8 Januari
2003
10 September
2002
Berkat
rahmat Bhagawan, sampai sejauh ini kita telah menyelesaikan
delapan episode “Mutiara Kebijaksanaan Sai”. Dan sekarang,
saya ingin share dengan anda beberapa event penting dan
spesial yang terjadi selama bulan September
2002.
Salah satu
diantara event tersebut adalah perayaan HUT Sri Sathya Sai
Central Trust. Ada satu acara besar yang diselenggarakan pada
tanggal 10 September 2002. Event tersebut cukup penting,
sehingga ada beberapa point yang perlu menjadi perhatian kita.
Perenungan terhadap point-point tersebut akan semakin
memperkokoh keyakinan kita terhadap Swami. Dengan pandangan
seperti ini, saya berkeinginan untuk membagikan ceritera
tersebut dengan anda semuanya.
Acara HUT
dirayakan bertepatan dengan hari Vinayaka Chathurthi. Anda
tahu-kan tentang Vinayaka Chathurthi? Yaitu hari ulang-tahun
Vinayaka, yang juga dikenal sebagai Ganesha, yang biasanya
kita rayakan setiap bulan September. Pada pagi hari itu,
Bhagawan telah memberikan wacana (discourse) tentang Lord
Vinayaka beserta arti yang terkandung di dalam upacara puja
terhadap Vinayaka. Saya kira anda tentunya telah membaca
discourse tersebut di majalah ‘Sanathana Sarathi’. Jadi, saya
tidak perlu mengulasnya lagi di sini.
Nah, yang
perlu menjadi perhatian kita adalah acara yang diselenggarakan
pada sore harinya – yaitu acara yang diadakan oleh Sri Sathya
Sai Central Trust. Keseluruhan acara itu diorganisir oleh para
pelajar/mahasiswa Sri Sathya Sai University – yang bekerja di
Central Trust. Terdapat sekitar kurang-lebih 100 orang alumnus
Sri Sathya Sai University yang bekerja dengan kami di berbagai
tempat. Merekalah yang mengorganisir acara tersebut secara
meriah.
Sri Sathya
Sai Central Trust telah memasuki usianya yang ketiga-puluh
tahun. Oleh sebab itu, menurut mereka, inilah momen yang tepat
untuk mengadakan suatu acara perayaan. Mereka memasang spanduk
dengan kata-kata: ‘Sri Sathya Sai Central Trust in Service of
Humanity’ (Sri Sathya Sai Central Trust dalam pelayanan
kemanusiaan). Istilah ‘In Service of Humanity’ cukup penting,
sebab inilah tema pokok yang dipegang oleh Central Trust sejak
berdirinya.
Di samping
itu, terdapat juga dua spanduk warna-warni lainnya yang
dipasang di kedua sisi panggung (dais) hari itu. Salah satu
diantaranya bertuliskan: ‘Sai, the source of our Growth’ (Sai,
sumber kemajuan kami). Judul ini sangat bagus, sebab memang
Sai merupakan sumber dari segala jenis pertumbuhan/kemajuan.
Hari ini Central Trust telah berhasil mencapai taraf kemajuan
yang tinggi dalam memberikan pelayanan kepada seluruh umat
manusia – siapakah sumber kemajuan mereka? Tiada lain, Sai-lah
sumber segala-galanya! Jadi, spanduk yang digantung memang
cocok sekali, ‘Sai, the source of our
growth.’
Spanduk yang
satunya lagi bertuliskan: ‘Sai, the centre of our Trust’ (Sai
– sumber kepercayaan kami). Jadi, tidak sekedar ‘Central
Trust’ saja. Bukan hanya sekedar yayasan amal. Istilah ‘Centre
of our Trust’ ini mengandung makna yang dalam. Artinya, Sai
harus dijadikan sebagai sumber/pusat kepercayaan kita. Namun
yang disayangkan adalah bahwa umumnya pusat kepercayaan yang
kita anut sehari-hari justru berbeda sekali. Kita toh lebih
percaya kepada uang, jabatan, pengaruh, kekuasaan, dan
sebagainya. Kita tidak pernah menempatkan Tuhan sebagai
sumber/pusat kepercayaan, dan itulah sebabnya mengapa kita
selalu kebingungan! Jadi, kedua spanduk yang digantung di sisi
kiri & kanan panggung telah menyampaikan pesan-pesan yang
bermakna bagi semua hadirin yang menyaksikan event hari
itu.
Pertemuan
hari itu dimulai dengan seorang siswa bernama Ramakrishna –
mahasiswa M.Com yang juga bekerja di Central Trust. Ia
mengucapkan selamat-datang kepada Bhagawan Baba, para bakta
dan partisipan utama di event tersebut. Siapa sajakah
partisipan utamanya? Terdapat beberapa orang tetua (sesepuh),
yaitu: Sri P. Rama Mohan Rao, Chairman dari Prashanthi Nilayam
Township. Tamu kehormatan kedua adalah Sri K. Charkravarthi –
Sekretaris Central Trust, dan tamu kehormatan ketiga adalah N.
Charanjivi Rao. Ketiga tamu ini merepresentasikan Central
Trust – mereka merupakan para sesepuh yang sangat
berpengalaman dan terhormat – yang telah banyak memberikan
sumbangsih untuk kemajuan Trust. Kemudian partisipan lainnya
adalah para alumnus university, yang juga sekarang bekerja di
Central Trust.
“Bhagawan Sri Sathya Sai
Baba, Poorna Avatar”
Pembicara pertama adalah Sri Rama
Mohan Rao, Chairman (ketua) Sri Sathya Sai Township, Prashanti
Nilayam. Beliau berusia 83 tahun, sosok kurus dan jangkung
yang sederhana dan rendah-hati; orang lama yang memiliki
keyakinan tak tergoyahkan terhadap Bhagawan. Sebelum pindah ke
Prashanthi Nilayam, ia bertugas di departemen lain. Beliau
telah memberikan pelayanan kepada Bhagawan selama 40 tahun
terakhir; tanpa pernah mengambil cuti barang satu hari-pun,
waktunya siang-malam dicurahkan hanya untuk melayani
Bhagawan.
Dalam ceramahnya, ia menyinggung
banyak hal-hal yang menarik bagi kita semuanya. Beliau
mengatakan: “Rama adalah seorang inkarnasi Ilahi. Krishna juga
merupakan inkarnasi Ilahi. Tetapi Bhagawan Sri Sathya Sai Baba
adalah seorang Poorna Avatar – yaitu: Avatar dalam totalitas
penuh!”
Selanjutnya ia menyinggung
point-point lain dari pengalamannya sendiri. Pada suatu
ketika, ia menderita penyakit bronchitis dan Bhagawan-lah yang
menyembuhkannya. Ia juga menyinggung tentang isterinya yang
pernah tak sadarkan diri selama tiga hari. Setiap orang telah
angkat-tangan (menyerah) dalam upaya untuk menyelamatkannya.
Kemudian Bhagawan memberinya vibhuthi dan isterinya berhasil
diselamatkan dari kematian.
Beliau juga menyinggung miracle
lainnya. Pernah isterinya kehilangan kalung emas yang pernah
diberikan oleh Bhagawan kepadanya. Ia tidak ingat lagi dimana
ia kehilangan kalung tersebut. Suatu hari, ketika isterinya
sedang menangis, Swami mematerialisasikan kalung yang sama
dari gundukan pasir yang ada di depannya! Semuanya merasa
sangat surprise (terheran-heran).
Ditambahkan olehnya, bahwa anak
perempuannya pernah juga disembuhkan dari sakit cacar; dimana
tidak ada satu bekaspun yang tertinggal di wajahnya. Disamping
itu, saudara iparnya – seorang penderita diabetes – juga
disembuhkan oleh Swami. Padahal waktu itu, saudara iparnya
telah diperintah oleh para dokter untuk sesegera mungkin
dioperasi. Dengan linangan air mata kegembiraan dan rasa
terima-kasih kepada Bhagawan; beliau menceritakan semua
mukjijat-mukjijat tersebut satu per satu. Ceramahnya sangat
menyentuh hati semua hadirin.
“Aku mungkin asing bagimu, namun
Engkau sama sekali tidak asing lagi
bagi-Ku”
Pembicara kedua adalah Sri
Charkravarthi, sekretaris Sri Sathya Sai Central Trust.
Sebelummya, ia bekerja di bagian collector. Di samping itu,
sebelum melayani Bhagawan, beliau juga pernah bekerja di
pemerintahan, yaitu sebagai secretary of Finance, Commercial
Tax Commissioner dan beberapa jabatan penting
lainnya.
Demi Bhagawan, ia telah memangku
jabatan sebagai Registrar of Sri Sathya Sai University selama
tiga-belas tahun, dan beliau juga terlibat langsung dalam
proyek Sri Sathya Sai Drinking Water Project di tiga distrik
utama, yaitu: Anantapur, Mahaboobnagar dan Medak, semuanya di
negara bagian Andhra Pradesh. Beliau merupakan sosok pribadi
yang tinggi jam-terbangnya
(berpengalaman).
Kemudian beliau mengutarakan hal
sebagai berikut, bahwa ketika pertama kalinya ia sampai di
Prashanthi Nilayam, Swami memberitahu satu point kepadanya:
“Aku mungkin masih terasa asing bagimu, tetapi engkau sudah
tidak asing lagi bagi-Ku. Aku telah mengenalmu selama beberapa
kehidupan. Aku tahu persis tentang dirimu.” Bagi seorang
pejabat kelas satu untuk mendengarkan statement seperti ini
tentu terasa kaget, sebab ini merupakan pertemuannya yang
pertama kali dengan Bhagawan! Itulah yang dikatakan
olehnya.
Menyinggung tentang posisinya sebagai
Registrar of Sri Sathya Sai University, beliau menambahkan:
“Sungguh sulit dipercaya bagaimana Bhagawan bisa mengingat
nama setiap siswa, nilai ujian mereka dalam berbagai mata
pelajaran, orang-tua serta keluarga mereka. Dan juga bagaimana
Bhagawan membimbing seluruh universitas tersebut dalam
penyusunan sillabusnya serta dalam memperkenalkan mata
pelajaran baru. Semuanya itu sungguh amat luar
biasa.”
Lebih lanjut beliau menambahkan,
“Proyek Air Minum Sri Sathya Sai yang diperkenalkan di distrik
Anantapur membutuhkan pasokan pipa dari seluruh negeri. Satu
atau dua pabrik saja tidak akan sanggup memasok kebutuhan pipa
yang begitu banyaknya. Oleh sebab itu, pipa-pipa tersebut
harus khusus didatangkan dari berbagai tempat, misalnya:
Ahmedabad, Aurangabad, Calcultta, Trichy dan sebagainya –
masih banyak lagi. Disamping itu, dibutuhkan tiga puluh lima
ekskavator untuk mengerjakan proyek tersebut.” Itulah yang
dikatakan oleh Charkravarthi, cukup
menarik!
“Tuhan bersamaku, dan Aku bersama
Tuhan”
Kemudian N. Charanjivi Rao juga
memberikan ceramah hari itu. Ia mengutarakan kegembiraannya
melihat anak-anak yang tadinya disekolahkan di SD (beberapa
tahun yang lalu), sekarang telah tamat dari Universitas dengan
gelar PhD. Bocah yang bergabung di kelas satu sekarang telah
lulus dengan title PhD! Ini sungguh luar biasa dan sangat
cantik sekali.
Charanjivi Rao telah berusia 82
tahun. Beliau adalah seorang insinyur dan kontraktor sebelum
datang kepada Swami. Ia mendapatkan darshan Bhagawan untuk
pertama kalinya pada tahun 1958, dan sejak itu, ia
berkeyakinan bahwa Baba adalah Tuhan – sekarang dan untuk
selama-lamanya.
Ia berkata, “Saya selalu memiliki
perasaan bahwa Tuhan senantiasa bersamaku, dan aku juga selalu
bersama Tuhan. Kedua perasaan dan keyakinan inilah yang
memungkinkan saya melakukan segala jenis pekerjaan tanpa
terpengaruh oleh waktu, kelelahan atau kesulitan apapun juga.
Sebab Tuhan bersamaku dan aku bersama Tuhan, maka saya tidak
menemukan kesulitan dalam melaksanakan tugas-tugas yang
diberikan dari waktu ke waktu.” Lebih lanjut, Charanjivi Rao
menyinggung bahwa selfless service (pelayanan tanpa pamrih)
yang dijiwai oleh semangat cinta-kasih mutlak diperlukan oleh
setiap bhakta.
Beliau juga teringat pada
pengalamannya ketika Bhagawan mengutusnya ke Gujarat. Anda
tentunya pernah mendengar/tahu bahwa gempa bumi dashyat pernah
terjadi di daerah tersebut; yang mengakibatkan tewasnya ribuan
orang, hewan dan kerugian harta-benda/materi dalam jumlah
ratusan crores (milyaran) rupees. Tragedi yang memilukan
sekali.
Swami mengutus Charanjivi Rao dan
beberapa kawan-kawan untuk melakukan tugas-tugas kemanusiaan
di sana. Charanjivi Rao teringat bahwa ketika mereka di
Gujarat, para penduduk desa di sana merasa sangat happy dan
berterima-kasih kepada Bhagawan, yang telah mengirimi mereka
kebutuhan-kebutuhan mendesak di waktu yang tepat. Setelah
tertimpa oleh musibah bencana yang tergolong sangat parah;
mereka merasakan kebahagiaan atas perhatian yang dilimpahkan
oleh Bhagawan kepadanya.
Misi
Ilahi
Selanjutnya, para alumnus universitas
mempresentasikan sebuah diskusi unik dimana secara singkat
mereka mengulas tentang salah satu aspek dari proyek-proyek
yang sedang dilaksanakan oleh Sri Sathya Sai Central
Trust.
Pembicara pertama adalah Srinivasan,
siswa tamatan MBA. Ia berkata, “Bahwa keterlibatan kami dalam
aktivitas Sri Sathya Sai Central Trust dapat diibaratkan
sebagai sebuah perjalanan cinta-kasih (a journey of Love).”
Demikianlah ia menamakannya.
Pembicara selanjutnya adalah dua
pemuda: Satish, Msc, dan Arun Kumar, B.Tech & MBA. Mereka
berdua bertindak sebagai komentator atau MC untuk sesi
tersebut.
Arun Kumar mengutarakan, “Misi
Bhagavan telah dinyatakan secara jelas oleh Bhagawan sendiri
dalam sebuah surat yang ditulis oleh Beliau kepada abang-Nya
(ketika Swami masih muda). Surat ini ditulis karena sang
abang, Seshama Raju masih ragu-ragu terhadap Baba, ia mengira
bahwa adiknya sedang kerasukan roh-roh jahat. Untuk itu, Baba
menulis surat guna mengklarifikasikan semua keragu-raguan itu
dan untuk mengindikasikan misi
Ilahi-Nya.”
Saya tidak akan membacakan isi surat
itu dalam bahasa Telugu, sebab anda mungkin tidak memahaminya.
Saya akan menceritakannya dalam versi Bahasa Inggris demi
untuk manfaat anda semuanya. Aspek pertama dari Misi Beliau
adalah untuk melindungi dan memberikan bliss (ananda) kepada
seluruh umat manusia. Beliau telah bertekad untuk melakukan
hal ini.
Point kedua: Baba telah bersumpah.
Apa sumpah Beliau? Yaitu untuk menuntun kembali mereka yang
telah melenceng dari jalan yang benar, dan meluruskannya
kembali. Inilah sumpah atau point kedua dari Misi
Ilahi-Nya.
Point ketiga dari Misi Ilahi adalah
untuk datang menyelamatkan mereka yang miskin dan yang
membutuhkan pertolongan, serta untuk menjadi tempat
perlindungan bagi mereka yang pupus harapan; menolong mereka –
point ini sudah tidak asing lagi bagi Bhagawan, dan sangat
disukai-Nya.
Aspek keempat dari Misi Ilahi:
Kebesaran dari Avatar ini terletak pada janji Beliau untuk
datang menyelamatkan serta memberikan perlindungan kepada
mereka yang secara tulus & ikhlas memuja dan
menghormatiNya secara berkeyakinan dan penuh
disiplin.
Dan, aspek kelima Divine Mission
adalah: Untuk memastikan bahwa kita semuanya mengembangkan
devotion (bhakti) yang mantap dan tidak mudah terombang-ambing
oleh gejolak-gejolak kehidupan. Kita tidak boleh mudah
terpengaruh (agitated). Hendaknya kita mengembangkan
keseimbangan pikiran (balanced state of mind) dan stabil.
Demikianlah definisi devotion – menurut Baba. Jadi, inilah
kelima aspek Misi Ilahi yang disinggung oleh Bhagawan dalam
surat-Nya kepada Seshama Raju
(abang-Nya).
Tiga Janji kepada
Easwarama
Lebih lanjut, Arun Kumar menyinggung
tentang tiga janji yang diberikan oleh Bhagawan kepada
ibunda-Nya, Easwaramma. Ibunda Easwaramma meminta agar
disediakan sebuah sumur di Prashanthi Nilayam agar para
penduduk desa tidak perlu berjalan jauh hanya untuk memperoleh
seember air. Bhagawan memenuhi permintaannya. Di zaman itu,
terdapat sebuah sumur besar di dekat Ganesh Gate. Para
penghuni lama tentu masih ingat. Dan lihatlah, hari ini bukan
hanya sekedar sumur air. Hari ini telah terdapat Water Project
yang sanggup menyuguhkan air minum kepada distrik-distrik
Anantapur, Mahaboobnagar dan Medak! Bahkan sekarang Drinking
Water Supply ini telah meluas hingga ke Madras, di negara
bagian Tamil Nadu!
Permintaan kedua ibunda Easwaramma
adalah agar didirikan sebuah sekolah dasar. Beliau
menginginkan sebuah institusi pendidikan agar dengan demikian,
anak-anak tidak perlu berjalan terlalu jauh pergi ke sekolah.
Maka Bhagawan memulai sebuah sekolah yang diberi nama,
Easwaramma High School. Sekarang sekolah ini telah tumbuh
berkembang menjadi Sri Sathya Sai University; yang telah
memperoleh reputasi hebat sebagai lembaga pendidikan yang
sangat prestisius. Bahkan University Grants Commission telah
menyatakannya sebagai universitas nomor satu di seluruh
India!
Permohonan ketiga sang Ibu adalah
agar diadakan semacam poliklinik (puskesmas) sebagai tempat
perawatan kesehatan penduduk desa. Jadi, Swami juga memulai
sebuah primary health care centre di dalam lingkungan ashram.
Sekarang poliklinik ini telah tumbuh dan berkembang menjadi
Sri Sathya Sai Super Specialty Hospital! Seolah-olah masih
belum cukup, Beliau juga telah membangun Sri Sathya Sai Super
Specialty Hospital yang ke-dua di
Bangalore!
Teman-teman sekalian, semuanya ini
memperlihatkan sebuah proses evolusi, divine progress and
advacement (kemajuan Ilahi). Ia menunjukkan bahwa misi Ilahi
terus bergerak maju dengan segala keagungan dan kemuliaan-Nya;
tanpa ada rintangan, sebab kehendak Ilahi memang tidak dapat
dimengerti dan tak ada bandingannya. Kehendak Ilahi pasti akan
termanifestasikan tanpa perlu diragukan sama sekali. Itulah
yang dapat kita saksikan sekarang.
Keyakinan terhadap diri
sendiri
Berikutnya, kita mendengarkan pidato
dari seorang pemuda bernama Dr. Sainath, yang bertitel MSc dan
PhD. Ia mengutip Bhagawan, “Secular knowledge (pendidikan
sekuler) diperlukan untuk kehidupan (living). Spiritual
knowledge (pendidikan spiritual) diperlukan untuk membebaskan
kita (liberation).”
Dr. Sainath sekali lagi mengungkapkan
kegembiraannya bahwa sekarang Sri Sathya Sai University telah
berada di puncak (sebagai universitas terbaik) di antara semua
perguruan tinggi di India.
Selanjutnya ia menyinggung tentang
dua atau tiga orang murid. Salah seorang di antaranya, yang
telah lulus dari program MBA, mengikuti job interview. Para
pewawancara menanyakan satu pertanyaan kepadanya: “Apa yang
telah diberikan oleh Baba kepadamu?”
Ia menjawab, “Baba telah memberikan
Self-confidence (kepercayaan diri) kepadaku. Bukan hanya
sekedar gelar saja, Beliau telah memberikan kepercayaan diri
kepadaku.”
Teman-teman, oleh karena saya tahu
bahwa anda telah mendapatkan informasi yang cukup dari
literatur Sai; maka saya kira saya tak perlu lagi mendalami
topik ini secara mendalam. Menurut hemat saya, dengan beberapa
kalimat singkat saja, rasanya sudah cukup untuk menyinggung
tentang aspek self-confidence ini.
Self-confidence adalah sesuatu yang
tidak bersifat physical, juga tidak bersifat intellectual,
social, psychological dan juga tidak berbau politis.
Self-confidence adalah keyakinan terhadap kemampuan diri
sendiri. Self (diri) adalah sesuatu yang mulia (supreme); Self
adalah consciousness (kesadaran). Jadi, keyakinan/kepercayaan
terhadap kesadaran agung (supreme consciousness) inilah yang
disebut self-confidence. Ia sama sekali tidak ada kaitannya
dengan body, mind maupun intellect.
Dr. Sainath juga menyinggung tentang
salah seorang alumnus sekolah kami, yang sekarang tinggal di
Perancis. Siswa ini dihormati dan dihargai bukan hanya oleh
karena kehebatan akademiknya, melainkan juga oleh karakternya
yang luhur. Kami sangat gembira mengetahui hal ini. Selain
memberikan pendidikan gratis, Sathya Sai University juga amat
sangat peduli terhadap standar
pendidikannya.
Kemudian beliau memberikan contoh
tentang bagaimana cara Swami membentuk pribadi para
bhakta. Anda
tentunya pernah mendengar tentang industri ban bukan? Nah,
pabrik/industri ban ini memproduksi berbagai jenis ban untuk
truk, traktor dan mobil, dan sebagainya. Sebelum ban-ban ini
dikirim/dilepas ke pasaran, maka ia harus melalui serangkaian
uji-coba terlebih dahulu. Ban tersebut harus dicoba seberapa
baik performancenya bila digunakan untuk menempuh berbagai
jenis/tipe jalan yang ada di India. Well, tentunya saya tak
perlu lagi bercerita panjang-lebar tentang jalan-jalan di
India kepada anda bukan? (tertawa) Lalu, jalan-jalan
yang ada di kampung-kampung, well, sebaiknya saya tak
membicarakannya sama sekali. Saya tak tahu apakah jalanan itu
lebih cocok disebut lobang atau jalan? Apakah itu sebuah jalan
atau sekedar kumpulan batu-batu kerikil? Well, lebih baik
jangan dilanjutin lagi deh. (tertawa) Nah, jalan-jalan
produksi mereka harus diuji dalam situasi seperti itu untuk
mengetahui sampai sejauh mana ban tersebut dapat bertahan.
Demikian pula, Baba mempersiapkan diri kita masing-masing
persis seperti ban-ban tadi. Beliau akan menggembleng diri
kita agar ‘siap untuk berguling’ dalam segala jenis perjalanan
kehidupan yang tak berdaya, agar dengan demikian, kita
memiliki sikap mental yang siap & tangguh dalam menghadapi
segala jenis cobaan; sehingga kelak kita tidak akan mudah
mengalami kekecewaan/depresi.
Terakhir, Dr. Sainath menutup
ceramahnya dengan mengatakan: “Institusi kita bukan hanya
sekedar disebut ‘Sri Sathya Sai Institute of Higher Learning’, tetapi lebih cocok bila
disebut sebagai
‘Sri Sathya Sai Institute of Highest Learning’!”
“Doa-doamu menyentuh
hati-Ku”
Kemudian giliran pemuda bernama
Prashant MBA memberikan ceramah. Ia menceritakan pengalamannya
sendiri. Saya rasa anda tentu akan tertarik untuk mendengar
pengalaman-pengalaman mereka.
Ketika sedang menjalani semester
terakhir program MBA, ia mengalami kecelakaan yang menimbulkan
retak di tangannya. Akibatnya ia tidak bisa menulis. Sesuai
dengan peraturan universitas, bahwa siapapun juga yang
berhalangan akibat kecelakaan/sakit, siswa bersangkutan boleh
menunjuk seorang juru tulis untuk menuliskan lembaran
jawabannya. Mahasiswa bersangkutan akan membacakan jawabannya
dan sang juru tulis yang akan menuliskannya di lembar jawaban.
Tentu saja, si juru tulis tidak boleh seorang siswa dari kelas
dan mata pelajaran yang sama (itu sih namanya curang)!
(tertawa) Juru tulis inilah yang mewakili mahasiswa
bersangkutan; demikianlah aturannya. Jadi, anak ini – dengan
perban di tangan – pergi menghadap Swami dan meminta izin agar
ia diperbolehkan meminta bantuan seorang juru tulis pada saat
ujian nanti.
Swami berkata, “Ah, tidak perlu! No!
Aku ingin kau sendiri yang menulisnya. Aku tak ingin kau
meminta bantuan siapapun.”
Jadi, mau tidak mau, dia harus
menuliskan sendiri lembaran jawabannya dan ternyata ia
berhasil memperoleh nilai tertinggi pada semester itu – bahkan
lebih tinggi daripada nilai-nilainya di semester sebelumnya!
Maka ia mengatakan, “Semuanya itu adalah kehendak
Sai.”
Dan setelah nilai-nilainya diumumkan,
ia menghadap Swami lagi. Bhagawan berkata, “Doa-doamu telah
menyentuh hati-Ku. Maka Ku-berikan rahmat-Ku, yang membuatmu
berhasil dengan sangat sangat baik.”
Anak muda ini mengakhiri ceramahnya
dengan menyanyikan sebuah lagu. Ia merupakan salah seorang
penyanyi rutin di Mandir setiap bhajan sore. Berikut ini
adalah inti-sari nyanyiannya:
Oh Tuhan, hatiku lebur ketika
Ku-nyanyikan kemuliaan-Mu.
Oh Tuhan, Dengan cinta-kasih-Mu,
Dikau telah menyalakan lampu kebijaksanaan di dalam
hati-Ku.
Oh Tuhan, dalam kehidupan sekarang
dan yang akan datang, Dikaulah segala-galanya
bagiku.
58,000 Pasien Jantung telah
dirawat
Selanjutnya tampil seorang pembicara
dari rumah-sakit. Siswa yang bernama Ravi Mariwala ini telah
lulus MSc di bidang bioscience dan juga MBA. Ia mengatakan
bahwa sampai hari ini bagian kardiologi Sri Sathya Sai Super
Specialty Hospital telah merawat pasien jantung sebanyak
58,000 orang! Bayangkan 58,000 pasien! Di samping itu,
sebanyak 1,500 orang telah datang ke sana untuk menjalani
operasi penggantian katup jantung. Tambahan lagi, di
departemen urologi, sejumlah 18,000 pasien juga telah menerima
perawatan. Angka-angka statistik ini diutarakan olehnya dan
kemudian ia juga membicarakan tentang pengalaman yang dialami
oleh beberapa pasien.
Di dekat Prashanthi Nilayam ada satu
desa bernama Bukkapatnam. Salah seorang pasien yang berasal
dari daerah itu berprofesi sebagai guru, ia menderita sakit
jantung dan membutuhkan injeksi. Pengobatan injeksinya sangat
mahal, yaitu mencapai 50,000 rupees!
Swami mengatakan, “Biarkan saja, yang
penting kita harus menyelamatkan nyawa siapapun juga yang
datang kepada kita!”
Maka para dokter-pun memberikan
injeksi kepadanya. Dan setelah dua hari, ia dioperasi. Sesudah
itu, orang-orang menghampirinya dan bertanya, “Bagaimana
keadaanmu, Sir?” Ia menjawab, “Saya sekarang siap untuk makan
siang!” (tertawa)
Orang yang tadinya bersiap-siap untuk
meninggalkan dunia ini (alias meninggal), sekarang malah siap
untuk santap siang! Itulah rahmat Ilahi dari Bhagawan Sri
Sathya Sai Baba.
Kemudian ada seorang Kristen asal
Kerala yang datang ke rumah-sakit. Ia adalah pasien jantung
yang harus dioperasi juga. Ia memiliki keyakinan penuh bahwa
Baba dan Kristus adalah satu, tapi isterinya tidak percaya.
Umumnya sering kejadian bahwa pada sepasang suami-isteri,
biasanya salah satunya kurang yakin terhadap Swami. Kejadian
ini sering terjadi, dan tidak terkecuali pada diri saya
sendiri!
Jadi, Swami muncul dalam mimpi
isterinya. Bukan dalam mimpi pria itu, sebab ia toh sudah
memiliki keyakinan, jadi tidak perlu diberi mimpi lagi. Jadi,
Baba memberikan mimpi kepada sang isteri dan di dalam mimpi
itu, Baba mengatakan bahwa diri-Nya adalah Cosmic Christ
(Kristus semesta). Mimpi ini terjadi sekitar dini hari sebelum
subuh. Biasanya orang-orang India percaya bahwa mimpi yang
terjadi di sekitar jam-jam tersebut merupakan pertanda bahwa
yang diimpikan itu akan benar-benar terjadi. Demikianlah
tradisinya.
Oleh sebab itu, sekarang sang isteri
mulai memiliki keyakinan total kepada Baba. Suaminya menjalani
operasi dan sembuh. Sekarang mereka berdua mengunjungi
Prashanthi Nilayam secara rutin. Di sini mereka melakukan
kegiatan seva/pelayanan. Mereka sudah berulang-kali berkunjung
ke sini; tidak kurang dari 16 kali kunjungan.
Selanjutnya, Ravi Mariwala memberikan
ilustrasi lain. Dikatakannya bahwa ada seorang pasien yang
berasal dari Nepal. Sebelum datang ke Prashanthi Nilayam, ia
telah menjual rumah dan semua harta bendanya untuk memperoleh
perawatan di beberapa tempat lain. Tapi, penyakitnya tak
kunjung sembuh. Penyakitnya masih tetap bertahan. Lalu, apa
yang terjadi? Akhirnya ia memutuskan untuk datang kepada Swami
karena ia sudah tidak sanggup lagi membayar biaya pengobatan.
Setelah datang ke sini, ia berhasil dioperasi dengan sukses
dan sekarang ia telah bekerja kembali seperti
biasanya.
Kemudian ada sepasang suami-isteri
asal Jabalpur yang juga datang berobat ke sini. Sang suami
menderita sakit jantung, sedangkan isterinya ada masalah batu
di ginjal. Keduanya mempunyai problem kesehatan. Di Prashanthi
Nilayam, mereka diberikan pengobatan gratis, dan sekarang
keduanya telah sembuh dan sehat kembali. Demikianlah inti
wacana yang diberikan oleh Ravi
Mariwala.
“Apakah Beliau tidak pernah
capek?”
Di penghujung acara, seorang pemuda
bernama Nirajacharya, B.Tech, MBA memberikan ceramah. Ia
mengatakan bahwa Sathya Sai Drinking Water Project telah
menyuplai air minum kepada ratusan juta penduduk di Distrik
Anantapur. Tangki-tangki besar telah dibangun dan bahkan hari
ini, setiap rumah telah memiliki keran airnya masing-masing.
Sebelumnya, para penduduk harus berjalan bermil-mil jauhnya
untuk mendapatkan air bersih. Lihatlah, hari ini setiap rumah
telah memiliki keran-airnya
masing-masing!
Kemudian ia juga mengutarakan
statement berikut: “Apakah Bhagawan tahu/kenal arti
capek/lelah tidak? Apakah Beliau pernah merasa letih? Sebab
kita melihat-Nya bekerja dan bekerja dan bekerja terus! Kita
melihat Beliau senantiasa memberi dan memberi dan memberi!
Tidak ada waktu sejenak untuk berdiri dan melihat, bahkan tak
ada waktu untuk istirahat. Bhagawan melayani semua umat
manusia tanpa hentinya.”
Pembicara terakhir adalah Srinivas,
MSc, salah-seorang penyanyi yang handal. Anda mungkin pernah
mendengar nyanyiannya setiap hari saat bhajans. Ia berbicara
tentang sungai Gangga. Anda tahu bukan bahwa sungai Gangga
adalah salah-satu sungai suci di India?
“Oh, Bhagawan, Dikau telah membawa
sungai Gangga ke Anantapur, ya, sungai yang letaknya ratusan
mil dari sini telah Engkau bawa ke sini. Dikau-lah yang mampu
melakukannya!”
“Sungguh Besar Cinta-Kasih-Mu!
Sungguh Besar!”
Misi yang diemban oleh Swami bukanlah
untuk untuk konsumsi publisitas ataupun untuk dipamerkan.
Semua yang dilakukan oleh Beliau merupakan bukti-nyata
Keilahian-Nya, tidak lebih dari itu. Srinivas juga menyinggung
satu insiden dimana ada seorang wanita yang keempat anaknya
dititipkan di panti asuhan. Suatu ketika suaminya meninggal,
sehingga tinggalah dia seorang diri.
Wanita itu bertanya kepada Srinivas,
“Apakah saya bisa mendapatkan kesempatan untuk berdekatan
dengan Swami, agar saya dapat memenuhi satu keinginan-ku? Saya
ingin memanggil Swami, ‘Dear Father’ (Ayah terkasih). Beliau
adalah ayah-ku, my dear Father. Saya ingin memanggil-Nya,
‘Ayah’. Apakah
saya bisa mendapatkan kesempatan untuk memanggil-Nya
demikian?”
Itulah yang disinggung olehnya.
Sebagai seorang penyanyi, kemudian ia melatunkan sebuah lagu
yang cantik. Suaranya sangat merdu. Berikut ini adalah
inti-sari arti dari lagu yang
dinyanyikannya:
Oh Sai, Tuhan
kami,
Engkaulah personifikasi cinta-kasih
dan welas-asih.
Oh Tuhan
Sai,
Engkaulah pelindung bagi mereka yang
menderita.
Oh Tuhan, ketika tiada seorangpun
yang mencintaiku,
Ketika hatiku sedemikian
beratnya,
Ketika aku tidak tahu hendak
kemana,
Ketika segalanya sedemikian gelap di
sekitar,
Engkaulah Ibu-ku, Engkaulah Ayah-ku,
Engkaulah Tuhan-ku,
Dikaulah yang mengulurkan tangan
Ilahimu mencintai kami semuanya,
Oh Tuhan, my dear
Sai.
Demikian arti lagu tersebut. Kemudian
ia juga menyanyikan lagu lain yang juga sangat
bermakna:
Oh Tuhan
Sai,
Dikau telah turun ke dunia
ini.
Dikau telah menjadikan dunia ini
sebuah surga.
Dikau telah turun ke dunia ini
sebagai inkarnasi,
Untuk menuntun manusia menjadi
Tuhan.
Sungguh besar
cinta-kasih-Mu!
Sungguh besar
cinta-kasih-Mu!
Tepuk-tangan bergemuruh memuji
lagu-lagu yang sarat dengan makna ini. Itulah hal-hal yang
hendak saya share dengan anda semuanya sebagai bagian pertama
dari session hari ini.
Bulan September
2002
“Tuhan
bersamamu”
Anda tentunya pernah mendengar salah
seorang tokoh dalam cerita epic ‘Bhagavatham’, yaitu: seorang
anak bernama Prahlada? Anak ini merupakan seorang bhakta yang
hebat, tetapi sebaliknya, ayahnya justru sangat anti terhadap
Tuhan. Ayanya adalah seorang raja yang memerintah seluruh alam
semesta – raja perkasa yang menghendaki agar anaknya kelak
menjadi penerusnya. Untuk itu, ia mengutus anaknya untuk
menuntut-ilmu dari beberapa guru. Tapi sang anak menolak untuk
belajar dari mereka.
Sebaliknya, Prahlada malah
terus-menerus menyanyikan kemuliaan Tuhan. Sang ayah sangat
jengkel dan marah dengan perilaku anaknya. Tanpa kehilangan
akal, sang raja mencoba bermacam cara agar dapat merubah
pikiran Prahlada, antara lain: ia pernah dibakar, dilempar
dari puncak gunung, dicemplungkan ke laut, diinjak oleh gajah
dan juga membiarkannya digigit ular serta diracuni. Tapi sang
anak tetap saja selamat, sebab ia senantiasa menyanyikan
kemuliaan Tuhan.
Bhagawan menyinggung episode ini
sebagai bukti betapa Tuhan sangat powerful – bahwa tak ada
sesuatu malapetaka-pun yang bisa terjadi pada diri seorang
manusia. Tuhan tak akan membiarkan bhaktanya jatuh ataupun
mati. Tuhan selalu berada di
belakangnya.
Kemudian saya berkata, “Swami, apakah
benar Tuhan hadir dalam wujud halus seperti itu? Apakah benar
bahwa Tuhan hadir dari level mikrokosmos hingga makrokosmos,
dari level atom hingga mencakup seluruh alam
semesta?”
Baba menjawab, “Persis! Itulah yang
sering Ku-katakan dalam wacana-Ku yaitu: God is with you
(Tuhan bersamamu), in you (di dalam dirimu), above you (di
atasmu), below you (di bawahmu) and around you (di sekitarmu).
Demikianlah yang Ku-maksudkan.”
Kemudian saya melanjutkan pertanyaan,
“Swami, apakah terdapat seseorang yang memiliki kesadaran
(awareness) seperti yang Kau-sebutkan tadi? Apakah ada orang
yang bisa menyadari bahwa Tuhan hadir dimana-mana? Mudah
diucapkan, tapi apa benar manusia seperti itu
eksis?”
Bhagawan berkata, “Ya, mengapa tidak?
Banyak orang-orang seperti itu.”
Lebih lanjut Swami menambahkan,
“Jikalau tidak terdapat orang-orang demikian di dunia ini,
maka matahari tak akan bersinar; tidak akan ada cahaya
rembulan; dan angin tidak akan berhembus. Seisi dunia ini akan
berbeda sama sekali. Jadi, ya, memang terdapat manusia yang
memiliki kesadaran (awareness) bahwa Divinity (Keilahian)
mencakupi segala-galanya.”
Kemudian, “Swami?” saya mengajukan
pertanyaan lagi: “Swami, lalu mengapa kita tidak bisa memahami
kebenaran ini? Bahwa Tuhan hadir dimana-mana, mencakupi
segala-galanya. Mengapa saya tidak bisa memahami kebenaran
ini? Mengapa?”
Bhagawan berkata, “Semuanya karena
ilusi. Ilusi-lah yang bertanggung-jawab. Apakah yang dimaksud
dengan Ilusi? Ilusi adalah identitas yang salah. Ilusi adalah
super-imposisi. Ilusi diartikan sebagai: mengira sesuatu yang
sebenarnya tidak eksis sebagai sesuatu yang real (nyata).
Jadi, dengan perkataan lain, sesuatu yang tidak nyata
seolah-olah tampak nyata – inilah akibat ilusi. Ilusi
membuatmu percaya terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak ada.”
Demikianlah jawaban Bhagawan. Apakah cukup
jelas?
Lebih lanjut, “Pikiran ilusi ini akan
mengikutimu seperti halnya bayang-bayang yang senantiasa
menguntitmu hingga akhir kehidupan. Misalkan di suatu senja
hari, engkau menemukan sesuatu tergeletak di depan jalan yang
sedang kau lalui. Engkau mengira ‘benda’ itu adalah seekor
ular, oleh karenanya engkau mencoba menghindarinya. Tetapi
setelah lampu senter dinyalakan, ternyata yang engkau lihat
bukanlah seekor ular, melainkan hanya seutas tali. Jadi,
ketika engkau melihatnya secara jelas, maka yang tampak
bukanlah seekor ular melainkan seutas tali! Apa sih yang
terjadi? Sebenarnya tidak ada ular sama sekali – baik sebelum
maupun setelah senter dinyalakan. Ular tidak pernah datang dan
juga tidak pernah pergi. Yang ada hanyalah tali.
Biang-keroknya adalah kesalahan manusia mengidentifikasikan
tali sebagai ular. Itulah yang dinamakan
ilusi.”
Jadi, apa yang terjadi? Ketakutan
ditimbulkan ketika ia mengira bahwa benda tersebut adalah
seekor ular. Ketidak-takutan muncul setelah ia menyadari bahwa
benda itu adalah tali. Jadi, apa yang datang dan apa yang
pergi? Yang datang dan pergi adalah ketakutan. Ular tidak
pernah datang maupun pergi. Tidak ada ular sama sekali. Yang
ada sejak awal hanyalah tali. Yang datang hanyalah ketakutan,
sebagai buah akibat dari identifikasi yang salah. Inilah yang
dinamakan ilusi.
Jadi, agar kita dapat keluar dari
ilusi, kita perlu berdoa kepada Tuhan, Madhava. ‘Ma’
+ ‘dhava’. ‘Ma’ artinya Maya atau ilusi dan ‘dhava’
artinya Master (Penguasa). Jadi, Tuhan adalah penguasa Ilusi.
Beliau-lah yang dapat menolong kita agar tidak menjadi korban
ilusi. Tak ada gunanya bagi kita untuk mendekati orang ini
atau orang itu. Hanya Tuhan sajalah yang bisa membantu kita
keluar dari ilusi ini. Demikianlah yang dikatakan oleh
Bhagawan. Pahamkah anda?
“Oh Swami, jikalau Tuhan
menyingkirkan ilusi-ku, apakah Tuhan tidak akan terpengaruh
oleh ilusi itu sendiri? Mengapa saya terpengaruh oleh delusi?
Mengapa Tuhan tidak? Bila saya menyentuh api, maka tanganku
akan terbakar. Jikalau Engkau menyentuh api, bukankah hal yang
sama juga akan terjadi? Bukankah begitu? Jadi, jikalau saya
menjadi korban Maya atau ilusi, lalu mengapa Tuhan
tidak?”
Baba, yang maha pengasih, masih dapat
mentolerir kebodohan pertanyaanku. Beliau mengeluarkan jawaban
ini:
“Lihat, seekor kucing memindahkan
anak-anaknya dengan cara mengigitnya dari satu tempat ke
tempat lain. Gigi tersebut tidak akan membunuh anak-anaknya;
tetapi gigi yang sama akan langsung membunuh tikus. Gigi yang
digunakan tetap sama. Dalam satu kasus, ia tak akan
menimbulkan kematian. Tetapi dalam kasus lain, ia langsung
membunuh. Demikian pula, Tuhan membantu menyingkirkan ilusimu,
tetapi Beliau sendiri tidak akan terpengaruh oleh ilusi
tersebut.”
Reaction, Reflection and
Resound
Swami juga menyinggung bahwa seisi
dunia ini tak lain hanya terdiri atas: reaction, reflection
dan resound. Apapun juga yang kita lakukan, maka hal yang sama
pasti akan kembali berbalik kepada kita. Hal itu sudah pasti.
Konsekuensinya tidak dapat dielakkan. Kita tak bisa melarikan
diri dari hasil-hasil akibat perbuatan tersebut. Semuanya akan
berbalik kepada kita sebagai reaction, reflection dan
resound.
Beliau memberi contoh dengan ceritera
seorang anak penggembala. Penggembala ini membawa
domba/kambing ke suatu daerah pegunungan. Sementara
domba-domba tersebut sedang merumput, anak ini mulai
bernyanyi. Ia merasa terkejut, karena ia mendengar ada orang
lain yang juga menyanyikan lagu yang sama dengan yang
dinyanyikannya. Ia berhenti, dan orang itu juga berhenti. Ia
memulai lagi, dan kembali terdengar orang lain mulai
bernyanyi. Ia ganti lagu lain, dan persis hal yang sama juga
dilakukan orang itu. Akibatnya, ia menjadi sangat marah.
Sepulangnya di rumah, ia menceritakan kejadian ini kepada
ibunya.
“Ibu, di hutan sana ada orang bodoh.
Apapun juga yang kulakukan, ia juga melakukan hal yang sama.
Apapun juga lagu yang kunyanyikan, ia juga menyanyikan yang
sama. Jikalau saya memulai lagu yang baru, ia juga
menyanyikannya. Saya sangat marah.”
Ibunya berkata, “Anakku, di sana tak
ada siapa-siapa. Tak usah khawatir, besok aku akan menemanimu
ke sana.”
Maka keesokan harinya, sang ibu pergi
menemani anaknya. Ia mulai bernyanyi. Dan kembali terdengar
suara lain yang juga mulai bernyanyi.
Ibunya berkata, “Tak ada orang lain.
Di sini-kan sebuah lembah, jadi suaramu telah terpantul
kembali kepadamu sebagai resound. Ini namanya echo. Tak ada
orang lain yang bernyanyi di seberang sana.” Demikianlah
contoh yang diberikan oleh Bhagawan.
Sama halnya, kita harus tahu bahwa
Tuhan bersama-sama dengan kita, dan apapun juga yang kita
hadapi di dunia ini tak lain adalah reaction, reflection dan
resound – tak ada sesuatupun yang baru, tak ada yang
baru!
“Segalanya adalah reaction, dan
semuanya adalah reflection dari inner being (atma).” Itulah
yang dikatakan oleh Bhagawan.
Tindakan Derma Yang Paling
Mulia
Seorang professor senior mengajukan
pertanyaan berikut, “Swami, dari sekian banyak charities
(tindakan derma), yang manakah yang paling
mulia?”
Walaupun pertanyaan ini tidak ada
relevansinya dengan topik yang sedang didiskusikan, namun
Swami masih dapat mentolerirnya mengingat usia sang profesor
itu. Jikalau saya yang mengajukan pertanyaan seperti ini di
tengah-tentah maya atau ilusi – well, saya sudah punya
gambaran kira-kira seperti apa bentuk reaction, reflection dan
resound yang akan berbalik kepada saya nantinya!
(tertawa) Jadi, seorang senior mengajukan pertanyaan,
“Apa bentuk charity (tindakan derma) yang paling tinggi dan
paling besar nilainya?”
Swami berkata, “Food distribution
(membagi-bagikan makanan). Memberi makan kepada orang lain
merupakan tindakan derma yang paling bermanfaat.” Itulah yang
dikatakan oleh Bhagawan.
Masih ada sedikit waktu tersisa
sebelum musik instrumental dimulai, sebagai pertanda akan
dimulainya bhajans. Jadi, saya hendak memanfaatkan waktu yang
tersisa ini dengan sebaik-baiknya; oleh sebab itu, saya
mengajukan pertanyaan lain: “Swami, dalam charity, berarti si
pemberi lebih superior, sedangkan si penerima lebih inferior.
Apakah betul begitu?”
Swami berkata, “Ah, kau salah total.
Mengapa? Si pemberi tidak akan pernah lebih hebat, sebab
jikalau si pemberi ini orang kaya, maka belum tentu besok dia
masih tetap kaya. Money comes and goes (uang datang dan
pergi). Jadi, mengapa kau katakan si pemberi lebih hebat? No,
no! Janganlah berpikir seperti itu. Sebenarnya, di dunia ini
tidak ada yang lebih superior daripada siapapun. Semuanya sama
saja (All are equal).”
“Aku kenal kalian semuanya – Aku
ingat setiap orang”
Sementara itu, terlihat Bhagawan
memberikan perhatian penuh welas-asih terhadap seorang anak.
Saya melihat mata Beliau basah. Ia memanggil anak itu mendekat
dan memeluknya.
“Apa yang kau pelajari,
anak-Ku?”
Anak itu menjawab, “Swami, saya
sekarang di twelfth class.”
Kemudian Swami berkata, “Anak ini
datang kepada-Ku di Brindavan ketika ia masih berusia lima
tahun. Aku memasukkannya ke dalam sekolah kita. Hari itu ia
menerima telegram yang menginformasikan bahwa ibunya telah
meninggal dunia. Sejak hari itu, Aku-lah yang menjaga anak
ini. Sekarang dia sudah kelas dua-belas. Abangnya belajar di
jurusan medicine. Kakaknya juga sekolah di
Anantapur.”
Beliau menerangkan lebih lanjut
tentang profil anak ini. Dan kemudian Swami berkata, “Boys,
tahukah kalian mengapa Aku memberitahumu semuanya tentang anak
ini? Kalian pikir bahwa Aku tidak mau bercakap-cakap denganmu.
Kalian kira bahwa Aku tidak memperhatikanmu. Tapi ingatlah,
Aku tahu/kenal kalian semuanya. Aku ingat setiap orang. Aku
memperhatikan setiap orang, namun hal itu tidak berarti bahwa
Aku harus berbicara denganmu.”
OM… OM… OM…
Om Asato Maa Sad
Gamaya
Tamaso Maa Jyotir
Gamaya
Mrtyormaa Amrtam
Gamaya
Om Loka Samastha Sukhino
Bhavantu
Loka Samastha Sukhino
Bhavantu
Loka Samastha Sukhino
Bhavantu
Om Shanti Shanti
Shanti