OM ….. OM ….. OM …..
Sai Ram
Ini merupakan sesi ketiga dari ‘Mutiara Kebijaksanaan Sai’. Dalam dua sesi terdahulu, kita telah menyelesaikan percakapan yang dilakukan antara Bhagawan dengan para siswa dan guru di verandah Prashanthi Nilayam selama bulan September. Pada hari ini, kita akan beralih ke sesi ketiga. Dan seperti yang telah dilakukan sebelumnya, saya akan memulainya dengan urutan tanggal mundur.
%20central_files/image003.jpg)
TRADISI DAN KEBUDAYAAN SEWAKTU BHAGAWAN BERUSIA MUDA
Pada sore hari tanggal 5 Nopember, Bhagawan berbicara tentang kehidupan-Nya di masa kecil. Saya belum sempat memberitahukan hal ini kepada siapapun, sebab percakapan ini baru saja terjadi kemarin sore. Jadi, anda adalah orang pertama yang mendengarnya. Beliau bercerita tentang kehidupan-Nya sewaktu kecil, terutama menyangkut tradisi dan kebudayaan desa tempat tinggal-Nya di negara bagian Andhra Pradesh ini.
Kehidupan budaya perdesaan ini merupakan pertanda dan sekaligus bukti bahwa telah terdapat nilai-nilai persatuan di antara penduduk desa di kala itu. Semuanya hidup dalam semangat kesatuan (unity), dan saling bekerja-sama satu dengan yang lain, terutama selama musim Deepavali ini. Bulan Nopember disebut juga sebagai bulan Karthika. Selama bulan ini, orang-orang akan bermandikan air-dingin sewaktu hari masih subuh, yaitu sekitar jam 5 pagi. Disamping itu, sepanjang bulan ini, khususnya menjelang akhir minggu, penduduk desa juga akan pergi melaksanakan retreat sadhana atau spiritual camp. Di tempat retreat itu, mereka akan menikmati aneka permainan dan bersenang-senang. Para penduduk desa akan berpergian ke tempat-tempat yang jauh dimana mereka akan duduk di bawah pepohonan. Mereka akan bersantap-saing dan saling menukar makanan yang telah dibawa dari rumah masing-masing. Mereka akan bernyanyi dan menari, bermain dan menikmati keseluruhan perayaan itu. Festival seperti ini merupakan momen yang tepat untuk mengumpulkan orang banyak, menciptakan saling pengertian dan kesempatan untuk bertukar pikiran. Pertemuan seperti ini mendorong terciptanya rasa persaudaraan dan kesatuan di antara penduduk desa.
Bhagawan berkata, “Pukul 5 pagi subuh, kami sudah selesai mandi.”
“Swami, mandi di musim sedingin itu?”
“Ya, mengapa tidak? Di kala kau melompat ke dalam sungai Chitravthi, engkau tidak akan merasakan dingin sama sekali. Hanya bila kau berdiri-diri saja di tepian, maka barulah kau akan mulai bergemetaran. Sekali terjun masuk ke dalam sungai – maka tidak ada rasa dingin lagi.”
“Oh, begitu, Swami, enak untuk didengar. Tapi saya tidak akan coba-coba melakukannya sama sekali.”
Dan kemudian Bhagawan berkata, “Di akhir minggu, kami akan pergi ke suatu tempat dan kami akan duduk di bawah pepohonan. Kalian pernah dengar pearl millet (sejenis padi-padian) bukan? Itu adalah butir beras yang bentuknya seperti mutiara (pearl). Nah, dulu ada makanan yang terbuat dari pearl millet yang dicampur dengan cabe. Wah, enak sekali, Aku masih menyukainya sampai sekarang – dan juga ragi malt, millet dicampur dengan sedikit ragi malt. Enak sekali, Aku sangat menyukainya.” Itulah yang dikatakan oleh Bhagawan.
Para penduduk desa juga akan berdansa; mereka akan bernyanyi; dan mereka juga suka berayun-ayun. Salah satu tarian yang terkenal disebut Kolakam, yaitu tarian yang menggunakan bambu-bambu yang dipukulkan satu sama lain…. tak-tak (Anil Kumar menyanyikan Govinda, Govinda, Gayiye, sementara ia mendemonstrasikan dengan tangannya gerakan silang-menyilang dari gerakan bambu-bambu itu… Bhajo Radhey Gopala, Krishna Gayiye.) Mereka memegang dua batang bambu dan melakukan ini…tak-tak. Dalam tarian kolakam itu, para penarinya akan berloncat-loncat di antara kedua bambu yang sedang bergerak. Bhagawan mengatakan bahwa kakek-Nya; Kondama Raju juga suka melakukan tarian itu.
“Oh, Swami, menarik sekali ya. Lalu, apa yang Engkau lakukan? Apakah Swami juga melakukan tarian Kolakam? Apakah Engkau juga melompat-lompat seperti mereka?”
Beliau berkata, “Ngakk, ngakk, ngakk, Aku tidak melakukan itu.”
“Lalu, apa yang Engkau lakukan, Swami?”
“Saya mengumpulkan anak-anak miskin, anak-anak kecil dari desa, dan mulai menyanyikan bhajans. ‘Panduranga Bhajana Mandali’ – Panduranga Bhajana Mandali – kumpulan/jemaah musik yang pertama kalinya.” Itulah yang dikatakan oleh Bhagawan. Jadi, sejak saat itu, Bhagawan telah memulai kegiatan menyanyikan lagu-lagu pujian.
BAGI-KU, SEMUANYA ADALAH SATU ADANYA
Kemudian Bhagawan juga menceritakan peristiwa tentang kunjunganNya ke rumah salah seorang yang dikucilkan/diasingkan saat itu. Rupanya dahulu terdapat sekelompok orang yang dianggap hina sehingga dikucilkan; itulah sebabnya mereka diusir & diharuskan tinggal di luar dari lingkungan desa. Praktek seperti ini tidak berlaku lagi untuk situasi zaman sekarang – sebab hari ini justru kelompok masyarakat kaya-lah yang memilih tinggal di luar kota.
Suatu ketika, Swami pernah berjanji kepada salah seorang yang tergolong sebagai kelompok dikucilkan itu, bahwa Beliau akan datang berkunjung ke rumahnya. Orang yang dimaksud adalah seorang pria bernama Madhiga Narayana.
Swami berkata, “Aku akan datang ke rumahmu.”
Pada waktunya, Swami-pun pergi, dan ternyata Beliau diikuti oleh seorang wanita Brahmin bernama Karanam Subbamma. Di kala itu, kalangan Brahmin tidak akan mau berkunjung kepada mereka yang dikucilkan, bahkan dalam mimpi sekalipun juga tidak! Jikalau mereka kebetulan berpas-pasan satu sama lain, maka mereka harus sesegera mungkin membasuh diri/mandi. Itulah situasinya di zaman dahulu; tetapi wanita Brahmin ini justru tetap nekad mengikuti Swami kemanapun juga Ia pergi.
Swami berkata kepadanya, “Janganlah berlaku seperti itu. Nanti semua penduduk desa akan merasa tidak enak. Bagi-Ku, semuanya adalah satu adanya – Aku akan pergi ke tempat siapapun juga. Tetapi hal ini tidak cocok bagimu.”
Karanam menjawab, “Swami, aku tidak mau peduli dengan anggapan masyarakat. Aku tidak mau memusingkan apa yang ada di benak pikiran orang lain. Saya hanya mau Kamu. Kemanapun Engkau pergi, Aku akan mengikuti-Mu.”
Itulah yang dikatakan olehnya dan juga yang dikatakan oleh Bhagawan. Beliau juga teringat bahwa di kala itu, para penduduk desa tidak pernah mengunci rumah mereka. Tidak perlu ada gembok ataupun sistem kunci, pintu dibiarkan terbuka, itu saja – tidak akan ada pencurian dalam bentuk apapun juga! Kunci sama sekali tidak terpakai!
Dan, para penduduk akan pergi ke pinggiran desa guna merayakan berlangsungnya festival musiman. Mereka akan duduk di bawah pepohonan dan bermain-main di sana. Tidak akan ada peristiwa apapun yang terjadi di desa selama mereka tidak berada di tempat. Demikian tingginya tingkat kejujuran dan integritas yang dimiliki oleh penduduk kampung di zaman itu, demikian Bhagawan memberitahukan kami.
Dan setelah bermain sepanjang hari, lalu apa yang akan mereka lakukan? Mereka akan berbaring di atas pasir. Mereka akan menikmati tidur yang indah – tanpa perlu menggunakan ranjang ataupun sofa atau benda apapun juga. Mereka hanya berbaring di atas butiran pasir dan tertidur nyenyak! Itulah yang dikatakan oleh Bhagawan menyangkut hari-hari-Nya di masa kecil.
JAGOAN RENANG
Kemudian Bhagawan juga teringat dengan ceritera lain. Rupanya Ibunda Bhagawan, Easwaramma, beserta dengan kedua kakak-perempuanNya: Venkamma dan Parvatamma, ketiga-tiga wanita ini merupakan perenang ulung. Mereka mengajari teknik berenang kepada anak-anak desa. Untuk permulaan, mereka akan menyertai anak-anak kecil dan membantunya berenang. Setelah beberapa waktu, anak-anak itu akan dibiarkan sendirian, agar mereka bisa belajar seni-renang oleh diri mereka sendiri. Itulah yang dikatakan oleh Bhagawan kemarin.
BHAKTA DARI YUNANI
Sekarang saya beralih ke tanggal 1 Nopember dan juga tanggal 28 Oktober. Kedua hari ini penting sebab berkaitan dengan perbincangan Swami dengan seorang pria dari Yunani bernama George. Swami berdiri di sana dan memanggil, “Hey, Yunani, kemarilah.”
Pria itu datang menghampiri Swami dengan gaya berjalan di atas kedua lutut kakinya (merangkak). Saya bertanya-tanya dalam hati kalau-kalau ada permasalahan dengan kakinya atau sejenisnya?
Swami berkata, “Lihatkan bagaimana caranya dia maju ke sini?”
“Swami, ia merangkak di atas kedua lututnya.”
“Itu semua adalah karena bakti yang dimilikinya. Dia tidak seperti kau – berjalan kesana & kemari layaknya orang yang suka bergaduh saja. Ngakk sama sekali. Lihatlah, dia memiliki bakti.”
“Oh, begitu, Swami.”
Pria itu mendekat dan Swami bertanya, “Anak-Ku, siapa namamu?”
“George, Swami.”
“Oh, George, hmmm. Apa yang kau lakukan sehari-hari?”
“Swami, saya mempunyai usaha satu toko buku.”
“Apa nama toko buku itu?”
“’Ananda’, Swami, ‘Ananda’.”
“Oh! Siapa saja yang membantumu?”
“Swami, ada satu saudara perempuanku yang membantu.”
“Oh, begitu. Lalu apa yang kau lakukan?”
“Swami, membersihkan toko, menjual dan sejenisnya”
“Oh, lalu apa lagi?”
“Kami bernyanyi, Swami.”
“Apa yang kau nyanyikan?”
“Sai bhajans.”
“Kapan kalian bernyanyi?”
“Sepanjang hari.”
“Dimana kalian bernyanyi?”
“Dimana saja.”
Swami berkata, “Lihatlah bakti yang dimilikinya. Kau tidak seperti dia, mmm – pria dari Yunani ini – lihatlah ungkapan-bakti (devotion)-nya.”
Kemudian Beliau berkata, “Oh, begitu. Bagaimana caranya engkau datang ke Prashanthi Nilayam kemarin? Bagaimana caranya kamu sampai ke sini?”
“Swami, saya berjalan kaki dari airport Bangalore ke Puttaparthi.”
“Oh, berapa mil itu?”
“180 mil, Swami.”
“Berapa lama waktu tempuhnya?”
“Empat hari, Swami.”
“Oh, jadi kamu berjalan begitu saja?”
“Tidak Swami, saya juga mengangkat tas seberat 18 kg di belakang punggungku.”
Rupanya dia berjalan kaki selama empat hari untuk sampai ke Prashanthi Nilayam!
Swami berkata, “Apakah ada di antara kalian yang seperti dia? Lihatlah, lihatlah bakti yang dimilikinya!”
Lebih lanjut Swami berkata, “Sudah berapa lama kamu datang ke Puttaparthi?”
“Swami, 29 tahun. Saya sudah berkunjung ke tempat ini selama 29 tahun.”
“Ah, lalu apa yang kau lakukan selama tahun-tahun itu?”
“Swami, saya suka mengoleksi pasir dari Prashanthi Nilayam dan menyimpannya di dalam tas. Kemanapun Engkau berjalan, saya akan mengoleksi butiran pasirnya. Saya telah mengumpulkannya di dalam tas dan membawanya pulang ke Yunani. Saya menyimpannya di altar ruangan puja-ku,” demikian katanya.
“Kalian dengar itu bukan, anak-anak? Kalian beruntung bisa ketemu Swami setiap hari. Lihatlah pria Yunani ini.”
Demikianlah Bhagawan menyindir para siswa seperti itu.
Dan kemudian Swami berkata, “Pernikahan, apakah kamu sudah menikah?”
“Tidak mau, Swami, tidak mau.”
“Tidak mau? Untuk mendapat sedikit bantuan dalam hal masak-memasak, mengapa kamu tidak mau menikah?”
“Ngakk, Swami. Saya tidak mau menikah.”
“Lo, mengapa?”
“Ngakk, Swami,” tangisnya. (George mulai menangis)
Lalu Swami menoleh ke aku dan berkata, “Mengapa dia menangis ya?”
Saya berkata, “Swami, mereka yang sudah menikah juga menangis, dan saya merasa senang bahwa teman kita ini, yang belum menikah; juga ikut menangsi! Jadi, kita berdua ini sama-sama menangis – tidak ada bedanya toh!? Oleh karena takut terhadap pernikahan, dia menangis. Sementara itu, oleh karena sudah menikah, kami juga menangis. Baguslah, kalau begitu, marilah kita latihan koor menangis bersama-sama!” Itulah yang saya katakan.(tertawa)
George berkata, “Swami, no marriage.”
Dan kemudian Swami bertanya lagi, “Apakah kamu satu-satunya orang (dari Yunani) yang datang ke sini?”
“Tidak Swami, teman saya juga datang dan sedang duduk di sana.”
“Temanmu?”
“Ya”
“Siapakah dia?”
“Swami, dia itu salah seorang atlet berprestasi tingkat Olympiade Internasional.”
“Pemenang Olympiade?”
“Ya, cabang lompat tinggi – dia nomor satu di seluruh dunia – dari Yunani. Dia juga ada di sini, Swami.”
“Oh, begitu. Kesinilah, anak-Ku.” Swami memanggil temannya itu. Datanglah dia, wah pria yang sangat tinggi badannya.
“Mmm, apa ya? Coba kamu ceritakan pengalamanmu kepada anak-anak ini.”
Ia menceritakan bahwa ia sudah menikah dan bahwa ketika dirinya dan isterinya sedang mengharapkan kelahiran anaknya yang pertama, mereka telah berkonsultasi dengan banyak dokter. Semua dokter mengatakan bahwa isterinya akan melahirkan seorang bayi laki-laki. Semua test, uji scanning telah mengkonfirmasikan bahwa bayi laki-lakilah yang akan dilahirkan. Tetapi mereka berdua berdoa kepada Swami, “Swami, kami menghendaki bayi perempuan – bukan bayi laki-laki.”
Swami berkata, “Semua dokter telah mengatakan bahwa kamu akan mendapatkan bayi laki-laki.”
“Ngakk Swami. Engkau dapat merubahnya!”
“Apakah engkau memiliki keyakinan itu?”
“Ya.”
”Pergilah.”
Merekapun pergi, dan ternyata isterinya benar melahirkan bayi perempuan sebagaimana yang mereka harapkan berdua. Dan Swami berkata kepada para siswa, “Takka, Aku dapat merubahnya! Jikalau kalian tidak berperilaku yang benar, Aku akan langsung rubah kalian menjadi perempuan! Jadi jagalah perilaku kalian baik-baik ya!”
Itulah yang dikatakan oleh Bhagawan (tertawa)
Lebih lanjut Swami berkata, “Hei George, semua sanak keluargamu kan masih di Yunani. Mengapa kau datang ke sini sendirian ketika semua keluargamu sedang berada di Yunani?”
“Tidak Swami, saya tidak punya sanak-keluarga.”
“Kamu tidak punya famili?”
“Ngakk.”
“Aneh. Kamu tidak punya famili?” Swami bertanya lagi.
“Swami, Sai devoteeslah sanak-keluargaku. Saya tidak punya keluarga yang lain.”
Bhagawan merasa senang mendengar jawabannya.
“George, apakah kamu nanti akan tinggal di sini sampai perayaan Ulang-tahun?”
“Ngakk Swami, saya harus pulang.”
“Kamu harus pulang? Mengapa?”
“Kami akan merayakan ulang-tahun Swami di Yunani.”
“Oh, begitu. Bagaimana caranya kalian merayakannya?”
“Swami, dengan hiasan balon dan lampu-lampu, hiasan cahaya, dan juga pembagian manisan.”
“Oh, begitu. Ada berapa orang bhakta di Yunani?”
“Swami, para menteri, pejabat, kalangan terpelajar – banyak sekali orang yang telah menjadi bhakta-Mu.”
“Oh, bagus, bagus, baiklah. Kamu kembali ke Yunani dan rayakanlah Ulang-tahun Baba di sana.”
Swami masuk ke dalam ruangan dan kemudian memberi George satu baju baru sebagai hadiah untuk Ulang-Tahun-Nya. Itulah kejadian pada tanggal 1 Nopember dan 28 Oktober.
“MENGAPA KAMU BERPURA-PURA SEPERTI ITU?”
Juga, pada hari yang sama, yaitu tanggal 28 Oktober, para siswa diharapkan untuk melaporkan diri ke pihak sekolah. Hal ini disebabkan karena masa-sekolahan akan dimulai tanggal 29; jadi mereka diharuskan telah mendaftarkan diri kembali pada tanggal 28.
Swami memanggil warden (kepala sekolah) Kampus Bangalore, “Hey warden, apakah semua siswa sudah datang? Apakah semua siswa telah melapor kepadamu?”
“Ya, Swami. Semuanya telah datang. Seluruhnya ada 300 orang siswa.”
“Hey, mengapa kamu berpura-pura seperti itu? Ada tiga orang anak yang belum datang! Aku tahu, masih ada tiga orang siswa yang belum hadir! Mengapa kamu ngomong seperti itu?”
Kepala sekolah itu mulai bergemetaran. “Maaf Swami. Maaf Swami, memang ada tiga orang yang belum datang.”
“Mengapa?”
Sebelum warden itu sempat menjawab, Swami berkata, “Ah, anak yang pertama mengalami retak tulang, jadi dia tidak bisa datang. Anak yang kedua menderita penyakit-kuning, jadi dia juga tidak bisa datang. Sedangkan anak yang satunya lagi mengalami keterlambatan karena bis dan kereta-apinya dibatalkan oleh karena sedang berlangsungnya aksi mogok di Karnataka. Dikarenakan adanya perselisihan tentang masalah air, maka transportasi di sana terpaksa diberhentikan, maka itulah sebabnya anak yang ketiga ini tidak bisa hadir di sini pada waktunya. Sementara kamu bilang semua anak telah melapor! Belum, belum, belum. Masih ada tiga orang yang belum datang!”
Kami semua terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Bhagawan.
4 Nopember 2002
BANYAK ORANG YANG TIDAK MEMAHAMI UCAPAN DAN TINDAKAN-KU
Dan sekarang saya akan beralih membicarakan hal-hal yang diutarakan oleh Bhagawan pada tanggal 4 Nopember. Apa yang dikatakan oleh Beliau?
Swami mengatakan hal ini seolah-olah Beliau tak berdaya: “Banyak orang yang tidak memahami tindakan dan ucapan-Ku. Kalian tidak mengerti tindakan-tindakan-Ku. Kalian tidak tahu pengertian dari ucapan-ucapan-Ku. Beberapa orang malah salah-kaprah. Mereka merasa sedih oleh karena Aku mengunakan beberapa ungkapan kata-kata yang membuatnya merasa sakit hati. Mereka sama sekali tidak paham! Aku sangat mengkhawatirkan hal ini. Aku tidak perlu memberitahumu pengertian dari tindakan-tindakan-Ku; Aku tidak pernah menjelaskan arti-sebenarnya di belakang semua tindakan-Ku. Aku merasa sedih oleh karena kalian tidak mau memahami semangat yang ada di belakang semua tindakan-Ku itu. Apapun juga yang Ku-katakan, apapun juga yang Ku-lakukan; semuanya itu adalah demi untuk kepentinganmu sendiri. Aku sama sekali tidak mementingkan diri sendiri.”
Apa yang menyebabkan Swami membuat pernyataan seperti ini ketika saya sedang berada di sana? (tertawa). Kemudian saya mulai mengintrospeksi diri. Pada tanggal 4 itu, Swami memang bersikap sangat keras terhadapku. Wow! Beliau meledak-ledak di hadapanku. Ta-ta-ta, abba - saya merasa sangat sedih, sangat terluka.
Dan pada sore harinya, Beliau berkata, “Ada beberapa orang yang tidak paham ucapan-Ku. (tertawa) Ada juga beberapa orang yang tidak mengerti tindakan-Ku. Mereka tidak tahu bahwa apapun juga yang Ku-katakan adalah demi kebaikan mereka sendiri.”
Bukan beberapa orang! Yang Beliau maksudkan adalah saya, bukan orang lain! ‘Ketika Swami bisa memberitahukan hal ini langsung kepadaku, mengapa harus ditempuh jalan tidak langsung seperti ini?’ Jadi, itulah yang saya rasakan hari itu.
3 Nopember 2002
BHAGAWAN – DOKTERNYA PARA DOKTER
%20central_files/image005.jpg)
Dan inilah yang terjadi pada tanggal 3 Nopember – apa yang dikatakan oleh Swami?
Bhagawan baru saja keluar (dari ruang interview) dan berdiri di depan kami sembari berkata, “Lihatlah, Anil Kumar! Tahukah kamu apa yang terjadi kemarin di rumah sakit kita?”
“Swami, apa yang terjadi?”
“Ada seorang anak laki-laki berusia sebelas tahun yang harus dioperasi karena menderita gangguan jantung. Operasi telah sukses dilakukan, tetapi tiba-tiba saja ia mengalami komplikasi. Perutnya membengkak, dan ia tidak bisa makan. Ia menderita rasa sakit yang amat sangat di bagian perut dan komplikasi lainnya. Para dokter sangat khawatir.
Mereka menghadap ke Swami dan berkata, “Operasi jantungnya telah sukses, tetapi kemudian timbul komplikasi-komplikasi. Apa yang harus kami lakukan?”
Bhagawan mematerialisasikan vibhutthi khusus untuk anak itu, dan dokter memberikan vibhutthi tersebut kepadanya.”Segalanya langsung menjadi normal kembali dan pada malam harinya, anak itu sudah bisa makan lagi seperti biasa.” Itulah yang dikatakan oleh Swami.
Dalam kaitannya dengan hal ini, saya ingin menceritakan satu hal yang sangat penting. Bahwa Dr. Alreza, pengawas rumah-sakit umum, selalu bertemu dengan Swami setiap harinya.
Dr. Alreza berkata, “Swami, si anu dan anu akan segera dioperasi. Si anu dan anu sedang dirawat. Si anu dan anu akan segera masuk rawat-inap. Untuk itu, kami meminta prasadam.”
Dan Swami akan memberikan prasadam kepada semua orang.
Dan kadang-kala Swami akan berkata, “Jangan dioperasi; berikan saja obat ini.” Atau, “Coba obati dengan cara begini. Itu bukan influenza; tetapi pneumonia.”
Saya merupakan saksi dari semua peristiwa itu. Bhagawan Baba, dokternya para dokter, bukan hanya mendiagnosa penyakit, tetapi Beliau memberikan resep obatnya juga. Itulah yang terjadi pada tanggal 3 Nopember.
VEDA CHANTING
%20central_files/image007.jpg)
Kemudian saya merasa perlu juga memberitahu anda tentang hal-hal yang dikatakan oleh Bhagawan pada tanggal 29 Oktober. Saat itu semua siswa duduk di barisan pertama. Sore hari itu suasananya sangat menyenangkan. Udara cukup sejuk.
Bhagawan berkata, “Cuaca dan iklim seperti saat ini agak mirip dengan situasi di Kodaikanal. Kalian sedang menikmati seolah-olah seluruh Puttaparthi dan Prashanthi Nilayam sedang dialiri udara AC (air conditioned).” (tertawa)
Dan kemudian beberapa siswa berkata, “Swami, kami ingin membacakan Vedam.”
Baba berkata, “Ah, nanti saja.”
Kemudian saya nyeletuk, “Swami, Veda chanting kan bagus. Jikalau mereka membacakan Veda, maka hal itu akan membawakan manfaat baik bagi semua orang. Semua bhakta tentu akan senang sekali mendengarkan Veda chanting. Mohon diizinkanlah.”
“Mmm, ayolah kalau begitu. Orang ini merekomendasikannya. (tertawa) Baiklah, kalian boleh membacakannya.”
Dan merekapun memulai pembacaan – Veda chanting. Di ujung barisan siswa itu, saya melihat ada beberapa anak kecil – rupanya mereka juga sedang membacakan Veda. Saya melihat mulut mereka sedang komat-kamit.
Lalu saya berkata, “Swami, saya rasa anak-anak kecil itu juga ikut bergabung dalam Veda chanting ini.”
“Apa? Justru anak-anak kecil itu lebih jago daripada abang-abang mereka!”
Beliau meminta siswa tadi untuk berhenti membaca dan Ia memanggil anak-anak itu.
“Datanglah, duduk di sini. Ayolah, bacakanlah Veda.”
Merekapun mulai membaca, bahkan lebih bagus daripada siswa senior tadi.
Kemudian Swami berkata, “Lihat bukan? Apakah kamu bisa membaca sebagus itu? Apakah kamu bisa membacakan Veda?”
Saya berkata, “Swami, saya-kan bukan siswa dari sekolah-Mu. Jadi bagaimana mungkin saya bisa membacakan Veda? Ngakk bisa dong. Nah, oleh karena anak-anak ini belajar di sini, maka mereka tentu saja telah mempelajarinya. Oleh karena saya tidak belajar di sini – jadi ya saya tak tahu cara pembacaan Veda.”
“Oh-ho! Manchidi pintar ngomong ya! Oleh karena tidak mau mengaku ‘Saya tidak tahu’, kamu malah mengatakan bahwa engkau bukan siswa sekolah ini, eh? Bagus sekali ya!? Semua siswa-siswi, semua anak, termasuk mereka yang sudah dewasa dan bahkan mahasiswa S-3, semua siswa dari ketiga kampus – Brindavan, Prashanthi dan Anantapur – mereka semua tahu mengenai Veda. Mereka semuanya bisa membacakan Veda.”
Lebih lanjut saya menambahkan, “Swami, institusi pendidikan-Mu adalah simbol dari kebudayaan Vedic, tradisi leluhur – metafora dari kitab Veda itu sendiri. Jadi, saya tidak merasa heran.”
Di hari yang sama, 29 Oktober itu, Baba mengatakan, “Di dalam pembacaan Veda terdapat dua bagian yang utama. Yang pertama disebut Namakam. Dan yang kedua adalah Chamakam.”
Jadi, Namakam dan Chamakam adalah kedua bagian dari pembacaan Veda hari itu.
Swami mulai menjelaskan, “Namakam, bagian pertama mengandung arti, ‘Aku tidak menghendaki apapun juga’. Nama- Na berarti ‘tidak’, sedangkan ma diartikan sebagai ‘mau/menghendaki’. Jadi ‘Aku tidak mau apapun juga.’ ‘Aku tidak menghendaki apapun juga’ ini merupakan bagian yang pertama. Sementara itu, bagian yang kedua, Chamakam berarti ‘Aku mau.’ ‘Aku mau’ di sini mengindikasikan keadaan yang penuh keinginan. Apa yang mereka inginkan? ‘Oh Tuhan, berikanlah kami udara yang murni, berikanlah kami air yang suci; berkatilah kami dengan makanan yang baik.’ Itulah Chamakam – doa permohonan.”
Well, anda tentunya sudah paham betul bahwa diri saya ini tergolong tipe ekstrovert. Saya tidak bisa menyimpan sesuatu untuk diri saya sendiri. Oleh sebab itu, saya langsung bertanya sembari mengambil resiko Ilahi, dan siap menerima segala jenis bahaya dan ancaman spiritual. (tertawa) Tetapi, saya tak dapat menahannya. Saya terlahir dengan segala keterbukaan ini. Apa yang bisa kulakukan?
Jadi saya bertanya lagi, “Swami, kalau kita mengatakan, ‘aku tidak menghendaki apapun juga, Namakam’,’ lalu mengapa kita juga harus mengatakan, ‘Aku mau semuanya, Chamakam’? Mengapa ada kedua tipe doa seperti ini? Bukankah lebih baik kalau kita hanya mendoakan salah satu, ‘Aku mau itu’, atau sebaliknya ‘Aku tidak mau itu.’ Apa maksudnya mengucapkan kedua-duanya sekaligus?”
Baba langsung menjawab, “Kedua-duanya ada di dalam Veda agar mereka yang masih memiliki keinginan bisa membacakan Chamakam; dan bagi mereka yang tidak memiliki keinginan akan membacakan Namakam. Itu saja. Kitab Veda memberikan perbekalan kepada kedua tipe orang tersebut, untuk kedua jenis kategori manusia.”
Selanjutnya Bhagawan menambahkan, “Lihatlah, para suci zaman dahulu telah melakukan tapa-brata untuk sekian lamanya dan mereka menyatakan, ‘Vedaha Vedam Purusham Mahantam Aditya Vurnam Thamasah Parasthath’. Kata-kata ini merupakan kutipan dari kitab Veda. Para suci mengatakan, ‘Vedaha Vedam Purusham Mahantam’. Artinya, ‘Kami telah melihat Tuhan’. ‘Purusham Mahantam’, Purusha artinya Tuhan. Kami telah melihat Purusha.’’Vedah Vedam, Purusham Mahantam’- ‘Kami telah melihat Tuhan’. Dimana? ‘Thamasah Parastat’- di luar dari jangkauan kegelapan. ‘Di luar jangkauan kegelapan, kami telah melihat Tuhan.’
Apa maksudnya? Artinya setelah kegelapan batin bisa teratasi; maka terdapatlah kecemerlangan atau cahaya Keilahian.
Kemudian Bhagawan berkata, “Dan para suci juga mendeklarasikan bahwa Tuhan ada dimana-mana, baik di dalam maupun di luar. ‘Anthar Bahirscha Thathsarvam’. ‘Antha’ berarti ‘di dalam’. ‘Bahirscha’ berarti ‘di luar’. ‘Thathsarvam’ berarti ‘Keilahian hadir di mana-mana.’ ‘Vyapya’ berarti ‘mencakupi’. ‘Narayana Sthitha’ berarti ‘Tuhan terdapat dimana-mana, baik di dalam maupun di luar.’” Itulah yang dikatakan oleh Bhagawan – menjelaskan tentang Veda pada hari itu.
22 Oktober 2002
OBATILAH DIA SESEGERA MUNGKIN
Sekarang saya akan beralih ke tanggal 22 Oktober. Sore hari itu, Swami meminta seorang siswa untuk berbicara. Pemuda itu sedang menyelesaikan program MSc di bidang Bio-Science, dia juga sudah lulus dari program MBA. Siswa ini termasuk salah satu yang berprestasi baik. Sekarang dia bekerja sebagai Technical Officer di Super-Specialty Hospital. Swami memintanya untuk berceramah. Dia menceritakan tentang dua kejadian mukjijat yang sangat menarik.
Diceritakan bahwa pada suatu hari, ada seorang ayah datang ke rumah-sakit bersama-sama dengan putrinya. Para dokter yang memeriksa anaknya itu mengatakan bahwa putrinya itu harus segera dioperasi karena mengidap kelainan jantung. Lebih lanjut para dokter juga mengatakan bahwa walaupun telah dioperasi, keluarga bapak tersebut tetap perlu menyisakan uang sebanyak 200 rupees setiap bulannya untuk keperluan membeli obat-obatan bagi puterinya itu. Ia perlu memakan obat selama kurang-lebih dua tahun lamanya.
“Kami akan mengoperasinya sekarang. Tapi kemudian, setiap bulannya, dia perlu biaya 200 rupees untuk ongkos obat-obatannya,” demikian kata para dokter.
Ayah itu menjawab, “Kami tidak akan sanggup membayar 200 rupees setiap bulan. Pak dokter, saya punya seorang putra. Saya masih harus menghidupi putra-ku itu. Jikalau setiap bulan saya harus mengeluarkan ongkos 200 rupees untuk anak kecil ini, lalu apa yang akan terjadi pada putraku? Lagipula, anak laki-laki-ku kelak akan bisa mencari nafkah, sedangkan anak putri ini belum tentu bisa melakukannya – jadi, untuk apa saya membuang-buang uang secara percuma?”
Para dokter melaporkan masalah ini kepada Bhagawan, “Swami, bapak itu mengatakan bahwa dia tidak sanggup mengeluarkan biaya 200 rupees setiap bulan. Dikatakan olehnya bahwa itu hanya merupakan pemborosan uang saja jikalau hanya dikhususkan untuk puterinya tadi – terutama jikalau dibandingkan dengan kenyataan bahwa dia juga memiliki seorang putera yang harus diberi-makan dan dihidupi; yang mana kelak akan mencarikan nafkah untuknya di kemudian hari.”
Swami tersentuh. Swami merasa terharu. Beliau langsung mengatakan kepada para dokter, “Cepat segera obati anak itu! Kirimkan 200 rupees setiap bulan untuk anak tersebut selama dua tahun! Bukan hanya kepada dia, tetapi juga kepada setiap pasien yang tidak sanggup membayar ongkosnya, katakan kepada mereka bahwa kami akan mengirimkan uang dari sini untuk perawatan mereka.”
Saya kira tidak ada rumah-sakit manapun di dunia ini yang seperti ini. Operasi gratis, opname gratis, obat-obatan gratis, diet gratis dan juga perawatan yang gratis – siapa sih yang mau melakukannya?
BELIAU TIDAK AKAN MEMBIARKANMU PERGI DENGAN TANGAN-KOSONG
Selanjutnya, Technical Officer itu menceritakan kejadian mukjijat yang satunya lagi. Ada seorang pria yang datang jauh dari perbatasan di dekat Pakistan. Dia mengidap problema jantung juga. Di dekat perbatasan itu, dia diberitahu oleh seseorang agar pergi ke Puttaparthi.
Orang di perbatasan itu memberitahunya, “Segala-galanya gratis di sana – operasinya, perawatannya, pokoknya semuanya deh. Jadi, ngakk usah khawatir.” Orang di Ladhak ini (daerah perbatasan itu) berkata kepadanya, “Tidak usah khawatir! Engkau akan bertemu dengan Tuhan di sana. Beliau tidak akan membiarkanmu pergi dengan tangan-kosong. Kau akan kembali lagi dalam kondisi sehat dan wal’afiat. Jadi, tak perlu khawatir.”
Maka datanglah pria itu ke sini, menjalani operasi dan kembali lagi ke tempat asalnya. Sebagai ungkapan cinta-kasih & terima-kasihnya, ia menulis sepucuk surat kepada Swami. Ditulisnya, “Bagaimanakah caranya agar saya bisa membayar kembali semua ungkapan syukur ini? Bagaimanakah caranya agar saya bisa berterima-kasih kepada-Mu, Swami, karena Engkau telah menyelamatkan jiwaku?”
Itulah yang diceritakan pada tanggal 22 Oktober.
EGO AKAN MENIMBULKAN RASA TAKUT
Sekarang kita melanjutkan ke peristiwa yang terjadi pada tanggal 21 Oktober. Bhagawan meminta dua pemuda berceramah. Salah satunya bernama Sriram Parasuram – yang memiliki gelar MSc di bidang kimia dan juga seorang peraih medali emas, tentu saja siswa yang pintar – dialah yang dikirim ke Universitas Loma Linda di Kalifornia, AS untuk mempelajari hal-ihwal tentang Manajemen Rumah-Sakit.
Siswa ini mengatakan hal-hal sebagai berikut: “Sentuhan Bhagawan akan merubah sebongkah batu menjadi sebuah intan. Kita – para siswa Beliau – adalah persis seperti bongkahan batu tadi. Arang merupakan benda yang tidak berguna; tetapi di tangan Bhagawan, kita akan ditransformasikan menjadi intan yang amat sangat bernilai harganya. Terima-kasih kepada Swami.”
Lebih lanjut ia juga menyinggung point berikutnya, “Lihatlah di sini, kalian tentu telah melihat bahwa semua anak-anak sekolah berani berbicara tanpa rasa takut sekalipun. Di hari Minggu, ketika Swami meminta mereka untuk berceramah, mereka langsung saja membuat antrian barisan menunggu giliran satu demi satu. Mereka tidak takut sama sekali. Mereka siap untuk berbicara kapan saja – tak-taktak! (cepat sekali, satu per satu). Tetapi jikalau Swami meminta siswa yang lebih senior untuk berceramah, maka mereka suka menunjukkan sikap keberatan. Kakak-kelas ini justru tidak siap untuk berbicara. Namun, anak kecil selalu siap kapan saja.”
Kemudian ia melanjutkan pokok pembicaraan ini: “Anak-anak SD selalu ready untuk maju ke depan kapan saja. Mereka siap berceramah kapan saja. Mengapa demikian? Itu disebabkan karena anak-anak masih polos (tak berdosa). Kepolosan adalah sifat Keilahian. Kepolosan adalah sifat KeTuhanan. Kepolosan adalah perilaku/sifat kanak-kanak. Disebabkan oleh kepolosan inilah, anak-anak kecil memiliki cinta-kasih penuh kepada Bhagawan. Dan, oleh karena cinta-kasih ini, mereka mencapai kesuksesan 100% dalam penampilan mereka – suatu perkembangan mental yang sangat bagus sekali. Jadi, sebagai langkah awal diperlukan kepolosan; kemudian kepolosan akan membawa seseorang kepada cinta-kasih; dan cinta-kasih akan menghasilkan kemenangan. Demikianlah yang terdapat dalam diri anak-anak itu.”
Sriram Parasuram melanjutkan, “Tetapi bagaimana halnya dengan anak-anak sekolah yang sudah beranjak dewasa itu, apa yang terjadi pada diri mereka? Ego! Ego! – ‘Apakah nanti saya bisa berceramah dengan baik atau tidak ya?’’Berapa banyak applause (tepukan-tangan) yang akan saya terima ya?’ ‘Berapa banyak orang yang akan mengucapkan selamat kepadaku ya?’ ‘Apakah Swami akan senang atau tidak ya?’ ‘Apakah nanti orang-orang akan menganggapku sebagai pembicara yang hebat atau tidak ya?’ Jadi semuanya adalah akibat ego ini! Semakin bertambahnya usia, maka semakin bertambahlah ego kita ini, dan justru ego inilah yang akan menimbulkan rasa takut. Ketakutan disebabkan oleh ego, dan ketakutan inilah yang bertanggung-jawab terhadap semua kegagalan. Ketakutan adalah sumber penyebab kegagalan. Inilah kondisi yang dihadapi oleh para siswa-siswa senior itu.”
“TEMPAT ITU SUDAH DIDUDUKI ORANG LAIN”
Berikutnya, marilah kita meliput dua point lainnya yang disinggung oleh pembicara selanjutnya yang bernama Arun Kumar. Arun Kumar kuliah di bidang engineering dari salah satu Institut Teknologi terkemuka. Di samping itu, dia juga telah menyelesaikan program MBA-nya. Sekarang dia bekerja di Sai Radio for Global Harmony.
Pemuda ini berkata, “Pernah kejadian di dalam gerbong kereta yang sedang bergerak cepat, terdapat seseorang yang sedang mabuk berat; orang ini berada di dalam gerbong kereta tersebut. Pria itu berdiri di sana dan karena mabuk, ia telah kehilangan akal-sehatnya; maka mulailah ia bertingkah-laku secara tidak pantas. Kata-kata kasar dan vulgar mulai diucapkannya. Kebetulan ada seorang wanita yang juga duduk di sekitar situ. Wanita ini merasa sangat tidak nyaman dan takut.
‘Swami, tolonglah aku!’ demikianlah dia berdoa, “Si pemabok ini jangan-jangan bisa duduk di sini sebab tempat duduk di samping-ku ini kebetulan sedang kosong. Jikalau pemabok ini duduk di samping, maka bagaimana aku bisa tahan – terhadap baunya dan tingkah-lakunya yang idiot itu, apa yang harus kulakukan?’
Kemudian ada penumpang lain di dalam kereta itu yang berkata kepada si pemabok tadi, ‘Hey, duduklah di sana, di sana ada tempat – duduk saja!’
‘Dimana?’
‘Di samping wanita itu.’
Waduh! Ini kan berarti merunjuk ke tempat duduk di samping wanita yang baru saja berdoa, ‘Jangan biarkan pemabok ini duduk di sampingku!’ (tertawa)
Pemabok itu mulai mendekati wanita itu, dan ketika dia baru saja akan duduk, ia berteriak, ‘Mengapa kau suruh saya duduk di sini? Di sinikan sudah ada orangnya!? Masak kamu tidak lihat dia? (tertawa). Berperawakan pendek, dengan jubah merah dan rambut yang panjang – dia sudah duduk di sini. Lihatkah kamu?’
‘Tidak ada yang duduk di sana.’
‘Tidak ada? Kau ini buta ya. Tempat itu sudah diduduki.’
Begitulah caranya Swami menolong dan menyelamatkan wanita tadi dari keadaan memalukan.
Dan kemudian Arun Kumar juga menyinggung hal lainnya.
“Ketika orang-orang merasakan kebahagiaan dengan dunia ini, fakta yang sebenarnya adalah bahwa kebahagiaan tidak ada di luar sana. Kebahagiaan ada di dalam, bukan di luar! Kebahagiaan tidak ada di luar – kebahagiaan hanya ada di dalam. Mengapa? Sebab Engkau adalah perwujudan kebahagiaan. Engkau adalah perwujudan kebenaran. Engkaulah perwujudan kedamaian. Engkaulah kebahagiaan. Jadi, salah jikalau ada pendapat yang mengatakan bahwa kebahagiaan ada di luar. Kebahagiaan (bliss) ada di dalam dirimu sendiri, engkaulah kebahagiaan itu.”
Dalam kaitannya dengan pernyataan itu, ia memberikan satu contoh.
“Terdapat seekor anjing jalanan yang berhasil mendapatkan sepotong tulang. Anjing ini terus menerus mengunyah tulang itu. Dalam prosesnya, gusinya mengalami pendarahan dan sebagian darahnya itu menyebar ke permukaan tulang yang sedang dikunyah olehnya. Anjing ini menjilat-jilat darah tersebut dan menikmatinya. Ia mengira bahwa darah ini datangnya dari luar (dari tulang tersebut). Tetapi sebenarnya, darah tersebut tidak datang dari mana-mana. Itu adalah darahnya sendiri. Demikian pula, kita merasa bahagia dengan beberapa orang, kita merasa senang dengan beberapa obyek/benda, tetapi sebenarnya kebahagiaan itu tidaklah berasal dari luar. Semuanya itu adalah reaksi, refleksi dan gema (resound) dari dalam dirimu sendiri.”
Itulah yang dikatakan oleh Arun Kumar hari itu, saya sangat menyukainya dan ingin membagikannya dengan anda semua.
CINTA-KASIH ADALAH TUHAN, TUHAN ADALAH CINTA-KASIH, HIDUPLAH DALAM CINTA-KASIH
Sekarang saya sampai ke tanggal 19 Oktober. Bhagawan sedang berbincang-bincang dengan para professor di verandah. Sebagaimana anda ketahui, para siswa lazim mengadakan pertunjukan drama setiap tahunnya pada tanggal 22 Nopember, yang bertepatan dengan hari pertemuan Sathya Sai University. Setiap tahun mereka selalu mengadakan pertunjukan drama.
Pada hari itu, dengan santai Swami bertanya, “Mmm, drama apa yang sedang kalian persiapkan?”
Salah seorang siswa menjawab, “Swami, mengenai keaneka-ragaman agama.”
“Mmm, begitu ya.”
Kemudian Beliau bertanya kepada siswa yang lain, “Kamu sedang mempersiapkan drama apa?”
“Swami, di dunia ini banyak sekali terjadi kekerasan, dan kami ingin memperlihatkan apa yang dimaksud dengan cinta-kasih & unity (kesatuan) itu.”
Swami berkata, “Begini ya, Aku tidak mau kalian mengkritik agama apapun juga. Aku tidak menghendaki kalian mengkritik negara manapun juga. Aku tidak ingin kalian menonjolkan perbedaan-perbedaan. Aku tidak mau kalian memproyeksikan sesuatu yang berbau negatif. Jangan mempertontonkan sesuatu yang negatif di hadapan publik. Lebih bagus kalian mengfokuskan hal-hal positif yang ada di dalam dirimu. Aku telah sering mengatakan:
Hanya ada satu kasta; kasta kemanusiaan.
Hanya ada satu agama; agama cinta-kasih.
Aku ingin kalian mengembangkan tema-tema ini – bukan tentang perbedaan agama, bukan tentang perkelahian, bukan tentang perbedaan pendapat, bukan tentang kekerasan. Aku tidak mau hal-hal seperti itu.”
Itulah yang dikatakan oleh Bhagawan.
Akhirnya, Beliau berkata, “Di dalam institusi pendidikan kita, kalian tentunya sudah memahami maksud & tujuan utama dari Sathya Sai Education Institution, tentang filosofi dari pendidikan Sathya Sai, yaitu bahwa: ‘Cinta-kasih adalah Tuhan. Tuhan adalah cinta-kasih. Hiduplah dalam cinta-kasih.’ Semua siswa tentunya sudah paham bahwa ‘Tuhan adalah cinta-kasih dan cinta-kasih adalah Tuhan.’ Kalian hendaknya ‘hidup dalam cinta-kasih’ – tidak ada tema lainnya bagi institusi kita. Jadi, Aku ingin kalian memperlihatkan cinta-kasih ini di dalam pertunjukan drama kalian. Inilah temanya. Jangan ada pertikaian ataupun pertengkaran.”
Itulah yang dikatakan oleh Swami.
KEHEBATAN TERLETAK PADA KEMAMPUAN UNTUK MEMBUAT ORANG-LAIN BERBAHAGIA
Lalu pada tanggal 18 Oktober, apa yang dikatakan oleh Bhagawan?
Well, oleh karena silap lidah, saya sempat mengutarakan hal ini, “Swami, di suatu tempat tertentu sedang terjadi kekerasan. Pagi ini artikel di koran menceritakan bahwa banyak orang yang terbunuh di sana.”
Kemudian Swami berkata, “Kau ini koq suka sekali mencari-cari berita. Apa yang kamu peroleh dari berita-berita itu, tidak lain hanyalah gangguan-gangguan belaka (tertawa). Berita-berita itu hanya akan mengusikmu saja.”
“Ah, oh, aku mengerti. Apakah Swami mau membincangkan tentang kekerasan yang terjadi itu?”
Lalu Bhagawan berkata, “Membunuh orang sama sekali tidak ada hebatnya. Ular kobra juga bisa membunuh orang. Singa juga bisa membunuh orang. Harimau juga membunuh. Kalajengking juga membunuh. Jadi, sama sekali tidak ada hebatnya tindakan membunuh itu! Kehebatan justru terletak dalam kemampuan untuk menolong orang lain. Kehebatan diperlihatkan dari kemampuan untuk melayani orang lain. Kehebatan terletak pada kemampuan untuk membuat orang-lain berbahagia. Jadi, sama sekali tidak ada hebatnya jikalau saling membunuh.”
JARAK TIDAK MENJADI MASALAH
Dan selanjutnya Swami juga membuat pernyataan lain dalam bentuk ceritera. Saya tahu bahwa banyak sekali di antara anda – para bhakta dari negeri asing – yang lebih paham tentang ceritera-ceritera ini daripada kami (orang India) sendiri. Saya pernah bertemu dengan mereka yang sudah mendalami kitab Bhagavad Gita dan Tripura Rahasya. Kebanyakan di antara kami bahkan tidak tahu tentang hal-hal seperti ini, maaf kata saja! Di zaman modern ini, jarak tidak menjadi masalah lagi bagi keluarga Sai. Saya pernah bertemu dengan beberapa bhakta dari Argentina. Mereka telah membaca semua kitab-kitab tadi. Kemudian saya juga pernah melihat seorang pria Argentina sedang membaca Tripura Rahasya. Terus terang saya sendiri belum pernah membacanya.
Saya bertanya kepadanya, “Apa yang sedang anda baca?”
“Masak Bapak tidak tahu ini?” demikian jawabnya.
“Well, maafkan ya, saya coba cari tahu dulu dan nanti saya akan ketemu lagi dengan anda. (tertawa) Jadi, saya tidak perlu lagi meragukan kesarjanaan anda.”
NAMA-BAIK KELUARGA
Ceritera berikut ini adalah ilustrasi yang dipetik dari kitab Mahabharata dimana dikisahkan bahwa kelahiran Karna tidak diumumkan kepada khayalak ramai sebab ibundanya, perawan Kunti, telah melahirkannya sebelum nikah. Jadi, jika hal ini diumumkan, maka pasti akan menimbulkan gelombang penghinaan – dengan perkataan lain akan menurunkan martabat/kehormatan keluarga – itulah sebabnya Kunti tidak memberitahu siapapun juga perihal kelahiran anaknya, yang sebenarnya merupakan anugerah dari dewa matahari. Entah bagaimana, ia malah meninggalkan anak itu.
Bayi itu akhirnya dipungut, dipelihara dan dibesarkan oleh seseorang yang berasal dari kasta yang lebih rendah. Karna dididik sehingga akhirnya menjadi panglima bagi para Kauravas. Menjelang akhir peperangan, Pandavas siap untuk membunuh siapapun juga. Karna merupakan salah satu jenderal utama dari pihak yang beroposisi. Sebagai seorang ibu, secara naluriah, Kunti pergi menghampiri anaknya, Karna.
“Lihatlah, engkau adalah anakku yang paling sulung. Mereka berlima adalah adik-adikmu. Engkau boleh berpihak kepada lawan. Namun, sebagai ibumu, ku mohon agar kau memberikan hikmah/anugerah kepadaku. Janganlah kau bunuh adik-adikmu. Engkau boleh-boleh saja menjadi panglima pihak lawan, tetapi kumohon agar kau jangan membunuh saudara-saudaramu,” demikian tangisnya.
Kemudian Karna berkata, “Ibu, apa yang telah kau lakukan!? Mengapa ibu tidak memberitahuku bahwa mereka adalah saudara-saudaraku? Mengapa ibu tidak memberitahuku sejak awal bahwa aku adalah anakmu? Entah tragedi apa yang akan terjadi sekarang.”
Karna juga menangis, “Lihatlah ibu. Aku adalah pimpinan prajurit Kauravas, dan saya wajib setia kepada raja. Walaupun dalam momen-momen terakhir ini engkau memberitahu bahwa saya adalah anakmu, tetap saja saya tidak bisa meninggalkan kewajibanku. Saya harus loyal kepada raja. Untuk itu, saya tidak akan menyerang keempat anakmu, tetapi saya hanya akan menguber satu saja – yaitu Arjuna. Dia adalah musuhku. Saya akan membunuhnya, itu saja. Sedangkan keempat anakmu yang lain, saya tak akan menyentuhnya. Tidak usah khawatir.”
Itulah yang dikatakan. Bhagawan menjelaskan hal ini.
Kemudian langsung saja saya berkata, “Swami, bukankah hal ini adalah kesalahan Kunti karena tidak menceritakan kebenaran – bahwa Karna adalah anak sulungnya? Apakah pantas baginya untuk merahasiakan hal ini dengan cara demikian?”
Bhagawan sangat mulia. Beliau tidak akan mempermalukan karakter siapapun juga. Ia akan membuat setiap karakter itu terlihat mulia.
Ia berkata, “Tidak, tidak, engkau salah paham. Kunti tidak salah. Ia tidak mengemukakan rahasia bahwa Karna adalah anaknya – hal ini dilakukannya demi menjaga nama baik keluarga. Karna terlahir darinya sebelum ia menikah. Jikalau hal ini diberitakan kepada semua orang, maka kehormatan keluarga menjadi taruhannya. Jadi, demi kehormatan inilah, ia tidak mengutarakan hal tersebut.”
Demikianlah caranya Swami menegakkan kehormatan karakter Kunti dalam ceritera itu.
Dan lebih lanjut Beliau berkata, “Di zaman dahulu, tidak dikenal adanya hukuman mati. Seseorang tidak perlu dipenggal ataupun dibunuh. Cukup bila rambut kepalanya digunduli dan kemudian orang tersebut diusir ke luar dari negeri itu. Itulah hukumannya. Seseorang tidak perlu dibunuh dengan pedang. Mereka hanya mengusirnya. Mereka membiarkannya pergi dari kota dengan kepalanya yang telah digunduli. Pengasingan – itulah metode hukuman di zaman itu.” Demikianlah kata Bhagawan.
Selanjutnya Swami juga menyinggung tentang dua orang tokoh dari ceritera Mahabharata – yaitu masing-masing Bheeshmacharya dan Dronacharya. Acharya berarti ‘professor’. Menurut Bhagawan, Bheeshmacharya adalah professor sejati atau acharya; hal ini disebabkan oleh karena ia selalu mempraktekkan apa yang diucapkannya; sementara yang satunya lagi, Dronacharya, hanya seorang professor dalam gelar saja, sebab dia tidak pernah mempraktekkan hal-hal yang diutarakannya. Ini merupakan kenyataan yang untuk pertama-kalinya diketahui dari Bhagawan.
ORANG-TUA RAMA DAN SITA
Pada hari yang sama, tanggal 18 Oktober, Swami juga menyinggung tentang ceritera Ramayana. Beliau berbicara tentang tokoh Parasurama. Rupanya Parasurama berusaha membunuh semua Kshatriyas (kasta ksatria). Ia bersumpah untuk membunuh semua Kshatriyas dan Ia berhasil membunuh semuanya, kecuali dua orang, yaitu Dasaratha dan Janaka. Dasaratha adalah ayah Rama dan Janaka adalah ayah Sita. Kedua tokoh ini berhasil selamat.
“Koq bisa, Swami? Di kala semua orang mati terbunuh, mengapa yang dua ini bisa selamat?”
Swami memberikan jawaban, “Seseorang yang baru saja menikah tidak boleh dibunuh. Dasaratha punya tiga orang isteri, dan ia menikahi mereka masing-masing satu per satu. Setiap kali Parasurama hendak membunuhnya, maka Dasaratha akan melangsungkan pernikahannya. Jadi, demikianlah, hidupnya selalu terselamatkan.” (tertawa)
“Dan lalu bagaimana halnya dengan Janaka, raja yang satunya lagi, yaitu ayahnya Sita – bagaimana caranya sehingga hidupnya juga terselamatkan? Bagaimana ya?”
Baba menjawab, “Seseorang yang sedang melaksanakan yagna juga tidak boleh dibunuh. Janaka senantiasa melaksanakan yagnas, maka oleh sebab itulah, ia juga terselamatkan. Dasaratha dan Janaka tertolong dengan cara seperti itu, dan mereka berdua kebetulan memang adalah orang-tua Rama dan Sita. Ini semuanya merupakan drama Ilahi.”
ALIHKAN DAN ARAHKAN PIKIRANMU KEPADA TUHAN
%20central_files/image009.jpg)
Saya juga harus memberitahu anda kejadian pada tanggal 16 Oktober; apa saja yang dikatakan oleh Swami. Pada saat itu ada beberapa pertanyaan yang diajukan.
Salah satunya adalah, “Swami, dalam setiap tindakan (action) selalu ada akibatnya (reaksi). Untuk setiap action, pasti akan ada akibatnya. Karma adalah action, sedangkan Karmaphala adalah akibat dari action tersebut. Jadi, apapun juga yang kulakukan, saya tidak akan bisa menghindar dari konsekuensi tindakan-tindakan-ku itu. Jikalau tindakan-ku baik, maka aku akan memetik hasil-hasil yang baik. Sebaliknya, jikalau tindakan-ku jahat, maka hasil yang jelek pula yang akan ku-petik. Jadi, saya harus siap menghadapinya. Saya tidak bisa lari dari semua konsekuensi-konsekuensi itu. Inilah yang Engkau katakan kepada kami. Namun, saya masih memiliki satu keragu-raguan, Swami.”
“Apakah itu?”
“Di dalam Adwaitha (filsafat non-dualisme), dikatakan bahwa tidak ada action maupun si pembuat (tindakan) (doer). Konsep ini tidak dikenal di dalam ajaran itu. Sama sekali tidak ada tindakan maupun si pembuat, sebab – menurut filsafat non-dualistic – seluruh kehidupan ini laksana mimpi belaka. Swami, jadi bagaimanakah Engkau bisa menjelaskan tentang prinsip ‘aksi-reaksi’ di satu sisi dan juga prinsip ‘no action’ ini di sisi lainnya. Bagaimana caranya Engkau mengkorelasikan paham-paham non-dualistic, Shankara Adwaitha dan juga prinsip aksi-reaksi ini?”
Bhagawan langsung menjawab, “Telusurilah sampai ke akar-akar dari setiap tindakanmu itu. Apa yang merupakan penyebab dari semua tindakan (action)? Thoughts (buah-pikiran) bukan? Lalu darimanakah thoughts ini muncul? Dari mind (otak). Jadi, dari mind timbullah thoughts. Selanjutnya thoughts akan menuntun kepada tindakan fisik (action); dan action memberimu konsekuensi-konsekuensinya (reaction). Jadi, selama engkau masih beroperasi di level mind, selama dirimu masih berkutat sebatas di level otak ini; maka engkau tidak akan bisa terbebas dari karmaphala atau konsekuensi dari semua tindakanmu itu! Kau tidak bisa membebaskan diri dari reaksi oleh sebab engkau masih beroperasi di mind level. Itulah sebabnya, Shankara Adwaitha mengatakan bahwa engkau harus keluar & melampaui mind!”
“Oh, Swami, apakah dimungkinkan bagi kami untuk melampaui mind ini? Apakah bisa? Bagaimana caranya? Tolong jelaskanlah kepada kami.”
Baba mengatakan, “Untuk melampaui mind, maka terlebih dahulu kenalilah mind dan cobalah cari tahu terlebih dahulu ‘barang’ apakah itu.”
“Oh! Saya hanya bisa mengucapkan, ‘Never mind’ (tidak apa-apa) (tertawa), tapi saya sama sekali tak tahu apa yang dimaksud dengan mind itu! Swami, apakah yang dimaksud dengan mind?”
“Ah, lihatlah di sini. Mind itu tiada lain adalah buntelan pikiran-pikiran. Seperti benang yang dianyam menjadi sehelai kain, maka demikian pula buntelan pikiran ini saling menjalin sehingga membentuk mind.”
“Lalu, Swami, bagaimana caranya agar saya bisa melampaui mind ini?”
“Tarik kembalilah semua pikiran-pikiranmu, maka kamu akan menjadi thoughtless (tak memikirkan apapun juga). Ketika keadaan thoughtless tercapai, maka tidak ada mind. Bila tidak ada benang, maka tidak akan ada kain. Demikian pula, bila tidak ada thoughts, maka tidak akan ada mind.”
“Oh ho, Swami, lalu bagaimanakah mencapai keadaan tak berpikir apapun juga (thoughtless)? (tertawa). Bagaimana mungkin bisa mencapai keadaan thoughtless?”
“Ya, tentu saja dimungkinkan.”
“Mengapa? Bagaimana?”
“Alihkan saja pikiranmu itu kepada Tuhan. Alihkan, alihkan pikiranmu kepada Tuhan! Sekarang pikiranmu sedang tertuju kepada hal-hal duniawi. Alihkanlah dia! Alihkanlah dia! Arahkanlah pikiranmu kepada Tuhan. Sekali ia diarahkan kepada-Nya, maka semua thoughts akan hilang. Pikiran akan terisi penuh oleh Keilahian. Pikiran akan penuh dengan Tuhan. Tidak akan ada lagi thoughts, tidak ada lagi mind, tidak ada lagi action, dan tidak ada lagi reaction! Begitulah caranya,” demikian kata Bhagawan.
Enak sekali didengar, tapi tetap saja saya masih harus mempraktekkannya. (tertawa)
POSITIVE THINKING
Kemudian ada pertanyaan selanjutnya, “Swami, bagaimana caranya agar saya dapat mengembangkan positive thinking (berpikir positif)?”
“Gampang sekali,” kata Baba.
“Gampang sekali? Ketika seseorang memarahiku, bagaimana mungkin saya bisa menerimanya secara positif? Ketika orang lain melukaiku, bagaimana saya bisa berpikiran positif terhadapnya? Ketika pihak lain banyak merugikanku, apakah mungkin bagi saya untuk berpikiran positif? Apakah memang bisa?”
“Sangat gampang.”
“Swami, bagaimana caranya? Tolong jelaskanlah.”
“Bila engkau menyadari bahwa segala sesuatu yang diucapkan serta dilakukan terhadapmu itu adalah demi untuk kebaikanmu sendiri, maka itulah yang namanya positive thinking. Berpikir secara positif berarti bahwa engkau menerima segala sesuatu yang terjadi pada dirimu sebagai sesuatu yang berguna bagi kebaikanmu sendiri. Tidak peduli apapun juga yang akan dikatakan orang lain tentang dirimu, apapun juga yang akan mereka lakukan terhadapmu, dan tidak peduli bagaimana engkau akan dilukai, terimalah semua ini sebagai kebaikan untuk dirimu sendiri. Nah, itulah yang dinamakan positive thinking.”
“Oh begitu – apakah masih ada hal lain mengenai bagaimana caranya mengembangkan positive thinking? Bagaimana caranya agar saya bisa menerima segala sesuatu sebagai demi untuk kebaikanku sendiri? Sebagai contoh, bila saya memukul seseorang, bagaimana caranya agar orang tersebut dapat menganggap pukulanku ini sebagai sesuatu yang baik untuk dirinya? Bagaimana caranya?”
Kemudian Swami berkata, “Semuanya itu bisa dimungkinkan bilamana engkau memiliki keyakinan terhadap Tuhan. Keyakinan yang kuat terhadap-Nya akan membantumu mengembangkan positive thinking.”
PIKIRAN KOSMIK (COSMIC MIND)
Kemudian seseorang bertanya, “Swami, apa perbedaan antara individual mind (pikiran individu) dan cosmic mind (pikiran kosmik)?”
Swami menjawab, “Pikiran kosmik adalah sesuatu yang bersifat universal. Cosmic Mind adalah Keilahian. Sedangkan individual mind hanya terbatas pada satu entitas yang memiliki identitas. Entitas dan identitas memiliki nama dan rupa, sedangkan pikiran kosmik atau pikiran universal tidak berwujud dan tak memiliki atribut nama. Tak bernama, tak berwujud – universal mind adalah cosmic mind. Sesuatu yang memiliki nama dan rupa – sebuah entitas, sebuah identitas – inilah yang disebut sebagai individual mind.”
“Oh, Swami, apakah terdapat keterkaitan antara keduanya?”
“Ya, dua-duanya sama saja.”
“Sama saja? Yang satu mempunyai wujud sedangkan yang lainnya tak berwujud? Yang satunya memiliki nama, sedangkan yang lain tak bernama? Jadi, koq bisa dikatakan kedua-duanya sama saja?”
“Sederhana sekali.”
“Koq bisa Bhagawan? Apanya yang sederhana?”
“Ya, sederhana sekali.”
“Mengapa dan bagaimana?”
“Bila seseorang individu telah melupakan identitasnya, pada saat dia tidak peduli lagi dengan nama dan rupa, ketika dia telah melampaui atribut nama dan rupa, di kala ia tak terikat lagi dengan nama dan rupa; maka dirinya telah menyatu dengan Pikiran Kosmik. Jadi, selama engkau masih terikat dengan nama dan rupamu, maka engkau masih terpisah dari Pikiran Kosmik. Bila nama dan rupa telah ditinggalkan, maka individual mind dan Cosmic Mind akan menyatu dan menjadi sama adanya.”
“Tetap saja saya belum bisa mengerti, Swami.”
Swami melanjutkan, “Gampang sekali. Bayangkanlah sebuah balon. Di dalam balon terdapat udara, demikian juga di sekelilingnya jugat terdapat udara. Udara di luar balon itulah yang disebut Cosmic Mind. Sedangkan udara di dalamnya disebut individual mind. Ketika balon tersebut pecah, maka udara di dalam akan bercampur & bersatu dengan udara di luar. Tidak akan ada perbedaan lagi. Jadi, perbedaan hanya terletak pada ukuran, nama dan wujud dari balon itu. Tidak ada perbedaan pada udara di dalam balon dengan yang ada di sekelilingnya. Demikian pula dengan individual mind dan Cosmic Mind – mereka hanya berbeda dalam hal nama dan rupa.”
Itulah yang dikatakan oleh Bhagawan.
TUJUAN KEHIDUPAN
“Swami, izinkanlah kami mengajukan pertanyaan lain.”
“Mengenai apa?”
“Swami, apa tujuan dari kehidupan ini?” Pertanyaan sederhana! (tertawa) “Apa tujuan utama dari kehidupan ini?”
Swami berkata, “Tujuan kehidupan ini adalah untuk mendapatkan unity (bersatu) dengan Tuhan, untuk merealisasikan Keilahian yang ada di dalam; mencari kesatuan dengan Tuhan berarti menyadarkan dirimu bahwa engkau sendiri adalah Tuhan. Itu saja. Itulah tujuan daripada kehidupan ini. Selama engkau masih merasa bahwa dirimu berbeda dengan Tuhan, maka itu berarti bahwa perjalananmu masih cukup panjang. Engkau harus menempuh perjalanan spiritual hingga tercapainya kesadaran atas identitas yang satu itu.”
Itulah yang dikatakan oleh Bhagawan pada hari itu, tanggal 16 Oktober.
SANG IBU TIDAK AKAN LUPA
Berikut ini saya akan membicarakan peristiwa yang terjadi pada tanggal 9 Oktober. Ya, tahukan anda apa yang dikatakan Swami? Hari itu Swami memerintahkan agar es-krim dibagi-bagikan kepada semua siswa! Wow! Es krim!! Enak sekali lho! Kami semuanya sangat menyukainya. Beberapa siswa ditugaskan untuk membagi-bagikan es-krim cup ini kepada semua orang.
Tiba-tiba Swami datang dan memanggil siswa-siswa yang ditugasi untuk membagikan es-krim itu, “Hey anak-anak, apakah kalian sudah membagikan es-krim ini kepada semua siswa yang hadir?”
“Sudah, Swami.”
“Semua orang sudah dapat?”
“Iya”.
“Ah, kalian ini memang tak becus. Lihat tuh! Di sana ada dua anak yang belum mendapatkannya! Cepat pergi dan kasih mereka di sana.”
Setelah itu, Swami berpaling kepada semua yang hadir dan berkata, “Kalian ini mengaku-ngaku sebagai brothers (saudara). Tapi lihatlah, bahkan sesama brothers saja bisa saling melupakan, tetapi Sang Ibu tidak akan lupa! (tertawa) Brothers may forget, but a mother will not forget!”
Ini merupakan indikasi bahwa Bhagawan adalah ibunda bagi kita semuanya.
AKU MENANGGUNG BEBAN PENDERITAANMU
Di sini ada satu point ‘Mutiara Kebijaksanaan’ yang terjadi pada tanggal 9 Oktober. Apakah itu? Bhagawan mengambil-alih penyakit/penderitaan bhakta-Nya. Apa yang terjadi bila Beliau melakukan hal itu? Apakah Beliau akan menderita juga? Mengapa Ia mau melakukannya?
Swami mengatakan hal ini: “Aku menerima, Aku menyambut, Aku menderita demi kau sebagai tanggapan terhadap doa-doamu: sebab jikalau Ku biarkan engkau dengan kondisi sakitmu itu, maka rasa sakitnya tidak akan tertahankan olehmu. Rasa sakit itu sedemikian dashyatnya dan mengerikan, dan engkau tidak akan bisa menahannya. Oleh karena doamulah, maka Aku mengambil alih semua rasa sakit itu.”
“Swami, apakah Engkau juga menderita seperti halnya diriku? Akankah Engkau merasakan sensasi sakit seperti yang kurasakan juga?”
“Ya, namun dalam kasus ini, Aku hanya merasakannya dalam tempo singkat saja; sedangkan engkau harus menderitanya cukup lama. Bila penyakit itu diambil alih oleh-Ku, maka periode penderitaannya akan terpotong menjadi pendek – hanya dalam tempo sekejap. Hal ini Ku-lakukan agar engkau terbebas dari penyakitmu, dan agar engkau juga tidak perlu merasakan sakit yang berkepanjangan. Itulah sebabnya Aku rela menerima sakitnya orang lain.”
Itulah yang dikatakan oleh Bhagawan.
Suatu ketika, Swami pernah memberikan interview kepada seorang siswa yang menderita penyakit asma. Kebanyakan penderita asma mengalami kesulitan bernafas ketika sedang musim hujan.
Anak kecil yang polos itu berkata, “Oh Swami, aku sangat menderita. Saya tidak bisa bernafas. Saya tidak bisa tahan, Swami.”
“Oh, I see. Don’t worry, Anak-Ku. Don’t worry.”
Tiba-tiba Swami terlihat sedang megap-megap (nafas-Nya terengah-engah), hal ini disebabkan oleh karena Beliau telah mengambil-alih problem asma itu ke dalam diri-Nya. Kejadian itu hanya berlangsung selama beberapa menit, dan kemudian mereda.
Ketika Swami telah kembali normal, Ia berkata, “Kamu tidak akan mendapatkan serangan asma lagi! Don’t worry.”
Ini merupakan contoh bagaimana Baba menanggung beban penderitaan serta memberikan pertolongan kepada orang lain.
Sebelum saya mengakhiri sesi hari ini, di sini masih ada satu cerita.
Persis kemarin, Bhagawan keluar (dari ruangan interview) dan berkata, “Apakah kamu lihat kedua dokter itu?”
“Swami, saya tidak melihatnya sebab para dokter itu masuk ke ruangan interview dan telah keluar, sedangkan saya kebagian duduk di anak-tangga ini. Jadi, saya tidak bisa melihat ke sana. Tidak bisa, Swami, saya tidak melihat mereka.”
Baba berkata, “Dokter-dokter itu berasal dari Jerman. Keduanya suami-isteri adalah spesialis jantung. Mereka adalah dokter terkemuka yang telah berhasil melaksanakan banyak transplantasi jantung. Sebagai pakar di bidang ini, mereka diundang oleh pemerintah Australia untuk membagikan pengetahuan mereka di sana.”
Sebelum menuju ke Australia, mereka ingin singgah guna mendapatkan Darshan Baba seraya mengunjungi rumah-sakit-Nya. Mereka tahu tentang Baba dan juga telah mendengar hal-hal yang telah dikerjakan di Super Specialty Hospital. Jadi, oleh sebab itulah mereka ingin datang ke sini untuk belajar dan kemudian baru pergi ke Australia sembari membawa-serta Inspirasi dan Divine Blessings dari Bhagawan.
Semoga Bhagawan memberkati anda semuanya.
Sai Ram!
Professor Anil Kumar mengakhiri ceramahnya dengan menyanyikan bhajan,
“Jai Jai Prabhu Giridhari, Natavara Nandalala”
Tamaso Maa Jyotir Gamaya
Mrtyormaa Amrtam Gamaya
Om Loka Samastha Sukhino Bhavantu
Loka Samastha Sukhino Bhavantu
Loka Samastha Sukhino Bhavantu
Om Shanti Shanti Shanti