontroler yang harus mengendalikannya. Semua hal ini akan diketahui oleh dirimu nanti.”

 

“Swami, apakah aku bisa mengendalikannya?”

 

Swami berkata, “Siapa ‘aku’ ini? Chi! ‘Aku’ mengendalikan pikiran. ‘Aku’ ini hanyalah nama dan rupa. Dengan embel-embel ke-Aku-an ini, kau tidak bisa mengendalikan apapun sebab dirimu sedang terjerat. Kau sedang terikat. Kau dibatasi oleh ke-Aku-an atau ego ini. Jadi, engkau harus menanggalkan semua ke-Aku-an tersebut!”

 

“Well, Swami, apakah memang harus ditanggalkan? Hmm. Kalau saya lepaskan semua ke-Aku-an ini, maka apa yang akan tersisa dariku? Dimanakah aku, apakah aku dan siapakah aku? Ketika ke-Aku-an ini hilang, lalu apa jadinya aku ini?

 

Dan Bhagawan berkata, “Ketika ke-Aku-an ini telah lenyap, maka kamu ternyata bukanlah pikiran; kamu bukanlah ego; tetapi dirimu adalah Self (diri sejati). Engkau adalah diri yang sejati.”

 

“Saya paham, lalu apa yang dimaksudkan dengan Self itu Swami?”

 

“Ia adalah Atma. Itulah jiwanya. Itulah kesadarannya. Itulah Parameshti.”

 

Kita telah membincangkan hal ini kemarin. Parameshti adalah Keilahian. Ia adalah kesadaran. Ia adalah Diri Sejati. Ia adalah spirit (jiwa). Saya begitu ketakutan ketika berpikir bahwa saya harus melepaskan semua ke-Aku-an ini, sebab saya merasa senang dengan ke-Aku-an ini. “Saya ini adalah bla-bla-bla.” Uh-huh. “Saya adalah ini dan itu.” Oh-ho, baguslah. Sekarang saya bisa mengatakan siapa diriku ini!

 

“Tetapi ketika ke-Aku-an ini hilang, maka apa yang akan terjadi? Semuanya adalah kekosongan; semuanya hampa belaka.”

 

Kemudian Bhagawan berkata, “Oh, tidak, tidak, tidak. Justru hanya dalam keadaan hampa, di dalam kekosongan, di dalam keheningan, di dalam kesunyian itulah – engkau baru bisa mengalami diri Sejati. Engkau akan mengalami kesadaran agung. Engkau akan mengalami jiwamu yang sejati – Atma. Dengan demikian, terkendalikanlah pikiranmu itu.”

 

“Bagaimana caranya Swami, bagaimana?”

 

Swami berkata, “Sekali engkau ke sana, maka semuanya ini akan lenyap. Ketika terdapat polisi di sana, maka para pencuri tidak akan menampakkan diri. Demikian pula, ketika jiwa sejati berada di sana, maka pikiran akan berkata, ‘Pah’ (tertawa) dan selanjutnya tutup mulut. Ketika kucing sedang berada di sekitar, maka tikus-tikus akan bersembunyi ketakutan. Demikianlah, ketika jiwa sejati atau kesadaran atau Parameshti atau Keilahian atau Atma - sedang dialami, sedang direalisasikan; maka tidak akan ada lagi ke-Aku-an. Tidak akan ada psikologi. Tidak akan ada intellect (budhi). Tidak ada sesuatupun yang lain, sebab dirimu telah menyatu dengan Jiwa Nan Agung.” Itulah yang dikatakan oleh Bhagawan.


PERANAN INTELLECT (Buddhi)

 

“Swami, penjelasan tadi sangat bagus. Lalu, apa peranan intellect (buddhi) dalam proses ini? Bhagawan, Engkau sangat baik – Engkau telah menjelaskan pengertian tentang Self (diri) ini, apa-apa saja yang bisa dilakukannya, dan juga tentang pikiran beserta semua tingkah-lakunya, ulahnya, kesukaannya, dan juga semua problema yang akan ditimbulkan oleh pikiran itu. Nah, sekarang, apa peranan dari intellect itu?”

 

Bhagawan berkata, “Sang intellect ini akan membawamu menuju ke spirit (jiwa).” Perumpamaanya seperti pesawat Northwest Airlines atau Trans World Airlines (TWA) – yang akan menerbangkanmu dari Chicago ke Los Angeles. Demikianlah, intellect akan membawamu dari tempat ini ke tempat itu, dari alam pikiran menuju ke alam spirit – dari gerbang #1 airport di Hong Kong ke Airport Kennedy dari spirit.

 

(Anil Kumar memberitahu kepada semua hadirin, “Bukan karena saya memihak kepada Amerika Serikat, tetapi inilah satu-satunya negara yang pernah saya kunjungi, jadi saya hanya memberikan contoh saja. Itu saja. Jikalau saja saya diberikan kesempatan untuk mengunjungi negara lain, maka saya juga akan menggunakan contoh-contoh seperti halnya Moskow atau Leningrad secara antusias juga. Saya berdoa semoga diberi kesempatan suatu hari nanti. Anda-kan tahu, saya memiliki segala jenis harapan. Saya belum putus harapan sih!”)

 

“Jadi, peranan dari intellect adalah untuk membimbingmu, membawamu, menghantarkanmu, serta membangun persekutuan dengan spirit. Sampai sejauh ini, yang ada hanyalah komunikasi. Jangan berhenti di komunikasi saja; topiknya sekarang harus beralih ke communion (persekutuan) – sebab komunikasi adalah sesuatu yang terikat oleh waktu. Komunikasi serba terbatas. Komunikasi hanya terjadi antara dua pihak. Dengan communion, maka semua menjadi satu. Jadi, peranan dari intellect adalah untuk membangun koneksi/jalinan persekutuan antara pikiran dan spirit.

 

“Swami, hanya Engkaulah yang bisa menjelaskan hal-hal seperti ini.”

 

Saya punya kelemahan dimana saya tidak bisa mengendalikan emosi, terutama bila berkaitan dengan pemberian penghargaan/apresisasi. Kadang-kadang di kala Bhagawan sedang berbicara, saya kelihatan aneh di mata para siswa, atau mungkin juga terlihat tidak pantas oleh sebagian bhakta, atau tidak berbudaya bagi sebagian lainnya. Namun semuanya itu di luar kendali saya.

 

“Swami?”

 

“Ada apa?”

 

“Hanya Dikaulah yang bisa menjelaskannya.”

 

Manchadi – bagus, bagus.”

 

Ketika susu sedang mendidih, maka perlu ditambahkan air agar dapat menenangkannya.

 

Saya bisa mengatakan kepadamu, wahai teman-teman, tidak ada seorangpun yang bisa menjelaskan hal-hal halus seperti ini dengan cara yang sedemikian sederhananya. Oleh karena kita sering berkeliling ke banyak kuil, berziarah ke begitu banyak tempat, mendengarkan begitu banyaknya ceramah dari guru-guru spiritual, maka sekarang kita menjadi bingung, rancu, totally mad (benar-benar gila) dan merasa jengkel secara spiritual. Akibatnya, topik tadi seolah-olah terbatas sebagai topik yang hanya perlu diperbincangkan oleh Tuhan sendiri saja. Tetapi lihatlah, di sini Bhagawan Sri Sathya Sai Baba, mampu menjelaskan hal-hal sesulit apapun dengan cara yang sangat simple, yang bisa dimengerti oleh kita semuanya. Itulah maksud & tujuan kedatangan Avatar. Kedatangan Beliau adalah untuk merubah hal-hal yang rumit menjadi sederhana, sementara di lain pihak, manusia modern justru melakukan hal yang sebaliknya: merubah hal-hal yang simple menjadi complicated! Manusia modern memperumit masalah. Sedangkan Avatar menyederhanakan masalah. Dengan cara yang sedemikian sederhana inilah, Bhagawan menjelaskan hal ini.


16 September 2002

WELAS-ASIH BHAGAWAN

 

Sebegitu besarnya welas-asih yang dimiliki oleh Bhagawan; sehingga kadang kala Beliau bisa berperilaku di luar dari kebiasaan-Nya pada saat Ia hendak memberkati seseorang. Beliau melupakan kedudukan-Nya serta turun langsung mem-bless para bhakta-Nya sejauh mana diperlukan. Di sini ada suatu insiden yang diceritakan oleh seorang siswa di hadapan Swami pada tanggal 16 September.

 

Bhagawan mengatakan bahwa Ia akan menjenguk seorang wanita tua ketika Beliau sedang berada di Bombay. Kejadian ini terjadi beberapa tahun yang lalu. Bhagawan khusus meluangkan waktu-Nya dan pergi melihat wanita tua yang sedang sakit saat itu. Walaupun sedang terbaring sakit di ranjang, Bhagawan justru datang secara khusus untuk memberkatinya. Guna membantunya melakukan padanamaskar, anda tidak akan percaya apa yang dilakukan oleh Bhagawan. Ia sengaja mencari ganjalan kaki dan meletakkan kaki-Nya di atasnya agar wanita itu bisa melakukan padanamaskar dari ranjang sekalipun! Demikianlah welas-asih Bhagawan.

 

Setelah itu, wanita ini mulai sembuh dan membaik. Selang beberapa waktu lamanya, ia berkunjung ke Prashanthi Nilayam dengan cucunya yang berusia tiga tahun. Bhagawan memberkati cucu dan nenek itu. Siswa yang sedang menceritakan insiden ini kemudian berkata: “Sayalah anak yang diberkati oleh Bhagawan di kala masih berusia tiga tahun itu.” Kemudian ia melanjutkan ceritanya tentang mukjijat yang dialami oleh neneknya.

 

Beberapa waktu kemudian, neneknya kembali jatuh sakit ketika sedang berada di Bangalore. Para dokter mengatakan bahwa dirinya harus segera dioperasi.

 

Namun ia menolak, “Oh Tidak, kalian tidak boleh melakukannya.”

 

Para dokter berkata, “Lho, mengapa tidak? Ibu membutuhkan operasi darurat ini.”

 

Ia berkata, “Sebelum Bhagawan mengizinkan, aku tidak akan mau dioperasi, okay?”

 

“Tapi bagaimana kamu hendak menghubungi Swami? Anda kan masih terbaring di ranjang. Dan ibu sekarang ada di Bangalore, apa yang akan anda lakukan?”

 

“Hubungi saja Bhagawan melalui telepon.”

 

Langsung saja anak itu menghubungi Bhagawan per telepon dan mendapatkan jawaban. Suara Bhagawan yang menyahut, “Tidak usah khawatir. Mengapa takut kalau Aku ada di sini? Minta nenekmu untuk dioperasi. Saya yang akan menjaganya. Tapi sekarang coba berikan telepon ini kepada nenekmu, Aku ingin bicara dengannya.”

 

Ketika gagang telepon diberikan kepada neneknya, lalu apa yang terjadi? Vibhutthi justru mengucur keluar gagang itu! (tertawa). Ini betul-betul pengecualian. Mukjijat seperti ini belum pernah saya dengar sebelumnya – bayangkan, vibhutthi keluar dari gagang telepon! Itulah Bhagawan Sri Sathya Sai Baba.

 

Sebelum saya melanjutkan, saya harus memberitahu anda bahwa Bhagawan tidak pernah berbicara dengan siapapun melalui telepon. Secara fisik, tidak ada koneksi telepon sama sekali. Lalu, bagaimana caranya cucu wanita tua tadi bisa berbicara dengan Swami di telepon? Beliau adalah Ilahi. Tanpa harus pergi ke tempat lain, tanpa harus berpindah ruangan agar dapat bicara di telepon, Kehendak-Nya, Pikiran-Nya, Rahmat-Nya lah yang telah memungkinkan kejadian itu berlangsung. Beliau berhubungan dalam bentuk suara, dalam bentuk percakapan yang bisa didengar. Beliau juga bisa mengirimkan vibhuthi juga. Cucu wanita tadi, yang sekarang berada di kelas MBA, menceriterakan semua keajaiban ini dan kami semuanya sangat terpukau mendengarnya.

 

Teman-teman sekalian, mukjijat-mukjijat Bhagawan tidaklah dimaksudkan sebagai sekedar hiburan ataupun kesenangan belaka, tetapi semuanya adalah untuk pencerahan. Mukjijat-mukjijat Sai bermanfaat sebagai media pencerahan (enlightenment).


SEMANGAT PENGORBANAN

 

Apa yang terjadi, apa yang terjadi? Siswa itu kemudian menceritakan mukjijat lainnya di hadapan Swami di hari yang sama di dalam hall itu. Rupanya suatu ketika, anak itu diharapkan untuk datang ke Prashanti dari Bombay, bersama-sama dengan youth wing – guna mempresentasikan suatu pertunjukan di hadapan Swami. Namun tak disangka, anak itu berhalangan hadir sebab dia tidak bisa mendapatkan ekstra cuti dari kantornya. Meminta cuti tambahan di perusahaan swasta agak sulit memang. Semua jatah cutinya telah habis oleh karena telah digunakan olehnya sewaktu menjenguk saudara dekatnya yang sedang diopname di rumah-sakit di Pune. Jadi, akibatnya, tidak ada lagi sisa cuti baginya untuk datang ke Prashanthi Nilayam bersama-sama dengan anggota dari Youth Wing lainnya. Alhasil, dia sama sekali tak berdaya.

 

Pada saat itu, ternyata terdapat seorang koleganya yang juga Sai Bhakta, menghampirinya dan berkata, “Saya yang akan mengerjakan tugas-tugasmu. Saya akan mengerjakan tugas-tugasku selama enam jam dan kemudian saya juga akan mengerjakan tugas-tugasmu untuk enam jam tambahan lainnya. Marilah kita sama-sama pergi menghadap ke atasan dan mencoba meyakinkannya.”

 

Atasan mereka sangat terkejut. Rupanya ada juga seseorang yang bersedia bekerja enam jam tambahan disamping tugas-tugas rutinnya. Inilah yang dikatakan oleh siswa tadi di hadapan Swami. Inilah semangat pengorbanan. Jikalau kita memasrahkan semua kehendak-kehendak kita di hadapan-Nya secara tanpa syarat, maka akan terjadilah art of transformation (perubahan) di tangan Ilahi. Inilah mukjijat yang disinggung oleh siswa tadi pada tanggal 16 September.


BHAGAWAN ADALAH PENGUASA DARI SELURUH ALAM SEMESTA

 

Siswa ini mengakhiri wacana-Nya dengan menyinggung peristiwa miracle lainnya. Kejadiannya adalah pada saat Bhagawan berkunjung ke Bombay. Saya tidak tahu berapa banyak di antara anda yang pernah berkunjung ke Dharmakshetra. Kebanyakan dari anda tentunya pernah berkunjung ke Bombay, sebab hampir semua penerbangan internasional berangkat dari sana – British Airways ataupun American Airlines, sebagai contohnya. Jadi, saat itu Bhagawan sedang berada di Bombay. Kerumunan massa setiap hari berdatangan untuk mendapatkan darshan Beliau serta untuk mendengarkan wacana-Nya.

 

Pada suatu senja hari, seluruh Dharmakshetra betul-betul penuh dengan para bhakta di mana-mana – lautan manusia yang sangat banyak – yang terlihat hanya kepala manusia dimana-mana! Tidak ada sejengkal ruangan-pun untuk bergerak. Semua kepala melihat ke atas (langit), rupanya hari sedang mendung gelap – seperti keadaan sekarang, dengan mulai turun hujan gerimis sedikit. Tetapi wacana Bhagawan masih tetap direncanakan. Para convenor dan office bearers (pengurus) Organisasi Sathya Sai Dharmakshetra mulai bergemetaran. Apa yang akan terjadi kepada para hadirin? Apa yang akan terjadi pada kaum wanita yang membawa serta anak-anak mereka? Apakah kita masih bisa melanjutkan wacana Bhagawan ini nanti?

 

Kemudian seorang pria berkata perlahan, “Swami, apakah kami boleh mendapatkan wacana-Mu sekarang daripada harus menunggu sampai jam 5 nanti? Marilah kita memulainya jam 4.”

 

Bhagawan berkata, “Oleh karena pengumuman telah diberitakan, jadi tidak usah dirubah-rubah. Engkau diam saja.”

 

Jadi orang ini tidak punya pilihan lain. Ia pun kembali duduk. Lalu apa yang terjadi? Swami membuka jendela, melihat ke arah langit yang penuh dengan awan gelap dan guntur. Setiap saat bisa saja turun hujan deras tiba-tiba.

 

Dan Bhagawan berkata, “Itu sudah cukup.”

 

Beliau melambaikan tangan-Nya seperti ini. Percaya atau tidak – langit langsung menjadi cerah tanpa segumpal awan sekalipun! Dan wacana Bhagawan bisa berlangsung sebagaimana telah direncanakan semula, tanpa ada gangguan berarti. Mukjijat ini memperlihatkan bahwa Bhagawan adalah penguasa dari seluruh alam semesta ini. Beliaulah penguasa atas kelima unsur. Ia dapat mengendalikan apa saja. Itulah kejadiannya.


15 September 2002

“PEMBERINYA ADALAH BHAGAWAN, ITULAH SEBABNYA AKU MAU.”

 

Sekarang saya akan beralih ke tanggal 15 September 2002 (saya berusaha untuk tetap mempertahankan urutan tanggalnya).

 

Ketika Swami sedang duduk di sore hari yang adem itu, Beliau melihat ke arah seorang siswa dan bertanya, “Hmm, kamu sekarang sekolah di kelas berapa?”

 

Siswa itu menjawab, “Swami, di grade 11.”

 

“Sini, kemari,” anak itupun datang, “Mengapa kamu tidak pulang ke rumah?”

 

“Swami, untuk apa saya harus pulang ke rumah?”

 

“Ayahmu kan mengalami kecelakaan. Mengapa kamu tidak pulang?”

 

Siswa itu menjawab, “Swami toh tidak memintaku untuk pulang, jadi saya tidak perlu pulang”

 

Kemudian Swami tersenyum, “Oleh karena kamu memiliki keyakinan, maka dapat Ku-katakan bahwa tidak ada sesuatu yang serius terjadi pada ayahmu – itu hanya kecelakaan kecil saja. Segala sesuatu akan baik-baik saja. Tak usah khawatir,”demikian kata Bhagawan. Setelah itu Swami kembali berkata, “Tadi siang kamu kan mendapatkan telepon dari ibumu yang mengatakan bahwa tidak ada sesuatu hal yang perlu dikhawatirkan bukan?”

 

“Iya, Swami.”

 

“Mengapa kamu tidak kasih tahu Saya? Aku tahu bahwa ibumu memberitahukan hal ini kepadamu melalui telepon.”

 

Ini merupakan keajaiban bagi semuanya di sana. Swami mengetahui persis apa saja yang terjadi dan Beliau juga tahu tentang percakapan di telepon antara sang anak dan ibu.

 

Lebih lanjut Swami berkata, “Anak-ku, kau mempunyai keyakinan yang kuat. Apakah kau mau sebuah kalung dari-Ku? Bolehkah Aku memberimu sebuah kalung?”

 

Anak itu menjawab, “Swami, tentu saja saya mau kalung itu.” (tertawa)

 

“Kau minta saja sama mertua-mu! Dia yang akan memberimu kalung. Untuk apa Saya harus memberikannya kepadamu? (tertawa) Mintalah sama ayahmu. Ia akan membuatkan satu untukmu.”

 

“Tidak mau, tidak mau, Swami! Aku tidak mau yang diberikan oleh mertua-ku ataupun ayah-ku. Oleh karena Kau yang memberikan, maka saya ingin memilikinya. Pemberinya adalah Bhagawan, maka aku menginginkannya, Swami.”

 

“Oh, begitu.” Langsung saja Swami mematerialisasikan sebuah kalung dan diberikan kepada anak itu. Semua orang merasa sangat, sangat bahagia.


14 September 2002

HARGA DIRI

 

Sekarang saya akan membawa anda ke tanggal 14 September. Bhagawan mencetuskan pernyataan ini: “Jangan sekali-kali meminta-minta dari siapapun juga. Janganlah menjadi pengemis. Jangan meminta apapun juga. Segala sesuatu akan datang kepadamu. Jikalau pikiranmu tanpa pamrih, jikalau motifmu tanpa mementingkan diri sendiri, dan jikalau aktivitasmu dijiwai oleh cinta-kasih, maka segala sesuatunya akan datang kepadamu. Engkau tidak perlu meminta-minta. Harga diri harus dipelihara. Kehormatan diri sangatlah penting.” Itulah yang dikatakan oleh Bhagawan.

 

Bhagawan berkata, “Lihatlah Aku. Saya tidak pernah meminta apapun. Saya tidak pernah mengulurkan tangan-Ku kepada siapapun juga, namun segala sesuatu datang dengan sendirinya. Mengapa bisa begitu? Sebabnya adalah sikap tanpa pamrih. Aku penuh dengan cinta-kasih. Jikalau engkau juga memelihara sikap seperti diri-Ku, maka segala sesuatunya akan menjadi sempurna dan benar.”

 

Dan ada hal lain yang diutarakan oleh Swami, “Janganlah membuat show/pertunjukan, janganlah bersikap pamer, janganlah menciptakan publisitas, janganlah menjadi angkuh/sombong, janganlah membanggakan diri, janganlah mencari-cari pujian.”

 

Teman-teman, maafkan aku jikalau saya menggunakan begitu banyak ungkapan-ungkapan. Semuanya adalah usahaku untuk membuat segala sesuatunya menjadi jelas bagimu.

 

Kemudian Bhagawan memberi satu contoh. Beberapa waktu yang lalu Beliau berkunjung ke Delhi. Di sana ada sebuah mobil yang sangat cantik – berplat nomor satu, yang dipakai oleh Presiden India – mobil ini dikirim khusus untuk menyambut kedatangan Bhagawan di pelabuhan udara dengan harapan dan doa agar Baba berkenan menggunakan mobil ini kemanapun juga Beliau akan pergi. Tetapi tahukah anda apa yang dikatakan oleh Bhagawan? “Tidak perlu. Ini adalah mobil pemerintah. Mobil ini milik pemerintah. Engkau adalah kepala pemerintahan. Engkau tidak punya hak untuk meminjamkan mobil ini kepada-Ku. Aku tidak akan naik mobil itu.” Sebagai gantinya, Bhagawan menaiki mobil Morris yang kecil, model lama lagi! Mengapa? Harga-diri jauh lebih penting daripada sebuah mobil mutakhir ataupun mobil seri terbaru!

 

Ini merupakan pelajaran bagi kita semuanya. Lebih baik bila kita berdiri di atas kedua kaki kita sendiri daripada ‘bersinar/tampak cantik dengan bulu-bulu (jubah) pinjaman’ – inilah pelajaran dari Bhagawan.


TRANSFORMASI

 

Kemudian Beliau berkata kepada seseorang di sana, “Lihatlah, ada berapa banyak orang yang terinspirasi?”

 

Di verandah terdapat seorang pemuda.

 

“Anil Kumar, apakah kamu kenal dia?”

 

“Ya, Swami, saya kenal dia.”

 

“Anak muda itu adalah seorang insinyur. Adiknya yang bungsu juga seorang insinyur. Kedua-duanya telah memutuskan untuk tinggal di sini dan melayani Swami. Orang-tua mereka hidup sendirian di Bombay. Kedua anaknya ada di sini. Tetapi setelah melihat pelayanan yang diberikan Swami di sini, kedua orang-tua mereka sekarang juga mulai mengadopsi dua orang anak yatim-piatu. Setelah mendapatkan inspirasi dari Swami, mereka merawat anak-anak yatim itu. Di seluruh dunia sedang terjadi transformasi.” Itulah yang dikatakan oleh Bhagawan.


TEMUKAN KEBAHAGIAAN DALAM BERTINDAK

 

Kemudian Beliau bertanya kepada siswa-siswa lain tentang apa saja yang mereka kerjakan untuk Ganesh Chaturthi atau Vinayaka Chaturhi -  Ganesha Puja. Anda semuanya tentu sudah tahu tentang festival ini. Mereka berkata, “Swami, kami melakukan ini atau kami melakukan itu.”

 

“Oh, bagus sekali.” Beliau mendengarkan semua orang tentang hal-hal yang mereka kerjakan – baik si pembicaranya berasal dari Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Atas, College, Universitas – praktis Beliau mendengarkan semuanya.

 

Akhirnya Swami berkata, “Dengarkanlah, anak-anak-Ku. Saya menemukan kebahagiaan dalam tindakan, bukan hanya sekedar mendengar, bukan hanya sekedar berkata. Apa yang engkau kerjakan – hal ini lebih penting daripada sekedar ungkapan, mendengar, ataupun deklarasi. Melakukan (doing) jauh lebih penting daripada hanya ungkapan ataupun deklarasi! Anak-anak-Ku, Aku senang jikalau engkau mengatakan apa-apa saja yang telah kau laksanakan. Aku senang jikalau engkau memberitahu-Ku, ‘Aku telah melakukan hal ini, Swami.’ Ini lebih baik daripada, ‘Aku akan melakukan ini atau kami merencanakan itu.’ Itu semuanya hanya pernyataan belaka. Lakukan dulu, baru setelah itu beritahu ke Aku tentang tindakanmu tersebut.”

 

Ini merupakan pelajaran bagi kita semuanya. Tahapan perencanaan dari sesuatu proyek bukanlah sesuatu hal yang perlu diumumkan. Tidak ada sesuatupun yang hebat bila masih dalam tahap perencanaan. Pelaksanaan dari rencana atau action jauh lebih penting. Inilah pelajaran yang disampaikan pada sore hari itu.

 

Kemudian Baba berkata, “Kalian tentunya melihat bahwa pada hari ketiga setelah Vinayaka Chaturthi, anak-anak dari berbagai institusi banyak yang membawa arca & kereta Vinayaka. Kalian melihatnya bukan?”

 

“Ya, ya.”

 

Anak-anak memberitahu Swami, “Swami, kami membawa ini dan ini.”

 

“Uh-huh.”

 

“Swami, kami melakukan ini, kami membuat ini.”

 

“Bagus sekali.”

 

Bhagawan adalah orang-tua yang ideal. Beliau sangat senang mendengarkan anak-anak bercerita tentang apa saja yang mereka kerjakan – bagaimana mereka datang dengan kereta yang dihiasi dengan indah, diiringi musik, tarian, dan lain-lain.


SEMUANYA HARUS SAMPAI KE SINI SUATU HARI NANTI

 

Lalu pesannya apa? “Engkau boleh saja telah melakukan banyak hal di tempatmu, tetapi semuanya itu kelak harus sampai di sini juga suatu hari nanti.”

 

Di sini saya ingin menjelaskan apa yang dikatakan oleh Swami. “Suatu hari kelak, semua ratha (ratha artinya kereta), semua kereta, harus datang ke sini.” Itulah yang dikatakan oleh Swami.

 

Pernyataan ini mengandung makna spiritual yang mendalam bagi seseorang yang memupuk kesadaran (awareness). Orang-orang mungkin mentertawai, tetapi ucapan-ucapan Bhagawan bukanlah sebagai bahan lelucon. Apa maknanya? Untuk informasi anda, ratha adalah nama yang diberikan kepada tubuh jasmani. Tubuh manusia ini adalah ratha – sebuah kendaraan yang bergerak. Jadi, “semua kendaraan kelak harus sampai ke sini” – ini mengindikasikan bahwa semua orang kelak akan datang ke sini suatu hari nanti. Semua jalan mengarah menuju ke Roma. Semua sungai akan bermuara di lautan. Jadi, anda semuanya harus berada di sini! Itulah yang diungkapkan oleh Bhagawan. (Manakala Swami mengungkapkan statement tertentu seperti ini, saya seolah-olah selalu mendapatkan kejutan listrik).

 

“Pernyataan yang luar biasa, Swami! Ah, oh, oh!” Itulah yang terlintas dalam pikiran saya. Bila kita pernah membaca literatur-literatur yang memiliki latar/dasar kitab suci, maka kita akan dapat memahami semangat sejati yang ada di belakang semua pernyataan Bhagawan.


1 September 2002

TUHAN ADA DIMANA-MANA

 

Sekarang kita beranjak ke tanggal 1 September. “Anak-anak, bagaimana hasil ujian kalian?”

 

Salah satu siswa di grade-10 berdiri dan berkata, “Saya menjawabnya dengan sangat baik, Swami.”

 

“Apa kau yakin?”

 

“Ya, Swami, saya menjawab dengan benar.”

 

“Tidak – kau menjawab salah dua pertanyaan, betulkan?”

 

“Ya, Swami.”

 

“Ku tahu bahwa kamu salah jawab dua pertanyaan.”

 

“Swami, maafkan aku.”

 

Lalu Beliau bertanya ke anak yang lain, “Bagaimana hasilmu hari ini?”

 

“Sangat baik, Swami.”

 

“Mhmmm. Apa kau merasa yakin? Bagaimana nilaimu hari ini?”

 

“100 persen.”

 

“Ah, bagus. Tetapi kemarin di mata pelajaran ilmu pengetahuan alam, kamu tidak menjawab dengan benar.”

 

“Ah, iya, Swami.”

 

“Aku tahu, Aku tahu.”

 

Ini adalah suatu pernyataan penting. Swami berkata, “Walaupun berada di sini, Aku melihat ke segala arah – Aku melihat semuanya. Walaupun berjalan di sini, Aku berbicara dengan bhakta-Ku di seluruh dunia. Bhakta-Ku hadir di segala tempat. Aku berbicara dengan mereka.” Ini mengartikan bahwa Tuhan Maha Tahu, Maha Kuasa dan Maha Ada. Tuhan ada dimanapun juga. Ini merupakan pernyataan manis yang diungkapkan oleh Swami dengan penuh kedalaman dan kemantapan. Kita perlu menaruh perhatian terhadap hal ini.

 

Kemudian pernah ada kejadian dimana saat itu para siswa merencanakan untuk menampilkan pertunjukan drama di hadapan Swami di Auditorium sekolah. Pada malam hari sebelum pertunjukan diselenggarakan, Swami memanggilku dan berkata, “Coba kamu ke sana dan tinjaulah gladi-resik mereka.”

 

Kalau boleh dikatakan – saya mempunyai kelemahan ini, atau bisa juga dikatakan sebagai tabiat atau barang kali lebih tepatnya – emosi; bila berkaitan dengan membicarakan mengenai Bhagawan kepada orang lain. Ya, dalam setiap kesempatan ceramah, saya selalu bersikap demikian – hal ini dikarenakan saya ingin mengakhiri hidup ini dengan hanya membicarakan tentang Swami saja. Saya tidak memiliki keinginan lain. ‘Swami, tolong jadikanlah saya sebagai instrumen yang efektif guna menyebar-luaskan pesan-pesanMu. Dalam penyebar-luasan misi-Mu, tolong jadikanlah daku sebagai alat-Mu. Saya tak punya keinginan lain.’

 

Tetapi pada hari yang sama sebenarnya saya juga telah membuat appointment dengan beberapa kelompok bhakta yang berbahasa Spanyol. Oleh karena saya harus bertemu dengan mereka, maka saya tidak bisa menghadiri gladi-resik anak-anak. Tetapi untuk menandakan kehadiranku, saya memutuskan untuk tetap pergi ke auditorium – sebab saya tahu bahwa Swami pasti akan memeriksanya keesokan paginya. Jadi, saya tak mau ambil resiko. Maka pergilah saya ke sana sekitar jam 9 malam. Para siswa telah menyelesaikan dua kali gladi-resik ketika saya sampai di sana. Tetapi saya berkata, “Marilah anak-anak, tolong lakukanlah sekali lagi. Besok Swami akan bertanya kepadaku.” Anak-anak menyukaiku karena saya bersikap santai terhadap mereka. Semua anak berdatangan menghampiriku. Lihatlah, oleh karena aku mencintai mereka, maka merekapun menyukaiku.

 

Jadi saya meminta dan mereka berkata, “Tidak ada masalah bagi kami untuk melakukan gladi-resik sekali lagi.”

 

Saya memberi nasehat, “Kamu lakukan ini; kamu lakukan itu.” Saya memberikan beberapa saran sebab keesokannya mungkin Swami akan menanyaiku.

 

Keesokan pagi, Swami memanggil beberapa siswa yang terlibat dalam pertunjukan drama, “Anak-anak, kemarilah! Apakah Anil Kumar kemarin malam menghadiri gladi-resik kalian?”

 

“Swami, dia datang koq.”

 

“Oh, tidak, dia baru datang jam 9 malam bukan? Pada saat itu kalian kan sudah menyelesaikan gladi-resik bukan? Dia memberi ceramah di tempat lain. Dia selalu begitu. Jadi, dia kan terlambat. Apakah ia memberikan kalian nasehat?”

 

“Ada, Swami.”

 

“Bagaimana mungkin dia bisa memberikan nasehat? Dia ngakk pernah menjadi aktor. Dia ngakk pernah bermain dalam drama. Lalu, bagaimana mungkin dia bisa memberikan nasehat? Ini semuanya hanya acting saja. Sebab dia tahu bahwa saya akan menanyai kalian.” (tertawa)

 

Kemudian Swami berkata, “Hey aktor, aktor terkenal – coba kemari.” Ku pikir bahwa Beliau sedang memanggil orang lain, tapi rupanya aku.

 

“Bagaimana pendapatmu tentang drama itu?”

 

“Ah, bagus sekali, Swami.”

 

“Apa kau melihatnya?”

 

“Bagus sekali.”

 

“Kau pergi ke sana jam tujuh bukan?”

 

“Tidak Swami, saya pergi jam sembilan.”

 

Beliau berkata, “Aku tahu, Aku tahu. Bersiaplah. Hari ini saya akan datang dan melihat pertunjukan drama itu.” Itulah yang dikatakan oleh Bhagawan.

 

Di sini ada satu point penting yang harus anda ketahui. Swami memanggil seorang siswa dengan penampilan badan yang kekar.

 

“Kamu mainkan peran sebagai Ravana. Ahbah! Kecocokan karakter akan sangat bagus sekali.” (Tertawa)

 

Kemudian Beliau memanggil anak yang lain, “Kau mainkan peran sebagai Hanuman, sangat cocok. Tetapi dimana ekornya? Kau tidak punya ekor, tapi Hanuman punya.”

 

Lebih lanjut, Beliau memanggil seorang anak, “Kamu melupakan dialogmu kemarin malam ya?”

 

“Iya Swami.”

 

Kemudian dipanggilnya anak-anak yang memainkan musik. “Kalian tidak mengucapkan secara benar lagu nomor tiga.” Dan Swami memanggilku dan berkata, “Apakah kau memperhatikan kesalahan-kesalahan ini?”

 

“Swami, saya tahu bahwa Dikau adalah Tuhan. Engkau mengetahui segala-galanya, jadi oleh sebab itu saya tidak perlu tahu semuanya.” (tertawa)

 

“Hey, hey, pintar juga ya! Orang cerdik ya, huh?” Kemudian Beliau tersenyum.

 

Kemudian Swami berkata kepada seorang anak, “Bagaimana kabar ibumu?”

 

Dan Beliau juga memanggil anak yang lain dan berkata, “Bagaimana kabar si Raman?”

 

“Raman adalah kakek saya, Swami.”

 

“Oh, ya, bagaimana kabarnya sekarang?”

 

“Swami, dia kurang begitu sehat.”

 

“Itulah sebabnya Aku menanyaimu.”

 

Lalu saya mengajukan pertanyaan, “Swami, Engkau menanyakan perihal kondisi kakek dari anak-anak juga ya? Oh, Engkau juga menceritakan tentang hal-hal yang terjadi semalam sewaktu diadakan gladi-resik di Auditorium sekolah. Semuanya ini bukan hanya mengejutkan, tetapi juga mengagetkan.”

 

Lebih lanjut Swami berkata, “Orang-orang tahu bahwa Aku mengetahui segala-galanya. Itulah sebabnya mereka berdatangan ke sini. Orang-orang datang ke tempat ini karena mereka tahu bahwa Aku mengenal semua orang – bahwa Aku mengenal ayah dan kakek mereka. Itulah sebabnya mereka datang ke sini. Itulah Keilahian.” Demikian dikatakan oleh Bhagawan.

 

Kemudian Bhagawan memanggil seorang pria yang sedang menempuh program Mphil – Master of Philosophy. Seseorang harus terlebih dahulu mendapatkan gelar Mphil sebelum bisa masuk ke dalam program PhD atau Doktoral. Beliau memanggilnya. “Engkau mendapatkan predikat ‘O’ (outstanding/predikat memuaskan) pada saat mengikuti program Mphil, bagus sekali. Ke sinilah.” Beliau memberinya prasadam. Kemudian Ia menoleh kepada-ku. “Tahukah kamu bahwa dia telah menyelesaikan program MPhil-nya?”

 

“Aku tidak tahu, Swami.”

 

Kemudian Beliau bertanya kepada pria itu, “Apakah sebelumnya kamu memberitahu saya bahwa kamu sedang menjalani program MPhil?”

 

“Tidak, Swami.”

 

“Apakah kamu sudah tahu  hasil ujianmu?”

 

“Belum, Swami.”

 

“Ku katakan kepadamu – kamu akan mendapatkan ‘O’ grade besok.” Percayalah, keesokan paginya ia mendapatkan hasil ujiannya, dan benar bahwa ia ternyata berhasil memperoleh grade ‘O’ dalam program MPhil itu!


BADAN INI ADALAH MAGNET ILAHI

 

Selanjutnya Swami berkata, “Anil Kumar, apa kau lihat para VIP – Very Important Person itu?”

 

Kalau saya mengatakan telah melihat VIP Itu, lalu Beliau akan berkata, “Mengapa kau lihat dia? Kamu datang kan untuk melihat-Ku. Jadi, mengapa kau melihatnya?” (tertawa)

 

Kalau saya mengatakan tidak melihatnya, maka Beliau akan berkata, “Apakah kamu sedang tidur?” Jadi, saya harus bilang apa ya?

 

“Swami, saya melihat banyak orang, tetapi saya tak tahu siapa saja mereka itu. (tertawa) Saya tak tahu apakah dia itu VIP atau bukan. Saya hanya melihat orang, tetapi tidak mengenali mereka.”

 

“Oh-ho! Dia itu adalah Perdana Menteri Sri Lanka. Bentar lagi dia juga akan segera menjadi Presiden.”

 

“Oh, Swami.”

 

Kemudian Swami berkata, “Tahukah kamu, semua orang-orang besar (penting) ingin datang ke sini. Semua orang penting – kepala pemerintahan, semua orang-orang top – mereka ingin datang ke sini. Tetapi mereka semuanya sedang menunggu izin dari-Ku. Mereka ingin ke sini.”

 

“Swami, walaupun Engkau belum mengizinkan mereka datang, lalu bagaimanakah Engkau bisa menarik perhatian mereka? Mengapa mereka begitu tertarik?”

 

Swami berkata, “Simple saja! Badan ini adalah Magnet Ilahi (Divine Magnet). Badan ini laksana magnet ilahi yang menarik setiap orang mendekati-Nya. Jadi, demikianlah semua orang ingin datang ke tempat ini.”

 

Selanjutnya Swami teringat kembali masa lalu-Nya, dan tiba-tiba Ia berkata, “Anil Kumar, berpuluh-puluh tahun yang lalu Aku pernah ke Delhi. Saya tinggal bersama salah satu bhakta kita di sana. Saat itu berkumpul beribu-ribu kendaraan dimana-mana.”

 

“Oh Swami, lalu, lalu?”

 

“Tahukah kamu apa yang terjadi? Aku menerima semacam memorandum – permohonan.”

 

“Dari siapa, Swami?”

 

“Dari semua duta besar negara sahabat. Bunyinya:

 

‘Dear Bhagawan yang tercinta,

 

Kami harus hadir di kantor kami jam 9.30. Perparkiran mobil telah menimbulkan masalah. Kami tidak bisa menjalankan mobil-mobil kami. Kami tidak bisa sampai ke kantor-kantor kami. Kami selalu terhalang, Swami. Bolehkah Engkau pindah dari lokasi ini?” (tertawa)

 

Dan Swami berkata, “Sebagai tanggapan terhadap doa-doa mereka, Ku putuskan untuk pindah dari tempat itu ke tempat lain yang bernama Talaktora. Tempat inilah yang menjadi tempat persinggahan Swami yang baru sebagai jawaban terhadap doa para pejabat itu.”

 

Kemudian Swami berkata, “Tahukah kamu, Aku juga mengunjungi Kurukshetra.” Di India Utara terdapat satu tempat yang dinamakan Kurukshetra.

 

Well, Swami, Engkau pernah ke sana juga?”

 

“Ya, Ya. Tidak ada satu tempatpun yang belum Aku kunjungi. Aku telah pergi kemana-mana.”

 

“Kurukshetra, Swami?”

 

Saya bertanya terus sebab aku ingin mendapatkan informasi dari Tuhan.

 

“Oh, jadi Engkau pergi Kurukshetra?”

 

Kalau anda hanya mengatakan, “Okay, Swami”, maka persoalan sudah selesai. Tapi Aku ingin mengetahui lebih banyak.

 

Kemudian Swami berkata, “Ketika Aku pergi ke Kurukshetra…”

 

Oh bagus, Swami, ayolah, ya? “Di Kurukshetra, apa yang terjadi?”

 

Swami berkata, “Oh, di sana sungguh sangat sempit. Orang-orang ada dimana-mana, dan mobil juga bertebaran dimana-mana – sangat sempit.”

 

“Swami, lalu bagaimana Engkau mengatasinya?”

 

Tahukah anda apa yang terjadi? Di negeri ini ada satu negara bagian bernama Punjab. Mereka yang tinggal di situ disebut sebagai Punjabis. Para Punjabis umumnya berbadan kekar. Ya, mereka bisa menangani enam orang seukuran saya ini.  Mereka memakan gandum. Rupanya saat itu para Punjabis datang dan mengangkat mobil Swami! (tertawa) Mereka bisa mengangkat mobil itu dan langsung membawaNya ke panggung! Panggung itu cukup besar sehingga sebuah mobil bisa langsung ditaruh di atasnya.

 

Dan Swami berkata, “Begitulah suasana kerumunan massa saat itu.” Beliau mengatakan bahwa ia tinggal di Punjab selama lima belas hari, memberikan wacana.


“DO MRS”

 

Dengan cerita ini, saya akan mengakhiri sesi sore hari ini. Swami sedang bercakap-cakap dengan beberapa siswa menjelang penghujung akhir program hari itu. Beliau berkata, “Anak-Ku, kau sekarang belajar di program apa?”

 

“MSc, Swami.”

 

“Lalu setelah MSc apa?”

 

“Swami, apapun juga yang Kau katakan.”

 

“Apa kamu mau melakukannya?”

 

“Ya”

 

“Lakukanlah MRS.”

 

“MRS?”

 

“Mrs., Mrs. – artinya, nikah! Kamu adalah Mr. Ini dan ini. Setelah MSC, ambillah MRS – carilah pendamping hidup.”

 

“Oh, Swami, oh.”


SEDIKIT TRAINING BAGI PARA SISWA UNTUK MENGHADAPI INTERVIEW (KERJA)

 

Kemudian Swami berkata, “Okay anak-anak, kalian kan tahu bahwa ketika kalian pergi untuk diinterview, kalian harus tampak cerdas – kalian harus pintar. Kalian kira Aku tidak tahu bagaimana interview itu dilaksanakan? Aku tahu koq.” Baba sedang bercakap-cakap secara informal dengan anak-anak! Sangat menarik.

 

Kemudian Beliau berkata kepada mereka, “Anak-anak, dengarkanlah. Empat-puluh tahun yang lalu Saya telah memberikan pelatihan kepada beberapa anak mengenai bagaimana caranya menghadapi interview.”

 

“Oh Swami, Engkau pernah melakukannya ya?”

 

“Ya.”

 

“Apakah kemudian mereka berhasil diseleksi?”

 

“Mereka berada di urutan pertama dalam hasil interview itu. Aku juga kan memberikan kalian training. Tapi kalian ini tidak punya akal sehat. Engkau harus bisa memberikan jawaban yang benar.”

 

Rupanya ada seorang siswa yang pernah diinterview dan berkata, “Swami, di ruang interview sana – saya ditanyai pertanyaan yang memalukan.”

 

“Apa pertanyaannya?” Swami bertanya.

 

“Coba sebutkan berapa anak-tangga yang harus kamu naiki untuk sampai ke kantor ini. Ada berapa anak tangga di sana?”

 

Siapa yang akan menghitung jumlah anak tangga sih? Alhasil, mereka semua hanya bisa menghitung-hitung keberuntungannya saja, sembari mengira-ngira apakah mereka akan terpilih atau tidak.

 

“Saya tidak tahu.”

 

Tetapi Swami berkata, “’Aku menaiki anak tangga dalam jumlah yang sama seperti ketika aku menuruninya.’ (tertawa). Itulah jawaban benar yang harus engkau berikan.”

 

Dan Swami berkata, “Kalian kan tahu kereta api India? Di zaman dahulu, lokomotif kereta itu dioperasikan dengan menggunakan batu baru. Tentu sekarang kita sudah menggunakan mesin generasi baru. Tetapi di zaman itu, mesin-mesin tipe lama masih menggunakan batu bara. Ketika lokomotif ini bergerak maju, maka ia akan melepaskan asap dari bagian atasnya – kalian tentu tahu hal ini. Nah, ada seorang pria yang menghadapi pertanyaan serupa dalam interviewnya: ‘Ketika kereta api sedang bergerak cepat, ke arah manakah asap dari lokomotif itu akan bergerak?’”.

 

Siapa sih yang melihatnya? Swami berkata, “Jawabannya simple sekali koq. Apa yang kalian katakan? Tidak tahu? Di kala kereta api itu sedang bergerak maju, maka asap itu tentu harus bergerak ke belakang, sederhana sekali! Kalian ini punya gelar MSC dan PhD, tapi kepalanya koq kosong, kalian ini tidak punya akal sehat.” Itulah yang dikatakan oleh Swami.

 

Ada seorang – yang karena keisengannya – mengajukan pertanyaan ini dalam interview, “Boy, di sini ada satu botol tinta dengan seekor ular yang tertangkap di dalamnya.”

 

Swami berkeliling sambil bertanya, “Satu botol tinta – tahukan? Botol itu lehernya agak sempit. Dan ada ular di dalamnya. Jadi, bagaimana agar ia bisa keluar? Apakah mungkin?”

 

“Swami, saya tidak tahu.”

 

Beliau menjawab, “Ular itu akan keluar dengan cara yang sama seperti ketika ia masuk ke dalamnya!” (tertawa) Simple sekali! Jadi agar kalian bisa diseleksi dalam interview, kalian harus mendaya-gunakan akal sehatmu.”


Terima-kasih banyak. Sai Ram untuk kesempatan bersama-sama dengan anda. Saya mengucapkan Happy Dasara mulai besok dan marilah kita mendengarkan semua mantra-mantra suci yang akan dibacakan. Kita mungkin tidak mengerti artinya. Kebanyakan dari kita tidak memahaminya, tetapi suara yang diciptakan oleh kidung mantra itu memiliki efeknya tersendiri. Bila tiba-tiba anda mendengar suara guntur dan kilat, kalian tentu merasa terkejut bukan? Demikian pula, suara mempunyai efek secara khusus. Mantra adalah suara-suara yang akan memurnikan atmosfir, mensucikan hati dan memurnikan kehidupan manusia. Sulit untuk mengumpulkan semua pendeta di satu tempat serta membacakan mantra di hadapan kehadiran Ilahi. Saya yakin bahwa ini akan menjadi Dasara yang diliputi kebahagiaan. Terima-kasih banyak.

 

Professor Anil Kumar menutup ceramahnya dengan menyanyikan bhajan,

“Jaya Ho Jaya Ho Gopalana”

 

Om Asato Maa Sad Gamaya

Tamasa Jyotir Gamaya

Mrtyormaa Amrtam Gamaya

 

Om Loka Samastha Sukhino Bhavantu

Loka Samastha Sukhino Bhavantu

Loka Samastha Sukhino Bhavantu

 

Om Shanti Shanti Shanti

 

Terima-kasih banyak, Sai Ram!