5 Februari
2003
OM….. OM….. OM…..
Sai Ram
With Pranams at the Lotus Feet of
Bhagawan
Dear
Friends,
Saya merasa senang bisa berkumpul
kembali bersama-sama dengan anda untuk menyelesaikan sisa-sisa
percakapan Swami. Setidaknya kita sudah mencakup hampir
separuh daripada artikel yang pernah dimuat dalam Sanathana
Sarathi edisi Telugu. Jadi, sebelum Bhagawan pergi (dari
Puttaparthi), semoga saja kita bisa segera menyelesaikan semua
bahan-bahan ini, agar anda punya cukup waktu untuk melakukan
editing dan kemudian diedarkan.
JANUARI
2002
Yang berikut ini berkaitan dengan
event yang terjadi pada bulan Januari 2002. Setelah usainya
Annual Sports and Cultural Meet, Bhagawan berbincang-bincang
dengan para siswa dan memberikan instruksi-instruksi kepada
mereka. Instruksi Beliau juga sangat bermanfaat bagi setiap
orang. Bhagawan sengaja memilih kesempatan ini untuk
menyampaikan pesan-pesan-Nya agar diikuti oleh kita semuanya.
Sangat Penting Bagi Setiap Orang
untuk Berbicara Sesedikit
Mungkin
Point pertama yang dikemukakan oleh
Beliau adalah sebagai berikut: Bahwa sangat penting sekali
bagi setiap orang untuk berbicara sesedikit mungkin. Mengapa?
Bila kita terus-menerus ngobrol, maka kita akan kehilangan
energi, kehilangan memori, dan kita cenderung akan mengucapkan
suatu kebohongan atau membesar-besarkan fakta. Jadi, agar kita
terhindar dari keempat jenis kesalahan lidah inilah, maka
Bhagawan menasehati kita untuk berbicara sesedikit
mungkin.
Lebih lanjut, Beliau juga mengatakan
bahwa keriput-keriput yang timbul di wajah serta usia tua juga
disebabkan oleh karena terlalu banyak bicara. Jikalau kita
ingin tetap awet muda, maka kita harus mematuhi nasehat
ini.
Hindari Pergaulan yang
jahat
Point kedua dari Bhagawan: Beliau
menasehati para siswa, “Ingatlah selalu A-B-C.” Artinya: Avoid Bad Company (hindarilah pergaulan jahat).
Coba katakan saja siapa temanmu, maka
Aku akan mengatakan siapa
dirimu!
Oleh sebab itu, anda perlu sangat
berhati-hati dalam menjalin
persahabatan.
Swami berkata, “Kalian harus
bersahabat dengan mereka yang baik dan jauhilah mereka yang
jahat. Kepribadianmu dipengaruhi oleh teman sepergaulanmu.
Ambillah contoh, pasir akan terbang bila ia ditemani oleh
angin. Namun, bila pasir itu ditemani oleh air, maka ia akan
ikut terhanyut ke bawah. Bila api berada dalam pergaulan
dengan rumput yang hijau, maka api itu akan padam. Tapi api
yang sama itu akan semakin membara bila ia berada dekat dengan
rumput kering. Jadi, kalian perlu sangat
waspada.”
Libatkanlah dirimu dalam perbuatan
yang baik
Point ketiga dari Bhagawan: “Kalian
harus senantiasa mencari-cari kesempatan atau menunggu peluang
untuk melibatkan diri dalam perbuatan serta tindakan yang
baik. Hal ini sangat penting dalam kehidupan ini. Itulah jalan
spiritual bagimu. Tanpa adanya aktivitas pelayanan yang baik,
engkau belum menjadi seorang spiritualis dan engkau juga belum
religius.”
Kontak yang lebih
sedikit
Point keempat Bhagawan: “Lebih baik
bila engkau memiliki hubungan/kontak yang sesedikit mungkin.
Terlalu banyak berhubungan dengan orang lain akan
menjerumuskanmu dalam aktivitas sosialisasi dan hal ini justru
akan menganggu keseimbangan batin dan proses berpikirmu. Jadi,
dengan kontak yang seminim mungkin, engkau bisa memelihara
jati dirimu, mempertahankan ideologimu, menjaga karaktermu,
meneruskan proses berpikirmu serta berlanjut terus dengan
jalan kehidupanmu. Demi semua manfaat-manfaat ini, maka
sebaiknya engkau membatasi hubungan/kontak dengan pihak
lain.”
Jangan Sentuh Siapapun
Juga
Point kelima dari Bhagawan: “Pada
saat kalian bercampur dan bergaul, pastikan bahwa kalian tidak
menyentuh siapapun juga. Sebab jikalau kalian saling
menyentuh, maka vibrasi dari orang lain akan mempengaruhimu.
Jadi, bila kau selalu berdekatan & bersentuhan dengan
orang lain, maka secara alamiah, kau akan kehilangan
konsentrasimu.”
Meditasi hanya dimungkinkan bila
sedang sendirian
Point keenam dari Bhagawan: Beliau
menyatakan dengan jelas bahwa meditasi hanya dimungkinkan bila
engkau sedang sendirian, tidak bisa dilakukan dalam suatu
kelompok ataupun komunitas. Ada beberapa orang yang ingin
bermeditasi di Kulwant Hall. Apakah mungkin bisa? Pada saat
itu, seorang seva dal akan memintamu untuk bergeser ke depan;
kemudian seva dal berikut akan memintamu geser ke belakang;
yang ketiga akan menyuruhmu geser ke pojok; dan yang terakhir
akan memintamu keluar! (tertawa) Jadi, bagaimana
mungkin engkau bisa bermeditasi dalam keadaan demikian? Oleh
sebab itu, meditasi hanya mungkin dilakukan bila engkau sedang
sendirian saja.
Kesadaran atas
Keilahian
Point ketujuh dari Bhagawan: Secara
gamblang, Beliau mengatakan bahwa setiap orang hendaknya
memupuk kesadaran Ilahi (awareness of the Divinity) yang hadir
di dalam setiap atom atau anu. Divinity hadir di dalam
setiap sel atau kana. Awareness seperti inilah yang
disebut sebagai true spiritual experience (pengalaman
spiritual sejati).
Tidak ada jalan menuju
Awareness
Seseorang bertanya kepada Bhagawan,
“Swami, lalu apa jalur/jalan untuk menuju ke awareness
(kesadaran)? Jalan manakah yang akan membawa seseorang menuju
ke awareness?”
Bhagawan menjawab, “Tidak ada jalan
menuju ke awareness. Experience (pengalaman) atas awareness
merupakan intinya. Tidak ada jalurnya. Jikalau engkau
mengatakan ada jalan/jalur, maka itu berarti bahwa faktor
ruang dan waktu masih terlibat di sana. Namun sebaliknya,
awareness sejati tidak lagi terikat oleh ruang dan waktu.
Pengalaman atas awareness berdiri di tengah-tengah, dan ia
tidak ada kaitan/hubungannya dengan jalan/jalur, sebab the
path (jalan/jalur) itu masih berkaitan dengan ruang dan
waktu.”
Setiap Sports Meet selalu
unik
Sekarang saya akan share dengan anda
hal-hal yang biasanya dikatakan oleh Bhagawan kepada para
siswa setelah usainya sports meet. Sebagaimana anda ketahui,
pada bulan Januari kita baru saja mengadakan Annual Sports and
Cultural Meet yang diselenggarakan oleh seluruh institusi
pendidikan Sri Sathya Sai. Oleh karena pesan dan momennya
sama, maka informasi ini berlaku baik untuk event yang
diadakan pada tanggal 11 Januari 2002, maupun untuk tanggal 11
Januari 2003. Bhagawan berbincang-bincang dengan para siswa
dan murid pada kedua kesempatan tersebut. Saya ingin share
beberapa point Beliau dengan anda. Inilah yang dikatakan oleh
Swami.
Point pertama: Bahwa Sathya Sai
Institution’s Sports and Cultural Meet bukanlah sebuah
kegiatan yang bersifat rutinitas semata-mata. Setiap sports
meet selalu unik. Setiap sports meet selalu spesial. Jangan
anggap sebagai kegiatan rutin saja, no! Selalu ada
keistimewaan khusus pada setiap sports
meet.
Sports, Music dan
Drama
Point kedua: Bahwa institusi
pendidikan Sathya Sai memberi penekanan dalam tiga hal, yaitu:
olah-raga, musik dan drama. Para siswa dilatih dengan baik
dalam ketiga bidang tersebut.
Bilamana para siswa mementaskan
sebuah program musik, maka bisa dipastikan bahwa performance
mereka selalu berstandar professional. Para siswa juga sangat
menonjol dalam bidang olah-raga, dan yang mengherankan adalah
bahwa para siswa-siswa itu juga mendapatkan nilai ‘O’
(outstanding/luar biasa) dalam hasil-hasil ujian akademiknya.
Inilah yang kita kenal sebagai ‘total personality development’
(pengembangan kepribadian total) – yaitu bilamana para siswa
menunjukkan keunggulan dalam setiap bidang, baik olah-raga,
bidang drama maupun akademis.
Persiapan hanya lima-belas
hari
Point ketiga: Umumnya orang-orang
memerlukan persiapan yang cukup lama untuk event-event seperti
ini. Anda mungkin tidak bisa percaya bila saya mengatakan
bahwa siswa-siswa kita hanya memiliki waktu kurang dari
lima-belas hari untuk mempersiapkan sports meet. Jikalau anda
menonton program mereka, maka sungguh sulit dipercaya! Dalam
kurun waktu 15 hari, ternyata mereka sanggup melakukan
presentasi seperti itu! Well, saya tak tahu bagaimana pendapat
anda, tapi bagi saya, hal itu sungguh luar
biasa!
Anda juga tahu bahwa biasanya dalam
event-event olah-raga seperti ini, umumnya banyak uang yang
dihabiskan. Tapi di sini, tidak ada uang yang
dihambur-hamburkan! Tidak ada keterlibatan uang sama sekali –
apakah anda bisa percaya? Para siswa memanfaatkan bahan-bahan
yang ada di asrama mereka. Mereka membuat potongan-potongan
besar, lalu ada juga layar latar – semuanya dibuat oleh para
siswa dari materi yang ada di kampus maupun di asrama. Tak ada
yang dibeli dari luar; tidak ada pengeluaran. Jikalau anda
hitung-hitung biaya yang dihabiskan oleh institusi lainnya,
maka jumlahnya bisa mencapai puluhan juta rupees! Tapi di
sini, nothing! Sungguh mengagumkan!
Semuanya Sangat
Disiplin
Pada umumnya para olahragawan dan
para atlit sangat jago di dalam bidangnya masing-masing, tapi
mereka belum tentu memiliki kedisiplinan tinggi dalam
kehidupan pribadinya. Namun di sini, semua siswa-siswa kita
sangat berdisiplin!
Ketika masih baru bekerja di sini,
saya hampir-hampir tidak bisa mempercayai semua kejadian di
sini. Di luar sana, para siswa yang jago dalam satu bidang
olahraga tertentu umumnya berprestasi buruk dalam bidang
pelajaran akademisnya. Para siswa yang piawai dalam bidang
drama tidak menghadiri kelas lainnya. Demikian juga, siswa
yang tertarik dalam bidang musik tidak akan tertarik untuk
mempelajari mata pelajaran lainnya. Tapi di sni, semua siswa
terlibat dan mereka memperlihatkan kecakapan yang tinggi dalam
setiap bidang. Semuanya ini tak lain adalah akibat pengaruh
Bhagawan – dampak yang ditimbulkan oleh Bhagawan terhadap diri
para siswa-siswa itu.
Anda tentu bisa melihat bahwa di luar
sana, bila ada sekelompok pemain sepak-bola yang hebat
meninggalkan sekolahnya, maka sekolah itu langsung anjlok
dalam prestasi persebak-bolaannya. Betulkan? Tapi di sini,
kelompok boleh-boleh saja datang silih berganti, namun
standarnya tetap saja semakin menanjak, sebab bagi Swami tidak
ada istilah kompromi bila menyangkut hal
kualitas/standar.
Ada beberapa orang pengamat dan para
petinggi yang hadir menyaksikan Sports Meet, mereka berkata
kepadaku, “Look here Anil Kumar, setidaknya siswa-siswa di
daerah kami membutuhkan waktu persiapan selama enam bulan
untuk memberikan performance seperti ini. Sungguh luar biasa,
bahwa para siswa-siswa di sini bisa memberikan presentasi
hanya dalam tempo 15 hari!”
Sekarang pertanyaannya adalah sebagai
berikut: Apa penyebab/alasan dari keberhasilan presentasi ini?
Apa yang melatar-belakangi kesuksesan performance ini? Jikalau
anda selidiki, maka anda pasti akan menemukan beberapa
penyebab/alasannya. Yang pertama adalah disiplin – yakni
disiplin tingkat tinggi. Yang kedua adalah kebulatan tekad
untuk mencapai atau meraih kesuksesan, bhakti yang tak
tergoyahkan terhadap Swami serta semangat dedikasi para
siswa-siswa itu.
Motivasinya adalah untuk menyenangkan
Swami
Di atas segala-galanya, motivasi
utamanya adalah untuk menyenangkan Swami. Apapun juga yang
mereka lakukan, entah apakah itu senam atau atletik,
kepiawaian mengendarai sepeda-motor atau karate, satu-satunya
motivasi mereka adalah untuk membuat Swami happy. Bila Swami
happy, maka seisi dunia juga turut berbahagia. Jikalau Swami
tidak happy, maka tak ada gunanya kita membuat orang lain
happy.
Jikalau anda bertanya kepada para
siswa, “Apa sih imbalan yang diberikan kepadamu?” maka mereka
akan berkata, “Tuan, kami melakukan ini semua bukanlah demi
penghargaan, medali ataupun untuk memenangkan tropi, uang dan
publisitas di koran-koran, tidak! Kami hanya menginginkan
tepukan di punggung oleh Bhagawan ataupun kesempatan untuk
berfoto-foto bersama Beliau. Kami sudah sangat senang bila
bisa mendapatkan senyuman dari Beliau. Yang kami inginkan
hanyalah satu ucapan dari Swami, ‘I am happy,’ that’s all (itu
saja)!”
Khusus bagi para pemuda, memiliki
perasaan seperti ini sungguh sangat
hebat.
Anak itu langsung bangun
lagi
Pada sports meet yang baru lalu di
bulan Januari 2003 ini, anda tentunya ada melihat sebuah
insiden dimana seorang siswa terjatuh dari kuda yang sedang
ditungganginya. Biasanya kuda itu langsung akan lari pergi dan
si anak akan berhenti, tidak melanjutkan lagi acara dan
performancenya. Tapi si anak itu langsung berdiri lagi, ia
berlari menghampiri kudanya dan melompat naik lagi ke atas
punggungnya. Ia menyelesaikan semua stunt sebagaimana yang
direncanakan, melompati semua rintangan yang
ada.
Swami langsung menoleh
kepadaku.
Saya berkata,
“Swami!”
“Ah, ada apa, ada apa?”
(tertawa)
“Swami, anak itu
terjatuh!”
“Oh, I see,” demikian kata Beliau,
“Oho?”
“Swami, ia berlarian dan naik ke atas
kuda lagi dan menyelesaikan semua stunt seperti rencana
semula.”
“Hmm, good, good, good! See –
lihatlah apa yang telah terjadi bukan? Biasanya tidak akan
seperti ini,” demikian kata Bhagawan.
Tak ada sesuatupun yang akan terjadi
karena Swami ada di sini
Di samping itu, anda tentunya juga
melihat bahwa ada seorang anak yang mengendarai sepeda motor,
ia menabrak dinding dan terjatuh. Anak itu terlempar ke satu
sisi, sedangkan sepeda motornya ada di sisi lain. Anak itu
tidak mengalami luka sama sekali. Ia langsung bangun,
mengangkat sepeda motornya dan mulai mengendarainya
lagi.
Swami berkata, “Lihat, dia tidak
apa-apa. Tahukah kamu mengapa? Karena mereka yakin bahwa tak
ada sesuatupun yang akan terjadi karena Swami ada di sini. Hal
itu sangat bagus sekali.”
Dan mengenai para audisi dan penonton
– mengapa mereka semuanya berdatangan? Kehadiran mereka
bukanlah untuk mendapatkan hiburan. Kedatangan mereka bukanlah
dalam rangka liburan. Mereka datang khusus untuk melihat
Bhagawan dan para siswa-siswa melakukan berbagai hal-hal yang
luar-biasa di lapangan itu.
Anda tidak bisa menemukan disiplin
dan atmosfir damai yang berlangsung selama sports day itu
dimanapun juga. Di tempat lain, yang anda lihat umumnya adalah
berupa: tepukan tangan, sorakan riuh rendah, slogan-slogan dan
berbagai keonaran lainnya. Sebaliknya, olah-raga dan permainan
di sini berjiwa spiritual – keseluruhan atmosfir sangat tenang
dan damai. Aktivitasnya seakan-akan telah dijadikan sebagai
‘religion’ (agama). Sungguh fantastik
sekali!
Tidak ada persaingan tidak
sehat
Masih ada point menarik lainnya.
Ketika siswa-siswa Bangalore dari kampus Brindavan sedang
beraksi di lapangan, maka para siswa Prashanthi Nilayam juga
bersikap apresiatif terhadap presentasi mereka. Mereka
bersorak dan bertepuk-tangan meriah saat melihat
rekan-rekannya melakukan suatu aksi yang memukau. Sebaliknya,
ketika siswa Prashanthi Nilayam sedang beraksi, maka
siswa-siswa Brindavan juga menikmati pertunjukan
mereka.
Artinya: tidak ada persaingan tidak
sehat, tidak ada kompetisi yang bodoh. Semuanya saling
berbagi, semuanya saling memperhatikan, inilah saatnya mereka
menunjukkan kebolehan masing-masing di depan Bhagawan.
Semangat persaudaraan di antara para kompetitor, di antara
para siswa dari kampus yang berbeda – ini merupakan contoh
yang patut ditiru oleh setiap orang. This is really great
(sungguh hebat sekali).
Disamping itu, anda juga bisa melihat
kelucuan dan kesenangan, tak ada yang menang dan juga tak ada
yang kalah. Anda mungkin melihat bahwa Bhagawan memberikan
tropi yang ukurannya sama untuk setiap orang (tertawa).
Siapa yang duduk di peringkat pertama? Semuanya berdiri di
posisi pertama. Siapakah yang kedua? Tak ada yang posisinya
nomor dua. Semuanya pertama. Mengapa? Sebab ini merupakan
event atau presentasi oleh para siswa dari semua kampus. Jadi,
semacam usaha bersama, usaha kelompok – bukan usaha
perseorangan, no!
Oleh sebab itu, setiap orang
mempunyai peranannya masing-masing – dari para siswa yang
merancang panggung, membuat bingkai-bingkai, yang membuat
dekorasi – semuanya patut diperhitungkan. Kami tidak pernah
berkata, “Oh, si anu mengerjakan ini dan ini,” no. Dalam hal
ini, secara keseluruhan, event ini sungguh sangat luar biasa
sekali.
Bila anda hadir dalam event tersebut
tahun ini, maka anda tentunya ada melihat bahwa para siswa
dari Prashanthi Nilayam campus menampilkan sebuah bola dunia
ukuran besar yang sedang di pegang oleh sebuah telapak-tangan
yang sangat besar pula. Tangan siapakah itu? Tak lain adalah
tangan Bhagawan Sri Sathya Sai Baba. Jadi, tangan Bhagawan Sri
Sathya Sai Baba digambarkan sedang memegang bola dunia ini,
gambaran ini mempunyai makna: Sang pencipta dan ciptaan-Nya.
Bola dunia ini merupakan ciptaan dan Sang tangan sebagai
penciptanya. Presentasi ini menarik perhatian
semuanya.
1 MARET
2002
Sekarang saya akan beralih ke tanggal
1 Maret 2002. Seperti biasa, Bhagawan keluar ke verandah dan
hari itu, Beliau cukup baik hati memintaku mengajukan
pertanyaan.
Tiada kesulitan bagi suatu
tantangan
Saya bertanya, “Swami, mengapa hampir
semua orang-orang yang berjiwa luhur dan baik selalu harus
berhadapan dengan kesulitan-kesulitan? Mengapa? Swami, mengapa
mereka mengalami kesulitan?”
Jawaban Bhagawan adalah sebagai
berikut, “Bagimu kelihatannya itu seperti kesulitan hidup.
Tapi bagi mereka, hal itu tidaklah dianggap sebagai kesulitan.
Dari tampak luar, kelihatannya seolah-olah orang-orang baik
dan luhur sedang menghadapi persoalan/kesulitan; tapi bagi
mereka, semuanya itu dianggap sebagai tantangan. Mereka
melihatnya sebagai batu ujian dari Tuhan, agar supaya mereka
berhasil melewatinya. Tidak seperti pada umumnya, mereka tak
merasa keadaan itu sebagai kesulitan. Kashtalu kadu.
Mereka menerimanya sebagai kartavyalu, tugas dan
tanggung-jawab. Mereka melihatnya sebagai kartavya,
tanggung-jawab, bukan sebagai kashtamulu atau
kasthalu, artinya: kesulitan.”
Swami mematerialisasi sebuah permata
– ‘Chudamani’
Sembari bercakap-cakap dengan para
siswa, tiba-tiba Swami mematerialisasikan sebuah permata yang
disebut chudamani. Permata ini merupakan ornamen khusus
yang umumnya dipakai oleh kaum wanita di kepalanya (Anil
Kumar menunjuk ke mahkota kepalanya). Nah, yang satu ini
dipakai oleh Sita.
Anjaneya (Hanuman) pergi mencari-cari
keberadaan Sita. Sita memberikan chundamani-nya
kepada Anjaneya sebagai bukti untuk diperlihatkan kepada Sri
Rama, pertanda bahwa Anjaneya telah berhasil menemukan Sita.
Dengan cara apa lagi agar Sri Rama bisa yakin bahwa Anjaneya
memang telah berhasil bertemu dengan Sita? Nah, untuk
membuktikannya, Sita memberikan chundamani yang sedang
dipakainya. Permata itu sangat bagus, penuh dengan diamonds
(berlian).
Swami memperlihatkannya dan berkata,
“Inilah ornamen yang dikenakan oleh Sita di
kepala-Nya.”
Para hadirin terkejut dan mulai
mengamati permata tersebut.
Swami mematerialisasi buah-buahan
yang belum pernah saya lihat
sebelumnya
Pada hari itu di Kulwant Hall, kursi
Swami terletak di tengah-tengah di antara kedua patung singa.
Di sebelah kiri Beliau duduklah vice chancellor, the
registrar, dan para pengawas ujian – mereka, para
pejabat-pejabat penting. Berdampingan dengan mereka juga duduk
seorang pria bernama Raju, seorang kontraktor &
industriawan perusahaan besar, yaitu Nagarjuna
Builders.
Swami sedang berbincang-bincang
dengan setiap orang dan secara tiba-tiba Beliau memutar-mutar
tangan-Nya dan mematerialisasikan sebiji buah berukuran
seperti ini – atthi pandu, kelihatannya seperti wild
fig (buah ara), forest fig atau berry. Kebetulan saya adalah
seorang sarjana botani, tapi saya merasa malu karena saya
tidak bisa mengidentifikasikan buah yang saya lihat
itu!
Swami bertanya kepadaku, “Buah apakah
ini?”
“Wah, saya tidak tahu,
Swami.”
Swami berkata, “Lho, kau ini seorang
ahli botani – masak tidak tahu?”
“Benar, saya tidak tahu, Swami.”
(tertawa)
Lalu Beliau berkata, “Buah ini tidak
tumbuh di sini. Tidak bisa kau temukan di sini, jadi bagaimana
mungkin kau bisa tahu? Buah ini diambil dari suatu tempat
lain.”
Baguslah. Tapi, bagaimana jikalau
saya juga tidak mampu mengenali buah-buahan yang tumbuh di
sini? Wah, apa yang akan terjadi terhadap prestise-ku – dan di
depan para siswa? (tertawa). Saya akan menjadi kerdil!
But anyway, bagaimana saya bisa menerka-nerka buah-buahan yang
tidak pernah ada di sini dan asalnya dari suatu tempat yang
jauh tak dikenal, atau bahkan mungkin dari pegunungan
Himalaya?
Sambil memegang buah itu, Beliau
membelahnya menjadi dua. Ia memberikan belahan pertama kepada
Raju, sang industriawan. Lalu saya berpikir, “Tentu sisanya
adalah untuk-ku.” (tertawa). Tapi rupanya tidak
demikian, belahan buah yang satunya lagi diberikan oleh Swami
kepada vice chancellor. Beliau meminta mereka segera
memakannya. Maka, merekapun
mencicipinya.
Raju, usahawan itu berkata,
“Swami.”
“Raju, bagaimana rasanya buah
itu?”
“Swami, saya pernah mengunjungi
berbagai pusat ziarah yang tersebar di seluruh India. Saya
juga pernah mencicipi berbagai jenis buah-buahan yang beredar
di seluruh India. Tapi saya belum pernah melihat buah seperti
ini. Saya tidak dapat mengekspresikan rasa
manisnya.”
Ia terus mencoba melukiskannya.
“Rasanya manis dari sini – dari pusar.”
Lebih lanjut, ia terus menerangkan
betapa manisnya buah itu, “Ah, ah! Betapa manisnya! Sangat,
sangat manis,” demikian katanya.
Lalu Swami berkata, “Kalian tidak
bisa menemukan buah ini dimanapun juga. Aku hanya ingin
menunjukkannya kepadamu.”
Tuhan mengekspresikan Keilahian-Nya
melalui cara-cara yang
dikehendaki-Nya
Kemudian Bhagawan berpaling dan mulai
menceritakan sebuah episode. Pernah ada seorang wanita bhakta
tulen bernama Hemireddy Malamma. Ia menikah dengan seorang
pria yang dianggap kurang waras. Banyak orang yang mengira
bahwa si pengantin pria ini gila, tapi sebenarnya, ia adalah
Siva sendiri. Dan Hemireddy Malamma adalah Parvathi.
Kedua-duanya adalah Divine (Ilahi) yang turun mengambil wujud
sebagai manusia. Banyak orang yang mengira bahwa suami wanita
ini adalah seorang lunatic (orang gila), psycho (psikopat),
namun sebenarnya ia adalah Lord Siva.
Sebagaimana para mertua umumnya,
mertua Malamma banyak menimbulkan kesulitan-kesulitan baginya.
Suatu hari, ia meminta menantunya itu untuk mengiling lima
belas kantung jagung. Bayangkan, lima belas kantung dalam
sehari! Biji-biji itu harus digiling di atas mortar
(lumpang/batu) dan sudah harus siap keesokan
paginya.
Keesokan pagi, ketika si ibu mertua
datang, ia terkejut melihat bahwa kelima-belas kantung jagung
itu telah selesai digiling. Mengapa dan gimana koq bisa ya?
Semuanya adalah karena bantuan suami gila Malamma, yang tiada
lain adalah Siva dalam samaran – ia adalah Shankara yang
sedang menyamar.
Bhagawan berkata, “Tuhan
mengekspresikan Keilahian-Nya melalui cara-cara yang dipilih
oleh-Nya, dengan jalan yang disukai-Nya. Seseorang yang engkau
katakan ‘gila’ sebenarnya adalah Tuhan sendiri. Demikianlah
caranya Tuhan memanifestasikan
diri-Nya.”
Bhagawan Dalam Gaya
Berpuitis
Raju adalah seorang penulis. Untuk
memberitahukannya bahwa Tuhan juga ‘seorang’ puitis, maka
Bhagawan mulai berbicara dengan kami dengan gaya poetic.
Beliau berkata, “Bukan hanya kamu saja, Aku juga seorang
penyair.”
Kemudian Ia berkata, “Dekorasi apa
yang nyata bagi sebuah desa? Dekorasi bagi sebuah desa terdiri
atas sekelompok rumah-rumah yang dibangun di sana.” Sebagai
poet, Swami memilih kata-kata khusus – yaitu grama dan
griha. Jadi, griha atau rumah merupakan dekorasi
bagi grama, desa. Puisi-puisi yang dilontarkan oleh
Swami dipenuhi oleh tamsil dan metafora
(kiasan).
Lebih lanjut, Bhagawan berkata,
“Apakah yang dimaksud dengan kecantikan? Dimanakah letak
kecantikan samudera? Keindahannya terletak pada riak-riak
gelombang di permukaannya. Dimanakah keindahan langit?
Gemerlapan bintang-bintanglah yang menambah keindahan langit.
Apa dekorasi yang dimiliki seekor burung merak? Kecantikan
seekor burung merak ditampilkan melalui keindahan dekorasi
bulu-bulunya.
Swami mengarang puisi-puisi dan
memberikan penjelasannya.
Raju berdiri dan menjatuhkan diri di
hadapan kaki Swami, “Swami, what a poet you are (Dikau penyair
yang hebat sekali)!”
“Ah, good, it’s allright. Duduklah.”
(tertawa)
Beliau mendemonstrasikan Keilahiannya
secara gamblang. Beliau adalah dokternya para dokter ketika Ia
sedang bersama-sama dengan para dokter. Beliau adalah
Insinyurnya para insinyur bilamana para insinyur sedang duduk
mengelilingi-Nya. Beliau adalah seorang sarjana dan penulis
ketika Ia sedang bersama-sama dengan para penulis dan sarjana.
Sungguh Beliau laksana berlian yang memiliki begitu banyak
segi.
Pasien itu baik-baik
saja
Dan kemudian tiba-tiba Swami menatap
seorang dokter yang bekerja di Super Specialty Hospital.
Beliau bertanya, “Dokter, apa yang terjadi pada pasien
itu?”
Dokter itu berkata, “Swami, dia
baik-baik saja.”
Well, saya merasa penasaran untuk
mengetahui detil-detilnya.
“Swami, apa yang menarik tentang ini?
Biarkanlah semua orang juga
mengikutinya.”
Lalu Swami berkata, “Ada seorang
pasien yang dimasukkan ke rumah sakit kita. Ia mengalami
gangguan jantung dan paru-parunya juga ada masalah. Tambahan
pula, ia juga menderita kanker – sejenis kanker usus. Pasien
komplikasi seperti ini telah ditolak oleh banyak dokter-dokter
lain.”
Wajar saja, siapa sih yang mau ambil
resiko?
Dokter-dokter kita berkata, “Swami,
pasien ini tidak akan bisa selamat. Lebih baik kita meminta
dia pulang saja dan biarkanlah ia meninggal dengan
damai.”
Swami berkata, “Nothing doing (tidak
boleh)! Masukkan dia ke rumah sakit. Berikanlah dia
perawatan.”
Jadi, para dokter tidak punya
pilihan. Mereka harus mengoperasinya. Dibutuhkan waktu delapan
jam untuk operasi itu. Bhagawan duduk saja di sana, sampai
operasinya selesai. Swami lalu menanyakan kondisi pasien itu
pada sore harinya.
Maka terdengarlah jawaban dokter itu,
“Swami, dia sudah baikan.”
Inilah satu contoh kasus dimana
pasien berhasil disembuhkan, walaupun para dokter sudah angkat
tangan! Yang bekerja tidak lain adalah tangan Bhagawan Baba
sendiri.
Lalu Swami membuat suatu pernyataan
yang harus kita ingat: “Bilamana terdapat Tuhan, maka
kemenangan pasti ada di sana – kesuksesan pasti akan
menyertai, itu saja! Jadi, janganlah engkau menolak memberikan
pengobatan kepada para pasien.”
Statement ini mengandung makna bahwa
Baba adalah Tuhan. Pertama, Ia mengatakan, “Bilamana terdapat
Tuhan, maka di sana pasti terdapat kesuksesan.” Dan kedua,
Beliau mengatakan, “Engkau tidak boleh menolak pasien manapun
juga.” Kedua statement ini merupakan pengungkapan bahwa
Bhagawan Baba adalah Tuhan!
Seorang Sarjana mengalami
Depresi
Kemudian Swami mulai menceritakan
sebuah kisah pendek. Terdapat seorang sarjana (kaum terpelajar) yang
sangat miskin. Ia bahkan tidak sanggup makan sekali per hari.
Ia tidak bisa merawat keluarganya. Sementara ia menjalani
kehidupannya yang miskin, setiap hari ia tetap memberikan
wacana tentang Bhagavad Gita di dalam sebuah
kuil.
Ia merasa marah terhadap kehidupannya
yang miskin itu. Kadang kala ia mengalami depresi berat – hal
ini wajar, sebab kita semuanya kan manusia biasa. Sering kali
kita juga merasa frustasi. Pada saat-saat tertentu, kehidupan
ini terasa mengecewakan. Oleh karena sekarang kita tinggal di
Prashanti, maka kita bisa terlepas dari semua penderitaan itu
secara lebih cepat. Kalau saja kita berada di kota
masing-masing, mungkin saja kita membutuhkan bantuan seorang
psikiater!
Nah, si sarjana ini sangat, sangat
miskin, sangat tertekan dan frustasi. Ada satu sloka di
dalam Gita yang berbunyi:
Ananyas Chintayanto
Mam,
Ye Janah
Paryupasate,
Tesam Nityabhi
Yuktanam,
Yoga Kshemam
Vahamyaham
Itulah bunyi teks dari sloka
tersebut, yang artinya adalah:
Siapapun juga yang ingat kepada-Ku
dengan keyakinan teguh,
Niscaya ia akan
sukses.
Merupakan tugas-Ku untuk
memperhatikan kesejahteraanmu.
“Aku selalu ingat kepada-Mu dan
membicarakan tentang-Mu, tapi tetap saja aku masih miskin.
Engkau berjanji akan memperhatikanku, tapi ternyata Engkau
sama sekali tidak mempedulikanku,” demikianlah keluh sang
scholar tadi.
Ia mengeluarkan sloka itu dan
merobeknya menjadi berkeping-keping – bukan hanya itu saja, ia
mengambil pisau silet dan digoreskannya di atas Gita tersebut
dengan penuh dendam. Dan kemudian, oleh karena hari sudah
siang, ia pergi tidur sejenak atau
siesta.
Ia Melukai Punggung
Kami
Pada saat itu, rumahnya kedatangan
dua orang anak laki-laki – salah satunya berperawakan sedang,
dan yang satunya lagi kulitnya sedikit
kehitam-hitaman.
Istri sarjana tadi menerima mereka
dan berkata, “Boys, apa yang kalian
mau?”
Anak-anak itu berkata, “Amma, kami
datang ke sini untuk menyerahkan dua karung beras. Kami
disuruh untuk mengantarkan kedua karung beras ini ke sini.
Jadi, perkenankalah kami meletakkannya.”
Mereka meletakkan kedua kantong beras
dan mengeluh kepada isteri scholar tersebut, “Lihatlah ibu,
suami anda bukanlah orang yang baik.”
“What?!”
“Ia telah melukai punggung kami
dengan pisau silet. Lihat? Sedang berdarah.
Lihatlah!”
Wanita itu berkata, “No, no, no,
suamiku bukanlah orang seperti itu. Ia adalah seorang
penceramah. Ia memberikan wacana tentang Gita. Ia anti
kekerasan. Ia tak mungkin akan melukai siapapun juga dengan
pisau silet. Ia tak mungkin
melakukannya.”
“Tidak ibu, justru suamimulah yang
melakukannya.”
Setelah itu, kedua anak itupun pergi.
Sang scholar, setelah tertidur nyenyak, ia bangun dan melihat
kedua kantung beras tadi. Ia memanggil
isterinya.
Sang isteri berkata, “Kelihatannya
ada dua anak yang diminta untuk menyerahkan kedua kantung
beras ini. Jadi, mereka meletakkannya di
sini.”
“Oh-ho, good! Siapakah kedua anak
itu?”
Isterinya menjawab, “Mengapa pula kau
bertanya kepadaku? Merekalah kedua anak yang kau lukai dengan
pisau siletmu.”
“Hah, aku? Melukai mereka dengan
pisau silet? Aku tak pernah melakukannya! Aku tak mungkin
melakukannya.”
Lalu scholar itu bertanya lagi,
“Bagaimana tampang mereka? Sekitar umur
berapa?”
Isteri menjawab, “Dua anak muda –
salah satunya berperawakan sedang dan satunya lagi dengan
kulit kehitam-hitaman.”
Lalu, scholar itu mulai mengerti.
Yang berkulit kehitam-hitaman adalah Krishna. Sedangkan yang
berperawakan sedang adalah saudaranya, Balarama. Mereka tak
lain adalah Krishna dan Balarama!
Lalu, langsung saja, ia menjatuhkan
diri kehadapan kaki isterinya dan berkata, “Engkau sungguh
sangat beruntung! Engkau telah melihat Krishna dan Balarama.
Aku tak bisa melihat-Nya, bahkan setelah sekian tahun
membicarakan tentang Gita. Kau sungguh sangat
lucky!”
Bhagawan menceritakan kisah ini
kepada kami dan berkata, “Bagi mereka yang mencari
perlindungan di kaki Tuhan, maka ia tak akan dilupakan begitu
saja di dunia ini. Mereka tidak akan menjadi miskin, sebab
Tuhan pasti akan menjaganya asalkan mereka telah menyerahkan
dirinya secara total kepada-Nya.”
Vibishana Jauh Lebih Agung daripada
Bheeshma
Selanjutnya Bhagawan menyinggung
tentang dua sosok karakter, yaitu: satunya dari ceritera
Mahabharata, yakni Bheeshma, dan satunya lagi dari Ramayana,
yakni: Vibhishana.
Swami berkata, “Vibhishana dari
Ramayana jauh lebih agung daripada Bheeshma, tokoh dalam
ceritera Mahabharata.”
Kalangan orang India tidak tahu
tentang hal ini dan kaum Hindu tidak mau menerimanya, sebab
Bheeshma dianggap sebagai seorang senior. Sedangkan Vibhishana
bukanlah seorang jagoan panah ataupun ahli dalam tapa-brata
maupun dalam hal kebijaksanaan. Vibhishana hanyalah seorang
saudara Ravana, seorang penduduk biasa dari negeri Lanka;
sementara itu, Bheeshmacharya adalah seseorang yang sangat
terkenal.
Baba berkata, “Vibhishana jauh lebih
agung daripada Bheeshma.”
Tapi siapa sih yang mau menerima
pendapat ini?
Swami menambahkan dimensi lain:
“Walaupun Bheeshma adalah sosok manusia yang terkenal,
terpelajar, jagoan dalam hal panahan dan tapa-brata. Namun
tetap saja, ia masih di bawah Vibhishana, sosok manusia
sederhana dan biasa.”
Mengapa begitu? Sebab ketika
Vibhishana tahu bahwa saudaranya Ravana telah berbuat salah,
maka ia langsung mengkonfrontir saudaranya itu: “Engkau
seharusnya tidak boleh melakukan ini. Brother, kau tidak boleh
menculik isteri orang lain. Tindakanmu ini salah. Jikalau
orang lain berlaku sama terhadapmu, apakah engkau tidak akan
merasa sedih juga?”
Vibhishana terang-terangan melawan
Ravana. Ia ingin memberinya pelajaran. Tapi saudara tertuanya,
Ravana, menolak untuk mendengar. Maka, Vibhishana meninggalkan
Ravana dan menyerahkan diri kepada Rama.
Tapi lain halnya dengan Bheeshma,
walaupun ia adalah seorang yang terpelajar, tapi ia tetap saja
mau bergaul dengan Kauravas, manusia-manusia brutal itu. Ia
tidak pernah mau meninggalkan mereka. Jadi, walaupun engkau
boleh-boleh saja termasuk seorang bijak, berumur, terpelajar
ataupun ahli, tapi jikalau engkau tetap bekerja-sama dan
mendukung mereka yang jahat, maka semua kepiawaianmu itu tidak
ada artinya sama sekali. Sebaliknya, walaupun engkau
sederhana, rendah hati, orang awam; namun jikalau engkau
bersedia meninggalkan sanak keluargamu yang jahat dan
menyerahkan diri kepada Tuhan, maka engkau justru lebih agung
daripada manusia manapun juga di dunia ini. Itulah yang
dikatakan oleh Bhagawan.
Beliau memberi contoh lain menyangkut
kehidupan Prahlada dalam ceritera Maha Bhagavatha. Prahlada
berbeda pendapat dengan ayahnya. Oleh sebab itu, sang ayah,
Hiranyakasipu, hendak menguji Prahlada dengan memberinya
racun; ia juga memerintahkan gajah-gajah untuk menginjak
badannya; kemudian disiksa dengan dibakar – tapi tak ada
satupun luka yang dialami oleh Prahlada. Ia bisa bertahan
terhadap semua cobaan itu.
King Kong menyadari
kesalahannya
Swami memberikan contoh lain. Saya
minta agar anda mendengarkannya dengan seksama sebab ada
sesuatu ajaran yang bisa kita petik dari sini. Anda tentunya
pernah mendengar tentang King Kong bukan? (tertawa) Ya!
King Kong, sosok bertubuh kekar, pegulat – ahhh! Saat anda
menyinggung namanya, langsung saja terbayang sosoknya. Nah, si
King Kong ini punya badan yang tinggi tegap, seperti gunung
besar, otot dimana-mana. Ia selalu berolah-raga pagi untuk
menjaga badannya. (tertawa)
Suatu hari, ketika dia sedang
melakukan latihan fisik, ada seorang gadis yang melewatinya di
jalan. Gadis ini melihat mahluk aneh ini, yang bentuknya
seperti gunung dengan semua otot-ototnya. Ia tertawa sebab
King Kong hanya mengenakan celana pendeknya.
(tertawa)
Saat gadis itu tertawa, si King Kong
menjadi sangat marah dan berkata, “Hey, kau ketawain aku
ya?!”
Ia sudah bersiap-siap melontarkan
beberapa pukulan. (tertawa). Gadis itu semakin tertawa
terbahak-bahak.
Lalu King Kong berkata, “Mengapa kau
tertawa terus?!”
Dan gadis itu menjawab, “Sir, anda
mempunyai begitu banyak tenaga. Mengapa anda tidak bisa
mengendalikan emosi? Badanmu ini sia-sia saja oleh karena anda
tidak bisa mengendalikan kemarahanmu. Lagi pula, bila seorang
gadis cilik mentertawaimu, apa sih ruginya bagimu? Anda toh
tidak kehilangan dua pon daging bukan? Jadi, mengapa anda
begitu marah?” Lalu King Kong menyadari
kesalahannya.
Dengan ilustrasi ini, Baba berkata,
“Boys, tidak cukup bila engkau hanya sehat secara fisik saja.
Juga tidak cukup bila engkau hanya sehat secara mental. Yang
lebih penting adalah bahwa engkau juga harus bisa
mengendalikan dirimu sendiri. Yang terpenting adalah bahwa
engkau harus mempunyai keseimbangan
batin.”
Kemudian Swami berpaling kepada
warden dan berkata, “Look here warden, jagalah baik-baik
anak-anak kita. Pastikanlah mereka belajar dengan baik.
Pastikan juga mereka sehat-sehat dan kuat. Bila anak-anak-Ku
happy, maka Aku juga happy.”
Lebih lanjut, Swami berkata kepada
para wardens, “Institusi kita bukanlah untuk bisnis atau untuk
profit-making, no, no, no, no! Jangan bandingkan institusi
kita dengan institusi lain. Kita sangat berbeda. Aku tak mau
kalian mengejar-ngejar keuntungan. Aku tak mau kalian
menjadikannya sebagai ajang bisnis. Aku menghendaki kalian
agar memastikan bahwa anak-anak kita menjadi kuat dan sehat –
itulah yang paling penting. Para siswa-siswa kita harus lebih
banyak mempelajari tentang values (nilai-nilai kemanusiaan)
daripada sekedar bookish education (pendidikan yang bookish –
dari buku saja). Untuk maksud & tujuan itulah,
Aku telah mendirikan institusi-institusi
ini.”
Aku tahu
segala-galanya
Tiba-tiba seorang pria, professor,
berdiri dan mengatakan sesuatu kepada Swami. “Swami, ini
terjadi; Swami, itu terjadi.” Ia memberitahukan Swami tentang
sesuatu hal yang telah terjadi.
Swami langsung melihat semuanya dan
berkata, “Aku tahu. Mengapa kau memberitahukannya kepada-Ku?
Dimanakah Aku? Dimanakah Aku? Aku tahu
segala-galanya.”
Lalu saya berkata kepada diri
sendiri, ‘Bagaimana Engkau bisa tahu?’ (tertawa) Saya tak berani buka
mulut, karena saya tahu itu terlalu
beresiko.
Lalu, tanpa perlu ditanyai, Baba
berkata, “Siapa sih yang mengajari ikan berenang?
(tertawa) Tak perlu memberitahu-Ku ataupun
mengajari-Ku. Aku tahu segala-galanya,” demikian kata Beliau,
“I know everything!”
Walaupun tidak perlu ditanya, semua
keragu-raguanku segera terjawab dengan
manis.
Itu saja – saya kira saya telah
mencakup segala-galanya. Kita lanjutkan saja pada session
berikutnya, okay?