2 Januari
2003
Pranams to the Lotus Feet
of Bhagawan!
Dear Brothers and
Sisters!
Terlebih dahulu, perkenankan saya mengucapkan ‘Selamat Tahun Baru!’ Hari ini merupakan pertemuan kita yang pertama kalinya untuk tahun baru 2003. Saya memiliki beberapa details yang hendak di-share dengan anda menyangkut beberapa peristiwa yang terjadi selama bulan Desember kemarin. Ada tiga peristiwa penting yang akan saya ceritakan secara penuh.
Yang pertama – dimana saya yakin bahwa anda pasti akan sangat tertarik – adalah mengenai perayaan Hari Natal dan tentang Yesus Kristus. Kemudian yang kedua adalah menyangkut kunjungan Presiden India, Abdul Kalam, ke Prashanthi Nilayam, yaitu mengenai bagaimana perasaan yang diekspresikan oleh beliau, pendapatnya serta surat yang ditulisnya. Dan yang terakhir adalah menyangkut pencapaian yang berhasil diperoleh oleh Universitas Sri Sathya Sai akhir-akhir ini. Institusi pendidikan kita telah dinyatakan sebagai universitas terbaik di negeri ini! Nah, inilah ketiga tonggak-bersejarah penting yang terjadi selama bulan Desember dan saya ingin membagikan ceritera tersebut dengan anda semuanya.
Sebagaimana anda ketahui, kita sedang membicarakan tentang point-point utama yang terkandung dalam Divine dialogues (dialog Ilahi). Saya tidak menyebutnya sebagai Divine whispers (bisikan Ilahi). Tujuan utama kita adalah mengusahakan agar percakapan Bhagawan Sri Sathya Sai Baba dapat tersedia untuk anak-cucu kita sebagaimana halnya semua percakapan Ramana Maharshi juga direkam dan tersedia untuk kita semuanya hari ini. Kita memikul beban tanggung-jawab ini. Demi untuk alasan itulah, maka sejauh ini kita telah melakukan upaya-upaya ke arah tersebut. Saya merasa senang bahwa episode-episode “Mutiara Kebijaksanaan Sai” ini telah dipublikasikan secara luas dan dapat diterima dengan baik.
Paduan Suara Natal
Wah, seluruh Prashanthi Nilayam penuh dengan resonansi dan gema nyanyian-nyanyian Natal, terutama siang hingga sore hari menjelang waktu bhajan. Benar-benar sangat menakjubkan! Pada beberapa kesempatan, nyanyian-nyanyian itu bahkan juga terdengar ketika saya sedang duduk bersama Bhagawan di belakang layar di auditorium Poornachandra.
Terlihat bahwa Bhagawan merasa sangat senang melihat betapa besarnya devotion (bhakti) yang diperlihatkan oleh para bhakta asing yang telah datang ke sini dari tempat asalnya masing-masing yang saling beda dan tekun dalam melakukan latihan lagu-lagu tersebut secara teliti, cermat, ilmiah dan penuh kehati-hatian – hingga dihasilkan suatu tingkat kesempurnaan yang tinggi. Benar-benar pemandangan yang luar biasa (fantastic)! Swami sangat menghargai persiapan dan presentasi yang diperlihatkan oleh para bhakta asing tersebut. Perkenankanlah saya mengucapkan selamat kepada anda semuanya yang telah ikut serta berpartisipasi dalam acara tersebut.
22 Desember
2002
Percakapan yang berlangsung pada tanggal 22 Desember berkisar tentang Natal dan Kehidupan Yesus Kristus. Bhagawan mengatakan bahwa kaum Katolik memiliki pandangan dan konsepnya sendiri tentang Christianity. Akan tetapi, terdapat pula segelintir umat Kristen yang menentang pandangan kaum Katolik itu, dan mereka menolak beberapa point dari konsep mereka. Itulah sebabnya, sekte yang bersikap menentang ini kemudian dikenal sebagai kaum ‘Protestan’.
Bhagawan juga mengatakan bahwa Yesus mengajarkan setiap orang adalah Tuhan. Yang dimaksud sebagai Tuhan dalam hal ini adalah: Atma, Self atau spirit (jiwa/diri sejati). Swami menyebutnya dengan istilah Chaitanya Shakthi, Divine power or energy (kekuatan atau energi Ilahi), atau Energi Cosmic. Itulah Divinity (keilahian). Demikianlah yang dikatakan oleh Bhagawan.
Swami mengatakan bahwa Yesus banyak menerima oposisi (perlawanan). Banyak orang yang mempertanyakanNya serta meragukanNya. Seperti halnya para inkarnasi Tuhan lainnya, Yesus juga menghadapi berbagai jenis tantangan. Ketika Beliau mendeklarasikan keilahian diri-Nya, Yesus mengucapkan hal yang sama seperti yang telah dinyatakan oleh Bhagawan kepada kita hari ini, yaitu bahwa: semuanya adalah Tuhan, semuanya sama dan semuanya adalah Ilahi.
Bila seseorang bertanya kepada Swami, “Are you God (apakah Engkau adalah Tuhan)?” Maka Swami menjawab, “I am God and you are also God (Aku adalah Tuhan dan kamu juga adalah Tuhan)”. Yesus juga mengajarkan hal yang sama. Ketika Yesus mengatakan bahwa diri-Nya adalah Tuhan dan semuanya sama adanya; maka hal itu mengindikasikan bahwa yang dimaksudkan oleh Yesus adalah bahwa seisi dunia ciptaan ini adalah Divine (Ilahi).
Transformasi-diri para kritikus
Kemudian Bhagawan juga menyinggung tentang miracle (keajaiban) yang terjadi sepanjang kehidupan Yesus Kristus. Pada suatu ketika, terdapat beberapa nelayan yang sedang mencoba menangkap ikan melalui tebaran jala-jala mereka. Namun sampai hari menjelang malam, ternyata mereka tidak berhasil menangkap seekor ikanpun. Mereka merasa sangat kecewa dan frustasi.
Kebetulan Yesus melintasi tempat yang sama. Akhirnya Beliau membawa para nelayan itu ke lokasi lain di laut Galilea dan menyuruh mereka menebarkan jala di sana. Betapa terkejutnya, ketika jala ditebarkan di lokasi itu, mereka langsung berhasil menangkap ikan dalam jumlah yang sangat banyak. Melalui pengalaman ini (yang kita sebut sebagai ‘miracle’), para nelayan tersebut akhirnya menyadari kemuliaan Yesus.
Bhagawan kemudian menyinggung mengenai seorang tukang pajak bernama Matius. Orang ini ditugasi untuk memungut pajak penghasilan dari para nelayan. Akan tetapi para nelayan hari itu menolak untuk membayar pajaknya.
Namun Yesus berkata, “No, no! Bukankah kalian baru saja menangkap ikan dalam jumlah yang cukup banyak? Mengapa kalian berbohong? Sebelumnya memang kalian tidak berhasil menangkap ikan. Tetapi lihatlah, sekarang kalian telah berhasil memperoleh begitu banyak tangkapan di tempat yang Ku-tunjukkan padamu. Jadi, mengapa kau katakan tidak punya ikan? Kalian harus bayar pajak!” Demikianlah yang dikatakan Yesus.
Yesus adalah Keadilan. Yesus adalah Kebenaran. Yesus adalah Kebajikan. Yesus adalah Cinta-Kasih. Tak ada yang perlu diragukan tentang aspek Keilahian Yesus Kristus! Setelah menemukan kebenaran tentang diri Yesus, transformasi langsung terjadi di dalam diri Matius dan ia akhirnya menjadi pengikut Yesus. Pada hari itu, ia tidak jadi memungut pajak dari para nelayan. Ia merasa sangat tersentuh oleh kebenaran Yesus Kristus.
Disamping itu, terdapat seorang tokoh penting dalam Alkitab bernama Paulus. Sebelumnya beliau ini selalu mempertanyakan dan mencela Yesus Kristus. Akan tetapi ketika Yesus menampakkan diri di dalam mimpinya, transformasi langsung terjadi di dalam diri Paulus. Beliaulah yang di kemudian hari menjadi pewaris ajaran-ajaran Yesus. Jadi, orang yang dulunya merupakan seorang kritikus; akhirnya ditranformasikan menjadi Santo Paulus.
Hal yang serupa terjadi pula di zaman Sri Sathya Sai Baba; dimana beberapa kritikus juga mengalami transformasi. Sekarang kita bisa menemukan banyak orang-orang yang dulunya meragukan Beliau, tetapi akhirnya justru menjadi bhakta yang setia!
Itulah kejadiannya, dan demikian pula yang terjadi pada saat zamannya Yesus Kristus.
Tiga Orang
Bijak
Lebih lanjut Bhagawan meneruskan, bahwa ketika Yesus dilahirkan, terdapat tiga orang bijak yang berkunjung ke tempat kelahiran-Nya. Orang yang pertama berkata, “Anak ini akan mencintai Tuhan.”
Orang kedua, seorang raja Arab, berkata, “Tidak, Tuhan-lah yang akan mencintai anak ini.”
Dan orang ketiga menambahkan, “Oh tidak, anak ini justru akan menemukan jati-diri-Nya di dalam Tuhan dan di kemudian hari, Ia akan disebut sebagai Tuhan.” Demikianlah ramalan-ramalan yang diucapkan dengan penuh bhakti oleh ketiga orang bijak yang datang mengunjungi bayi yang baru saja dilahirkan di Bethlehem pada hari Natal.
Yesus
Dikhianati
Kemudian Bhagawan menyinggung point lainnya. Yesus selalu dikelilingi oleh para murid-murid-Nya. Banyak sekali pengikut yang ingin mendengarkan ajaran-ajaran-Nya. Salah satu di antaranya adalah seorang murid bernama Yudas Iskariot. Demi hanya sedikit uang yang diberikan oleh para tentara, si Yudas ini tega mengkhianati dan membohongi gurunya sendiri. Tindakannyalah yang mengakibatkan Yesus disalibkan di kayu salib. Setelah menerima beberapa koin perak, Yudas Iskariot memberitahu para tentara: “Yesus adalah orang yang mengenakan cincin yang ku-cium nanti. Kalian bisa menangkapnya.” Di zaman dahulu, Yesus dan murid-murid-Nya mengenakan jubah yang sama; jadi bagi yang belum kenal, sulit untuk mengenali Yesus. Demikianlah caranya si Yudas mengkhianati guru-nya sendiri. Lalu, apa yang terjadi dengan murid-murid lainnya? Mereka juga mencoba melarikan diri dengan berbagai dalih. Itulah yang dikatakan oleh Bhagawan.
Ibunda Maria menangis melihat situasi yang dialami oleh Yesus Kristus, putera tunggal Tuhan. Kepada Ibunda Maria, Yesus berkata: “Oh Ibu, mengapa engkau menangis? Kematian adalah ibarat baju kehidupan.”
Mengomentari pernyataan ini, Bhagawan berpesan bahwa seseorang tidak perlu menangisi ataupun mengkhawatirkan tentang kematian. Seperti halnya kita selalu mengganti baju setiap hari, maka demikian pula kita juga harus mengenakan badan jasmani yang baru. Apakah kita menangis bila mengganti baju? Tentu saja tidak! Kita tinggal memakai baju baru itu.
Bhagawan juga menyinggung statement lainnya yang diungkapkan oleh Yesus Kristus. Ketika begitu banyak orang berdiri tanpa daya melihat penyaliban itu; terdapat sekelompok orang yang terus-menerus menghujat Yesus. Lalu apa yang dikatakan oleh Yesus? “Semuanya adalah satu, wahai anak-Ku. Berikanlah perlakuan yang sama terhadap setiap orang.” Pernyataan yang hebat sekali! Hanya seorang Kristus-lah yang bisa mengucapkannya. Para musuh dan pengkhianat di satu sisi; sedangkan murid-murid berada di sisi lainnya; sedangkan Ia sendiri sedang mengalami penderitaan dan kesakitan. Dengan semua kondisi ini, Sang putera Tuhan masih sanggup berkata, “Semuanya adalah satu, wahai anak-Ku. Berikanlah perlakuan yang sama terhadap setiap orang” (artinya Yesus melarang pengikut-pengikut-Nya membalas tindakan keji yang telah dilakukan oleh musuh-musuh-Nya).
Saya kira anda masih ingat bahwa suatu ketika Bhagawan pernah berkata, “Orang-orang boleh-boleh saja memuji-muji-Ku; demikian pula orang-orang boleh mencela-Ku. Namun Aku tetap memberikan blessing kepada kedua tipe orang ini, sebab Aku berada di atas segalanya. Tuhan tidak terpengaruh oleh pujian maupun celaan.” Beliau tidak akan tersanjung oleh pujiaanmu dan juga Ia tak akan sedih oleh celaanmu.
Ibunda
Maria
Saya mengajukan pertanyaan ini kepada Bhagawan: “Aku pernah melihat patung Ibunda Maria yang sedang mengendong bayi Kristus. Terlihat bahwa orang-orang juga memberikan penghormatan/pemujaan terhadap ibunda Maria. Di dalam biara/katedral, kita bisa melihat patung Maria yang juga sedang mengendong Yesus di pangkuannya. Bahkan di kota Bangalore terdapat sebuah gereja yang diberi nama ‘Infant Yesus’ (bayi Yesus). Ada apa dengan ini semua? Mengapa orang-orang juga memuja Maria?”
Tolong simak baik-baik apa yang dikatakan oleh Bhagawan: “Sebagaimana orang-orang juga memuja Ibunda badan ini (Easwaramma) – yang telah melahirkan seorang Avatar, maka sudah sewajarnyalah kita juga memberikan penghormatan dan ungkapan terima-kasih kepada ibunda Maria yang telah melahirkan anak Tuhan. Jadi, pemujaan itu merupakan suatu cara untuk mengungkapkan rasa terima-kasih. Itulah sebabnya Ibunda Maria dipuja oleh umat Kristiani.” Demikianlah jawaban Bhagawan.
Para Rishi dan
Sadhu
Saya mengajukan pertanyaan lain kepada Bhagawan, “Swami, di dalam Sanathana Dharma (Dharma Abadi), kita mengenal istilah sadhu. Lalu mengapa istilah ini tidak terdapat dalam Alkitab atau terminologi Kristiani lainnya? Saya mengharapkan komentar-Mu tentang hal ini.”
Baba berkata, “No, no. Yang kau sebut sebagai sadhu dalam Sanathana Dharma itu, tiada lain adalah ‘santo’ dalam Alkitab! Santo Paulus, Santo Lukas, Santo Matius, Santo Yohannes – mereka semua adalah para sadhu.” Itulah yang dikatakan oleh Bhagawan kepada kami.
Lalu saya bertanya lagi: “Swami, saya merasa bangga mengatakan bahwa saya adalah lulusan sekolah Kristiani. Saya menghabiskan waktu tiga-puluh tahun di sekolah Kristiani dan hingga hari ini, saya masih merasa bangga terhadap sekolah-ku, alma-mater-ku. Kemampuanku berbicara secara fasih dalam Bahasa Inggeris merupakan buah jasa dari para missionaris Kristiani; khususnya mereka yang berasal dari gereja Lutheran di Amerika. Merekalah yang mensponsori sekolah kami, the Andhra Christian College di Guntur. Oleh karena kedekatanku dengan paham-paham teologi Kristiani, maka saya masih mempunyai satu pertanyaan yang hendak diajukan.”
Mood Swami sedang baik, jadi saya meneruskan pertanyaanku, “Swami, ada satu doa Kristiani yang belum saya pahami yaitu tentang ‘Bapa, Anak dan Roh Kudus’. Sebagai seorang pengikut paham Sanathana Dharma, saya belum mengerti arti/maksud dari doa tersebut?”
Apa yang dikatakan oleh Baba? “Apakah kamu tidak menyimak apa yang telah sering Ku-katakan?” ‘Kau bukanlah satu orang; tetapi tiga, yaitu: dirimu yang kau kira adalah dirimu sendiri, dirimu menurut orang lain, dan dirimu yang sebenarnya.’ Inilah pengertian dari ‘Bapak, Anak dan Roh Kudus’. Keduanya sama saja.” Jawaban cantik inilah yang diberikan oleh Bhagawan.
Dr. John
Hislop
“Swami, Yesus disalibkan di atas kayu-salib. Betapa sedihnya situasi kala itu. Saya dengar bahwa Engkau memperlihatkan salib tersebut kepada seorang bhakta bernama John Hislop. Apakah benar begitu?”
“Ya, Aku telah memperlihatkan kepadanya salib asli dimana Yesus disalibkan.”
Kemudian saya berkata, “Swami, jikalau Engkau tidak keberatan, dan apabila Engkau berkenan, bolehkah Engkau menceritakan bagaimana Hislop bisa datang kepada-Mu – bagaimana caranya dia berkenalan dengan-Mu?”
Bhagawan kemudian bercerita bahwa dulunya Dr. Hislop pernah tinggal di wilayah Kashmir, yang dikenal sebagai ‘Mahkota India’, di daerah pegunungan Himalayan. Hislop tinggal di sana selama sepuluh tahun lamanya; hanya untuk mencari-cari keberadaan para rishi dan sadhu; namun, ia tidak berhasil menemukannya di sana.
Kemudian pada satu ketika, Dr.Hislop mendapat undangan dari seorang kenalannya yang menjabat sebagai Sekretaris Pertahanan Pemerintah India. Berkat undangan tersebut, Dr. Hislop pergi berkunjung ke kota Delhi, dimana pada saat yang bersamaan Bhagawan juga sedang berada di sana. Jadi, Hislop bertemu Bhagawan untuk pertama-kalinya di Delhi. Beliau bertemu Swami bukan hanya di tempat umum; bahkan juga di dalam istana dimana Bhagawan sedang bermukim.
Ketika Hislop melihat Swami, ia merasa sangat bahagia karena akhirnya ia telah menemukan rishi dan sadhu yang selama ini dicari-cari olehnya sepanjang sepuluh tahun! Hislop sendiri menyatakan bahwa ia melihat adanya aura berwarna putih di sekeliling kepala Bhagawan, persis seperti aura yang sering tampak pada setiap jiwa (orang) suci. Setelah berjumpa dengan Bhagawan Sri Sathya Sai Baba, Hislop mengatakan bahwa ia telah sampai di penghujung pencariannya. Semenjak itu, Hislop senantiasa selalu mengikuti Bhagawan kemanapun juga Beliau pergi.
Kemudian Swami menyinggung tentang mukjijat yang dialami oleh Dr. John Hislop. Pernah suatu ketika, Swami meminta Hislop untuk membawa sebuah peti besi besar yang penuh berisi kain-saris ke tempat dimana Bhagawan akan membagi-bagikannya kepada semua orang. Jadi, Hislop mengambil saris dari peti itu dan diberikannya kepada Bhagawan; selanjutnya Bhagawan yang mendistribusikannya. Sebagaimana anda ketahui, Bhagawan selalu memberikan saris berkualitas terbaik, tidak pernah ada istilah second-quality! Semuanya yang terbaik!
Walaupun begitu, terdapat juga beberapa saris yang tidak dibagikan oleh Swami. Ketika Hislop kembali ke peti tadi, ia melihat ada sedikit genangan air di bagian bawah peti, padahal tadinya kering sama sekali. Bila air itu sudah ada dari tadi, maka tentunya semua kain-kain tersebut juga ikut basah. Namun kain yang telah dibagikan tadi masih kering!? Hislop merasa aneh. Maka ia bertanya, “Swami, air apa ini?”
Bhagawan menjawab, “Air itu berasal dari kain saris yang menangisi nasibnya karena mereka merasa dirinya tidak cukup beruntung untuk dapat ikut dibagikan oleh tangan Ilahi. Mereka merasa sedih karena tidak sempat jatuh ke tangan Ilahi.” Itulah ceritera yang disinggung oleh Bhagawan sore hari itu.
Ceritera ini mengugahku untuk mengajukan satu pertanyaan lagi: “Swami, apakah betul kain saris bisa menangis?! Bagaimana mungkin saya bisa mempercayainya?! Apakah saris juga memiliki Chaitanya (kesadaran)?!”
Bhagawan berkata, “Di seluruh dunia ini, yang ada hanyalah awareness, itu saja! Tidak ada satu objek/benda-pun yang tidak memiliki Chaitanya atau awareness ini, ingatlah itu! Chaitanya (awareness) mengekspresikan dirinya dalam ketiga level. Pada tingkat badan jasmani (body), ia disebut conscious. Pada level mind (batin), ia disebut conscience. Dan pada level Atma, spirit atau soul (jiwa), ia disebut consciousness.
Jadi, conscious, conscience dan consciousness merupakan ketiga level ekspresi dari awareness atau Chaitanya. Dengan perkataan lain, dalam setiap bentuk manifestasi, akan terdapat perbedaan-perbedaan dalam derajat tertentu; namun pada intinya semuanya didasari oleh awareness yang sama.” Demikianlah jawaban Bhagawan.
Kemudian saya berkata, “Swami, jikalau seluruhnya adalah awareness; bahwa jikalau semuanya adalah Divine (Ilahi); lalu apakah itu berarti bahwa saya dituntut untuk tidak boleh menyalah-gunakan kelima unsur, bahwa saya tidak boleh menyalah-gunakan panca inderaku dan tidak boleh berlaku kejam terhadap alam? Apakah saya boleh mengartikannya demikian?”
Bhagawan berkta, “Ya, itulah sebabnya Aku selalu berpesan, ‘Do not waste (jangan menyia-nyiakan apapun juga). Haste makes waste (sikap terburu-buru hanya menghasilkan hal yang sia-sia). Waste makes worry, so do not be in a hurry (kesia-siaan akan menimbulkan kegelisahan, oleh sebab itu jangalah tergesa-gesa). Janganlah menyia-nyiakan makanan. Janganlah menyia-nyiakan air. Janganlah membuang energi secara percuma. Janganlah menghambur-hamburkan uang. Penyalah-gunaan uang merupakan kejahatan. Waktu yang terbuang secara percuma merupakan pertanda bahwa kehidupanmu juga telah terbuang secara percuma.”
Ungkapan Bhagawan ini mengingatkan kita bahwa segala sesuatu pada prinsipnya adalah Ilahi, oleh sebab itu kita tidak boleh ceroboh dan jangan meremehkan apa/siapapun juga.
Akhirnya saya berkata, “Terima-kasih. Swami telah memberitahu kami begitu banyak hal pada sore hari ini.”
Ingatlah Dua Statement
yang diucapkan oleh Yesus
Kemudian Bhagawan berdiri dari kursi-Nya, melangkah beberapa langkah, kemudian Beliau berpaling dan bertanya, “Apa saja sih yang telah Ku-katakan?”
“Swami, Engkau telah memberitahu banyak hal-hal yang tidak kami ketahui; hal-hal yang menjadi kesalah-pengertian kami selama ini; hal-hal yang telah membawa sinar bagi kehidupan kami. Kami sungguh sangat berterima-kasih kepada-Mu, Bhagawan. Thank You.”
Sebagai kata pamungkas, saya berkata, “Swami, betapa cantiknya cara-Mu mengintegrasikan teologi Kristiani dengan Sanathana Dharma. Sintesa yang cantik sekali. Kami harus belajar dari-Mu saja, Swami.”
Saya kira Bhagawan akan langsung berjalan menuju Mandir. Seperti anda ketahui, pada setiap kesempatan, ucapan Beliau-lah yang harus menjadi kata penutupnya! Swami berpaling dan berkata, “Belajar?! Tak ada gunanya bila belajar melulu! Kau harus langsung mengalaminya, bukan hanya sekedar belajar!” Swami berkata sambil berjalan, sebab sudah waktunya bhajan dan musik juga sudah dimulai.
Sudah waktunya bagi Swami untuk masuk ke dalam Mandir, akan tetapi Beliau masih menambahkan, “Ingatlah dua statement yang pernah diutarakan oleh Yesus: Apa sajakah itu? ‘Semuanya adalah satu adanya, wahai anak-Ku, oleh sebab itu berperilakulah yang sama terhadap semuanya.’ Lalu apa pernyataan yang kedua? ‘Kematian adalah baju kehidupan.’ Daa-Daa (Bye).” (tertawa)
27 Desember
2003
Berita dari
Delhi
Nah, sekarang saya akan menyinggung hal-hal tertentu yang dikatakan oleh Swami pada tanggal 27 Desember lalu. Topik pembicaraannya berkaitan dengan pengalaman dan statements yang diutarakan oleh Dr. Abdul Kalam, Presiden India, warga nomor-1 dan seorang bhakta Bhagawan yang hebat.
Pada tanggal 27 Desember, Bhagawan memberitahu kepada semua hadirin, “Lihatlah, di New Delhi, Abdul Kalam akan membicarakan tentang Universitas Sri Sathya Sai. Beliau akan menyinggung tentang program PhD (S-3) yang diselenggarakan di universitas ini.”
Kemudian Swami memanggil, “Vice-Chancellor, kesinilah.” Vice-Chancellor-pun menghampiri Bhagawan dan Swami bertanya, “Berita apa saja yang kau terima dari Delhi?”
“Swami, besok Presiden Kalam dijadwalkan memberikan ceramah/pidato pada pukul 11.30 dalam kesempatan perayaan Golden Jubilee (50 tahun) University Grants Commission, Government of India. Beliau akan membicarakan tentang Universitas Sri Sathya Sai khususnya mengenai program PhD yang diselenggarakan di sini.”
“I see. Lalu apa sajakah pokok-pokok penting dari program PhD kita?” Swami mengajukan pertanyaan ini secara polos – mungkin Beliau ingin agar kita ikut tahu.
Vice-Chancellor menjawab, “Fluoride dan spectroscopy.”
“Oh, I see. Okay, biarkan saja mereka melaksanakan riset sebagaimana yang mereka kehendaki.”
Dan kemudian Vice-Chancellor menambahkan, “Bhagawan, dari sekian banyak universitas di negeri ini, ternyata Presiden India justru paling menyukai atmosfir di lingkungan Universitas Sri Sathya Sai.”
Selanjutnya Swami mulai ikut nimbrung dalam pembicaraan. Swami menceritakan tentang perasaan dan ungkapan sentimentil yang diekspresikan oleh Abdul Kalam. “Ya, Kalam sangat menyukai atmosfir di sini. Ia menyukai Swami dan segala sesuatu yang ada di sini. Baru saja kemarin – Perdana Menteri, Deputi Perdana Menteri, pemimpin-pemimpin partai pemerintahan, Gubernur Delhi dan Kalam – mereka semuanya duduk di satu meja dan membicarakan tentang Universitas Sai selama satu setengah jam! Tahukah kalian apa yang dibicarakan mereka? Mereka setuju bahwa universitas kita merupakan lembaga pendidikan yang high-tech (berteknologi tinggi). Vajpayee, Perdana Menteri negeri ini, mengatakan bahwa faktor penyebab dari sedemikian hebatnya Universitas Sathya Sai adalah dikarenakan universitas ini memiliki seorang Master yang ideal, yaitu Bhagawan Sri Sathya sai Baba.”
Swami bertanya, “Boys, tahukah kalian siapakah Master yang ideal?”
Semua murid menjawab, “Swami, Engkau-lah Master yang ideal!”
Lebih lanjut Swami menambahkan, “Look here, Perdana Menteri Vajpayee kemudian berkata kepada Presiden Kalam, ‘Aku telah mengenal Bhagawan Sri Sathya Sai Baba selama dua puluh tahun terakhir ini. Anda mengenal-Nya selama satu setengah hingga dua tahun belakangan ini. Aku tahu presis tentang Keilahian dan Universitas Beliau!’”
Kemudian salah seorang guru yang hadir berkata, “Swami, saya juga mendengar bahwa Presiden India (Kalam) mengucapkan, ‘Sai Baba ko, Abdul Kalam ka salam.’” Kalimat dalam bahasa Hindi ini berarti, “Penghormatan kepada Sai Baba dari Abdul Kalam.” Salam artinya ‘salutations’ (penghormatan).
Swami berkata, “Ya, itulah yang dikatakannya. Dia adalah seorang bhakta yang baik. Yes, kalian tentu telah melihatnya kemarin.” Itulah yang diceritakan oleh Bhagawan kepada kami.
Mengendarai
sepeda-motor dan mobil
Para siswa berkata, “Swami, kami hendak mengundang-Mu untuk menyaksikan persiapan-persiapan yang akan kami lakukan untuk Annual Sports Day. Bisakah Swami datang ke stadium nanti?”
Bhagawan berkata, “Aku tak bisa datang. Aku akan lihat persiapan kalian nanti pada hari terakhir. Bila kalian mengundang-Ku secara tiba-tiba, mana bisa Aku ke sana? Aku tahu kalian sedang melatih berbagai adengan stunt dengan sepeda-motor. Aku tak pernah mengendarai sepeda motor. Tapi tentu saja Aku pernah duduk di atasnya – ya di kursi belakang! Namun Aku sendiri belum pernah mengendarainya. Aku hanya duduk di belakang saja.”
“Oh, Swami, betulkah itu?”
“Ya, di kala itu Aku sedang dalam perjalanan dari Karnatakanagepali, ketika Aku sedang berkunjung ke sebuah desa yang terendam banjir akibat hujan deras. Agar dapat meninggalkan desa itu, Aku harus menempuh perjalanan keliling dengan duduk di kursi belakang sebuah sepeda motor! Aku tak tahu cara membawanya.”
Kemudian Swami berkata, “Boys, tahu ngakk? walau begitu, Aku tahu lho cara bawa mobil. Aku sudah pernah mengendarai semua jenis mobil, kecuali BMW.” (tertawa). Itulah yang diceritakan oleh Bhagawan hari itu.
29 Desember
2002
Kehidupan Kita adalah
Rumah-Sakit
Swami mengeluarkan pernyataan ini: “Ketika Kalam datang berkunjung ke Parthi, ia mengunjungi Super Specialty Hospital. Beliau terinspirasi oleh kunjungannya tersebut. Oleh sebab itu, sekembalinya ke ibu-kota, ia menyinggung tentang rumah-sakit ini dalam salah satu konferensi. Pemerintah India sangat menghargai pekerjaan-pekerjaan yang telah dilakukan di rumah sakit ini, sehingga akhirnya mereka memutuskan untuk memberikan keringanan berupa pengurangan bea masuk/impor alat-alat kesehatan dari luar negeri sebesar 50 lakhs (500 juta rupees).” Demikian penjelasan Bhagawan kepada kami.
Pada hari itu, kelihatannya Swami sedang berbincang-bincang dengan beberapa orang dokter. Terlihat bahwa Swami menunjuk salah seorang dokter, kemudian menanyakan kepada dokter yang lain apakah mereka mengenalnya. Mereka menjawab, “Ya, Swami, dia adalah so-and-so (si anu dan anu).”
Nah, inilah komentar Swami: “Kehidupan kita dapat diibaratkan seperti sebuah rumah sakit besar. Setiap partikel di badan ini memiliki nama dan rupa (wujud); yang merupakan aspek eksternal atau pravrithi. Oleh karena setiap partikel badan jasmani ini bersifat outward (eksternal) atau pravrithi, maka akibatnya kita melupakan sifat alamiah yang latent di dalam diri kita masing-masing (nivrithi). Padahal nivrithi inilah yang merupakan sifat/jati diri kita yang sebenarnya.
Seorang ilmuwan (scientist) bekerja mengikuti aspek pravrithi, pekerjaaan mereka didukung oleh pemerintah. Dengan memanfaatkan peralatan yang diberikan kepadanya, mereka melaksanakan beragam jenis eksperimen secara positif. Akan tetapi jikalau ilmuwan ini tidak diberikan dukungan, maka kepintaran mereka akan menjadi negatif dan mengikuti jalan yang salah.” Demikianlah hal-hal yang dishare oleh Bhagawan dengan kami pada kesempatan itu.
24 Desember
2002
Tidak perlu
diumumkan
Saya masih ada beberapa point yang hendak dishare dengan anda. Pada tanggal 24 Desember, hanya terjadi satu dialog, dan kalimat ini sangat berharga.
Saya mengutarakan pernyataan ini: “Swami, ada seorang Chief Minister dari salah satu negara bagian yang mengatakan bahwa ia akan mengerjakan banyak hal untuk daerahnya.”
Swami berkata, “Apa betul demikian?”
Kemudian saya menambahkan, “Swami, disamping itu, terdapat juga Chief Minister lain yang mengatakan bahwa ia juga akan melaksanakan banyak rencana-kerja.”
Akhirnya Swami berkata, “Aku tidak perlu mengatakannya. Apapun juga yang Ku-lakukan, Aku tidak perlu mengumumkannya, Aku tak perlu mengatakannya. I do (Ku-lakukan), itu saja! Aku tidak perlu mendeklarasikan ataupun mengumumkan aktivitas dan proyek yang sedang Ku-kerjakan.” Itulah yang dikatakan oleh Bhagawan. Saya berkeyakinan bahwa statement ini sangat penting.
31 Desember
2002
Tuhan tidak mengenal
Kasta
Menarik sekali bila kita menyimak apa yang diutarakan oleh Bhagawan pada tanggal 31 Desember ini. Ada satu pengalaman sederhana yang hendak saya beritahukan kepada anda semuanya.
Hari itu Bhagawan membicarakan banyak details. Kemudian Beliau memanggil seseorang dan berkata kepadanya, “Look here, ada seorang supir, dan dia baru saja menderita cacar air. Sekarang ia sangat lemah dan kurus, jadi tolong beritahu bagian kantin dan minta agar mereka menyediakan makan pagi, siang, sore dan malam kepada seluruh anggota keluarga supir tadi, sampai ia sembuh total.”
Mata saya dipenuhi oleh air mata oleh karena saya merasa terharu dengan begitu besarnya perhatian dan cinta-kasih yang dicurahkan oleh Swami. Tanpa mempedulikan kader, posisi, kedudukan – Swami mencurahkan cinta-kasih-Nya kepada seorang supir! Tuhan tidak mengenal golongan dan kasta!
1 Januari
2003
Proyek Air Minum
Chennai
Kemarin, tanggal 1 Januari 2003, tentunya anda melihat banyak old students (alumnus) Universitas Sri Sathya Sai. Jumlahnya mencapai kurang lebih 500 orang yang berkumpul di sini; mereka mempresentasikan sebuah program musikal pada sore hari. Bisa anda bayangkan! Di antara mereka yang hadir bahkan ada yang lulus di tahun 1969!
Swami tampak sangat happy sekali. Saya mengamati bahwa beberapa di antara para eks-siswa tersebut yang malah terlihat lebih tua daripada Bhagawan Baba! Beberapa diantaranya berperawakan gemuk dengan bentuk tubuh yang sudah ngak karu-karuan dan beberapa bahkan sudah botak! Tapi Baba tetap saja terlihat awet muda!
Saya mengamati terus momen-momen Swami bersama-sama dengan ‘old-boys’-Nya. Mungkin salah satu alasan mengapa mereka disebut ‘old boys’ adalah dikarenakan memang mereka sudah menjadi tua. Tapi ada juga yang alergi dengan istilah ‘old boys’ ini. Mengapa ‘boys’ bisa disebut ‘old’ (tua)? Jadi, saya lebih suka menyebutnya dengan istilah ‘mantan siswa’ atau ‘alumni’. Jadi saya tak ngerti istilah ‘old boys’. Berkaitan dengan hal ini, dapat dikatakan bahwa tidak ada yang tua; semuanya muda. Life is young; life is youthful (kehidupan senantiasa berjiwa muda). Tidak ada yang namanya usia tua (old age). Hanya mind (batin) saja yang mengenal istilah old age (usia tua). Saya juga ikut happy melihat semua alumnus tadi hadir dan berkumpul di sini.
Tentunya anda juga telah mendengar pidato kedua penceramah kemarin. Salah satu di antaranya adalah sekretaris Central Trust, yang membicarakan tentang Drinking Water Supply Project (proyek air minum) yang sedang dikerjakan di Chennai (Madras), ibu-kota negara bagian Tamil Nadu. Saya ingin share dengan anda tentang details dari proyek ini, sebab hal ini juga turut didiskusikan siang tadi (tanggal 2 Januari 2003). Jadi, saya akan meneruskan informasi yang terbaru untuk anda.
Bayangkan! Panjang pipa yang telah ditanam mencapai panjang 170 kilometer. Telah digali pula kanal-kanal besar selebar & sedalam 40 kaki, tempat dimana pipa-pipa tersebut akan diletakkan. Kemudian di Kandeluru, sebuah tempat di Andhra Pradesh yang termasuk dalam distrik Nelur, telah dibangun sebuah resevoir (tempat penampungan air) besar dengan ketinggian 85 kaki, bahkan lebih tinggi daripada patung Hanuman yang ada di Hillview stadium!
Setiap hari harus didatangkan semen sebanyak empat puluh lima truk. Beberapa peralatan berat malah harus special impor dari luar negeri, seperti mixer semen; yang berfungsi untuk mencampur-aduk pasir, gravel (kerikil) dan semen. Mixer ini bisa mengaduk semen sebanyak 25 zak sekaligus. Di samping itu juga terdapat beberapa peralatan berat lainnya yang digunakan untuk mengumpulkan gravel, pasir dan semen. Alat pengaduk ini berjalan ke sana kemari melakukan pekerjaannya.
Ketika hal ini diceritakan, saya seolah-olah tak percaya bahwa program besar-besaran ini sedang terjadi di sana. Ribuan pekerja terlibat dalam proyek ini. Pekerjaaannya ditangani oleh sebuah perusahaan berskala internasional bernama Larson and Toubro, L&T Company. Anda tentu pernah mendengarnya. Tahukah anda apa yang mereka katakan? “Kami belum pernah mengerjakan proyek seperti ini sebelumnya. Dengan bekerja di sini, kami mempelajari dan memperoleh banyak pengalaman.”
Pada tanggal 29 Desember, ada sebuah surat-kabar terkemuka di Tamil Nadu yang mempublikasikan satu halaman penuh gambar dan dua halaman berita yang berkaitan dengan detil proyek tersebut, sembari memberitakan welas-asih Bhagawan terhadap umat manusia. Point-point yang disinggung oleh surat-kabar tersebut antara lain sebagai berikut:
1. Tak pernah ada satu institusi pemerintah-pun yang pernah melaksanakan proyek sebesar ini. Hanya Sri Sathya Sai Baba saja yang bisa melakukannya.
2. Hanya Bhagawan Sri Sathya Sai Baba yang mampu melaksanakan proyek tanpa-pamrih ini, yang sama sekali tidak bermuatan politik, tidak mengharapkan imbalan, tidak ada kondisi ataupun embel-embelnya. Segalanya sungguh sangat unik sekali di zaman seperti sekarang ini.
3. Sri Sathya Sai Baba tinggal di Prashanthi Nilayam, Puttaparthi – suatu tempat nun jauh dari Chennai. Jangkauan proyek penyediaan air minum ini sungguh tak terbayangkan, sebab sekarang ia telah menyentuh penduduk di Chennai yang telah sekian lama mengalami penderitaan akibat kekurangan air minum. Walaupun pemerintah telah berupaya melaksanakan beragam jenis proyek, namun mereka tidak pernah berhasil. Jadi, sekarang Bhagawan Sri Sathya Sai Baba-lah yang akan menyuplai air minum untuk para penduduk di kota Madras.
4. Proyek Penyediaan Air Minum Sathya Sai ini akan menyediakan air; baik untuk keperluan irigasi maupun untuk kebutuhan air minum.
Semua statement-statement tadi dipublikasikan di surat-kabar harian tersebut dan berita yang sama telah diinformasikan kepada kami kemarin. Nah, sekarang berita ini saya sampaikan kepada anda.
Contoh Model
Universitas
Ada beberapa point tambahan yang hendak saya sampaikan juga kepada anda semuanya. Beberapa waktu yang lalu, Sri Sathya Sai University di Prashanthi Nilayam pernah dikunjungi oleh sebuah komite yang terdiri atas beberapa orang ahli dan vice-chancellors. Komite tersebut secara khusus ditunjuk oleh pemerintah India (University Grants Commission).
Komite ini lebih populer dengan nama: ‘NAAC Committee’, yang merupakan singkatan dari: the National Assessment and Accreditation Council. Tugasnya adalah mengunjungi setiap universitas yang ada di India, kemudian membuat penilaian terhadap setiap departemen di setiap universitas tersebut, menyusun ranking dalam level nasional. Mereka akan menilai setiap departemen dan juga kualifikasi setiap guru/dosen, performance serta riset yang dilakukan oleh masing-masing institusi pendidikan tersebut. Bila ternyata mereka menemukan suatu universitas dengan kondisi yang kurang memuaskan, maka dampaknya adalah bahwa para profesornya tidak akan dipromosikan. Universitas itu akan dinilai rendah. Dalam menjalankan tugasnya berkeliling ke setiap perguruan tinggi di India, NAAC Committee telah memiliki parameternya tersendiri.
Biasanya Chairman komite tersebut memonitor aktivitas-aktivitas yang dilakukan para anggotanya dari Delhi. Namun pada kesempatan ini, secara khusus dia sendiri datang ke Puttaparthi bersama-sama dengan anggota lainnya; yang mana semuanya adalah vice-chancellors dan para professor – top experts, yang terkenal baik secara nasional maupun internasional. Mereka mengunjungi universitas kita dan mengadakan audience dengan para profesor dan vice-chancellors. Disamping itu, mereka juga berkunjung ke hostels (asrama) dan juga ke kampus di Bangalore dan Anantapur.
Apa komentar mereka? Dengan suara bulat, mereka mengatakan bahwa Sri Sathya Sai University merupakan ‘crest jewels’ (puncak mahkota) dari semua universitas yang ada di India! Kedua, Sri Sathya Sai University merupakan the best university!, sebuah contoh model yang patut ditiru oleh universitas lainnya. Point ketiga: Saat ini dimana seluruh dunia sudah mulai peduli untuk mencoba memperkenalkan pendidikan nilai-nilai kemanusiaan (PNK) ke dalam program pendidikan masing-masing; namun upaya tersebut ternyata belum juga terlalu membuahkan hasil yang menggembirakan. Sebaliknya, sekarang telah ada satu universitas yang sudah berhasil mengimplementasikan PNK ke dalam kurikulum akademiknya secara sukses, yaitu tak lain: Sri Sathya Sai University! Lebih lanjut, komite ini juga merekomendasikan kepada Sri Sathya Sai University agar berkenan untuk mulai mengadakan sebuah program pendidikan integral secara khusus untuk mendidik para staff college di tingkat nasional.
Walaupun beban tanggung-jawab yang dipikul tidak ringan; semua akreditasi ini merupakan buah pencapaian yang diperoleh oleh Avatar zaman sekarang. Kami sama sekali tidak layak mengklaim kredit apapun atas pencapaian itu. Semua appointment, sillabus, penilaian, peralatan – segalanya merupakan hasil bimbingan Bhagawan selama bertahun-tahun. Oleh karena Tuhan adalah kesempurnaan, oleh karena Sang Pencipta adalah kesempurnaan; maka semua hasil ciptaanNya juga merupakan kesempurnaan. Dengan demikian, Universitas milik Tuhan pasti akan sempurna! Berita baik ini merupakan penyebab sorak-gembiranya para Sai bhakta di seluruh dunia.
Presiden Abdul
Kalam
Selanjutnya, saya juga harus menyinggung tiga point lagi yang tadi saya lupa ceritakan ketika kita sedang membicarakan Abdul Kalam, presiden India. Setelah memangku jabatan sebagai Presiden negeri ini, beliau mengirim gaji dua bulannya kepada Bhagawan sebagai sumbangan. Presiden Kalam mengirimkan gajinya disertai dengan sebuah catatan doa: “Mohon terimalah uang ini, Bhagawan. Saya adalah seorang bujangan, jadi saya tidak memerlukan uang ini. I don’t want it.” Itulah yang tertulis di dalam suratnya.
Nah, sekarang coba kita lihat reaksi Bhagawan. Beliau tidak mengambil/menerima uang itu. Beliau juga tidak meneruskannya ke pundi Central Trust. Beliau langsung memberikan instruksi agar dibuatkan medali emas yang dicetak atas nama Abdul Kalam, Presiden India. Setiap tahunnya medali emas ini akan diberikan; dimana biaya pembuatannya akan diambil dari bunga yang dihasilkan oleh uang (sumbangan Kalam) sebanyak 2 lakhs (20 juta) yang didepositokan di bank.
Sathya Sai University merupakan satu-satunya universitas di negeri ini yang memiliki dua medali emas yang diinstitusikan atas nama dua orang Presiden. Kita telah memiliki medali emas atas nama Dr. Shanker Dayal Sharma, presiden terdahulu; dan sekarang kita kembali memiliki medali emas yang dicetak atas nama Dr. Abdul Kalam, Presiden India hari ini. Demikianlah kehendak Bhagawan.
Di dalam suratnya, Kalam juga bercerita, “Swami, hanya di tempat inilah saya bisa mengalami kedamaian tertinggi.” Beliau menulis surat kepada Swami dan juga kepada Vice-Chancellor, “Bilamana nanti saya datang lagi ke sini, tolong jangan sediakan tempat duduk khusus untuk saya. Saya ingin duduk berdempetan di lantai bersama-sama bhakta lainnya. Saya datang ke sini dalam kapasitas sebagai seorang bhakta.”
Tentunya anda juga masih ingat hari bersejarah pada saat Convocation (pertemuan tahunan) Sri Sathya Sai University, tanggal 22 Nopember lalu, dimana saat itu Presiden India keluar dari guest house pukul sembilan pagi dan langsung berjalan berkeliling kemana-mana – ke North Indian buildings, ke tenda-tenda, ke auditorium, dll. Para pengawalnya dibuat kewalahan saat itu. Presiden Kalam berkata kepada pengawalnya, “Kalian pergi saja, dan biarkan saya jalan sendiri.” Beliau terus berjalan kemana-mana, dan setiap orang di sepanjang jalan bisa mengucapkan ‘Sai Ram’ kepadanya.
Beliau juga menjawab, “Sai Ram, Sai Ram” kepada semuanya! Hanya di tempat inilah, seorang Presiden bisa ditemui secara leluasa oleh setiap warganya. “Semuanya satu adanya, wahai anak-Ku, oleh sebab itu berperilakulah secara seimbang/sama terhadap setiap orang” – statement (Yesus) ini telah diwujudkan dalam tindakan nyata. Dan ini hanya terjadi di Divine Lotus Feet of Bhagawan Sri Sathya Sai Baba; di tempat yang merupakan sanctum sanctorum Avatar zaman ini.
May Bhagawan bless you.
Thank you very much.
Anil Kumar mengakhiri
satsang malam ini dengan menyanyikan
bhajan,
“Giridhara Gopala Murali
Dhara”