Satsang Anil Kumar Tanggal 4 Desember 2002

 Percakapan Baba dengan Para Siswa

 

OM… OM… OM…

 

Sai Ram

 

With Pranams at the Lotus Feet of Bhagawan

 

Dear Brothers and Sisters!

 

Bulan Juli 2002

 Bengkak di Pipi Swami

 

Sekarang marilah kita melanjutkan ke percakapan Bhagawan selama bulan Juli. Well, tentunya anda sudah tahu, bahwa pada saat Guru Purnima, kita semua melihat bahwa telah terjadi pembengkakan di pipi kanan Swami. Kebanyakan dari anda pasti melihatnya. Beliau memberikan penjelasan berkaitan dengan bengkak tersebut di bagian akhir dari discourse-Nya (di saat perayaan Guru Purnima). Bengkak tersebut terlihat sangat parah – begitu merah – dan kita tidak tahu bagaimana Swami bisa mengatasinya.

 

Kami bertanya kepada Bhagawan, “Apa ini? Mengapa harus terjadi? Apa yang dapat kita pelajari dari pengalaman ini? Melihat bengkak itu saja kita sudah merasa ngeri. Bagaimanakah Swami bisa mengatasinya?”

 

Bhagawan menjawab, “Semua dokter akan mengatakan bahwa rasa sakitnya pasti luar biasa. Sakit yang tak tertahankan. Ia akan bercokol selama 21 hari dan apabila semakin bertambah serius, maka ia juga akan mempengaruhi otakmu.”

 

Tingkat keseriusan problem yang sedang dialami Swami benar-benar sangat gawat sampai-sampai kami semuanya tidak tahan untuk melihatnya. Tetapi walaupun sedang mengalami pembengkakan dan sakit yang luar biasa, Bhagawan masih saja memberikan empat hingga lima discourses (wacana). Mengapa bisa begitu? Saya tahu persis bahwa suatu kali, Beliau tidak bisa membuka mulut-Nya secara penuh, hanya sebesar ini saja (Anil Kumar mendemonstrasikannya dengan cara membuka mulutnya sedikit saja). Beliau juga tidak bisa makan. Sebegitu besarnya derajat pembengkakan tersebut.

 

Maka kami-pun bertanya, “Bhagawan, mengapa Engkau tidak menyembuhkan diri-Mu saja dari semua rasa sakit dan bengkak ini? Mengapa Engkau tidak mau menyembuhkan diri-Mu sendiri?”

 

Bhagawan menjawab, “Aku tidak akan pernah menyembuhkan diri-Ku. Aku akan menyembuhkan persoalan/penyakitmu. Tetapi Aku tidak menyembuhkan persoalan-Ku sendiri. Namun, sebagai tanggapan atas doa-doamu, sebagai jawaban terhadap permohonan serta harapanmu, maka Aku akan menyembuhkan diri-Ku; tetapi hal itu baru akan Ku-lakukan setelah doa-doamu dipanjatkan.” Demikianlah yang dikatakan oleh Bhagawan.

 

“Apakah Engkau tidak merasakan sakit Swami? Tidakkah sakit bagi-Mu?”

 

Jawaban Bhagawan sangatlah penting. Beliau berkata, “Aku tidak menganggap diri-Ku semata-mata hanya badan jasmani ini saja. Aku bukanlah badan ini. Oleh sebab itu, Aku tidak menganggap bengkak atau komplaint apapun juga dari badan ini - sebagai sesuatu yang serius amat. Pembengkakan ini tidak menjadi sumber penderitaan bagi-Ku karena Aku tidak mengidentifikasikan diri-Ku dengan badan jasmani ini. Pahamkah engkau? Aku bukanlah badan ini. Oleh karenanya, Aku sama sekali tidak merasakan sakit.”

 

Dalam hal ini, saya ingin membawa perhatian anda terhadap satu atau dua point yang disinggung dalam kitab Bhagavad Githa. Di dalam kitab tersebut telah dinyatakan secara jelas: “God is blemishless (Tuhan tidak memiliki cacat/noda), Tuhan tidak memiliki atribut-atribut, dan tidak ada sakit dalam bentuk apapun juga. Tuhan hadir di dalam badan (jasmani), tetapi badan tidak ada di dalam Tuhan. Semua atribut berfungsi atau beroperasi disebabkan oleh karena kehadiran Tuhan di dalamnya. Namun semua atribut-atribut tersebut tidak ada di dalam Tuhan.”

 

Sungguh luar-biasa sekali bila kita mengamati bagaimana Swami bisa melaksanakan aktivitas harian-Nya, bagaimana Beliau mondar-mandir di sekitar auditorium, berbicara dengan para anggota delegasi yang menghadiri konferensi dan tanpa mengkonsumsi makanan apapun juga! Kami seakan-akan tidak bisa percaya. Itulah rahasia Keilahian Beliau.

 

Saya juga ingin berbagi dengan anda satu point penting lainnya. Selang beberapa hari kemudian, terlihat bahwa pipi Swami sudah tidak bengkak lagi. Segalanya normal dan perfect kembali. Entah bagaimana, saya memberanikan diri bertanya kepada Swami: “Swami, are You OK now? Saya tidak melihat bengkak itu lagi. Very good, Swami! We are happy!”

 

Tahukah anda apa yang dikatakan oleh Baba? “Anil Kumar, lihatlah. Dari bengkak yang kecil, secara perlahan-lahan ia bertambah besar hingga mencapai ukuran buah jeruk. Sebesar itu lo! Secara perlahan-lahan, seiring dengan bertambahnya ukuran bengkak itu, rasa sakitnya juga bertambah. Tetapi lihatlah sekarang, oleh karena bengkaknya telah menyusut dan telah hilang seluruhnya, maka lihatlah – bahkan di pipi ini tidak ada bekas atau jejak sama sekali! Normalnya, bila engkau mengalami luka bakar atau luka sayatan; tentunya luka-luka tersebut akan meninggalkan jejaknya walaupun engkau sudah sembuh darinya. Dalam kondisi-Ku ini, walalupun pembengkakan yang terjadi sangat besar, tetapi sekarang setelah sembuh, ternyata ia sama sekali tidak meninggalkan jejaknya.”

 

Inilah Divinity! Inilah Keilahian! Kami semuanya sangat terkejut ketika Bhagawan menjelaskan tentang hal tersebut. Pelajarannya adalah sebagai berikut: bahwa badha (rasa sakit) merupakan bodha (ajaran). Tuhan menderita dalam rangka untuk mengajari kita. Sakit eksternal yang dialami oleh Tuhan merupakan suatu kesempatan guna mengkomunikasikan suatu ajaran kepada para bhakta. Inilah rahasia yang melatar-belakangi semua penderitaan yang dialami oleh Beliau.


Swami Memberkatinya

 

Di bulan Juli, terdapat seorang VIP berusia lanjut yang datang berkunjung kepada Bhagawan. Saya tidak perlu menyebutkan namanya di sini, tetapi pesan yang terkandung dalam peristiwa ini cukup penting. Beliau berusia 83 tahun. Ia berkata, “Swami, berkatilah daku. Sekarang saya berusia 83 tahun. Saya ingin kembali ke kampung halaman-ku. Please bless me.”

 

Swami memberkatinya, menghadiahinya dengan beberapa pakaian/kain baru dan bahkan juga sejumlah uang untuk mengganti ongkos jahitnya (tertawa). Swami juga memberikan saris baru untuk isterinya. Lebih lanjut Swami membicarakan tentang pria ini kepada semuanya yang hadir.

 

Kemudian di hari yang sama, seorang pria  lain berkata, “Swami, saya akan segera merayakan ulang-tahunku yang ke-60.”

 

“Oh, I see.”

 

Pria tersebut juga seorang VIP. Good! (kita ini semuanya orang penting. Tetapi pria VIP itu kebetulan sedang berada di sana hari itu. Sedangkan kita sebagai important persons sedang dianggap tidak hadir di sana hari itu. Kita hanya dianggap hadir pada saat hari-hari lain!) (tertawa)

 

Selanjutnya pria itu berkata, “Swami, saya baru saja melampaui batas 60 tahun dan ulang-tahunku jatuh di minggu depan.” Orang itu terlihat cukup elegant, active dan berpakaian rapi, dan ia sama sekali tidak terlihat tua.

 

Swami berkata, “Hmm. Ambillah ini.” Beliau memberinya setelan pakaian berwana kecoklatan yang terlihat bagus sekali dan juga uang 3,000 rupees untuk ongkos jahitnya. Swami juga memberinya baju baru lainnya yang cantik.

 

Maka saya-pun mencoba-coba mengambil kesempatan… saya berkata, “Swami, ulang-tahun saya yang ke-60 juga akan segera tiba.” Kemudian Swami berkata, “Ah, masih banyak waktu koq. Don’t worry!” (tertawa)


“Tak Ada Seorangpun yang Tahu Usia-Ku”

 

Dalam konteks ini, Bhagawan membuat suatu pernyataan yang akan menarik perhatianmu. Beliau berkata, “Di sini ada seseorang yang mengatakan bahwa dia telah melampaui batas usia 83 tahun. Sedangkan pria yang satunya lagi mengatakan bahwa ia telah melengkapi usia 60 tahun. Tetapi dapat Ku-katakan kepadamu bahwa tak ada seorangpun yang tahu usia-Ku! No one knows My age!” Bhagawan tidak berkomentar lebih lanjut atas pernyataan-Nya itu.

 

Tetapi saya mulai merenungkan pernyataan Beliau tadi. Dalam salah satu poems (syair) yang dibacakan-Nya, Swami berkata: “Tuhan tidak berawal dan juga tidak berakhir, tak terlahirkan dan juga tak mengalami kematian. Beliau bersifat non-dual. Tuhan adalah eksistensi. Bagi-Nya, tidak ada istilah appearance (muncul) dan disappearance (tenggelam).”

 

Jadi apabila Baba mengatakan, “No one knows My age (tak ada seorangpun yang tahu usia-Ku)”, maka itu mengindikasikan bahwa Beliau tak-terbatas (infinite). Tanggal lahir 23 Nopember hanya merujuk kepada usia dari badan jasmani-Nya, bukan usia Keilahian-Nya. Demikianlah salah satu bentuk penjelasan.

 

Penjelasan yang kedua adalah bahwa Beliau sekarang (tahun 2002) berusia 77 tahun. Walaupun begitu, dalam inkarnasi sebelumnya, Beliau telah datang sebagai Shirdi; dan pada zaman sebelumnya, Beliau juga telah datang sebagai Krishna dan Rama. Jadi, siapakah yang bisa memberitahu usia Beliau yang sebenarnya? Beliau telah memanifestasikan diri dari waktu ke waktu, dari zaman ke zaman, sebagai jawaban terhadap doa-doa serta disesuaikan dengan program yang dirancang khusus untuk menegakkan kembali Kedamaian, Cinta-Kasih, Kebenaran dan Kebajikan. Jadi, dalam wujud Sathya Sai, dalam badan yang sekarang ini, kita bisa tahu usia jasmani-Nya. Namun kita tak bisa mengatakan secara persis usia-Nya yang sebenarnya disebabkan oleh karena Beliau telah mengambil begitu banyak wujud/rupa dari waktu ke waktu.

 

Oleh sebab itu, apa yang dikatakan oleh Bhagawan adalah benar adanya, yaitu bila Beliau berkata, “Tak ada seorangpun yang tahu tanggal pasti dari kelahiran-Ku.” Hal ini disebabkan karena Beliau memang tidak pernah dilahirkan! Lebih jauh lagi saya juga dapat mengatakan, “Bhagawan tidak pernah terlahir dan juga Beliau tidak akan pernah meninggalkan kita.”

 

Daripada kita bersusah-payah mencari tahu usia-Nya, lebih baik kita memiliki pandangan sebagai berikut: Bhagawan adalah seorang pengunjung/tamu kosmik. Beliau hadir di bumi ini sebagai tamu, yang tidak mempunyai awal dan juga tidak memiliki akhir. Pernyataan Beliau yang mengatakan bahwa tak ada seorangpun yang mengetahui tanggal lahirnya merupakan salah satu jalan secara tidak langsung untuk mengkomunikasikan Divinity-Nya kepada kita semua.


“Jangan Boros!”

 

Sore hari itu, Swami mulai membaca surat di hadapan kami. Beliau membuka sebuah amplop dan mengeluarkan surat di dalamnya. Seorang siswa ternyata hanya menuliskan dua baris kalimat pada selembar kertas-putih yang panjang. Hanya dua baris kalimat di atasnya, selebihnya blank (kosong)! Apa yang dikatakan oleh Baba?

 

Swami merobek surat itu dan memberikan bagian yang masih kosong kepada siswa lain sembari berkata, “Coba kau gunakan ini, Aku tak ingin kalian memboroskan apapun juga, bahkan termasuk selembar kertas putih ini.” Lebih lanjut Baba berkata, “Jangan menyia-nyiakan makanan, sebab makanan adalah Tuhan (Food is God). Jangan membuang-buang waktu; waktu yang terbuang percuma berarti kehidupanmu juga terbuang secara percuma, sebab Waktu adalah Tuhan (Time is God). Jangan memboroskan energi, jangan menyia-nyiakan air, dan jangan menghamburkan uang – pemborosan uang adalah kejahatan.” Swami mengajarkan pelajaran-pelajaran berharga ini kepada para siswa yang berkumpul di sore hari itu.

 

Saya masih ingat pada salah satu kunjungan yang dilakukan oleh Bhagawan ke asrama para siswa. Begitu Beliau keluar dari mobil, Ia langsung berkata, “Hey, come here! Di lantai tiga ada seseorang yang lupa mematikan keran-air di kamar mandi. Coba ke sana dan tutuplah keran itu! Setelah dipakai, kalian harus menutup kembali semua keran air. Jangan biarkan air mengalir terbuang secara percuma.” Itulah yang dikatakan oleh Bhagawan.

 

Hal lain yang seharusnya kalian perhatikan adalah ketika Swami memanggilmu untuk interview, terlihat bahwa Bhagawan-lah yang selalu pertama kalinya masuk ke dalam ruangan interview bukan? Setelah kalian semuanya masuk ke dalam dan duduk, maka Beliau akan menyalakan kipas-angin; demikian pula, setelah kalian semuanya keluar, maka Beliau pula yang akan mematikan kipas-angin itu. Mengapa? “Don’t waste enery. Don’t waste electricity (Jangan boros energi, jangan boros listrik).”

 

Bhagawan telah memberikan contoh yang paling baik kepada kita melalui kehidupan-Nya sendiri. Itulah sebabnya Bhagawan mempunyai hak penuh untuk mengatakan, “My life is My message, Kehidupan-Ku adalah pesan-Ku.” Oleh karena Beliau memang tidak pernah memboroskan apapun juga, maka kita juga seyogyanya mengikuti contoh suri-teladan-Nya dan tidak melakukan pemborosan dalam bentuk apapun juga.


Panti Asuhan

 

Pada suatu hari di bulan Juli, Bhagawan mulai berbicara tentang rumah yatim-piatu (panti-asuhan). Tahukah anda, bahwa baru-baru ini terdapat sekitar 61 anak yatim-piatu yang baru saja diadopsi oleh Bhagawan. Beliau memenuhi semua kebutuhan mereka. Bhagawan menyediakan makanan dan pakaian, tempat tinggal serta pendidikan untuk mereka. Di samping itu, Bhagawan juga mendepositokan uang sejumlah 1 lakhs (seratus ribu) rupees atas nama masing-masing anak tersebut. Kelak, setelah mereka menamatkan pendidikannya, maka uang tersebut (berikut dengan bunganya) dapat dimanfaatkan oleh masing-masing anak untuk memulai kehidupannya secara baik.

 

Anda seharusnya melihat tampang anak-anak itu pada saat kedatangan mereka. Momen yang sungguh menyenangkan! Bhagawan memberikan kepada setiap anak satu koper yang cantik & berkualitas. Setiap koper itu telah diisi dengan berbagai macam barang! Di dalamnya ada cup (cangkir), piring, kaca, pasta-gigi, sikat-gigi, pakaian dalam serta setelan lainnya. Pokoknya segala sesuatu yang dibutuhkan oleh seorang siswa terdapat di dalam koper itu! Satu koper untuk setiap orang. Anak-anak itu sangat bergembira ketika membuka kopernya masing-masing, mereka menghitung jumlah barang yang ada di dalamnya, menutupnya, dan kemudian membukanya lagi! (tertawa)

 

Ketika berjalan menyusuri Round Building di saat senja, saya mengintip melalui jendela dan melihat bahwa anak-anak tadi masih saja sangat happy, mereka melihat-lihat koper yang baru saja diberikan oleh Bhagawan kepadanya. Saya selalu ingin share dengan Swami tentang segala hal yang kulihat. Maka saya berkata, “Swami, anak-anak tadi sangat-sangat excited (kegirangan).”

 

“Mengapa? Kau sendiri juga kelihatannya sangat excited!” (tertawa)

 

“Ya, Swami! Saya memang sedang kegirangan juga. Yes.”

 

“Mengapa?”

 

“Sebab bilamana saya melihat para siswa sedang kegirangan, maka secara alamiah, saya juga akan excited.”

 

Beliau bertanya, “Apa yang terjadi sih?”

 

“Swami, anak-anak itu membuka kopernya lagi, memeriksa baju-baju mereka. Setiap anak memperlihatkan barang-barang yang diperolehnya kepada anak lain. Koper mereka terdiri atas beraneka-ragam warna. Sungguh koper yang sangat cantik.”

 

Kemudian Bhagawan berkata, “Eh! Aku memberi mereka masing-masing tiga set pakaian ketika mereka sampai di sini.”

 

“Tiga set? Swami, apakah perlu sebanyak itu?”

 

“Mengapa tidak? Sangat perlu sekali!”

 

“Apa gunanya Swami?”

 

“Satu set untuk dipakai di rumah; satunya lagi untuk mengikuti Nagarsankirtan dan bhajans; dan sisanya untuk dipakai sekolah. Jadi, ada tiga set bukan?”

 

“Oh, Swami, very good!”

 

Aku ingin agar Swami menjelaskan lebih lanjut, “Excellent, Swami.”

 

Bhagawan menambahkan, “ Kelihatannya biaya sebesar dua crores (dua puluh juta?) telah dikeluarkan untuk proyek ini, termasuk sejumlah uang yang didepositokan atas nama masing-masing anak.”

 

“Swami, apakah itu tidak berlebihan? Apakah memang perlu sebanyak itu?”

 

“Ya, sangat perlu sekali!”

 

Dan kemudian Swami membuat suatu pernyataan yang sangat penting untuk semuanya: “Apapun juga yang Ku-katakan, akan Ku lakukan. Apapun juga yang Ku-lakukan, akan Ku katakan. Apapun juga yang Ku-lakukan, dan apapun juga yang Ku-katakan adalah sama adanya. Aku tidak mengatakan satu hal dan kemudian melakukan hal yang lain/berbeda. Aku tidak melakukan sesuatu, dan kemudian mengatakan hal yang berbeda. Tidak! Yang Ku-katakan dan yang Ku-lakukan adalah persis sama. Aku dipenuhi oleh Kebenaran. Itulah jalan hidup-Ku.”

 

Sangat penting sekali bagi kita untuk memahami pernyataan ini, agar terdapat harmonisasi atau unity antara pikiran, ucapan dan perbuatan.


Tiga Ratus Orang Dokter

 

Beberapa hari kemudian, saya melihat Bhagawan sedang membagi-bagikan saris kepada beberapa wanita. Kemudian perlahan-lahan, Beliau berjalan mendekati kami. Lalu saya melihat Bhagawan bercakap-cakap dengan beberapa orang pria. Seperti biasa, saya selalu kepingin tahu siapa saja mereka. Tetapi kali ini saya tidak berani bertanya, “Siapakah mereka, Swami?” Ingat, saya tidak boleh bertanya! Namun Bhagawan melihat wajah-ku seolah-olah sedang memancarkan tanda-tanya besar (tertawa). Maka Bhagawan mulai memberikan klarifikasi:

 

Beliau bertanya, “Apakah kau lihat para wanita di sana?”

 

Saya tidak boleh mengatakan, “Saya melihatnya” sebab saya tidak datang ke sini hanya untuk melihat para wanita. (tertawa) Sebaliknya, saya juga tidak bisa mengatakan, “saya tidak melihatnya” sebab saya memang melihat mereka! (tertawa). Jadi, saya hanya tersenyum saja. (tertawa)

 

Kemudian Bhagawan menambahkan, “Mereka adalah dokter-dokter wanita. Yang pria ada di sisi ini. Aku memberikan pakaian kepada mereka. Ketahuilah, bahwa mereka semuanya adalah dokter-dokter yang telah lulus S-2, ahli bedah, physicians – dokter-dokter top.”

 

Nah, sekaranglah saatnya saya mengajukan informasi tambahan kepada Bhagawan.

 

“Swami, dari manakah asal mereka?”

 

Pertanyaan yang masuk akal – yang tidak ada kaitannya dengan para dokter wanita atau sejenisnya! Ini merupakan pertanyaan yang tidak akan mempermalukan Swami.

 

“Dari manakah asal mereka?”

 

“Mereka berasal dari Madras (Chennai).”

 

“Oh! Swami, Madras? Saya melihat begitu banyak dokter, Swami.”

 

“Banyak? Terdapat 300 orang dokter yang datang khusus dari Madras!”

 

“Oh! 300 orang?”

 

“Ya, 300 orang hadir di sini.”

 

“Swami, mengapa mereka ada di sini?”

 

“Mereka datang dalam tur.”

 

“Sejenis darmawisatakah?” (tertawa)

 

Chi, chi! Bukan darmawisata! (tertawa) No, no! Mereka telah mengunjungi banyak desa-desa dalam perjalanannya, mereka mengadakan medical camps dan akhirnya sampai di sini untuk mendapatkan blessing dari Swami. Setelah melakukan pelayanan di berbagai desa serta mengadakan medical camps di berbagai tempat, mereka akhirnya sampai di sini untuk memperoleh blessing Swami.”

 

“Oh, Swami, I see. Tadinya ku kira bahwa kunjungan mereka hanya sekedar kunjungan akhir pekan.”

 

“No, no! Ini bukan sejenis entertainment (hiburan), no!”

 

“Oh, I see! Swami, apakah ada hal lainnya lagi?”

 

“Ah, yes!”

 

“What?”

 

“Tahukah kamu bahwa mereka semuanya bisa menyanyikan bhajan dengan baik?”

 

“Bagaimana aku bisa tahu? Kapan mereka nyanyi? Para dokter?! – dimana mereka menyanyikan bhajans? Tentunya bukan di dalam ruangan operasi bukan?!”

 

“Mereka menyanyikan bhajans, tentu bukan di medical camp dong. Mereka mengadakan bhajans di sore hari.”

 

“Oh, I see, Swami. Rupanya mereka menyanyikan bhajans juga ya!?”

 

“Dan di samping itu, beberapa diantaranya juga bisa chant Vedas. Mereka melakukan Vedic chanting.”

 

“Apa? Dokter-dokter mengkidungkan Vedas?”

 

“Ya, mereka bisa melakukannya!”

 

Tentunya Swami sudah paham betul bahwa, “Orang ini (si Anil Kumar) kelihatannya tidak bisa percaya begitu saja apa yang telah Ku katakan!” (tertawa) Anda tahu, bahwa kita tidak bisa menyembunyikan apapun juga di hadapan Swami! Langsung saja Swami memanggil salah seorang dokter dari sisi wanita – entah namanya Mrs. Hemadri atau siapa (saya tidak ingat persis namanya). Wanita itu maju ke depan, rupanya dia juga pernah menulis sebuah buku. Ia menghampiri Swami.

 

“Kalian datang dalam rombongan berapa orang?”

 

“300 orang, Swami.”

 

“Apa yang telah kalian kerjakan?”

 

“Medical camps.”

 

“Dimana?”

 

“Di beberapa desa.”

 

Semua jawaban ini merupakan verifikasi terhadap hal-hal yang telah diucapkan oleh Swami kepadaku tadi, seolah-olah kita sedang berada di kantor polisi (tertawa) atau seperti sedang berada di dalam ruangan pengadilan! Jadi, Swami membiarkan dokter wanita itu yang mengulanginya lagi.

 

Swami berkata, “Oh, apakah hanya medical camps?”

 

“Tidak Swami, kami juga mengadakan bhajans.”

 

“Oh, bhajans juga?” (tertawa)

 

Swami mulai menatapku secara sarcastically (sindiran tajam). (tertawa)

 

“Ah, kalian semuanya bernyanyi?”

 

“Swami, bahkan ada beberapa di antara kami yang bisa melakukan Vedic chanting juga.” (tertawa)

 

Selanjutnya Bhagawan berkata, “Akhir-akhir ini, orang-orang (khususnya para dokter) menganggap bahwa money is God. Pengorbanan seperti ini – yaitu mengadakan medical camps dan menyanyikan bhajans untuk semuanya – hanya mungkin terjadi di dalam Organisasi Sathya Sai. Hanya Sai bhakta sajalah yang bisa melakukan hal itu. Tak ada orang lain yang bisa melakukannya.”

 

Oleh sebab itu, inilah contoh yang paling baik bagi semua orang untuk diikuti serta dipelajari oleh diri kita masing-masing.


Agustus 2002

 

Diperiksa di Super Specialty Hospital

 

Di bulan Agustus 2002, saya pergi ke Super Specialty Hospital untuk check-up. Dokter di sana mengatakan, “Anil Kumar, sebaiknya anda check-up.” Saya memiliki sedikit masalah (sakit) di tulang sendi. Mereka mengatakan bahwa ada kemungkinan saya menderita sejenis encok. Jadi, dokter-dokter di sana menyarankan, “Anda sebaiknya datang dan diperiksa di Super Specialty Hospital.”

 

Well, maka pergilah saya ke hospital dan berkunjung ke sana untuk pertama kalinya sebagai seorang pasien. Tentu saja saya telah pernah berkunjung ke sana ketika hari peresmian, ketika menterjemahkan wacana Swami, tapi sejak saat itu saya tak pernah ke sana lagi. Mengapa? Sebab saya takut rumah-sakit. Saya takut terhadap para dokter. Saya tidak suka berkonsultasi dengan para dokter sebab saya akan teringat terhadap penyakit-penyakitku yang sebenarnya tidak ada! (tertawa) Lagipula, saya tidak mau melihat para pasien yang sedang menderita. Bila tidak diperlukan, mengapa saya harus menyiksa diri sendiri? Jadi saya tidak lazim berkunjung ke rumah sakit. Tetapi kali ini saya harus pergi karena mereka telah memintaku datang untuk diadakan check-up.

 

Well, pada sore harinya, Bhagawan bertanya, “Mengapa kau pergi juga?”

 

“Kemana Swami?” (tertawa)

 

“Hey! Tadi kau kemana?”

 

“Swami, saya pergi ke college (sekolah). Saya kan masih kerja di situ.”

 

“No, no! After, after (setelah itu, setelah itu)!”

 

Sebelum ke hospital, saya masih sempat mengajar dulu. Jadi Swami bertanya, “After, after?”

 

“Swami, saya pergi ke hospital.” (tertawa)

 

Kemudian Swami berkata, “Ah, apa yang terjadi?”


  

Istana Buckingham!

 

Saya berpikir bahwa sekaranglah saatnya bagiku untuk memberitahu kepada Bhagawan betapa cantiknya rumah sakit itu! (tertawa) “Swami, kondisiku tidaklah terlalu parah. Saya sehat-sehat saja. Persoalanku hanyalah terletak pada rasa sakit yang kurasakan di tumit kakiku. Oleh karena para dokter memintaku untuk check-up, maka saya pergi ke hospital. Wah, bangunannya, kubahnya, halamannya, bunga-bunga dan tamannya yang indah – betul-betul tidak terlihat seperti layaknya sebuah rumah-sakit!”

 

“Kalau bukan hospital, lalu apa?” demikian tanya Bhagawan.

 

“Seperti istana Buckingham! (tertawa) Saya merasa bahwa diriku seolah-olah sedang menghadiri resepsi pernikahan. Sangat indah sekali. Di sana saya bertemu dengan para pasien serta penjaganya yang terlihat ceriah. Saya tidak melihat adanya antrian panjang, wajah-wajah serius yang mencerminkan kondisi-kondisi kritis dari para pasien. Semuanya baik-baik saja dan merekapun tertawa-tawa. Jadi, saya merasa seolah-olah sedang menghadiri pesta pernikahan, dan tidak sedang berada di rumah-sakit.”

 

Dan selanjutnya, persis di pintu masuk, saya melihat sebuah patung Vigneshvara atau Vinayaka. Well, saya melakukan namaskaar. Persis di bawah kubah terdapat patung Vinayaka yang begitu cantik. Saya belum pernah melihat yang seperti ini dimanapun juga, Swami – tidak pernah!”

 

“Why?” demikian tanya Bhagawan.

 

“Sebab ukurannya begitu besar dan warnanya gelap. Patung tersebut terbuat dari granite yang telah dipolish sampai berkilau – betul-betul patung yang sangat cantik sekali Swami.” Dan saya melanjutkan, “Di bawah kubah, di bagian tengahnya, terdapat foto Swami yang besar, sangat cantik sekali, mungkin ukurannya sebesar enam hingga delapan kaki – sungguh koleksi gambar-gambar Swami yang sangat bagus.”

 

“Oh ho! Apakah ini pertama kalinya engkau berada di situ?”

 

“Ya, Swami, pertama kalinya! Saya juga berdoa semoga inilah terakhir kalinya saya berada di sana (tertawa), sebab saya tidak mau ke sana lagi sebagai seorang pesakitan.”

 

Swami tertawa dan berkata, “All right! Setelah itu kamu kemana lagi?”

 

“Swami, saya menyusuri sepanjang koridor. Lantainya, nuansa warna lantai sangat match (cocok) dengan warna dinding – ah, sungguh menawan! Lantainya begitu mengkilap sampai-sampai saya bisa melihat pantulan diriku di atasnya. Sedemikian bersihnya, sehingga walaupun kita menumpahkan segelas susu di atas lantai itu, kita masih bisa mengumpulkannya lagi dan dituang kembali ke dalam gelas itu!”

 

Swami berkata, “Oh, kau menyukainya?” Bhagawan sangat senang sekali sebab semuanya itu adalah hasil kreasi-Nya sendiri. Maka Beliau bertanya lagi, “Ah, kau menyukainya?”

 

“Yes, Swami! Bukan hanya itu. Saya juga tidak meliihat adanya bercak/noda di sepanjang dinding. Permukaannya sangat bersih. Lantainya sangat bersih. Saya sangat happy. Bahkan tidak ada sehelai rumput atau sepotong kertaspun di atas permukaan lantai. Sungguh bersih sekali, Swami.”

 

Kemudian saya menambahkan, “Swami, saya juga melihat adanya papan hitam di depan setiap ruangan dokter dan di depan ruangan operasi yang ditulis dengan huruf-huruf berwarna emas. Benar-benar kombinasi warna yang cantik sekali – lantainya berwarna keabu-abuan, dinding berwarna biscuit, dan papan nama berwarna latar hitam dengan tulisan berwarna emas. Jadi, hospital itu benar-benar sangat colourful. It is so nice, Swami.”


“Apa yang Kau lakukan Di sana?”

 

“Oh, I see! Jadi kau suka? Lalu apa yang kau lakukan di situ? Tolong kasih tahu. Apakah you hanya sekedar melihat-lihat lantai di sana?” (tertawa)

 

“Oh, tentu tidak, Swami! Saya juga pergi ke laboratorium biochemistry.”

 

“Di sana kamu ngapain?”

 

“Darah saya diperiksa di sana.”

 

“Oh, I see. Lalu apa yang terjadi?”

 

Biasanya laboratorium biochemistry selalu punya bau khas larutan obat dalam alkohol (tincture), Dettol dan benda-benda asing lainnya yang horrible (mengerikan). Anda akan merasa benar-benar sakit bila sedang berada di dalam laboratorium demikian. Walaupun sebenarnya kita ini sehat-sehat saja, tapi sekali berada di dalam lab itu kita akan jatuh sakit! Demikianlah umumnya kondisi biochemistry lab yang kita jumpai selama ini.

 

“Oh, I see! Lalu bagaimana kondisi lab rumah sakit kita?” demikian Swami bertanya.

 

“Wah, lab kita sama sekali tidak berbau!”

 

“Oh, I see.”

 

“Saya tidak melihat adanya perban yang ditinggalkan di atas lantai. Saya tidak melihat siapapun yang menangis. Dan suster yang sedang training di sana juga melakukan tugas pengambilan sample darah secara baik dan rapih. Tadinya saya merasa takut ketika dia menarik tangan saya (Anil Kumar mendemonstrasikan apa yang terjadi) dan mengangkat jarumnya sedemikian rupa. Tetapi rupanya suster ini melakukannya dengan sangat lembut, dia mengajak saya bicara: ‘How are you, Sir? Kami dengar bahwa anda memberikan ceramah yang sangat bagus sekali.’ ZOOP! Dan proses pengambilan darahpun sudah selesai! (tertawa) Ketika saya hendak menjawab, ternyata dia telah mengambil darahku! Benar-benar dia melakukannya dengan sangat baik. Swami, mereka telah melakukan tugas pelayanan dengan penuh dedikasi. Saya sangat happy mengetahuinya.”

 

“Dan kemudian di luar biochemistry lab, saya melihat sejumlah orang yang sedang duduk di atas bangku. Mereka sedang berada dalam antrian untuk mendapatkan hasil test masing-masing. Tetapi dengan hanya sekilas pandangan, saya tidak bisa membedakan siapa yang menjadi pasien dan siapa yang sedang menunggui; sebab kedua-duanya terlihat sama-sama ceriah dan tersenyum. Jadi, bagaimana bisa membedakannya? Oleh karena itu, dapat ku-katakan bahwa hospital-Mu memang merupakan tempat yang penuh dengan senyuman, kenyamanan dan kesehatan.”

 

“Ah! Kau suka itu?”

 

“Very much, Swami.”

 

“Lalu, setelah itu, kamu kemana lagi?”

 

“Swami, saya pergi ke spesialis tulang.”

 

“Lo, kenapa?”

 

“Karena persoalan utama saya kan di tumit kaki. Dokter di sana berbincang-bincang dengan saya secara ramah & lembut, sampai-sampai saya lupa menyinggung problema yang sedang saya hadapi! (tertawa). Kemudian dokter itu berkata, ‘Mengapa anda sampai datang kemari?’ Swami, peristiwa seperti ini tidak akan terjadi dimanapun juga!

 

“Belakangan saya juga mengetahui bahwa tingkat efisiensi yang sama juga dapat dijumpai di departemen kesehatan jantung dan mata. Orang-orang yang datang kemari merupakan sosok yang sangat berdedikasi untuk melayani-Mu. Saya juga mengetahui bahwa terdapat siswa-sisiwi dari Sri Sathya Sai Institute of Higher Learning yang datang bekerja di Super Specialty Hospital; mereka merupakan siswa-siswi yang berprestasi dengan gelar kesarjanaan yang tinggi, cerdas dan peraih medali emas. Sebagai wujud bhakti (devotion) kepada-Mu, mereka rela bekerja di sini melakukan aktivitas pelayanan. Kejadian seperti ini tidak akan terjadi dimanapun juga. Saya sangat bahagia sekali, Swami.”

 

“Dan bukan hanya itu, Bhagawan, saya juga ingin memberitahu-Mu hal lain: Saya menghendaki agar blood pressure (tekanan darah) saya diperiksa. Itu saja. Saya berpendapat bahwa sebaiknya tekanan darah ini diperiksa sekarang daripada nanti. Jadi, apa yang harus dilakukan? Pergilah saya ke suatu hall yang sangat besar dimana terdapat para pasien jantung. Hall itu sungguh besar sekali dengan lantai berwarna biru tua dan dinding berwarna putih – benar-benar ruangan yang besar sekali! Swami, saya sangat happy melihat bahwa ruangan sebesar itu hanya berisi empat ranjang! Banyak sekali rumah-sakit lain di India yang merombak ruangan sebesar itu menjadi setidaknya enam hingga sepuluh ruangan kecil, dimana di dalam setiap ruangan itu akan diisi dengan dua pasien! Di rumah sakit ini, Bhagawan hanya menaruh empat ranjang! Hall itu sedemikian besarnya, jikalau dikelola oleh rumah-sakit komersial, maka hall itu pasti sudah dibagi-bagi menjadi 6 hingga 8 ruangan tambahan.

 

“Hmm! Jadi kau suka itu juga?”

 

“Very much, Swami!”


“Saya Berbincang-bincang Dengan Seorang Nurse”

 

“Saya juga harus memberitahu-Mu, Swami, satu kejadian lagi.”

 

“Apa itu?”

 

“Saya bercakap-cakap dengan seorang suster.”

 

“Kau bercakap-cakap dengan suster? Apakah kau ke sana hanya untuk bercakap-cakap dengan setiap orang?”

 

“Bukan begitu, saya ingin tahu lebih banyak tentang rumah-sakit-Mu. Jadi, kupanggil seorang suster dan berkata, ‘Look here, sister. Kamu berasal dari mana sebelum datang ke sini?’

 

Dia menjawab, ‘Sir, saya bekerja di Bangalore sebelum datang kemari.’

 

‘Lalu apa lagi yang kau tanyakan?’ tanya Swami.

 

‘Nah inilah pertanyaanku yang kedua, Swami: ‘Mengapa kau tinggalkan pekerjaanmu itu dan datang kemari? Mengapa kau tinggalkan Bangalore? Mengapa kau ada di sini?’”

 

“Dia berkata, ‘Di sini saya melayani Swami secara langsung. Ini merupakan kesempatan berharga untuk melakukan pelayanan dan oleh sebab itulah, saya berada di sini.’”

 

“Pertanyaanku yang ketiga kepadanya adalah sebagai berikut: ‘Apa perbedaan antara pekerjaanmu di Bangalore dan pekerjaanmu yang sekarang di Prashanthi Nilayam?’”

 

Swami, “Ah! Lalu apa katanya? Apa katanya?” (tertawa)

 

“Swami, dia bilang, ‘Pekerjaannya sih sama untuk kedua tempat itu. Keseriusan dan kualitas kerjanya juga sama. Tetapi perbedaannya adalah bahwa dengan bekerja di sini kita tidak merasa lelah/capek. Walaupun kita melakukan banyak kerjaan, tapi kita sama sekali tidak merasa capek. Kita semuanya sangat sehat dan sangat bahagia. Walaupun pekerjaan ini sangat melelahkan, tapi saya sama sekali tidak merasa capek. Saya senantiasa energetic. Itulah perbedaan antara bekerja di sana dan di sini.”


Kekuatan Nagarsankirtan

 

“Dan kemudian saya pergi ke kantin hospital.”

 

“Oh, kau ini memang selalu nomor satu dalam hal makanan!” (tertawa)

 

“Swami, saya percaya bahwa food is God (makanan adalah Tuhan) dan oleh sebab itu, kita harus menghormati makanan! (tertawa) Jadi, pergilah saya ke kantin itu. Di sana saya bertemu dengan seorang tua yang telah berusia 74 tahun dan dia masih bekerja di situ! Saya berkata kepadanya, “Sir, mengapa Bapak masih bekerja di usia senja seperti ini?”

 

“Bapak itu menjawab, ‘Anil Kumar, dengan bekerja di sini, saya menjadi sehat. Di rumah saya justru merasa sakit. Jadi akhirnya ku-putuskan untuk datang ke sini saja.”

 

“Oh, I see. Rupanya inilah rahasia kesehatan – oh good! Sir, apa yang anda kerjakan di sini?”

 

“Ia menjawab, ‘Di sini saya melakukan tiga pekerjaan: pertama adalah mengerjakan pembukuan untuk kantin ini; kedua – memberikan akomodasi kepada para pendamping pasien; dan ketiga – menyimpan semua catatan-catatan (pasien).”

 

“Wah Pak! Di usia 74 tahun ini?! Tak bisa kubayangkan betapa banyaknya pekerjaan yang telah Bapak lakukan sewaktu masih berusia tiga-puluhan atau empat-puluhan – ketika Bapak masih muda! Bagaimana Bapak bisa mampu bekerja di usia tua seperti ini?”

 

“Pria itu menjawab, ‘Begini, Anil Kumar, saya selalu mengikuti Nagarsankirtan setiap pagi hari. Energi yang kuperoleh dari aktivitas Nagarsankirtan itulah yang merupakan sumber kekuatan untuk semua aktivitasku sekarang.’”

 

Terus terang saja, ku beritahu kepada anda, saya sendiri tidak mengikuti Nagarsankirtan disebabkan oleh karena saya harus melakukan persiapan dan harus banyak membaca serta begitu banyak kerjaan – menulis artikel, buku dan terbitan-terbitan lainnya. Jikalau saya mengikuti Nagarsankirtan, maka akibatnya saya akan tertidur di dalam kelas nanti! Semua ‘ajaran-ajaran’ yang diberikan oleh saya akan menimbulkan rasa kantuk kepada semua murid-murid! Ketika orang tua itu mengatakan bahwa energinya diperoleh dari keikut-sertaannya dalam Nagarsankirtan, maka hal itu tentu merupakan suatu fenomena yang sangat menarik untuk didengarkan – the power of Nagarsankirtan!”


Guru Mendampingi Muridnya yang Sakit

 

Dalam salah satu ruangan, saya melihat seorang wanita muda sedang duduk di kursi bersebelahan dengan seorang anak kecil yang sedang berbaring. Oleh karena didorong oleh rasa ingin tahu, saya masuk ke dalam ruangan itu. “Hello boy, apa permasalahanmu?”

 

Anak itu menjawab, “Saya mengalami ‘wheezing’ (?), jadi saya dimasukkan ke sini.”

 

Lalu saya menoleh ke wanita muda itu, “Apakah kalian saling berhubungan (famili)?”

 

Wanita itu menjawab, “Sir, anak ini adalah salah seorang murid di sekolah kami, Sri Sathya Sai Primary School. Saya adalah gurunya, dan sekarang saya sedang bergilir menjaganya.”

 

“Oh, kau sedang menjaganya?”

 

“Ya! Kami guru-guru berjumlah empat orang – saling bergiliran menjaga anak ini.”

 

“Bhagawan, dimana-mana tidak pernah ada seorang guru yang mau mendampingi seorang anak yang sedang sakit. Tidak ada dimanapun juga! Tidak mungkin! Ini semuanya hanya dimungkinkan melalui cinta-kasih yang murni. Walaupun sedang sakit, anak itu tersenyum. Para guru tersebut telah bertindak seolah-olah mereka lebih menyerupai ibu kandung anak itu daripada sekedar hanya sebagai gurunya saja. Belum tentu ibu-kandung anak tersebut akan melayaninya sebesar pelayanan yang diberikan oleh gurunya, ini sungguh luar biasa!”

 

Kemudian beberapa anak gadis datang menghampiriku, “Sir, kami dari kampus Anantapur. Kami juga bekerja di rumah sakit ini.”

 

“I see, good! Apa yang kalian lakukan di kala hari Minggu? Minggu-kan hari libur. Jadi, apa yang kalian lakukan pada hari itu?” Ku kira bahwa mereka tentu akan datang ke Mandir untuk mengikuti bhajans.

 

Tetapi siswi tadi menjawab, ‘Ngakk, pak. Di belakang Super Specialty Hospital ini terdapat sebuah desa kecil bernama Bidupalli.”

 

Rupanya mereka pergi ke sana dan memberikan pelayanan dalam bentuk mengadakan kelas Bal Vikas di situ, yaitu mengajari anak-anak tentang Vedas dan bhajans. Itulah pelayanan yang dilakukan mereka di hari Minggu; setelah menjalani enam hari dalam seminggu dengan jadwal yang padat, yang juga diselingi dengan mengikuti pelajaran di sekolah! Pada hari yang ketujuh, mereka tetap bersemangat memberikan pelayanan sosial. Apakah anda dapat mempercayainya? Apakah hal seperti ini dapat ditemukan di tempat lain? Inilah keistimewaan yang sangat unik yang hanya dimiliki oleh Institusi pendidikan Sri Sathya Sai!

 

“Kemudian, Bhagawan,” saya berkata kepada diri sendiri, “Bhagawan, Engkau memang tiada duanya, tak ada bandingannya  – tak ada seorangpun yang bisa meniru-Mu. Hanya Engkau sajalah yang bisa melakukannya.” Yaitu menginspirasi setiap orang, mendorong setiap orang sedemikian rupa sehingga mereka rela melakukan pelayanan bahkan di saat hari libur, di kala ketika mereka merasa kepingin untuk relax – Engkaulah Tuhan! Tak ada yang perlu diragukan lagi tentang hal ini. Tak ada seorangpun yang bisa melakukan hal seperti itu.”

 

Itulah yang saya katakan kepada diri saya sendiri, dan saya juga share pendapat ini dengan Bhagawan.


 

 

“Aku milikmu”

 

Pada suatu sore hari di bulan Agustus, ketika Swami sedang duduk di kursi-Nya, tiba-tiba Beliau berkata kepada seorang anak, “Berikan surat itu kepada-Ku.” Anak itu mulai berlarian, melintas sangat dekat sekali dengan-ku – sedemikian dekatnya sampai-sampai dia hampir menyentuhku.

 

Bhagawan sangat serius sekali. Ia berkata, “Kalian seharusnya belajar sopan santun. Bila guru-guru kalian sedang duduk di sana, apakah kalian boleh meloncati mereka? Apakah kau boleh berjalan seperti tadi, bersenggolan dengan mereka? Jangan lakukan seperti itu lagi! Institusi kami adalah institusi moral. Engkau harus menghormati guru-gurumu. Engkau harus menghormati orang yang lebih tua darimu. Engkau tidak boleh duduk berdampingan dengan mereka. Ambillah tempat duduk berikutnya. Perilaku seperti tadi tidak diperbolehkan.”

 

Kemudian Bhagawan membuat sebuah pernyataan yang penting. Beliau berkata, “Boys, kalian boleh menyentuh-Ku. Kalian boleh menarik-narik-Ku. Kalian boleh berada sangat dekat dengan-Ku, sebab Aku adalah milik-Mu. Kau adalah milik-Ku. Tetapi kalian tidak boleh bertingkah seperti itu dengan guru-gurumu.”

 

Ini merupakan pernyataan Bhagawan yang sangat cantik, dimana Beliau menyatakan bahwa murid-muridNya adalah milikNya. “Kau boleh mendorongKu, kau boleh menyentuhKu, tetapi terhadap guru dan orang tua, dan di dalam masyarakat, kalian harus selalu memperlihatkan rasa hormat yang sewajarnya. Ketika akan mengikuti darshan, kalian harus datang secara perlahan-lahan dalam barisan yang rapi. Jangan main dorong-mendorong.”


“Seharusnya kau mengajari mereka sopan-santun”

 

Kemudian Swami menatapku secara serius dan berkata, “Kau tidak memberitahukan hal-hal seperti ini kepada mereka. Kaulah yang bertanggung-jawab.”

 

“Ya, Swami, saya tahu.”

 

“Seharusnya kau memberitahu mereka tata-cara & sopan-santun. Kalian – para guru tidak mengajari mereka. Para orang tua juga tidak mendidik mereka di rumah. Jadi, bagaimana mungkin kalian berharap mereka akan tahu tentang hal itu?”

 

“Well, Swami, Engkau ada di sini untuk mengajari mereka.” Itulah yang saya katakan di dalam hati. Inilah hal-hal yang tidak diajarkan oleh para orang-tua dan guru-guru, dan oleh sebab itu, Bhagawan telah mengambil alih tanggung-jawab untuk mengajari mereka.

 

Lalu bagaimana dengan masyarakat luas? Para siswa saling berkompetisi guna mendapatkan nilai dan ranking yang paling bagus. Tetapi mereka tidak saling berkompetisi dalam hal perilaku/sifat terbaik, mereka tidak saling berebutan untuk keluar sebagai murid paling baik dan paling ideal. Nah, kehadiran Sri Sathya Sai educational institutions adalah demi untuk mengajarkan tentang semangat idealisme ini – bagaimana berperilaku yang baik di dalam lingkungan masyarakat. Inilah keunikan institusi tersebut.


Kuliah Marketing

 

Sore hari yang nyaman di bulan Agustus, Swami melihat ke arah para siswa, “Hey, boys! Kalian semuanya mahasiswa MBA bukan?”

 

Memang siswa yang diajak bicara itu adalah para mahasiswa MBA – Master of Business Administration.

 

“You are all MBA boys, right?”

 

“Ya, Swami.”

 

“Oh, I see!”

 

Kemudian Beliau melanjutkan, “Apa pelajaran yang kalian pelajari pagi hari ini di dalam kelas? Apa yang diajarkan kepada kalian?”

 

Siswa-siswa itu menjawab, “Swami, pagi tadi kami mendapatkan kuliah yang sangat bagus tentang marketing.”

 

Dan Swami berkata, “Ah! Marketing ya? Very good! Apa jurusan spesialisasimu?”

 

“Marketing, Swami!”

 

“Dan jurusanmu apa?”

 

“Marketing juga, Swami.”


“Apa yang dimaksud dengan Marketing?”

 

“Oh, I see! Lalu, coba jawab: apa yang dimaksud dengan marketing? Coba sebutkan! Apakah yang dimaksud sebagai marketing?”

 

Walaupun siswa-siswa tadi mengambil jurusan spesialisasi marketing, ternyata tak satupun diantara mereka yang bisa menjawab pertanyaan Bhagawan tentang spesifikasi/definisi dari marketing. (tertawa) Salah seorang menjawab, “Swami, marketing adalah tempat dimana barang-barang diperjual-belikan.”

 

Baba berkata, “Ah, kau salah!”

 

Kemudian siswa yang lain mencoba menjawab, “Marketing mempunyai tiga komponen – produksi, distribusi dan penjualan. Ketiga-tiganya membentuk pengertian marketing.”

 

Swami kembali menjawab, “Kau juga salah.”

 

Kemudian Baba berkata, “Keseluruhan hidup ini merupakan marketing – makan, minum, bernafas – semuanya adalah marketing!”

 

Lihatlah! Lihat bagaimana Swami memberikan nuansa spiritual terhadap hal-hal yang bersifat duniawi sekalipun. Marketing merupakan mata-pelajaran dalam program MBA. Namun Beliau mampu membuatnya menjadi topik spiritual – Beliau telah meng-‘spiritual’-kannya!

 

“Swami, marketing?”

 

“Ya! Engkau bernafas menghirup oksigen dan mengeluarkan karbon-dioksida. Ini merupakan marketing. Jadi, marketing terdapat dalam setiap aktivitas kehidupanmu. Ambillah contoh: nutrisi/makanan – ada input (loading) dan juga ada output (unloading). Ini juga merupakan marketing. Jadi, siapa bilang marketing tidak ada di dalam tubuh manusia sendiri?”


“Today, Marketing Is Not Proper”

(Praktek Marketing di zaman sekarang ini tidak benar)

 

Selanjutnya saya berkata, “Swami, di luaran sekarang banyak timbul silang-pendapat tentang marketing.” (Sebenarnya saya tidak banyak tahu tentang marketing ataupun aspek-aspek MBA. Tetapi yang ada di dalam pikiran saya adalah bagaimana menjaga agar Swami tetap duduk di kursi-Nya selang beberapa waktu lamanya serta membuat Beliau tetap berbicara, agar dengan demikian semua yang hadir bisa mendapatkan darshan dan saya sendiri akan memperoleh lebih banyak bahan pembicaraan yang akan dibagikan dengan semua bhakta! Jadi, entah apakah topik pembicaraan itu sesuai dengan keahlianku atau tidak, tujuanku hanyalah untuk campur-tangan (interfere) (tertawa) agar dialog berlangsung lebih lama!)

 

Jadi saya berkata lagi, “Swami, orang-orang mengatakan bahwa marketing di zaman sekarang tidak berjalan sebagaimana mestinya? Bolehkan Swami tolong kasih tahu kami mengapa demikian? Mengapa marketing tidak berjalan secara sehat? Mengapa?”

 

Bhagawan menjawab, “Marketing di zaman modern ini memang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Ada sesuatu yang salah, sebabnya adalah karena impor lebih besar daripada ekspor. Kita terus-menerus mengimpor, tetapi ekspornya sedikit sekali. Inilah kesalahan dalam sistem marketing kita.”

 

Lebih lanjut Beliau menambahkan, “Orang-orang getol mengikuti fashion, external fashion. Mereka tidak mempedulikan tentang realita.”

 

Kemudian saya berkata, “Swami, apakah fashion sesuatu yang salahkah? Yes, saya ingin tampak fashionable. Mengapa tidak? Saya suka fashion – pakaian yang bagus dan sejenisnya. Mengapa tidak boleh? Apakah salah kalau kita mengikuti fashion?”

 

Beliau menjawab, “Memang tidak ada salahnya bila kau mengikuti fashion. Tetapi dalam rangka agar tampak fashionable, jikalau engkau mencoba mengimitasi/meniru-niru orang lain, maka itu merupakan perbuatan yang salah total. Imitasi merupakan tindakan yang salah.”

 

Ambillah contoh: celana jeans. Orang-orang di luar negeri memakai jeans disebabkan karena jeans memang cocok di sana. Tetapi jikalau saya memakai jeans di sini, maka kulit-kulitku akan terkelupas karena di sini cuacanya sangat panas! (tertawa) Oleh karena tempat ini cuacanya panas, maka jeans tidak akan cocok untuk iklim seperti ini. Jadi, kalau ada orang yang memakai jeans di sini – itu berarti dia sedang meniru-niru (imitating). Itulah sebabnya jeans sangat mahal. Sepasang berharga sekitar 300 hingga 400 rupees. (Dua siswa yang hadir menyeletuk, ‘900 rupees!’) Bayangkan 900 rupees! Kalian lihatkan? anak-anak ini juga memakai jeans. (tertawa) Lihat bukan? Why? Sebab inilah gaya hidup American. Celana itu kan buatan Amerika, jadi why not? Inilah yang disebut sebagai imitation (peniruan). Itulah sebabnya, oleh karena hal-hal seperti ini sedang terjadi di sini, maka akibatnya adalah timbulnya praktek marketing yang kurang baik.


Swami tahu segala-galanya

 

Dan secara tiba-tiba Swami menatap seorang siswa dan berkata, “Boy, apa yang kau pelajari?”

 

Anak itu menjawab, “Swami, saya seorang siswa MBA.”

 

“Sebelum itu, apa yang kau kerjakan?”

 

“Swami, saya telah menyelesaikan pendidikan teknik.”

 

“Oh, I see!”

 

Saya mencoba mereka-reka, mengapa Swami harus menanyakan hal-hal sedemikian detilnya? Mengapa?

 

Swami berkata, “Apakah program pendidikan teknik empat tahunan?”

 

“Ya, Swami.”

 

“No, no, no! Oleh karena kau gagal, kau butuh waktu 5,5 tahun untuk menyelesaikan program pendidikan teknikmu.”

 

Tak ada seorangpun yang mengetahui hal ini hingga Swami mengutarakannya secara gamblang. Tadinya kami mengira bahwa anak itu adalah seorang insinyur.

 

Selanjutnya Swami menambahkan, “Tentu saja, tidak ada yang salah dengan itu. Aku mengatakannya hanya untuk memberitahumu bahwa Aku tahu – hanya untuk mengingatkanmu bahwa Aku tahu.”

 

Dan Swami kemudian berkata, “No, semuanya itu bukanlah karena kesalahanmu. Setiap kali ujianmu selalu tertunda dan mereka mengadakan test pada saat engkau sedang tidak siap. Jadi, itu bukan karena kesalahanmu. Pihak universitaslah yang bersalah karena selalu menunda-nunda ujiannya.”

 

Demikianlah caranya Swami membela anak tadi.


Nama dan Arti Pentingnya

 

Kemudian masih ada diskusi yang menarik di bulan itu.

 

Swami bertanya kepada beberapa siswa, “Siapa nama kalian?”

 

Mereka menjawab, “Sathya… Rakhal… Rao.”

 

Dan Baba berkata, “Hey, boys! Aku akan menceritakan sebuah kisah pendek tentang nama. Nama-nama kalian tidak boleh membingungkan. Namamu haruslah straight (lugas), agar orang lain tidak menjadi bingung.”

 

Saya berpikir dalam hati, “Nama-nama yang membingungkan? Apakah nama bisa membingungkan orang?” Ya!

 

Kemudian Bhagawan menceritakan sebuah kisah: Rupanya ada sepasang pengantin yang baru saja menikah dan sekarang hidup di suatu kota. Suatu hari, tukang pos mengantarkan sepucuk surat dan diterima oleh sang suami. Surat itu ditujukan untuk isterinya. Tetapi sang suami membuka surat itu – semacam badan sensor gitu! Ia membaca surat tersebut. Apa isinya?

 

“I love you very much. Kita telah hidup bersama-sama sekian lamanya. Aku tidak bisa melupakan hari-hari itu. Ku berharap agar hari-hari seperti dulu kembali lagi. Kita harus makan malam bersama. Kita tidak pernah berpisah selama ini. Aku akan segera datang untuk menjengukmu.”

 

Sang suami berpikir dalam hatinya, “Ternyata ada seseorang yang lebih mencintai isteriku daripada aku!” Ia merasa sangat geram & marah. Di bagian bawah surat itu, dia melihat tanda-tangan penulis surat. Tertulis nama ‘Lakshmi Narayan’. ‘Lakshmi’ adalah nama wanita, tetapi pria itu tidak melihat tulisan ‘Lakshmi’ dengan jelas. Sedangkan ‘Narayan’ adalah nama pria. Ia berpikir, “Oh ho! Isteriku rupanya punya affair dengan Narayan, I see. Aku harus berhati-hati. Nanti kita lihat saja.”

 

Kemudian ia menunggu sampai hari Senin saat Lakshmi Narayan akan datang ke rumahnya. Ia bersembunyi di balik pintu sembari memegang sebatang tongkat yang akan digunakannya untuk memukul Lakshmi Narayan dan isterinya! (tertawa) Ia terus bersembunyi di belakang pintu. Kemudian terdengar seseorang datang ke rumah dan ia dapat mencuri dengar perbicaraan mereka:

 

“Hey, Lakshmi! Kapan kau tiba di sini?”

 

“Baru saja. Saya senang sekali melihatmu lagi. Saya ada tulis surat untukmu. Apakah kamu tidak menerimanya?”

 

“Ngakk ada tuh! (Tentu saja ia tidak menerimanya, karena surat itu telah disensor dulu oleh suaminya!) “Saya tak tahu tentang suratmu itu.”

 

“Tapi kan seharusnya kamu ada lihat suratku. Bagaimana kabarmu sekarang? Saya senang sekali bahwa sekarang kamu telah menikah. Saya datang khusus untuk menjengukmu.”

 

“Oh, I see! Apakah kamu juga sudah menikah?”

 

“Ya, saya telah nikah. Nama suamiku adalah Narayan. Jadi sekarang namaku adalah ‘Lakshmi Narayan’.”

 

Akhirnya pria tadi mengerti! Lakshmi Narayan – Narayan adalah nama suaminya, sedangkan Laskhmi adalah namanya. Jadi, ia telah salah paham mengira bahwa ada seorang pria yang sedang menjalin affair dengan isterinya!

 

Swami menarasikan keseluruhan ceritera ini dan memberitahu semua hadirin, “Jadi berhati-hatilah dengan sebuah nama. Jangan melibatkan dirimu dalam permasalahan bila kelak kau menikah. Jangan biarkan isterimu salah-paham terhadapmu!”

 

Itulah yang dikatakan oleh Beliau.


Suara dalam Keheningan 

Masih di bulan Agustus, sesuatu yang menyenangkan terjadi! Bhagawan memberi saya kesempatan untuk bercakap-cakap dengan Beliau, sebagaimana biasanya setiap hari. Semuanya ini adalah berkat welas-asih Swami, dan sama sekali bukan karena saya layak atau berhak untuk itu. (Saya harus berterus-terang dalam hal ini)

 

Saya memutuskan untuk menanyakan beberapa pertanyaan, “Swami, Ramana Maharshi pernah menyinggung tentang ‘sound in silence’ (suara dalam keheningan). The sound in silence – Nisabhda Brahman: Nisabhda artinya keheningan dan Sabdha Brahman adalah suara. ‘Dengarkanlah suara keheningan.’ Itulah yang saya utarakan. Swami, apakah hal itu dimungkinkan? Ramana Maharshi juga mengatakan bahwa cara terbaik untuk berkomunikasi adalah dengan keheningan (silence). Metode terbaik untuk berkomunikasi adalah silence atau mounam. Saya belum memahami hal ini, Swami.”

 

Saya melanjutkan, “Keseluruhan pesan Ramana Maharshi sangat simple: Selidikilah secara menyeluruh Diri-mu sendiri dengan cara menanyakan pertanyaan ini, ‘Siapakah Aku?’ Itulah essensi dari ajaran Ramana Maharshi. Saya masih belum mengerti juga, Swami. Tolong beritahukanlah saya artinya.”

 

(Teman-teman, oleh karena kebanyakan dari anda tidak memahami Bahasa Telugu, maka anda agak sulit untuk menghadiri Saturday talks, sebab setiap hari Sabtu, saya selalu berceramah pada pukul 19.30 dalam Bahasa Telugu. Kami telah membicarakan tentang Bhagawan Ramana dan Bhagawan Sri Sathya Sai Baba – yaitu mengenai ajaran-ajaran Mereka serta kesamaannya. Sembari memohon rahmat dari Tuhan, kita juga akan membicarakan topik ini di kemudian hari, setelah proyek ini selesai. Segalanya telah direkam dan bahan-bahannya juga tersedia. Satu-satunya ambisiku adalah menyebar-luaskan pengetahuan ini dengan semua orang sebanyak-banyaknya, tidak ada yang personal. Jadi, kita akan melakukannya suatu hari nanti).

 

Bhagawan memberikan penjelasan yang sangat indah. Apa yang dikatakan oleh Beliau? “Dalam keadaan hening, engkau akan mengetahui & memahami siapa dirimu yang sebenarnya. Dalam keadaan hening, hatimu akan terbuka, dan kemudian engkau akan mulai mengerti siapa dirimu yang sejati. Yang dimaksud dengan hati di sini bukanlah hati/jantung, tak ada kaitannya dengan bedah jantung, ngakk lho, yang saya maksudkan adalah hati nurani (spiritual heart). Jadi, sebelum hati nuranimu terbuka, engkau tidak akan tahu siapa dirimu yang sejati (true Self). Jadi, dalam kondisi hening itu, di saat pikiran (mind) ditarik-mundur, ketika kita berada dalam keadaan thoughtless (tak memikirkan apapun juga), wordless  dan speechless state (tak mengucapkan sepatah katapun), dalam keadaan utter state of silence (diam total), maka di saat itulah hatimu akan terbuka! Engkau mendengarkan suara Omkar dari dalam, dan engkau akan tahu dirimu yang sebenarnya.” Itulah yang dikatakan oleh Bhagawan.


“Apa yang akan Saya Dapatkan?”

 

Bhagawan juga menyinggung topik lainnya.

 

“Swami, bila saya telah mengerti siapa diri saya yang sebenarnya; lalu apa yang akan saya peroleh? Apa yang akan saya dapatkan? Jikalau saya tahu diri saya, lalu apa manfaatnya? Apa keuntungannya?”

 

Kita semua cenderung melihat sesuatu masalah dari sudut pandang duniawi, oleh sebab itu kita selalu ingin tahu apa yang akan kita dapatkan. “Saya mengikuti Nagarsankirtan, lalu apa yang akan saya peroleh?” “Saya pergi dan duduk di sana apa yang akan saya dapatkan?” Kita tidak mendapatkan apapun juga!” (tertawa) Sebelum kita menghentikan pola pikir seperti ini, maka kita tidak akan mendapatkan apapun juga yang kita harapkan. Kita tidak akan memperoleh sesuatu yang seharusnya kita dapatkan; yaitu pengalaman transcendental. Semua pengalaman-pengalaman itu akan menjadi transcendental experience hanya apabila kita mau menoleh ke dalam diri kita sendiri. Itulah perjalanan ke level yang lebih tinggi yang harus kita capai.

 

Jadi Bhagawan mengatakan, “Dengan mengenali dirimu sendiri, sang ‘Aku’ yang sejati, engkau akan mengetahui segala hal lainnya. Ketika dirimu yang sejati telah dikenali, maka segala sesuatunya juga secara otomatis akan kau kenali.”

 

“Bagaimana bisa?”

 

Bhagawan melanjutkan, “Angka sembilan dan angka satu: terdapat dua angka di sini – satu dan sembilan. Mana angka yang lebih besar? Mana yang lebih besar dari yang lainnya?”

 

Kami semua mengatakan angka sembilan.

 

Baba berkata, “Tidak! Angka satu lebih besar daripada angka sembilan.”

 

(Saya sebenarnya sangat bodoh dalam hal matematika. Ketika Swami mengatakan demikian, saya kembali harus mengulang pelajaran aritmatika SMP saya!) (tertawa)

 

“Swami, masak angka satu lebih besar daripada sembilan? Mana bisa begitu?”

 

“Look here! Satu tambah satu tambah satu tambah satu tambah satu tambah satu tambah satu tambah satu tambah satu hasilnya sama dengan sembilan. Jadi, tidak akan ada angka sembilan bila tidak ada angka satu bukan? Jadi, angka ‘satu’ ini jelas lebih hebat daripada angka sembilan. Tanpa dia, tidak akan ada angka sembilan. Jadi tanpa adanya yang satu itu, maka tidak ada segala-galanya! Jadi the One, the only One, the real One, yang merupakan diri sejatimu, bila ia dipahami & direalisasikan, maka seisi dunia ini akan kau ketahui juga.” Itulah yang dikatakan oleh Bhagawan. Sungguh suatu interpretasi yang sangat cantik sekali!


“Pelajarilah Seni Berbicara dari Hanuman”

 

Bhagawan kemudian menyinggung point lainnya. Di dalam ceritera Ramayana, anda tentunya pernah mendengar karakter yang bernama Hanuman. Setelah mendisikusikan Ramana Maharshi, sekarang Swami mulai berbicara tentang Hanuman.

 

Hanuman adalah sosok yang sangat, sangat pintar, Beliau terkenal oleh kepintarannya serta kemampuan komunikasinya. Hanuman tampil laksana permata dari keseluruhan epic Ramayana. Swami berkata, “Seseorang hendaknya mempelajari seni berbicara seperti Hanuman. Ketika kaum musuh menanyainya, ‘Siapakah engkau?’ Hanuman tidak mengatakan, ‘Oh saya adalah ini dan ini.’ Beliau hanya mengatakan, ‘Saya adalah seorang pelayanan/hamba Lord Rama.’

 

Hanuman sangat rendah hati, penuh dengan kelembutan dan manis tutur-katanya. Seseorang hendaknya tahu cara berbicara yang baik. Jikalau engkau berbicara dengan baik, maka engkau akan mendapatkan nama yang baik pula. Jikalau engkau berbicara dengan sopan, maka engkau akan mempunyai banyak teman baik. Jadi, berbicara adalah semacam seni; Kemampuan untuk berbicara merupakan talenta.” Itulah yang dikatakan oleh Bhagawan.

 

“Di saat engkau berbicara, ‘Anudhvegacaram’: udhvega adalah emosi. Jadi pada saat engkau berbicara, janganlah disertai dengan emosi, kemarahan ataupun naik darah, jangan! Sathyam:  ucapanmu haruslah dipenuhi oleh nilai-nilai kebenaran; priti, dapat diterima serta manis dijiwai oleh cinta-kasih; dan hritamsha, demi untuk kebaikan orang lain, menghibur. Jadi apapun juga yang akan diutarakan oleh kita, pastikanlah bahwa ucapan kita tidak mengelisahkan orang lain. Ucapan-ucapan itu haruslah benar dan dapat diterima, ia harus demi untuk kebaikan orang lain, tidak melukai ataupun menghancurkan orang lain.” Itulah yang dikatakan oleh Bhagawan. Janganlah kita berperilaku seperti seekor ular dengan lidah bercabang. Ular dengan lidah seperti ini sangat beracun. Janganlah kita seperti ular itu. Kita harus sangat berhati-hati pada saat berbicara.

 

Baiklah, kita akan lanjutkan lagi pada lain waktu, OK? Terima-kasih banyak karena anda telah mendengarkan saya dengan perhatian penuh. Terima-kasih!

 

(Anil Kumar menutup satsang dengan memimpin sebuah bhajan)

 

Om Asato Maa Sad Gamaya

Tamaso Maa Jyotir Gamaya

Mrtyormaa Amrtam Gamaya

 

Om Loka Samastha Sukhino Bhavantu

Loka Samastha Sukhino Bhavantu

Loka Samastha Sukhino Bhavantu

 

Om Shanti Shanti Shanti

 

Jai Bolo Bhagawan Sri Sathya Sai Baba JiKi Jai!

Jai Bolo Bhagawan Sri Sathya Sai Baba JiKi Jai!

Jai Bolo Bhagawan Sri Sathya Sai Baba JiKi Jai!

 

Thank-You!