%20central_files/image003.jpg)
(Percakapan Baba dengan Para Siswa di Verandah)
Satsang Anil Kumar – Tanggal 7 Oktober 2002
Mutiara Kebijaksanaan Sungguh Sangat Berfaedah!
Bhagawan biasanya suka bercakap-cakap dengan para siswa dan staff pengajar setiap sore harinya; setelah Beliau selesai memberikan sesi interview kepada para bhakta. Bhagawan dengan murah hati meluangkan waktu selama kurang lebih satu jam, atau bahkan kadang-kadang sampai satu setengah jam, bersama-sama dengan para siswa dan guru di Sai Kulwant Hall, dimana sering kita melihat Bhagawan sedang duduk di kursi-Nya sembari dikelilingi oleh para siswa dan pengajar.
Namun, percakapan ini tidak mungkin bisa terdengar oleh semua bhakta yang berada di sana, sebab percakapan ini tidak dikumandangkan melalui loud-speaker, ia hanya berupa percakapan yang informal dan santai saja. Tetapi justru di tengah-tengah percakapan ini, terkandung ‘mutiara kebijaksanaan’ yang sungguh amat berharga & membawa manfaat besar bagi para Sai bhakta.
Edisi Telugu dari Sanathana Sarathi telah menerbitkan semua percakapan informal antara Bhagawan dengan para siswa & pengajar selama 27 edisi terakhir. Itu berarti sudah berjalan selama dua tahun dan tiga bulan. Saya berpikir, alangkah baiknya jikalau para bhakta yang hanya mengerti Bahasa Inggris juga mengetahui apa yang dibicarakan antara Swami dan murid-murid-Nya. Untuk itulah, saya telah mengoleksi percakapan-percakapan ini menurut urutan tanggalnya serta memberikan judul-judul yang terkait dengan percakapan tersebut.
Saya sangat senang bahwa anda semuanya telah mengatur serta merencanakan sedemikian rupa sehingga semua percakapan ini dapat disampaikan juga kepada semua Sai bhakta dalam beraneka ragam bahasa. Semoga Baba memberkati kalian! Saya yakin bahwa Sai bhakta dari seluruh dunia akan sangat berterima-kasih dan menghargai upaya-upaya yang telah anda lakukan, sebab percakapan ini tidak tersedia untuk kalangan bhakta pada umumnya.
Inilah point-point yang berhasil dikumpulkan dari percakapan Beliau dengan para siswa dan pengajar; oleh sebab itu, semuanya ini sangat berharga dan berfaedah. Kita harus mulai saling berbagi “Mutiara Kebijaksanaan” ini dengan semua bhakta. Ini merupakan tanggung jawab dan tugas yang mulia, bukan hanya untuk masa sekarang tetapi juga untuk manfaat generasi mendatang. Semoga Bhagawan memberkati anda semuanya dalam tugas mulia ini. Saya merasa yakin sekali bahwa jenis kegiatan seperti ini akan semakin mendapat dukungan di tahun-tahun mendatang. Semua saran dan komentar untuk perbaikan sangat diharapkan. Terima-kasih. Sai Ram!
~ Anil Kumar ~
%20central_files/image005.gif)
(5 Oktober 2002)
|
B |
ahwa untuk meng-up-date sesuatu sangatlah sulit (membutuhkan waktu). Seperti telah dikatakan, saya telah melakukan hal ini dalam bahasa Telugu selama 27 bulan terakhir; jadi di sini saya akan memulai dalam urutan yang sebaliknya.
Kejadian pada tanggal 5 Oktober, ketika Bhagawan memberikan interview kepada sekelompok orang asing. Beliau keluar dari ruangan interview secara lembut, perlahan, anggun, dengan senyuman di bibir-Nya seraya merapikan rambut-Nya dengan satu tangan. Ia berjalan ke arah kami dan berdiri di depan kami semuanya, dan kemudian menatap tajam ke mataku. Ia berkata, “Apakah engkau tahu siapa orang-orang asing tadi?” Ku menjawab, “Tidak, Swami.”
Dia adalah seorang duta besar dari Soviet Russia. Ia datang bersama dengan dua orang sekretarisnya dan juga seorang stenographer. Saya berbincang-bincang lama dengan mereka.”
Mereka merasa sangat terkejut selama berlangsungnya interview tadi. Mereka bertanya, “Swami, bagaimanakah Engkau bisa mengetahui hal-hal ini? Engkau telah memberitahukan kami banyak hal-hal yang begitu pribadi, yang bahkan tidak diketahui oleh banyak orang. Bagaimanakah Engkau bisa tahu? Juga sangat mencengangkan sekali bahwa ternyata Engkau juga berbicara dalam bahasa Russia! Kok bisa ya?”
Lalu Bhagawan berkata, “Hal-hal seperti ini tidak dipelajari, hal-hal ini juga tidak diajarkan. Saya terlahir dengan itu semua.”
Teman-teman sekalian, Bagian pokok ini dapat kita petik sebagai salah satu mutiara kebijaksanaan. Seorang Avatar telah terlahir dengan semua kemampuan dan kapabilitas—omniscient (maha tahu), omnipresent (hadir di segala tempat), dan omnipotent (maha kuasa). Kemampuan seperti ini tidak perlu dipupuk; tidak perlu dipelajari; dan tidak perlu dilatih. Beliau terlahir dengan kemampuan tersebut. Swami membuat komentar ini dan semuanya yang hadir merasa sangat takjub.
|
K |
ejadian ini berlangsung pada tanggal 1 Oktober. Seperti telah kukatakan, saya akan bercerita dalam urutan yang terbalik. Kejadian pada hari itu mengandung satu hal yang amat penting. Swami sedang berbincang-bincang dengan para siswa pasca-sarjana (PhD). Kami mempunyai enam orang siwa yang sedang mengerjakan program Doktoral mereka di Department of Management, dan Swami sedang berbicara dengan mereka.
Tiba-tiba Swami bertanya kepada salah seorang siswa, “Apakah yang dimaksud dengan ‘conscious’?
Anak itu berkata, “Saya tidak tahu.”
“Hmm! Kamu adalah mahasiswa PhD. Apakah kamu tidak tahu apakah ‘conscious’ itu?”
“Well, saya tidak tahu, Swami.”
“Hmm!”
Kemudian Swami bertanya kepada profesor lainnya, “Apakah yang dimaksud dengan ‘conscience’?
“Swami, conscience adalah suara hati.”
“Tidak, tidak, kamu salah!”
Kemudian Swami bertanya lagi kepada siswa senior lainnya, juga seorang siswa PhD, “Apakah yang dimaksud dengan ‘consciousness’?
“Swami, saya tidak tahu.”
Swami kemudian menjawab, “Begini, ’conscious’ adalah pikiran (mind). Conscious adalah pikiran kita. Ia adalah pikiran yang berpikir, yang merasakan, yang bereaksi, yang merespons, yang berdenyut dan yang bergetar. Jadi ‘conscious’ berarti pikiran.”
Kemudian Bhagawan melanjutkan, “’Conscience’ adalah intellect (buddhi). Mengapa? Conscience sangat berdekatan dengan spirit, sangat dekat dengan soul (jiwa), juga sangat dekat dengan Atma. Spirit, soul dan Atma adalah satu dan sama adanya. Oleh karenanya, intellect sangat berdekatan dengan Atma. Intellect ini disimbolisasikan, dinyatakan serta diekspresikan dengan ungkapan ‘conscience’ ini.
Lebih lanjut, Bhagawan berkata, “Lalu, apakah yang dimaksud dengan ‘consciousness’? ‘Consciousness’ adalah soul (jiwa) - Atma - yang mencakupi segala sesuatu, yang terkungkung di dalam badan jasmani, namun juga hadir di mana-mana. Ia hadir di dalam badan jasmani dan juga hadir di segala penjuru. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Seperti halnya udara yang ada di dalam balon. Udara juga ada di dalam ban sepeda. Udara juga ada di dalam ban mobil. Demikian juga, udara ada di sekeliling. Begitu pula halnya dengan spirit atau Atma— ia ada di dalam diri setiap orang dan juga hadir di segala penjuru.”
Jadi, inilah ketiga ungkapan yang sekaligus mengindikasikan ketiga tingkatan pengetahuan, ketiga tingkatan kesadaran, ketiga tingkatan pengalaman, serta ketiga tingkatan komprehensi, yang akan dicapai seiring dengan berjalannya latihan spiritual (sadhana) yang intensif. Janganlah kita berhenti di salah satu tingkatan itu. ‘Conscious’ yang diartikan sebagai mind (pikiran); jikalau kita berhenti di level pikiran, maka kita hanya akan mewarisi sikap-sikap yang emosional, nafsu rendah; kecenderungannya adalah kita akan berperilaku hewaniah.
Jikalau latihan kita berhenti dilevel ‘conscience’ atau intellect, maka kecenderungannya adalah kita menjadi seorang yang pintar, senantiasa introspeksi diri, serta mawas diri. Dengan perkataan lain, kita hanya akan berhenti di level self-inquiry (pengawasan diri). Janganlah kita berhenti di sana. Kita harus melanjutkan perjalanan hingga mencapai level ‘consciousness’, yaitu Atma (tujuan akhir, realita sejati, diri sebenarnya, diri kosmik, yang sering dikatakan oleh Bhagawan dengan istilah “Universal Self”).
Dan Bhagawan berkata sembari tertawa, “Kalian hari ini mau mencoba memahami hal-hal seperti ini. Tetapi siswa-siswa modern banyak yang tidak mengerti. Mereka hanya tahu tentang ‘misunderstanding’ (kesalah-pahaman). Mereka sama sekali tidak mengetahui apa maksud dari ‘understanding’ (pengertian).”
“Tidak ada benda/zat yang lembam (innert matter)”
Kemudian saya mengajukan pertanyaan kepada Swami, “Bhagawan?”
“Ya?”
Di sini saya ingin memberitahukan kepada anda, teman-teman sekalian—bahwa jikalau tersedia cukup waktu, dan ketika Swami sedang dalam mood yang enak, maka kita bisa mengajukan beberapa pertanyaan secara langsung dan tanpa perlu reservasi terlebih dahulu.
Well, saya ingin menanyakan pertanyaan ini: “Bhagawan, apa perbedaan antara benda/zat yang lembam (innert matter) dengan consciousness, Atma atau energi?”
Bhagawan menoleh kepadaku dan berkata, “Hmm, tidak ada yang namanya innert matter.”
“Swami, kalau tidak ada innert matter, lalu ini semuanya apa? Ini innert. Lantai ini bagaimana? Inert. Dinding itu bagaimana? Inert. Badan—inert. Tetapi spirit (jiwa) adalah aktif. Spirit adalah consciousness; spirit adalah awareness; spirit adalah energi. Tetapi Engkau mengatakan tidak demikian halnya, tidak ada zat/benda yang inert?”
Swami menjawab, “Tidak! Bahkan tidak ada zat/benda (matter) sama sekali!”
“Apa benar Swami? Bagaimana mungkin?”
Bhagawan berkata, “Yang ada hanyalah energi. Energi inilah yang berubah menjadi benda/zat. Sebaliknya benda/zat juga bisa dirubah menjadi energi. Jadi, energi dan matter adalah satu dan sama adanya. Mereka berdua merupakan proses yang reversible (bisa saling berubah). Matter menjadi energi dan energi menjadi matter. Disamping itu, benda/zat (matter) tersusun dari atom-atom dan molekul-molekul yang memiliki elektron, proton, dan neutron yang bergerak dengan energi penuh. Jadi, bagaimana engkau bisa menjulukinya sebagai sesuatu yang inert? Ketika elektron, proton dan neutron tersebut sedang bergerak dengan energi penuh, bagaimana engkau bisa mengatakannya inert? Jadi, tidak ada yang namanya benda/zat yang lembam (innert matter). Segala sesuatu adalah Ilahi adanya. Keilahian ini bisa engkau sebut dengan istilah energi kosmik ataupun consciousness.
Inilah pengungkapan yang disampaikan kepada kami semuanya.
Kemudian Swami melanjutkan, “Lihatlah Anil Kumar! Apa yang engkau katakan tadi merupakan bukti dari kebingungan yang terjadi dewasa sekarang ini. Siswa-siswa kita banyak yang terjebak dalam kesalah-kaprahan, sementara kamu sendiri lebih-lebih justru sedang mempertunjukan kebingungan yang sama (tertawa). Demikianlah, pendidikan modern tidak lain adalah kebingungan dan kesalah-pengertian.
Well, saya justru merasa bahagia karena telah dikoreksi oleh Bhagawan, dikomentari oleh Avatar merupakan suatu keberuntungan tersendiri. Ini merupakan sejenis blessing. Jikalau saya ditunjuk sebagai instrumen untuk menerima informasi dan kemudian menyebar-luaskan pesan tersebut kepada orang lain, maka tentu saya merasa senang bila dikoreksi demikian; saya senang dicaci; saya menyambut segala jenis teguran/peringatan. Jadi saya menyukainya dan setiap orang yang hadir di sana juga tertawa lebar di sore hari itu.
Kemudian Swami bangun dari tempat duduk-Nya dan akan beranjak ke ruangan bhajan, tetapi Beliau berhenti sebentar.
“Hmm, mari datang ke sini,” Ia berkata, “Kamu harus lihat ini.” Saya-pun berdiri dan pergi menghampiri-Nya.
Swami berkata kepada seseorang, “Coba bawakan tas itu.”
Seorang anak laki-laki datang membawa sebuah tas yang terbuat dari bahan polythene. Swami bertanya kepadaku, “Coba lihat apa yang ada di dalam tas itu?”
“Swami, saya melihat beberapa batu-batuan.”
“Batu apa?”
“Swami, batu-batu seukuran begini—besar juga.”
“Hmmm. Batu apakah itu?”
“Wah Swami, saya tidak tahu!”
“Itu semuanya adalah batu-batu yang diambil dari dalam ginjal seorang siswa. Salah seorang murid kita baru-baru ini telah dioperasi dan semua batu-batu yang berat tadi diambil keluar dari dalam ginjalnya.”
Saya terkejut. “Swami, wah besar sekali batu itu!”
“Ya, kamu telah melihatnya tadi”
Tiba-tiba dengan suara-Nya yang merdu, Swami berkata, “Dokter Bhat”. Maka datanglah dokter Bhat, seorang pria berusia 83 tahun yang masih kelihatan bugar & kekar. Beliau ini dijuluki sebagai ‘Bapak Nephrology’, yang berarti beliau adalah ahli dalam ilmu tentang ginjal. Dia bertugas di Rumah Sakit Philomena di Bangalore. Disamping itu, beliau juga adalah seorang profesor di Departemen Nephrology di Vellore Christian Medical College. Sudah pasti, beliau adalah orang yang terkenal.
“Anil Kumar, apakah engkau mengenalnya?”
“Swami, saya tahu dokter Bhat adalah seorang bhakta yang telah lama mengikuti Swami. Saya tahu, Swami.”
“Nah, dialah yang melakukan operasi ini tadi pagi.”
“Swami, seorang dokter berusia 83 tahun yang melakukannya?”
“Iya, mereka yang bersama-sama dengan Swami tidak pernah tua (tertawa). Mereka selalu muda.”
Oh, semua orang ketawa. Dan kemudian Swami berkata, “Bhat, kamu toh yang melakukan operasinya?”
“Ya, Swami!”
Kemudian Swami melirik saya dan berkata, “Lihat kan? Pada usia senja seperti ini dia masih melakukan pekerjaan berat untuk rumah-sakit kita—sungguh seorang bhakta yang sangat baik.”
Kemudian dengan tangan dirangkapkan, dokter Bhat berkata, “Swami, terdapat sejenis boneka Amerika yang bisa terus-menerus bergerak/bermain. Bagaimana cara kerjanya? Yaitu ketika kita memutar knop/kunci yang ada pada boneka itu, maka ia akan terus-menerus bergerak. Demikianlah, saya ini hanyalah boneka di tangan-Mu, Swami. Engkaulah kuncinya dan sekaligus sang juru kunci di belakang boneka yang sedang berdansa itu!”
Saya langsung memegang kedua tangan dokter Bhat dan berkata, “Tuan, engkau adalah hadiah dari Baba untuk semua Sai bhakta dan sungguh engkau merupakan sumber inspirasi bagi kami semuanya.”
Saya kira hal ini patut saya share dengan anda semuanya.
(30 September 2002)
“Saya tidak menginginkan semua kenyamanan dan kemudahan ini”
|
W |
ell, peristiwa ini terjadi pada tanggal 30 September 2002. Well, kita sering mengira bahwa Bhagawan mempunyai begitu banyak mobil, dan kita juga mengira bahwa Swami tentu mendapatkan banyak kenyamanan dan kemudahan. Itulah yang kita perkirakan, yang kita lihat dan yang kita katakan.
Tetapi inilah ucapan yang diberikan oleh Bhagawan, “Anil Kumar, lihatlah. Aku sama sekali tidak merasa nyaman dengan semua kemudahan ini. Aku tidak menginginkan semua kenyamanan dan kemudahan ini. Para bhakta memaksa-Ku untuk menerima barang-barang ini, jadi apa yang bisa Ku lakukan? Mereka merengek terus-menerus sampai barang-barang ini dibawa ke sini. Lihatkah engkau? Mereka bahkan menempatkan sebuah lift untuk-Ku di dalam sana. Aku ingin berjalan kaki, tetapi harus bagaimana? Aku ingin berjalan, tetapi mereka malah memasang lift di sana. Aku tidak mau semua kemudahan ini.”
Sobat-sobat sekalian, oleh karena kita ini manusia, kita suka berpikiran bahwa Tuhan juga membutuhkan kenyamanan dan kemudahan seperti halnya diri kita. Sebagai manusia biasa, kita mungkin menginginkan kemudahan. Dengan perasaan seperti ini, kita sering mengira bahwa Tuhan juga membutuhkan hal yang sama. Tetapi di sini Bhagawan telah mengatakannya secara jelas, “Aku tidak membutuhkannya. Aku merasa sangat nyaman dengan keadaan yang biasa-biasa dan normal saja.” Itulah yang telah dikatakan oleh Beliau.
“Kamu datang dari mana?”
Pada sore hari itu, ada cerita yang lucu. Murid-murid sekolah-dasar sedang berbincang-bincang dengan Swami—suatu pemandangan yang enak untuk dilihat.
Kepada seorang bocah cilik, Swami bertanya, “Anak-Ku, kamu datang dari mana?”
Anak itu langsung menjawab, “Swami, saya datang dari-Mu, Swami!”
“Oh”
Kemudian Swami berpaling ke anak yang usianya lebih tua dan berkata, “Lihatkan? Ia menjawab,’Dari-Mu, Swami’, sedangkan kalian semua menjawab, ‘Dari Bombay atau dari Chennai’. Chi! Lihatlah anak-anak itu!”
Kemudian Swami akan bertanya lagi kepada bocah cilik yang lain, “Berapa usiamu?”
“Swami, delapan tahun.”
“Dari mana kamu tahu?”
“Ibuku yang memberitahuku, Swami.”
“Jawaban yang benar. Hey, dimana kalian semuanya? Berapa usiamu?”
“Dua puluh tahun.”
“Bagaimana kamu bisa tahu?”
“Tanggal di akte lahir.”
“Chi!” (tertawa)
Lihatlah, betapa manisnya jawaban yang diberikan bocah-bocah cilik tadi.
Akibatnya, kakak-kakak kelas itu ingin menjiplak mereka; agar dengan demikian, Swami juga akan menghargai mereka.
Kemudian Swami bertanya kepada anak yang lain (seorang mahasiwa pasca sarjana), “Hey, kamu datang dari mana?” Swami bertanya dalam bahasa Telugu.
Anak itu menjawab, “Aku datang dari diri-Mu, Swami,” meniru jawaban anak SD tadi.
Langsung Swami berkata, “Oh, dari-Ku? Kalau begitu, kamu harus tahu bahasa Telugu dong! Jikalau kamu berasal dari-Ku, lalu mengapa kau tidak ngerti Telugu?”
Oleh karena mahasiswa itu tidak bisa memberikan jawaban, Swami kembali berkata, “Kamu datang dari mana?”
Tak ada jawaban.
“Mengapa kamu tidak menjawab?”
“Eh, saya tidak tahu.”
“Kamu kan mengatakan, ‘Dari-Ku’, jadi tentu kamu mengerti bahasa Telugu dong!” (tertawa)
Jadi, ini adalah lelucon besar. Tetapi pada saat yang bersamaan, kejadian ini merupakan petunjuk bahwa kita seyogyanya jangan suka menjiplak perilaku orang lain; janganlah meniru!
Beberapa waktu yang lalu, Bhagawan pernah mengatakan, “Imitasi adalah manusia biasa. Kreasi adalah Ilahi.”
Kita semuanya adalah Ilahi. Jadi, kita tidak perlu meniru. Ketika kita meniru-niru, maka kita kehilangan keaslian diri kita; kita kehilangan sifat alami diri; kita kehilangan identitas. Marilah kita menjadi kreatif. Inilah ajaran bagi semua orang.
(29 September 2002)
“Apakah engkau memiliki keyakinan?”
|
P |
eristiwa ini terjadi pada tanggal 29 September. Tiba-tiba seorang anak laki-laki menghampiri Swami dengan kedua tangan bersikap anjali (dirangkapkan di depan dada) dan berkata, “Swami, tolong sentuhlah saya di sini.”
“Mengapa?” Swami berkata, “Mengapa?”
“Swami, ada pembengkakan di sini, mungkin saya sedang menderita sejenis penyakit gondok. Sangat sakit sekali. Mohon Swami sentuh di sini.”
“Mengapa Aku harus menyentuh? Pergilah ke rumah-sakit.”
“Tidak, tidak, Swami! Kalau disentuh oleh-Mu, maka ia akan sembuh.”
“Apakah engkau punya keyakinan terhadap apa yang kau ucapkan tadi?”
“Swami, saya yakin 100%.”
“Oh, begitu.”
Swami menyentuh dengan lembut ke bagian yang bengkak tadi. Percayalah, menjelang penutupan bhajan, anak itu tidak mengalami rasa sakit lagi. Seluruh bagian yang bengkak tadi langsung menyusut di tempat itu juga! Ini merupakan keajaiban. Sentuhan Bhagawan merupakan jaminan penyembuhan total! Itulah yang kami saksikan pada senja hari yang berbahagia itu.
(28 September 2002)
“Jangan membuat orang lain menjadi tidak pecaya”
Kejadian ini berlangsung pada tanggal 28 September 2002. Waktu itu Swami sedang berbincang-bincang dengan beberapa akuntan dan Beliau bertanya kepada salah satu diantaranya, “Apa yang engkau kerjakan?”
Ia menjawab, “Saya melakukan ini….saya melakukan itu.”
Swami merasa tidak senang dengan salah satu hal yang dikerjakannya. Baba langsung bertanya kepadanya, “Mengapa kau lakukan itu?” Dan kembali Swami bertanya, “Mengapa kau lakukan ini dan itu?”
Akuntan itu berkata, “Swami, kami melakukan sedikit penyesuaian. Kami melakukan sedikit perubahan untuk mempermudah tugas kami.”
Tolong camkan baik-baik pesan ini, yang juga berlaku untuk setiap orang. “Dengan memperhatikan kemudahan bagi dirimu, engkau akan kehilangan kepercayaan dari orang lain. Mereka mempercayaimu. Jadi jikalau engkau lebih mengutamakan kenyamanan bagi dirimu, maka engkau akan kehilangan kepercayaan. Jadi, dalam hidup ini, kepercayaan sangatlah penting. Janganlah engkau kehilangan kepercayaan dari orang lain. Dengan hanya sekedar mementingkan kemudahan bagi dirimu sendiri, maka kelak engkau akan susah mendapatkan kesuksesan dalam hidup ini.” Inilah yang dikatakan oleh Swami.
“Setiap Orang Hendaknya Melaksanakan Seva dengan Sepenuh Hati”
Kemudian Bhagawan meminta salah seorang anak untuk berbicara. Mungkin anda sudah mendengarnya. Anda mungkin telah melihat anak ini berdiri di sana dan sedang memberikan ceramah di hadapan anak-anak yang lain. Di sini saya hendak mengutarakan kejadian pada tanggal 28 September lalu – detil dari ceramah anak tersebut. Dia berbicara tentang seva. Dikatakan olehnya, bahwa setiap orang hendaknya melaksanakan seva dengan sepenuh hati. Kemudian ia memetik beberapa puisi Swami yang menyinggung hal yang sama: “Melebihi tindakan pemujaan, meditasi ataupun berjiarah – pelayanan merupakan tindakan yang paling penting.” Kemudian disinggungnya beberapa hal yang berkaitan dengan pengalamannya:
Beberapa waktu lalu, Swami biasanya suka memberikan makanan kepada orang-orang miskin. Tindakan ini disebut Narayana Seva. Kala itu ketika Swami sedang membagi-bagikan makanan, Beliau berhenti di satu tempat, sembari melihat seorang wanita yang sedang menggendong anak kecil di pangkuannya. Swami berhenti di sana dan memanggil salah seorang Seva Dal. Beliau berkata, “Kami sedang membagikan makanan kepada orang-orang ini, tetapi bagaimana dengan anak ini?”
Seva Dal itu tidak bisa menjawab. “Swami, apa yang harus kulakukan?”
“Bawakan satu gelas susu untuk anak ini.”
Maka Seva Dal itupun harus pergi untuk mencari segelas susu.
Swami melanjutkan langkah-Nya di antara barisan-barisan guna membagi-bagikan makanan. Dari jauh, Beliau berhenti dan berteriak, “Apakah kamu sudah memberikan susu kepada anak tadi?”
Seva Dal itu menjawab, “Ya, sudah, Swami.”
Swami menjawab, “Tidak bisa sama sekali!”
Swami kembali berjalan ke tempat wanita tadi dan menyentuh gelas susu yang baru diberikan tadi. “Gelas ini kan masih panas, panas sekali. Bagaimana engkau bisa menyuruh anak ini untuk meminumnya? Tidak, ambil satu gelas lagi.”
Beliau mulai mendinginkan susu itu dengan cara menuangkannya dari satu gelas ke gelas lainnya. Ia membuatnya menjadi lebih dingin dan baru memberikan susu itu kepada anak tersebut. Setelah itu, Beliau baru pergi.
Ini menunjukkan betapa besarnya perhatian pribadi yang diperlihatkan oleh Swami dan Beliau menginginkan agar semangat demikianlah yang melandasi semua aktivitas seva kita. Seva atau pelayanan bukanlah suatu tindakan yang bersifat rutinitas; ia bukan aktivitas yang bersifat mekanis, tidak sama sekali! Seva bukanlah suatu jadwal. Kita harus melakukannya dengan sepenuh hati!
Lebih lanjut, murid tadi menceritakan peristiwa lain yang menyangkut hal yang terjadi di negara Bosnia. Sebagaimana anda ketahui, Bosnia merupakan salah-satu negara yang pernah mengalami krisis pangan dimana mereka harus melalui suatu masa paceklik yang berkepanjangan sehingga banyak sekali penduduk di sana yang jatuh sakit. Sesungguhnya kondisinya sangat memprihatinkan dan menyedihkan sekali. Tentu kebanyakan di antara kalian sudah pernah mendengar tentang Bosnia. Nah dalam situasi seperti itulah, para pekerja Sai, seva dal, pergi ke tempat itu, yaitu: Bosnia. Mereka membagi-bagikan roti dan selimut kepada semua orang dan disamping itu, mereka juga membagikan foto-foto Baba kepada orang-orang Bosnia.
Seseorang bertanya, “Foto?”
“Ya”
“Siapakah orang ini?”
Lalu mereka menjawab, “Dia adalah Sathya Sai Baba.”
“Sathya Sai Baba?”
“Ya”
“Mengapa kalian memberikan kami foto ini? Orang inilah yang bersama-sama dengan kami hingga kemarin. Beliau ada bersama kami, berjalan bersama-sama kami dan hari ini anda memberikan kami foto-Nya?”
Jadi, kejadian ini memperlihatkan bahwa Bhagawan ada di dalam dirimu, bersamamu, di atasmu, di bawahmu, dan di sekitarmu.
Selanjutnya murid tadi juga menyinggung peristiwa pengalamannya yang lain. Yaitu ketika Bhagawan sedang berkunjung ke kota Bombay – pada saat Beliau memberikan interview kepada semua wanita (anggota Mahila Seva Dal). Ketika sedang berbincang-bincang, Swami bertanya, “Seva apakah yang sedang kalian lakukan?”
“Swami, kami memberikan makanan.”
“Oh! Makanan kualitas apakah itu? Apakah makanan berkualitas dua rupee ataukah empat rupee?” (tertawa)
Terdapat dua jenis varietas beras yang beredar di pasaran. Yang sedikit lebih murah berharga dua rupee, sedangkan yang lebih bagus varietasnya, dihargai lebih mahal, yaitu empat rupee.
Para wanita menjawab, “Swami, kami menyediakan beras yang bervarietas dua rupee.”
Swami berkata, “Lihatlah! Untuk dirimu sendiri, untuk anak-anakmu, untuk suamimu, engkau bersedia menyediakan varietas empat rupee. Tetapi bagi orang-orang miskin, engkau hanya bersedia memberikan kualitas dua rupee. Ini bukanlah pelayanan. Jikalau engkau membagikan yang berkualitas murahan kepada orang-orang miskin itu, maka mereka akan jatuh sakit. Mereka tidak akan sanggup membiayai ongkos pengobatan. Ini tidaklah benar. Apa yang dianggap sebagai yang terbaik untuk dirimu seyogyanyalah juga diberikan kepada orang lain. Janganlah memberikan sesuatu yang engkau sendiri juga enggan memilikinya, ataupun sesuatu yang tidak berguna dan yang dilarang. Berikanlah yang terbaik kepada orang lain.” Inilah yang dikatakan oleh Swami.
“Yang Menerima, Yang Memberi dan Yang diterima adalah satu”
Dan anak tadi mengakhiri ceramahnya dengan membuat satu pernyataan yang sangat indah: “Yang menerima, yang memberikan, dan makanan yang diterima – semuanya adalah Ilahi. Inilah titik-puncaknya, inilah benang-merahnya; inilah semangat mendasar yang melatar-belakangi semua kegiatan pelayanan.” Dan terlihat bahwa Swami sangat menghargai ceramah anak tersebut.
Terakhir, anak itu kemudian membuat komentar lebih lanjut. “Dari jumlah penduduk sebanyak enam miliar di permukaan bumi ini, satu miliar diantaranya cukup beruntung dapat mengenal Sathya Sai Baba, beruntung karena telah dilahirkan pada zaman yang sama dengan-Nya. Dan dari jumlah satu miliar itu, kami – para siswa-Nya – adalah yang sangat beruntung. Lalu, apa yang harus menjadi tujuan kita? Tidak lain adalah bahwa kita harus berupaya lebih lanjut agar tetap bisa hidup sesuai dengan harapan-harapan-Nya, melanjutkan mempraktekkan Ajaran-ajaran Ilahi Beliau dalam kehidupan sehari-hari dan di kemudian hari.” Dengan ini, berakhirlah bulletin berita untuk tanggal 28 tersebut.
(27 September 2002)
“Aku tidak menginginkan uang-mu – Aku hanya mau Cinta-Kasih-mu”
|
W |
ell, inilah yang terjadi pada tanggal 27 September 2002. Swami secara tiba-tiba keluar dari ruangan-Nya dengan memegang sebuah amplop. Ia berkata, “Hmm, apa yang ada di dalam amlop ini?”
“Itu hanya sebuah amplop, Swami. Bagaimana aku bisa tahu?”
Beliau membuka amplop itu. “Hitung, coba hitung dan kasih tahu kepada-Ku.”
Saya ini sebenarnya tidak pintar matematika, jadi saya coba meneruskan saja pekerjaan menghitung ini.
“Kau ini seorang profesor emeritus, tetapi rupanya kau tidak tahu! Bahkan nomor-nomor saja engkau tidak tahu!”
Oleh karena para murid-murid juga ada di sana, saya harus memastikan jangan sampai salah hitung (sebab anak-anak itu akan mentertawakan), jadi dengan kewaspadaan berlipat, saya berkata, “Swami, dua crores rupee. Ini adalah sebuah cek yang diberikan oleh orang-orang Italia kepada Swami sebanyak dua crores rupee.”
Swami menjawab, “Aku tidak mau yang beginian. Aku menginginkan cinta-kasihmu, bukan uangmu. Aku mau cinta-kasihmu.”
Langsung saja, Beliau memanggil seorang Italia dengan namanya – saya tidak ingat persis namanya. Orang itu datang dan duduk di veranda. Anda mungkin telah melihatnya di sana; tetapi tentu saja, anda mungkin juga telah lupa.
“Hmm, cek apakah itu?”
“Dua crores rupee, Swami.”
“Aku tidak menginginkannya. Ambillah kembali. Aku tidak menghendaki uangmu. Aku menghendakimu. Aku menginginkan cinta-kasihmu.”
Teman-teman sekalian, ini sungguh luar biasa. Sungguh sulit dipercaya. Ini hanya bisa terjadi pada Bhagawan Sri Sathya Sai Baba, tidak ada orang lain yang bisa. Di luar sana banyak sekali terdapat guru di seluruh dunia ini yang begitu money-minded. Di sini kita menemukan ‘guru-nya para guru’, Sang Avatar, yang tidak peduli dengan uangmu. Lagi pula, untuk apa sih? Tuhan adalah kekayaan. Kekayaan adalah Tuhan. Seorang pengemis sajalah yang meminta-minta uang; manusia boleh meminta uang; tetapi Tuhan tidak perlu meminta uang sebab Tuhan sendiri adalah gudang kekayaan dan kekayaan tiada lain adalah Tuhan sendiri. Beliau adalah personifikasi dari serba berlimpahan dan kemakmuran. Jadi, untuk apakah Beliau meminta-minta dari orang lain?
Ini adalah ajaran bagi semua orang. Engkau tidak bisa membeli/menyuap Swami. Jumlah uangmu yang luar biasa sekalipun tidak akan mempengaruhi-Nya. Beliau tidak pernah mengharapkan uang dari kita. Ia hanya menginginkan agar kita ini menjadi anak-anak-Nya. Beliau menghendaki cinta-kasih kita, tidak yang lain. Ini sungguh sangat menakjubkan.
“Anak kecil itu memainkan peran sebagai Sathya Sai Baba”
Kelihatannya orang Italia tadi telah diberikan interview berbarengan dengan isterinya. Dan di dalam ruangan interview itu juga hadir seorang anak laki-laki. Anak ini rupanya adalah seorang bintang cilik yang bermain dalam salah satu serial TV berjudul “Shirdi Sai Parthi Sai”. Ia memainkan peran sebagai Sathya Sai Baba. Swami memanggilnya dan memperkenalkannya kepada setiap orang yang hadir dalam ruangan interview.
Baba kemudian bercerita bahwa pada penghujung sesi interview itu, istri orang Italia tadi mengucapkan sesuatu kepada suaminya. Apa yang dikatakannya?
“Begini, mengapa kita tidak mengadopsi saja anak ini? Bagaimana kalau kamu pulang dulu ke Itali? Sementara saya tetap tinggal di sini untuk beberapa waktu lamanya bersama anak ini dan baru kemudian pulang ke Itali.”
Bhagawan berkata, “Cinta-kasih mereka kepada Swami sedemikian besar, sehingga walaupun anak ini hanya berperan sebagai Sathya Sai Baba, mereka ingin sekali membawanya serta ke Itali. Dengan begitu, mereka merasa telah membawa pulang Sathya Sai Baba bersama-sama dengannya. Itulah cinta-kasih dan intensitas bakti yang dimiliki oleh pasangan Italia itu.” Demikianlah yang diutarakan oleh Bhagawan.
Kemudian Swami berbicara tentang seorang pria yang mempunyai dua orang isteri. Tentu saja, isteri pertamanya sudah entah dimana keberadaannya dan sekarang ia sedang bersama dengan isteri keduanya. Swami mulai membuat lelucon, “Tahukah kamu, dia itu punya dua orang isteri.”
“Oh Swami, dua orang isteri?”
Swami berkata, “Bukan, bukan, bukan, bukan! Isteri pertamanya sudah tidak ada. Dia sudah meninggal.”
“Oh, Swami.”
Kemudian Swami berkata lagi, “Apa yang akan terjadi pada seseorang yang mempunyai dua orang isteri?”
Saya menjawab, “Swami, seorang pria akan berjuang keras, tersesak-nafasnya dengan hanya seorang isteri saja, itu saja sudah hampir tercekik! Dengan dua orang isteri, maka dead-line pun sudah diberikan – tamatlah dia! Kita hanya perlu menunggu tanggal kadaluarsanya! Tidak bisa kubayangkan bagaimana seseorang me-manage dua orang isteri!”
Swami tertawa dan kemudian Ia berkata, “Di dalam ceritera Puranas¸ terdapat satu ceritera tentang seorang raja bernama Uttanapada yang memiliki dua orang isteri. Mereka bernama Suruchi dan Sunithi. Salah seorang isterinya memiliki seorang anak bernama Dhruva. Anak kecil ini ingin duduk di pangkuan ayahnya, tetapi ibu tirinya tidak mengizinkannya.
“Kamu tidak boleh duduk di sana! Keluar!
Anak itu berkata, “Mami, aku ingin duduk di sana!”
“Tidak, turun!”
Anak itupun pulang dan menceritakan kejadian yang dialami olehnya kepada ibunya. “Ibu, lihatlah! Ibu tiri tidak memperbolehkanku duduk di pangkuan ayah. Aku tidak bisa menahan penderitaan ini.”
Anak itu pergi sendirian ke dalam hutan dan melaksanakan tapa-brata untuk waktu yang lama. Tuhan berinkarnasi ke hadapannya dan menganugerahkan rahmat sehingga akhirnya iapun memutuskan untuk tetap tinggal di dalam hutan itu. Anak itu sekarang ada di sini, dalam wujud sebagai bintang (yang juga dikenal sebagai bintang kutub- pole star) bernama Dhruva. ‘Dhruva’ inilah yang dikenal sebagai salah satu nama bintang yang kita lihat di langit saat ini.
Dan Bhagawan berkata, “Oleh karena memiliki dua orang isteri, sang ayah tidak bisa memberikan cinta-kasih kepada anak-anaknya. Ketika salah seorang anak sedang menikmati kasih-sayangnya, maka anak yang lain akan mulai menangis. Oleh karena salah seorang anak menerima cinta-kasih ayahnya, maka sang ibu-tiri – isteri kedua raja – akan mulai bertengkar. Ini adalah sudah merupakan takdir.”
Dan kemudian Swami bertanya, “Anil Kumar, tahukah engkau nama raja yang mempunyai tiga orang isteri?”
Apakah saya harus mengatakan, “Saya tahu?” Maka Swami akan berkata, “Jadi, kamu ini mengoleksi nama-nama orang yang punya banyak isteri ya?” (tertawa). Tapi jikalau saya menjawab, “Saya tidak tahu”, maka Beliau akan berkata, “Masak kamu tidak tahu?”
Kemudian Swami langsung berkata, “Ya, namanya Dasaratha, ayah dari Rama. Dasaratha mempunyai tiga orang isteri: Kausalya, Sumitra dan Kaikeyi. Oleh karena ulah isteri mudanya, Kaikeyi, Dasaratha harus menderita akibat perpisahannya dengan Rama. Rama harus diasingkan ke dalam hutan oleh karena anugerah yang diberikan oleh Dasaratha sendiri kepada Kaikeyi. Engkau telah mengetahui ceritanya. Sebagai akibatnya, perpisahan ini menghantarkan kematian kepada Dasaratha. Jadi, seorang raja yang beristerikan tiga orang ini harus menderita akibat perpisahan dengan anaknya, dan akhirnya kematianpun menjemputnya.” Itulah yang dikatakan oleh Bhagawan.
“Sepuluh Orang Isteri = Sepuluh Indera
dan Suami = Pikiran”